Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Jadian???


__ADS_3

Embun dan Rian sudah sampai Jakarta lagi mereka sudah sampai di terminal.


"Ya ampun aku merasa pegal sekali Embun, badanku sakit semua." Rian menggeliat meregangkan otot-ototnya.


"Ya sudah kita duduk disana dulu kita tunggu taxi online yang sudah kita pesan." Ujar Embun.


Mereka duduk di bangku tidak lama kemudian taxi online yang mereka pesan sudah datang. Mereka pulang menuju kontrakan. Embun tertidur di bahu Rian karena merasa sangat lelah setelah perjalanan jauh yang mereka lalui.


"Embun sudah sampai bangunlah." Ucap Rian hati-hati.


"Emmmh, aku lelah sekali maaf aku ketiduran." Ucap Embun.


"Tidak apa-apa, ayo turun dan lanjutkan nanti tidurnya di kontrakan." Saran Rian.


Rian dengan sigap membawakan tas Embun dan sebuah kardus juga yang berisi oleh-oleh.


"Mau beli makanan apa dulu?" Tanya Rian.


"Iya ya kita kan belum makan malam." Jawab Embun.


"Emmmh kita beli nasi padang aja ya yang deket." Ide Rian.


"Baiklah, biar aku tunggu disini ya." Senyum Embun.


Rian pun berlalu membeli makan untuk mereka berdua dan membungkusnya karena akan makan di kontrakan saja.


"Ayo, aku sudah selesai membeli makannya. Ini bawa biar aku bawa tasnya." Rian menyodorkan kantong kresek berisi makanannya.


Sesampainya di kontrakan mereka membersihkan diri mereka dulu lalu kemudian mereka makan karena merasa sangat lapar.


Embun begitu lahap makan Rian juga begitu.


"Pelan-pelan makannya Embun sampai blepotan begitu." Rian mengambil tisu dan mengelap ujung bibir Embun.


"Hehee maaf. Terima kasih." Senyum Embun.


"Sama-sama."


"Kamu mau balik ke mess?" Tanya Embun.


"Iya. Kau tidak apa-apa kan disini sendiri?" tanya balik Rian.


"Tidak apa-apa aku sudah terbiasa Rian." Senyum Embun.


"Aku merasa punya tanggung jawab setelah di suruh abah untuk menjagamu." jelas Rian.


"Apa itu jadi beban untukmu?" Tanya Embun.


"Tidaklah. Aku sangat senang lagian kamu juga selalu ada untukku mana mungkin kamu beban bagiku." Tegas Rian.


"Makasih."


"Aku pergi dulu ya, kamu baik-baik disini jangan lupa kunci pintunya." Pesan Rian.


"Baik bos. Kamu juga hati-hati di jalan." Senyum Embun.


Hemmm si Rian baik juga ternyata.

__ADS_1


Hati Embun.


Rian berlalu pulang ke mess nya dan sudah di sambut Anwar yang begitu banyak bertanya dan bawel sekali padahal Rian begitu cape dan ingin segera istirahat.


"Wah akhirnya lu pulang juga. Mana oleh-oleh untukku?" Pinta Anwar.


"Emang lu temen gak ada akhlak, tanya kek kabarku atau bagaimana perjalananku gitu malah nanyain oleh-oleh." Kesal Rian.


"Emmh segitu aja ngambek, sini aku bawain tasnya ke atas pasti kamu cape kan?" Anwar sok baik.


"Ini bawalah, aku sangat lelah ingin istirahat." Ujar Rian.


Sesampainya di kamar.


"Aku sudah membawakan tas lu mana oleh-olehnya?" Pinta Anwar.


"Oleh-olehnya di Embun tadi belum di buka lagian kasian Embunnya masih cape." Jawab Rian santai.


"Lu ngerjain ya, mana mau kalau gitu aku bawain tas lu." Anwar melemparkan tas Rian.


"Lu sendiri yang menawarkan diri. Aku gak nyuruh." santai Rian.


