Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

2 minggu kemudian,


Di toko.


"Emmmh memang benar-benar si Rian pergi menghilang 2 minggu tidak ada kabar." Ucap Embun pada Monik dan Trian.


"Kamu sih di suruh menghubunginya lebih dulu malah gak mau?" Ketus Monik.


"Untuk apa aku menghubunginya aku juga bukan siapa-siapa Rian." Elak Embun.


"Hah kamu itu Embun, ekspresimu nenunjukan kalau kamu galau." Tambah Trian.


"Seriusan aku gak galau, cuman ya kenapa gitu secepat itu melupakan kita disini." Ucap Embun.


"Ya mungkin si Rian juga punya kehidupan sendiri dan kembali pada kehidupannya lagi." Timpal Trian.


"Apa mungkin sebenarnya Rian udah punya istri dan anak?" Cetus Monik.


"Ah iya benar Embun sepertinya apa yang Monik bilang itu ada benarnya juga." Tambah Trian.


Anwar tiba-tiba datang. "Lagi bergosip apa sih?"


"Bergosip tentang si Rian!" Seru Monik.


"Oh, tumben masih ngumpul disini belum pada pulang? Ayo kita pulang Monik." Ajak Anwar.


"Aku masih nunggu Fahri." Jawab Trian.


"Eh nanti dulu sayang ayo duduk disini kita ghibah dulu." Monik mendudukan Anwar di sampingnya.


"Apa Rian ada menghubungimu?" Tanya Monik.


"Tidak ada!"


"Seriusan? kalian kan selama ini dekat." Embun meyakinkan.


"Serius, ngapain juga aku berbohong." Anwar resah karena di introgasi seperti itu.


"Kamu jangan bohong lagi sayang dari kemarin kamu gak tau gak tau mulu. Coba sekarang ceritakan apa saja yang kau tahu?" Bujuk Monik.


Apa aku ceritakan saja ya soal uang 50juta itu, lagian aku juga tidak bisa memendamnya sendirian apalagi masih ada uang 10juta di rekeningku. Apa aku bagi saja ya dengan mereka? Lagian Rian juga menghilang dan tidak ada kembali.


Pikir Anwar.


"Jangan kebanyakan bengong ih." Ketus Trian.


"E-eh maaf, aku beneran gak tahu apa-apa selama ini aku tahu yang kalian tahu juga." Ucap Anwar merasa tertekan.


"Ya sudahlah jangan di bahas lagi, sudah sana kalau mau pulang biar aku yang menemani Trian." Ujar Embun.


"Tapi ada satu rahasia sebenarnya, Emmmh waktu mau pulang Rian dapat transperan 50juta tapi tidak tahu dari siapa?" Jelas Anwar.


"50juta?"


"50juta?"


"50juta?"

__ADS_1


Mereka bertiga kaget,


"Apa kau serius?" Tanya Embun.


"Iyakan Emang ngirimnya ke rekeningku makanya aku tahu juga dan dia menyisakan uang 10 juta untukku." Tambah Anwar.


"Kau punya uang 10juta sayang?" Monik lebih kaget lagi.


"Apa jangan-jangan si Rian simpenan tante-tante lagi? Diakan ganteng." Pikiran Trian.


"Pasti ada pemberitahuannya kan pada ponselmu kalau ada yang mengirim uang? Kamu lihat tidak siapa namanya?" Tanya Embun.


"Emmmh aku lupa lagi soalnya langsung Rian hapus waktu itu." Ujar Anwar.


"Kau gunakan apa uang itu?" Tanya Trian.


"mana berani aku menggunakan uang itu?" Jawab Anwar.


"Pakai modal nikah aja sayang." Senyum Monik.


"Ah aku mana berani menghalalkanmu dengan uang tidak jelas nanti pernikahan kita tidak berkah." Anwar sok bijak.


"Iya Anwar ada benarnya juga, mending gak usah di pake nanti tunggu Rian kembali." Ucap Embun.


"Mana mungkin dia akan kembali setelah tidak ada kabar." Ucap Anwar.


"Sudahlah sana kalau mau pulang lagian Fahri juga udah kesini tuh." Tunjuk Embun. "Aku pulang duluan ya. Bye semuanya."


Mereka bubar dan pulang ke tempat masing-masing. Sepanjang jalan Embun kepikiran tentang semuanya yang tadi Anwar dan yang lainnya bicarakan.


"Apa ya kebenaran sebenarnya?" Gumam Embun. "Sudahlah, kenapa juga aku masih mikirin Rian yang jelas-jelas dia juga gak mikirin aku. Stop Embun jangan ingat-ingat lagi. Mending aku nonton drakor aja" Pikir Embun.


...----------------...


