Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Alina


__ADS_3

Embun dan Bara saling menatap. Embun tidak tahu harus jujur atau harus jawab apa.


"Saya tidak kuliah Kak!" Embun jujur.


"What?"


"Iya Kak. Embun sekolah sampai SMA aja," tambah Bara.


"Lalu apa pekerjaanmu?" ketus Alina.


"Sudahlah Alina tidak perlu di bahas!" timpal Bahar.


Embun berkata, "Saya hanya bekerja di sebuah toko Roti."


Alina bangkit dari duduknya dan menghampiri Embun kemudian memperhatikan Embun dari ujung rambut sampai ujung kaki dan memegang pakaian yang Embun pakai. "Bajumu asli bermerek! apa Bara yang membelikanmu semua pakaian yang kamu pakai?"


"Hentikan Kak!" Bara meraih tangan Alina untuk tidak menyentuh baju Embun lagi.


Embun tidak bisa menjawab pertanyaan Alina karena memang benar kalau pakaian yang Embun pakaian adalah pemberian dari Bara.


"Alina duduklah! jangan begitu dong." suruh Bahar.


Alina duduk kembali tetapi tidak menghentikan bicaranya. "Sudah ku duga! apa tujuanmu sebenarnya menikah dengan Bara? modelan sepertimu pasti hanya ingin uang Bara saja, kan?"


Embun tidak bisa mengungkapkan yang sebenarnya. "Ya karena saya mencintai Bara!"


"Hah cinta?" Alina hanya bergidik.


Bara menatap Embun dan menggenggam tangannya dan menggelengkan kepalanya agar tidak melanjutkan bicara.


"Sudahlah! jangan di perpanjang lagi sekarang kita makan malam bersama," ajak Marta.


Semua orang pindah ke meja makan dan makan bersama. Alina tidak melepaskan pandangannya dari Embun menatap tidak suka. Embun juga merasa tidak nyaman karena Alina menatapnya seperti itu.


"Embun bagaimana keluargamu?" tanya Marta.


"Keluarga saya di Bandung di kampung. Orangtua saya sudah meninggal dan saya tinggal dengan kakek nenek saya," jelas Embun.


Jujur adalah yang terbaik terserah mereka mau menerimaku atau tidak. Kalau di mulai dengan kebohongan pasti akan banyak kebohongan lain ke depannya. Batin Embun.


"Oh begitu! kamu di Jakarta tinggal sendiri?" tanya Marta lagi.


"Iya sendiri Tante," jawab Embun.

__ADS_1


"Wah bagus ya kamu mandiri dan pastinya pekerja keras juga," timpal Bahar.


"Iya begitulah paman," ucap Embun.


Bara senang karena orangtuanya menerima Embun dan tidak mempermasalahkan apapun seperti Alina.


"Ya aku harap kamu memang tulus sama Bara bukan karena uang Bara! aku tidak suka pada orang seperti itu," ketus Alina.


"Sudahlah Alina kamu kenapa tidak berubah sih dulu juga sama Galuh kamu bersikap seperti itu. Buktinya Galuh tidak seperti apa yang kamu pikirkan dia begitu baik dan juga memajukan perusahaan," tegas Bahar.


Embun menatap Bara. Jadi keluarga Bara belum tahu semua kebenarannya? Hah membingungkan. Batin Embun.


"Ya mungkin itu hanya kebetulan saja!" ketus Alina. "Kenapa kak alisha gak ikut pulang juga?"


"Alisha 'kan sedang hamil besar jadi takut ada apa- apa di jalan. Alisha juga ingin melahirkan di Jakarta jadi nanti biar kita aja yang kesana," jelas Marta.


"Padahal aku kangen sekali pada kak Alisha," ucap Alina.


Mereka menyelesaikan makannya. Setelah selesai makan mereka kembali berbincang di ruang keluarga sambil minum teh membahas tanggal pernikahan.


"Kalian akan menikah dimana?" tanya Bahar.


"Sepertinya di Bandung Yah," jawab Bara.


"Jadi kita semua harus ke Bandung? ke kampungnya Embun?" cetus Alina.


"Wah itu ide yang bagus Bara! Ayah setuju denganmu dan ikut saja pada keputusan kalian," ucap Bahar.


