Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Embun setuju menikah


__ADS_3

"Embun!!!" Bara kaget yang melihat Embun terbaring di tempat tidurnya.


"Embun bangunlah! kamu baik-baik saja?" Bara menempelkan tangannya pada kening Embun dan ternyata Embun demam badannya panas dan menggigil.


"Kamu demam Embun! apa yang terjadi bangunlah." Bara menggoyangkan tubuh Embun.


Embun tidak menjawab pertanyaan Bara hanya sedikit mengigau. "Bara kamu jahat! jahat!" lirih Bara.


"Bawa aja ke dokter," timpal pak Haji.


"Baiklah pak!" Bara membopong Embun ke mobilnya dan membawanya ke rumah sakit dimana kak Al di rawat.


"Aku tidak berpikir kalau kau akan sehancur ini Embun. Maafkan aku! aku salah. Aku tidak berpikir panjang sebelum bertindak," gumam Bara dan tetap berusaha pokus menyetir.


Sesampainya di rumah sakit, Embun langsung mendapatkan penanganan. "Aku harap kamu baik-baik saja Embun."


"Tuan disini?" tanya Rian yang baru pulang membeli buah untuk Al.


"Embun pingsan!" jawab Bara.


Dokter ya memeriksa Embun menghampiri Bara. "Dia sudah sadar. Dia hanya dehidrasi dan sepertinya tidak makan juga jadi lemas."


"Terima kasih ya dok. Biar saya ke dalam mengeceknya." Bara melihat keadaan Embun.


"Bara?" Embun kaget.


"Iya. Aku yang bawa kamu kesini," ucap Bara.


"Emmmh aku kenapa?"


"Tadi kamu pingsan dan badanmu demam tinggi," jelas Bara.


"Terima kasih," lirih Embun.


Bara meraih tangan Embun. "Maafkan aku Embun karena aku yang membuatmu seperti ini."


"Aku saja yang lemah!" ucap Embun.


"Aku yang salah aku yang kurang ajar. Biarlah aku menikahimu, aku akan merasa berdosa seumur hidupku kalau kamu tidak mau menikah denganku," pinta Bara.


"Pernikahan itu harus ada cinta dan saling mencintai," ucap Embun.


"Embun selama ini kita dekat. Apa tidak ada sedikitpun perasaan suka padaku? kalau aku ... a-aku suka sama kamu," tegas Bara.


"Tidak semudah itu Bara! apalagi kebohongan yang pertama kali aku tahu darimu," jawab Embun.


"Ya sudah kita jalani saja dulu mungkin suatu hari cinta diantara kita bisa tumbuh seiring berjalannya waktu," tambah Bara.


Embun tidak menjawabnya.


Sepertinya aku harus setuju saja. Aku tidak ingin hal buruk terjadi ke depannya. Kalau aku hamil bagaimana? setidaknya kalau aku sudah menikah tidak akan terjadi apa-apa!. Pikir Embun.


"Embun mau menikah denganku, kan?" tanya Bara.


"Baiklah! aku setuju," jawab Embun.

__ADS_1


Raut wajah Bara berubah menjadi sumbringah. "Serius? aku senang sekali mendengarnya."


"Tapi ada syaratnya!"


"Apa?" tanya Bara.


"Jangan pernah sentuh aku sedikitpun kalau emang belum ada cinta diantara kita berdua!" tegas Embun.


"Oke! baiklah aku setuju. Aku akan bilang pada orangtuaku dan secepatnya melamarmu dan menikahimu," ujar Bara.


Embun hanya terdiam.


"Kruwuuukkk ... kruwuuukkk ..." perut Embun berbunyi.


"Kamu lapar?" tanya Bara.


"Aku belum makan dari semalam!" ketus Embun.


"Baiklah aku belikan makanan dulu untukmu. Tunggu ya!" Bara berlalu pergi.


Bara pergi ke kantin rumah sakit dan membeli makanan untuk Embun dan kembali lagi menemui Embun.


"Ini makanlah!"


Embun bangun dan memakan makanannya dengan lahap.


"Kamu pingsan karena kelaparan?" tanya Bara.


"Udah tahu kok nanya!" ketus Embun.


Tiba-tiba Rian datang menghampiri Bara. "Tuan kemarilah ada Galuh di ruangan Alisha."


Bara kaget dan pergi keruangan Al. "Embun habiskan ya makannya aku akan segera kembali."


Embun hanya mengangguk dan heran ternyata kak Al juga di rawat dan kenapa. "Kak Al kenapa?"


