
Saat akan keluar dari kantor, Alisha melihat Rian keluar dari mobilnya di parkiran.
"Tunggu Pak hentikan mobilnya," pinta Alisha pada supir taxi.
Alisha dan Mbak Marni keluar dari taxi dan Al membayarnya kemudian menghampiri Rian.
"Rian ..." panggil Alisha.
"Haiii Alisha," sapa Rian.
"Apa kamu mau mengantarku?" tanya Alisha.
"Kemana?"
"Nanti ceritanya di dalam mobil saja, ayo masuklah!" seru Alisha.
Mereka sudah masuk ke dalam mobil.
"Ada apa Al?" tanya Rian merasa heran.
"Emmmh antar aku untuk bertemu Embun," ucap Alisha.
"Embun gebetan tuan?"
"Iya! siapa lagi memangnya?" Ketus Al.
"Baiklah! aku antar kamu kesana." Rian melajukan mobilnya.
"Tapi setelah nanti dari tempat Embun, antar aku ke supermarket ya soalnya mau belanja di rumah tidak ada apa-apa," pinta Alisha.
"Iya kemana aja aku antar," pungkas Rian.
Hemmm aku akan mengantarmu kemanapun kau mau Alisha, kita bersahabat sejak kecil aku begitu menyayangimu walaupun kamu bukan milikku. Tapi sekarang orang yang kamu cintai mengkhianatimu. Bagaimana jika suatu saat nanti kamu tahu semua kebenaran itu? passti kamu akan terluka.
Batin Rian.
Rian tidak sanggup jika suatu hari senyuman indah di wajah Alisha akan hilang karena perselingkuhan suaminya.
"Sudah sampai! ini tempat Embun bekerja," tunjuk Rian.
"Baiklah! ayo kita turun," ajak Alisha pada Rian.
"Tidak! kamu saja, Embun mengenalku dan takutnya nanti dia tidak nyaman kalau ada aku disana," jelas Rian.
"Oke, aku turun sendiri saja." Alisha turun dari mobil Rian.
Rian menunggunya di dalam mobil dan memperhatikannya.
"Selamat datang kakak ada yang bisa saya bantu?" tanya Monik.
Alisha melihat nametagnya dan ternyata bukan Embun. "Emmmh saya mau lihat contoh cake ulang tahun dong," pinta Alisha.
"Boleh kakak bisa sebelah sini, biar teman saya yang tunjukan," ucap Monik.
Alisha membaca nametag orang dihadapanya. "Lara"
Lalu Embun yang mana ya?
Hati Al.
"Ya kakak nama saya Lara, silahkan bisa di lihat ini contoh-contohnya," tunjuk Embun. "Kalau mau request sesuai yang kakak mau kita juga bisa," jelas Embun.
"Saya lihat dulu ya." Al duduk di kursi.
Mana ya Embun? Apa itu ya? ah tidak mungkin, sudah ada cincin di jari manisnya.
__ADS_1
Pikir Al.
"Ya sudahlah aku sekalian pesan cake aja buat bang Galuh, kan 3 hari lagi ulang tahun," gumam Al.
"Mbak, tolong rekomendasiin dong cake buat ulang tahun suami saya," pinta Al pada Embun.
"Emmmh yang ini deh kak," tunjuk Embun.
"Baiklah mbak saya pesan yang ini untuk 3 hari lagi ya," ucap Al.
"Baik kakak, untuk dpnya di bayarkan di muka kak, nanti sisanya setelah cakenya diantar ke rumah kakak. Silahkan tulis juga alamat lengkapnya disini," jelas Embun.
"Oke ..."
Embun membuatkan bonnya dan Al membayar dpnya terlebih dahulu. Al masih mencari keberadaan Embun dimana, mau menanyakannya tapi Al merasa tidak enak.
"Terima kasih kak," senyum Embun.
"Sama-sama." Al kembali ke mobil.
"Sudah selesai?" tanya Rian.
"Aku tidak bertemu dengan Embun," ucap Al.
"Tadi siang Embun deh yang jaga kasir," ucap Rian.
"Bukan! tadi yang melayaniku di kasir namanya Lara aku membaca nametagnya," ujar Al.
"Iya dia itu Embun Al, emang namanya Lara Embun," ucap Rian.
"Hah seriusan?" Al kaget.
"Apa perlu kita kembali lagi mumpung belum jauh?" tanya Rian.
"Ah tidak usah besok lagi aja aku kesini, lagian aku juga sekalian pesan cake untuk suamiku yang ulang tahun 3 hari lagi," jelas Al.