Keesokan harinya, pukul 6 sore Bara, Rian, Alisha dan mbak Marni sudah sampai di Jakarta mereka sudah berada di depan rumah Alisha lebih tepatnya.


"Akhirnya aku kembali lagi ke rumahku." Alisha senang.


"Sepertinya bang Galuh juga sudah pulang ke rumah karena mobilnya sudah ada di depan." Ucap Bara.


"Toktok ...." Alisha mengetuk pintu.


"Al-Alisha ...." Bang Galuh tertegun di depan pintu dan merasa kaget.


"Haiii sayang aku sangat merindukanmu." Alisha memeluk suaminya.


"Aku juga sangat merindukanmu. Kenapa tidak bilang padaku akan ke Jakarta aku pasti akan menjemputmu?" Tanya Galuh.


"Aku ingin memberikanmu kejutan dan ternyata benar kau terkejut." Ucap Alisha.


"Tuan lihat ada sekretarisnya di dalam rumah." Bisik Rian pada Bara.


Icha muncul dari dalam rumah. "Eh ibu sudah kembali?" Icha sok ramah.


"Kau ada disini sedang apa?" Tanya Alisha.


"Emmmh tadi dia mengantarkan berkas yang harus aku kerjakan tapi ketinggalan di kantor makanya dia kemari." Galuh beralasan.

__ADS_1


"Apa harus sampai masuk ke dalam rumah dan pintunya tertutup juga? Nganterin berkas di depan pintu juga bisa?" Sindir Bara.


"Maaf tadi saya numpang ke toilet dulu. Kalau begitu saya pergi dulu pak, bu." Pamit Icha dan berlalu pergi.


"Ayo kita masuk pasti kalian cape kan abis perjalanan jauh." Ajak Galuh.


"Iya sayang aku lelah sekali ingin istirahat." Ucap Alisha.


Bara dan Rian pun masuk ke dalam rumah menyusul galuh dan Al.


"Padahal itu sudah jelas banget tapi kenapa kak Al malah percaya pada bang Galuh?" Bisik Bara pada Rian.


"Iya tuan, apa harus kita tunjukan buktinya sekarang?" Tanya Rian pelan.


"Nanti saja, kita harus pakai kepala dingin menghadapi ini, bang Galuh pintar pasti dia bisa mengelak dengan mudah." Jelas Bara.


"Kalian mau minum apa?" Tanya Galuh.


"Tidak usah kita akan pergi ke apartement ayah dan tinggal disana." Jawab Bara.


"Kenapa kamu gak tinggal disini saja sih?" Ucap Al.


"Tidak, tapi aku pasti akan selalu mampir kesini mengecek keadaanmu." Ucap Bara.


"Eh iya sayang aku membawa mbak Marni untuk menjagaku di suruh ayah, jadi kalaupun kamu lembur atau keluar kota aku akan ada teman disini." Senyum Alisha.


"Iya itu bagus, jadi aku tidak khawatir kalau pergi kerja." Galuh membalas senyuman Al.


"Ya sudah kalau begitu kita pergi dulu, kak Al baik-baik ya kalau ada apa-apa hubungi saja aku." Pesan Bara.


"Jangan terlalu mengkhawatirkanku karena kan ada suamiku. Kamu urus saja urusanmu selesaikan." Ucap Al.


"Oke .... Tolong jagain kak Al ya bang." Ucap Bara basa basi. Kemudian pergi bersama Rian menuju apartement ayahnya.


Di dalam mobil, mereka naik taxi online.


"Aku tidak habis pikir kenapa Alisha begitu percaya pada bang Galuh?" Ujar Rian.


"Apa kau tidak lihat bang Galuh begitu manisnya kepada kak Al. Mana mungkin kak Al akan marah." Ucap Bara.


Mereka sampai di apartement dan mereka tinggal disana berdua.


"Kotor sekali disini?" Ucap Bara.


"Biar aku pesan tenaga kebersihan online dan membersihkan semuanya." Ucap Rian.


"Baiklah." Bara setuju.


Rian memesannya dan kemudian ikut duduk bersama Bara di ruang makan.


"Kenapa waktu itu kamu gak ke sini aja ke apartement?" Tanya Bara.


"Bagaimana bisa? Aku tidak tahu jalan dan kan waktu itu tidak ada uang juga." Jelas Bara.


"Kapan akan menemui gadis itu?" Tanya Rian.


Bara melihat jam tangannya dan waktu masih menunjukan pukul 7. "Nanti saja jam 9 malam lagian sekarang Embunnya juga masih kerja dan juga mana mungkin kita meninggalkan yang beberes disini."

__ADS_1


"Baiklah." Angguk Rian.


⬇️⬇️


__ADS_2