
("Hallo Rian ada apa menelpon malam-malam begini?")
("Tuan harus segera kembali! Alisha memaafkan Galuh dan Galuh sudah kembali ke rumah!")
("Baiklah besok aku akan kembali")
Bara menutup telponnya.
"Ada apa Bara kenapa kamu akan kembali besok?" tanya Marta.
"Ada pekerjaan Ma!" jawab bara. "Embun tidurlah besok kita pulang pagi sekali."
"Sudahlah kamu juga istirahat Bara," suruh Bahar.
Bara merangkul Embun menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"Kenapa kita pulang besok?" tanya Embun.
"Kak Al memaafkan bang Galuh dan sekarang bang Galuh sudah kembali ke rumah!" jelas Bara.
"Kak Al kenapa sih padahal sudah jelas-jelas bang Galuh mengkhianatinya. Mungkin kak Al mencintai bang Galuh makanya memberikan kesempatan pada bang Galuh," jelas Embun.
"Sudah sana istirahatlah! muaaachhh ..." Bara mengecup kening Embun.
"Iiih nanti ada yang lihat!" Embun membekap mulut Bara.
"Muaachhh ... muaaachhh ..." Bara menciumi tangan Embun.
Embun menarik tangannya dan melotot pada Bara.
Bara hanya tersenyum melihat tingkah Embun. "Nanti biar mbak yang bereskan barangmu. Kamu istirahat saja! selamat tidur sayangku calon isteriku." Bara pergi.
Embun masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya juga. Embun berbaring di tempat tidurnya.
"Aku masih belum menyangka kalau Bara ternyata mencintaiku dan juga berani mengungkapkannya. Apa aku bisa mencintai Bara suatu hari nanti?" gumam Embun.
Keesokan harinya.
Embun kaget karena di kamarnya sudah ada mbak yang mebereskan pakaiannya. "Hah ya ampun mengagetkan sekali."
Embun beranjak dari tempat tidurnya dan berlalu ke kamar mandi. "Aku mandi dulu Mbak."
Pelayan itu merapikan tempat tidur Embun dan juga menyiapkan pakaian Embun yang akan Embun pakai dan setelah selesai semuanya baru keluar dari kamar Embun. tidak lama kemudian Embun selesai mandi dan mendapati kamarnya sudah rapih.
"Begini kali ya kalau punya pelayan. Apa-apa di layani dan di siapkan. Tapi masa sampe ke daleman harus di siapkan juga!" Embun memakai pakaiannya.
Embun keluar dari kamar. Semua barang-barangnya sudah di bawa ke dalam mobil.
"Haiii sayangku calon isteriku yang cantik," sapa Bara dengan sumbringah.
__ADS_1
"Apa sih!" Embun mengerutkan dahinya.
"Ayo kita berangkat tapi sebelumnya kita sarapan dulu." Bara berjalan merangkul Embun.
Embun harus terbiasa dengan sikap Bara karena memang mereka akan menikah juga.
Setelah sarapan Bara dan Embun pergi ke bandara di antarkan oleh supir. Mereka kembali ke Jakarta.
Mereka sudah di jemput di bandara oleh Rian dan langsung menuju rumah Alisha.
Di dalam mobil.
"Bagaimana bang Galuh bisa kembali ke rumah?" tanya Bara.
"Bang Galuh memohon pada Alisha entah apa yang bang Galuh bicarakan aku tidak tahu!" jawab Rian.
"Kita langsung ke rumah kak Alisha saja!" suruh Bara.
Embun meraih tangan Bara dan menggenggamnya. "Sabar ya! jangan pakek kekerasan omongin baik-baik kasihan kak Alisha kalau kalian sampai bertengkar," ucap Embun.
Bara hanya mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih Embun!"
Mereka sampai di rumah Alisha.
Tok! tok! Bara mengetuk pintu rumah Al.
Al membuka pintunya. "Kalian sudah kembali? masuklah."
"Siapa sayang?" tanya Galuh.
"Bara sama Embun sudah kembali dari Kalimantan," jawab Al.
"Aku minta maaf ya pada kalian aku sekarang berubah dan mengulang semuanya dari nol," ucap Galuh pada Bara.
"Mulai besok bang Galuh juga akan kembali ke kantor!" ucap Al.
"Hahhh! untuk apa bang Galuh kembali ke kantor? untuk mengambil alih perusahaan atau untuk meneruskan korupsimu?" ungkap Bara.
