
Malam di rumah besar kediaman Bara di kalimantan, Rian asisten pribadi Bara menghampiri ayah Bara.
"Tuan aku tidak bisa menemukan tuan Bara, aku hanya menemukan ini saja. Sepertinya sebuah surat disana tertulis untuk tuan." jelas Rian menyodorkan sebuah kertas. Padahal Rian tahu kalau Bara kabur dari rumah tapi Bara menyuruh Rian untuk menyembunyikan semuanya.
"Apa isi suratnya?." tanya Bahar ayah Bara.
"Aku belum membacanya tuan." tunduk Rian.
Bahar membuka suratnya dan membacanya.
"Ayah aku bosan dengan hidupku sendiri monoton tidak ada yang spesial. Aku ingin merasakan hidup di luar tanpa nama besarmu tanpa membawa nama perusahaan ayah. Jangan cari aku, aku akan belajar di luar sini nanti aku pasti akan kembali." isi surat dari Bara.
Bahar hanya tersenyum membaca isi suratnya dan membuat Rian heran karena ayah Bara tidak marah.
"Baguslah kalau begini, jadi dia bisa menghargai waktu, menghargai uang dan tentunya mendapatkan pelajaran hidup." jelas Bahar.
"Bagaimana anak kita yah? dimana dia? cepat susul dia dan bawa dia kembali." ucap Marta mamanya Bara.
"Sudahlah, dia ingin belajar di luar sana dia ingin mencari kehidupan baru. Kita lihat saja nanti akan sampai mana dia melakukan hal ini. Paling kalau sudah tidak tahan dia akan kembali lagi kesini pulang. tenang saja, anakmu sudah besar." jelas Bahar.
"Aah kau ini. Dia pewaris keluarga kita jangan sampai dia kenapa-kenapa." ucap Marta.
"Tenang saja aku percaya padanya dan pasti dia akan kembali." tegas Bahar.
"Kalau begitu aku permisi dulu tuan, nyonya." Rian pergi.
Rian pulang ke rumahnya dan mencoba untuk menghubungi Bara tapi tidak bisa di hubungi sehingga membuat Rian sangat khawatir.
"Tuan kemana? tidak bisa di hubungi? apa tuan benar-benar mendalami perannya hidup susah di luar sana?. ah sudahlah pasti kalau ada perlu dia akan menghubungiku." gumam Rian asisten pribadinya Bara.
...----------------...
Di kontrakan Embun,
Embun dan Rian sudah menyelesaikan makan malamnya dan Embun membereskan semuanya.
"Apa tidak akan marah pak haji kalau aku malam ini menginap lagi disini?." tanya Rian.
"Tidak, aku sudah tunjukan KTPmu. Tinggal semalam ini lagian besok kamu tinggal di mess sama Anwar." jelas Embun.
Embun memperhatikan Rian yang tidak ganti baju dari kemarin malam.
"Bajumu apa tidak akan di ganti?. coba aku cari baju besar kali aja ada." Embun membuka lemarinya dan mencari-cari baju untuk Rian.
"Bajuku semuanya di tas dan hilang waktu malam itu." ucap Rian.
"Iya, aku tahu. Ini aku lagi cari kaos yang gede perasaan ada deh."
"Aku harus pake baju kamu?."
__ADS_1
"Ini pake lah, ini big size harusnya sih cukup di badanmu. ya pake aja dulu masa mau pake baju itu terus? udah bau biar aku cuci dulu." jelas Embun.
"Ini kayanya cukup deh." Rian membuka bajunya di hadapan Embun. Rian sudah telanjang dada dan Embun menyaksikannya.
Embun melotot melihat badan Rian yang putih mulus perutnya sixpact otot lengannya juga begitu terlihat.
"Astagfirullah...." Embun menutup matanya dengan tangan.
"Bisa kali ganti bajunya di dalam kamar mandi. gak sopan banget. Udah belum?." protes Embun.
"E-eh maaf aku lupa kalau ada kamu." senyum Rian.
Kaos milik Embun begitu ketat di badan Rian sehingga menjiplak badan Rian yang atletis bagus.
"Itu big size tapi ternyata jadi ketat." ucap Embun.
"Ya lumayan lah tidak buruk." ucap Rian.
"Ini boxernya pakai saja punyaku. Ini gede banget makanya gak pernah aku pake." suruh Embun.
"Okelah, aku pakai lumayan buat tidur." ucap Rian.
"E-eh sana ganti celananya di kamar mandi." suruh Embun. Rian pun masuk ke kamar mandi dan mengganti celananya.