"Wah Mama udah gak sabar nih!" Marta sumbringah.


"Ayah sama Mama yang bener aja sih masa anak pemilik perusahaan ternama menikah hanya di kampung. Bagaimana nanti kata keluarga kita yang lainnya dan kata relasi Ayah juga? pasti mereka akan menggunjing keluarga kita," ketus Alina.


"Ya kan disana cuman menikahnya saja. Nanti Ayah juga akan buat acara disini atau di Jakarta untuk mengundang semua relasi Ayah. Lagian Bara anak laki-laki ayah satu-satunya," tegas Bahar.


"Hah terserah kalian lah!" pungkas Alina.


Embun tidak banyak bicara hanya menyimak saja apa yang mereka bicarakan.


Kalau bukan karena kejadian itu aku tidak ingin menikah dengan Bara dan aku tidak akan mendapatkan ucapan tidak enak dari kak Alina seperti tadi. Batin Embun.


"Kapan kalian menikahnya?" tanya Bahar.


"Sebulan lagi Yah. Ayah tentukan saja tanggalnya," pinta Bara.

__ADS_1


"Coba sebentar Ayah lihat dulu kalendenya." Bahar melihat ponselnya. "Emmmh sepertinya tanggal 10 Mei saja karena bertepatan sama libur panjang juga."


"Ya aku ikut Ayah aja!" pungkas Bara.


Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam mereka semua bubar dan berlalu ke kamar masing-masing.


"Embun tunggu!" Bara meraih tangan Embun yang hendak masuk ke dalam kamarnya.


"Apa?" Embun berbalik.


"Maafkan atas semua ucapan kak Alina yang gak enak padamu ya! kak Alina emang gitu orangnya jangan masukin ke hati," ucap Bara.


"Ya mungkin yang kak Alina katakan memang benar. Aku tidak sederajat dengan kalian semua. Apa kita batalkan saja pernikahan ini lagi pula tidak ada cinta di antara kita?" ide Embun.


"Jangan gitu dong Embun. Sudah jangan di pikirkan lagi istirahatlah karena besok aku akan membawamu jalan-jalan dan aku juga ada kejutan untukmu." Bara mengelus kepala Embun.


"Eh tunggu kenapa kamu belum kasih tahu tentang bang Galuh yang sebenarnya? menurutku keluargamu harus tahu juga," tanya Embun.


"Aku nunggu waktu yang tepat!" jawab Bara.


Tiba-tiba Alina datang dan mendengar pembicaraan Embun dan Bara. "Kenapa sama bang Galuh? ada masalah apa sebenarnya? Galuh gak beres, kan?"


"Kak Alina?"


"Apa? kaget? aku hanya lewat ingin ke kamarku tidak sengaja mendengar tentang Galuh!" ketus Alina.


"Biar besok aku ceritakan semuanya dengan yang lainnya. Sana tidurlah!" Suruh Bara.


Alina pergi tanpa bicara apa-apa lagi.


"Hah kacau kalau kak Alina sampai tahu tentang bang Galuh! sudahlah sana tidur jangan banyak pikiran juga. Muaaachhh ..." Bara mengecup kening Embun dan berlalu pergi ke kamarnya.


"Bara ih!" ketus Embun.


Embun hendak masuk ke dalam kamarnya tetapi Alina menghampiri Embun. "Heh tunggu!"


"Kak Alina?"


"Coba jelaskan tentang Galuh!" ucap Alina.


"Tapi kak aku tidak tahu apa-apa biar Bara saja yang menjelaskannya," jawab Embun.


"Kamu ini ya! heh awas ya kalau sampe aku tahu kamu cuman manfaatin Bara dan hanya mau uang Bara aku tidak akan tinggal diam. Aku tahu banget modelan kaya kamu gitu menampilkan kepolosanmu sampai Bara jadi suka padamu! padahal kenyataannya hanya mau uang Bara." Alina pergi lagi ke kamarnya.

__ADS_1


"Ya ampun kak Alina kenapa begitu sih padaku? apa sehina itu karena aku tidak sederajat dengan Bara?" Embun masuk ke dalam kamarnya.


⬇️⬇️


__ADS_2