"Bara! apa yang kau katakan? jangan fitnah seperti itu!" bela Alisha.
Wajah Galuh sudah panik dan terlihat tidak nyaman dengan pembicaraan itu. "Apa maksudmu Bara?"
"Kak Al masih saja percaya pada bang Galuh?" tanya Bara.
Alisha tidak berbicara hanya diam mencerna perkataan Galuh dan Bara.
"Jangan fitnah sembarangan Bara! mana buktinya kalau aku korupsi di kantor?" tantang Galuh.
Embun menghampiri Al dan mendudukan Al di kursi.
__ADS_1
"Aku tidak akan berani bicara kalau tidak ada bukti! aku punya semua buktinya," jelas Bara.
"Mana!" tantang Galuh.
"Rian berikan semua bukti-bukti padanya," suruh Bara.
Rian memberikan berkas yang sudah di siapkan Bara dan Galuh mengambilnya kemudian membaca itu semua. Galuh kaget karena ternyata Bara punya semua buktinya.
"Ini semua bohong!" Galuh merobek semua berkas itu.
"Tenang saja itu hanya salinannya yang asli masih padaku!" ucap Bara. "Kak Al dengarlah kalau bang Galuh korupsi untuk membiayai selingkuhannya membelikan apartement dan yang lainnya."
"Plaaaakkk ..." tangan mulus Alisha mendarat di pipi Galuh. "Aku memberikan kesempatan padamu tapi ternyata keburukanmu masih saja ada. Apalagi sekarang yang masih belum aku ketahui?"
"Al maafkan aku Al aku benar-benar khilaf dan itu semua kesalahanku di hari kemarin. Mulai sekarang aku akan berubah Al maafkan aku," mohon Galuh.
"Sudahlah Bang aku tidak ingin lagi mendengar semuanya," ucap Al.
"Ayah juga sudah tahu semuanya Kak!" ucap Bara.
Galuh terlihat sangat prustasi mendengar ucapan Bara. Tiba-tiba Icha datang ke rumah Alisha.
"Mas Galuh juga harus tanggung jawab padaku!" ucap Icha.
"Ngapain kamu berani-beraninya masuk ke rumahku?" tanya Al.
"Mbak izinkan Mas Galuh menikahiku. Aku hamil Mbak!" ungkap Icha.
Alisha syok membungkam mulutnya sendiri dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Kamu apa-apaan Icha? kita sudah putus!" tegas Galuh.
"Mas kamu jangan gitu! aku hamil Mas. Hamil anakmu kamu harus tanggung jawab," paksa Icha. "Mbak aku rela jadi isteri kedua asalkan aku di nikahi Mas Galuh. Aku tidak ingin anakku lahir tidak punya ayah."
"Alisha beranjak dari duduknya sambil memegangi perutnya. "Sana ambillah. Kamu bisa jadi isteri satu-satunya bang Galuh silahkan aku tidak peduli lagi aku tidak sudi harus berbagi suami!"
"Kak Al kemarilah kak Al jangan banyak pikiran," Embun memegangi Al.
"Untukmu Bang! kita bercerai. aku akan mengurus semuanya. Aku tidak bisa menunggu lama lagi aku jijik padamu aku muak!" Alisha pergi di susul oleh Embun.
Bara menyeret Galuh kelaur dari rumah Al. "Pergi sana Bang dan nikahi selingkuhanmu itu! jangan pernah datang lagi kemari. Kau tahu keluargaku masih baik padamu dengan tidak melaporkanmu ke polisi jadi bersyukurlah!"
Bara masuk ke dalam rumah kembali dan menutup pintu rumah Al.
Galuh masih saja menggedor-gedor pintu dan memanggil-manggil Alisha tapi Bara mengabaikannya dan menemui Alisha di kamarnya.
Bara meraih tangan Alisha. "Kak Al yang kuat. Kak Al gak sendiri disini masih banyak orang yang menyayangi Kak Al. Seminggu lagi Ayah sama Mama juga akan kesini akan menemani Kak Al melahirkan disini!"
"Aku harus kuat Bara. Demi anakku! terimakasih untuk kalian membuatku sadar akan semuanya!" isak Al.
__ADS_1
Embun memeluk Al dan ikut menangis seakan merasakan hal yang sama dengan Alisha.
⬇️⬇️