Embun bersiap dengan handuknya untuk mandi menunggu Rian keluar dari kamar mandi. Embun melihat betis Rian yang begitu mulus putih bersih.
Ini orang kok gak kaya orang susah sih? badannya bagus atletis juga mulus banget, gak ada tuh bekas gigitan nyamuk atau bekas budug.
"Woyy kenapa bengong?, sana kalau mau mandi." ujar Rian.
"E-eh iya. Awas minggir jangan halangi jalannya." ucap Embun.
Embun masuk ke kamar mandi Rian duduk di atas kasur.
"Kemarikan semua bajumu biar aku cuci." teriak Embun dari kamar mandi.
Rian membawa semuanya dan memberikannya pada Embun. "Ini Embun, buka pintunya."
Embun sedang menggosok giginya. "celananya gak usah buat besok di pake kamu kerja,, bajunya aja."
"Jorok banget sih Embun" Rian bergidik melihat kelakuan Embun. Tapi merasa kalau Embun itu sangat lucu.
"Gak nyaman banget aku pake baju Embun begini. kayak bencong." gumam Rian.
"Siapa kayak bencong?." Embun tiba-tiba muncul.
"Emang gak lihat?." ucap Rian.
"Tinggal mangkal saja sana di depan toko tempat kerjaku. Kalau lewat jam 1 malam suka pada mangkal bencong disana." jelas Embun tertawa.
__ADS_1
"Sembarangan kalau ngomong." marah Rian.
"Kan kamu sendiri yang bilang kayak bencong. Hahaa."
"Seneng ya lihat aku begini." ketus Rian.
"Maaf maaf aku hanya bercanda saja." Embun selesai menggantung baju Rian dan menggantungnya di luar supaya besok agak kering.
"Kemarikan selimut dan bantal untukku. Aku sudah ngantuk." pinta Rian.
"Ini, sudah tidur saja di dalam." ucap Embun dan menggelar kasur lantai di sisi lainnya.
"Kamu gak apa-apa?." tanya Rian.
"Engga.... sudahlah tidur." Embun menarik selimut dan mencoba untuk tidur.
"Makasih Embun, aku pikir aku akan kedinginan tidur di luar dengan baju seperti ini." ucap Rian.
"Hemmm...." Sepertinya Embun sudah akan tertidur.
Terima kasih Embun atas semua bantuanmu ini, aku tidak tahu kalau tidak bertemu denganmu dan tidak mendapatkan bantuan darimu ini aku akan bagaimana? Aku pasti jadi gelandangan dan hidup sengsara.
Ya tuhan maafkan aku, ini dosaku pada orangtuaku karena kabur dan ingin merasakan hidup di luar seperti orang lain. Dan sekarang aku langsung menjalani hidupku yang sengsara ini.
Hati Rian.
Rian memperhatikan Embun yang sepertinya sudah terlelap tidur.
"Mana bisa aku tidur, hah maafkan aku ayah. aku jadi benar-benar hidup sengsara dan tidak bisa menghubungi asistenku." gumam Rian dan mencoba untuk tidur.
Jam sudah menunjukan pukul 7 pagi, setelah sholat subuh Embun memutuskan untuk tidur lagi seperti biasanya. Rian terbangun dan membereskan bekas tidurnya dan kemudian keluar kontrakan memindahkan bajunya di jemur ke tempat terang.
"Eh nak Rian." sapa pak haji.
"Iya pak," senyum Rian.
"Kamu pake baju Embun?." tanya pak haji.
"Iya pak, soalnya kan tas saya kejambret jadi baju juga ikut hilang dan Embun belum punya uang untuk belikan bajuku. Tapi aku hari ini mulai kerja pak di toko Baut di depan." jelas Rian.
"Ya sudah ayo ikut ke rumah bapak, ada baju punya anak bapak kali aja pas buat kamu. Masa kamu kerja pake baju itu." ajak pak haji.
"Wah boleh banget pak, makasih ya sebelumnya." Rian mengikuti pak haji ke rumahnya.
Pak haji memberikan beberapa kaos dan celana jeans milik anaknya yang sekarang sudah berkeluarga dan jarang pulang. Kemudian Rian membawanya pulang ke kontrakan Embun.
Embun sudah bangun dan sepertinya sedang mandi.
"Bahkan aku tidak pernah berpikir akan memakai baju bekas orang lain." Rian memakai bajunya karena memang bajunya juga bersih dan rapi.
__ADS_1
"Aku benar-benar kena karma dan hidup sengsara begini, aku harap bisa segera bertemu asistenku." gumam Rian.
⬇️⬇️