Embun menghabiskan makannya dan berniat ingin mengikuti Bara keruangan Alisha.


*


Di kamar rawat Alisha disana sudah ada Galuh yang mencoba membujuk Alisha.


"Al plis maafkanlah aku. Aku berjanji padamu akan meninggalkan dia aku juga sudah memecatnya," mohon Galuh.


"Sejak kapan Bang kau memulainya?" tanya Al.


"Sejak 6 bulan yang lalu," jawab Galuh pelan.


"Jadi sudah selama itu! dan kamu menyuruhku pulang ke kalimantan hanya alasan saja supaya kamu bisa bebas berselingkuh!" jelas Al.


"Maafkan aku Al aku khilaf!" ucap Galuh.


"Kalau memang kamu mencintainya sudah sana pergi saja padanya. Aku yang akan mundur! aku tidak ingin bersama lagi aku jijik." Al bicara tanpa menatap Galuh.


"Aku sudah meninggalkannya dan aku juga sudah memecatnya. Plis maafkan aku! aku akan menebus semuanya," ucap Galuh.

__ADS_1


"Pergilah biarkan aku sendiri!" pinta Al.


Bruuugh. Bara datang dan membanting pintu dan meraih kerah baju Galuh. "Masih beraninya datang kemari? mau apa lagi? lihat kakakku menderita karena dirimu yang kotor ini!" Bara marah.


"Lepaskan Bara! jangan ikut campur urusan rumah tanggaku." Galuh mengibaskan tangan Bara dari kerah bajunya.


"Bagaimana mungkin aku tidak ikut campur sedangkan dia adalah kakakku yang aku cintai. Aku tidak bisa diam aja!" ujar Bara.


"Sudahlah kalian hentikan jangan berdebat lagi disini. Bara suruh dia pergi darisini aku ingin istirahat," suruh Al.


Bara menyeret Galuh untuk pergi dari ruangan Al.


"Lepaskan Bara! gak usah pegang-pegang aku." Galuh melepaskan tangan Bara. "Kamu juga senengkan aku bertengkar seperti ini dengan Al. Lihat saja nanti aku tidak akan melepaskan Al." Tunjuk Galuh pada Rian yang sedaritadi berdiri di depan pintu.


"Pergi sana!" teriak Bara.


Galuh pergi dan Bara juga Rian masuk ke dalan ruangan Al. Bara mendapati Al sedang menangis, "jangan kau tangisi lelaki seperti itu kak!" ucap Bara.


"Bagaimanapun juga dia ayah dari anak yang aku kandung Bara! mana mungkin aku bisa jauh darinya," isak Al.


"Jangan di pikirkan kak! ingat kandunganmu. Biar aku urus semua perceraian kalian," ucap Bara.


Alisha hanya menangis dan mengelus perutnya. Embun datang keruangan Alisha diantar perawat. "Kak Al?"


Embun memeluk Al dan memberikan dukungan untuk Al. "kak Al yang kuat ya. Kak Al wanita yang hebat aku yakin kak Al bisa melewati ini semua," ucap Embun.


"Maafkan aku Embun karena tidak percaya padamu! sekarang aku sudah tahu semuanya dan aku juga akan tetap kuat demi anakku ini," isak Al.


"Iya benar kak Al harus semangat demi bayi yang kak Al kandung. Dan jangan menangis lagi kasian bayinya." Embun menghapus air mata Al.


"Kamu kenapa? kenapa di infus seperti ini," tanya Al.


"Aku hanya kelelahan saja kak," jawab Embun.


"Ini semua gara-gara bara, kan? kamu jadi seperti ini maafkan adikku ya Embun," ucap Al.


"Tidak perlu begini kak!"


"Kita setuju untuk menikah!" timpal Bara.


"Serius Embun?" Al penasaran.


"Iya!" Angguk Embun.


"Kita serius kak. Embun juga sudah setuju untuk menikah, dan aku akan secepatnya bilang pada ayah dan mama biar mereka segera ke Jakarta untuk melamar Embun," jelas Bara.


Embun hanya tersenyum.


"Akhirnya kamu mau menikah dengan Bara. Kakak yakin Bara sekarang orang baik dan akan bertanggung jawab padamu. Kakak ikut senang!" Al memeluk Embun.


"Terima kasih kak! kakak sudah mau menerimaku dan sangat baik padaku," ucap Embun.


Perasaan Embun memang sedikit lega karena mungkin tidak akan ada masalah kedepannya kalau sampai Embun hamil.


⬇️⬇️

__ADS_1


__ADS_2