Galuh kau begitu tega pada Alisha yang begitu mencintaimu dan kau malah menduakannya.
Batin Rian.
Mereka sudah sampai di supermarket dan Rian memarkirkan mobilnya.
"Kamu mau ikut atau tunggu disini?" tanya Al.
"Aku ikut saja biar bantu angkat-angkat nanti, pasti kamu akan belanja banyak, kan?" tebak Rian.
"Benar sekali, baiklah ayo."
Mereka berjalan bersamaan dan Mbak Marni mengikuti dari belakang. Mereka seperti pasangan suami istri sungguh serasi apalagi Rian orang yang sangat baik dan peduli pada Alisha.
Alisha mulai berbelanja memilah-milah keperluan untuk di rumah.
"Iiih ada buah delima, aku mau itu dari lama, waktu di rumah ayah aku tidak menemukannya," Al sumbringah.
"Kamu mau? beli aja selagi ada biasa nya buah delima suka susah di cari," ucap Rian.
"Baiklah! aku ambil 2 aja," ujar Al.
Rian merasa senang melihat Al berjalan di sampingnya dan tersenyum begitu manisnya.
"Sudah selesai! ayo kita pulang," ajak Alisha.
Mereka pun akhirnya pulang ke rumah dan Alisha pun membelikan makanan untuk Bara yang berada di rumahnya dan juga untuk semua orang.
Di dalam mobil,
__ADS_1
Alisha ingin sekali memakan Delima saat itu juga. "Aku ingin memakan delimanya sekarang Ian. Kupasin dong," mohon Al.
"Tapi gak ada pisau," ucap Rian.
"Emmm padahal mau banget makan sekarang, ya udah gak apa-apa di rumah aja nanti," ujar Al.
Rian tidak tega melihat Al sedih, kemudian melihat gerobak gorengan di pinggir jalan dan berpikir kalau abang-abang gorengan pasti membawa pisau.
"Tunggu sebentar ya." Rian turun dari mobil dan menghampiri abang gorengan untuk meminjam pisau.
"Bang, apa ada pisau?" tanya Rian.
"Ada mas, ini bekas potong pisang tapi," ucap abangnya.
"Tidak apa-apa Bang."
Keadaan pisau yang kotor tapi tidak ada tisu kemudian Rian mengeluarkan sapu tangannya mengelap pisaunya sampai bersih.
Alisha yang memperhatikan Rian merasa terharu karena Rian selalu bersikap baik padanya.
"Ah Rian kenapa selalu baik padaku sih walaupun aku sering mengecewakanmu." Senyum Al.
Rian sudah kembali dengan Delima yang sudah di kupasnya. "Ini sudah aku kupas, makanlah!" suruh Rian. Kemudian melajukan kembali mobilnya untuk pulang ke rumah.
"Emmmh ini enak sekali, aku sudah lama ngidam buah ini tapi bang Galuh sibuk jadi gak sempat cari," ucap Al.
Sibuk selingkuh Al suamimu itu.
Hati Rian.
Jalanan yang macet sepertinya membuat mereka akan terlambat pulang, karena waktu sudah menunjukan pukul 05 sore lebih.
"Akhirnya kita sudah lepas dari kemacetan dan sampai di rumahmu," ucap Rian.
Rian membantu Mbak Marni membawa barang belanjaannya dan Bara sudah berdiri di depan pintu menantikan mereka pulang.
"Kak Al lama sekali sih," ujar Bara.
"Tadi banyak kesana kemari jadinya lama," jawab Al.
"Aku laper kak, di rumah tidak ada apa-apa," ketus Bara.
"Nih kakak bawain makanan, sana makanlah!" suruh Al.
Bara membawanya ke meja makan dan meletakkan semuanya di atas piring yang sudah Mbak Marni sediakan.
"Aku tadi ke toko roti Embun," ucap Al.
Uhuk ... uhuk ....
Bara keselek.
"Pelan-pelan dong kalau makan," ucap Al.
"Maaf aku kaget," jawab Bara.
"Aku tidak bertemu Embun, tapi ternyata pas aku kembali ke mobil kata Rian Embun namanya Lara!" ucap Al.
"Lalu?"
"Iya tidak jadi mengobrol, karena aku pikir Lara dan Embun orang yang berbeda. Padahal aku ingin meyakinkan Embun kalau kita pasti akan menerima Embun," jelas Al.
"Yah kirain jadi ketemu," lirih Bara.
"Ya nantilah aku kesana lagi," ucap Al.
__ADS_1
⬇️⬇️