"Iya juga sih. Sana geseran aku juga mau tidur." suruh Anwar.


"Tapi jangan berisik ya, aku lelah." pinta Rian.


"Iya aku hanya chattingan tidak telponan."


"Dasar bucin." Ledek Rian.


Hening.


Sepertinya Rian sudah terlelap tidur sedangkan Anwar masih sibuk dengan ponselnya chatting dengan Monik. Walaupun sering bertemu masih saja chatting tidak terlewat emang bucin sejati.


Keesokan harinya,


Rian merasa segar karena sudah mandi. Melihat Anwar yang setiap waktu tidak lepas dari ponselnya.


"lu gak mandi? malah main ponsel terus." Tanya Rian.


"Nanti sebentar lagi." jawab Anwar.


Kring....


Telpon Rian berbunyi dan ternyata asistennya. Rian berlari ke lantai atas dan mengangkat telponnya.


(Hallo Rian ada apa.) Tanya Rian.


(Aku sudah mendapatkan bukti, sekarang ada di tanganku, bagaimana selanjutnya?) tanya asisten Rian.


(Hemmm simpan saja dulu, aku ingin menunjukannya sendiri olehku. Awas jangan sampai hilang.) Pinta Rian.


(Baik tuan, Aku kasihan sebenarnya pada Alisha di bohongi seperti ini.) Ucap asisten Rian.


(Ya mungkin itu sudah jalan hidupnya kak Al. Aku berharap bukti itu bisa membuat kak Al sadar kalau bang Galuh tidak sebaik itu.) Jelas Rian.


(Iya, aku harap Al bisa mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya.) Ucap asisten Rian.

__ADS_1


(Tolong jaga kak Al ya, aku akan kembali secepatnya.) Rian menutup Telponnya.


"Hemmm apa yang harus aku lakukan sekarang? apa mungkin aku kembali sekarang? tapi Embun bagaimana? Aku tidak bisa jujur sekarang pada Embun dan juga tidak bisa meninggalkannya." Gumam Rian.


Rian hanya mondar mandir dan Anwar datang merasa curiga apa sebenarnya yang Rian sembunyikan karena menelpon bisik-bisik.


"Lu selingkuh ya dari Embun? bicara di telpon bisik-bisik gitu." Tanya Anwar.


"Siapa yang selingkuh? itu tadi sodaraku." Jawab Rian.


"Jadi bener Lu jadian sama Embun? coba ceritakan apa yang terjadi di kampung kemarin?" Tanya Anwar penasaran.


"Kepo bener sih." Ketus Rian.


"Cerita dong? kalaupun belum jadian seenggaknya bisa aku bantuin sama Monik juga." ucap Anwar.


"Apa tidak lihat jam? itu sudah jam 8 kita waktunya buka toko nanti si bos marah." Jelas Rian.


"Iya bener ayo cepetan turun." Anwar buru-buru pakai bajunya.


Mereka berdua pun turun dan membuka toko seperti biasanya. Toko Embun belum buka masih tutup.


Embun masih berada di kontrakannya dan sedang membagi-bagi oleh-oleh untuk temen-temennya di tempat kerja.


"Aku merasa pegal sekali." Gumam Embun.


Sepertinya harus segera mandi biar lebih segar dan habis itu beli sarapan dan berangkat." Embun semangat.


Setelah mandi dan membeli sarapan Embun membuka ponselnya dan sudah banyak pesan masuk ternyata Rian yang mengirim foto-foto waktu di kampung.


"Ya ampun Rian ternyata banyak sekali foto-foto kita, Emmmh kamu juga ganteng ternyata kaya oppa korea iih gemes banget deh." Gumam Embun yang senyum-senyum sendiri.


"Sadar Embun sadar jangan banyak berharap dia juga biasa aja padaku." Pikir Embun.


"Tapi waktu ciuman itu? apa mungkin Rian ada rasa padaku? Ah tidak tidak itu hanya pengaruh setan saja karena aku berduaan di rumah waktu itu." Embun hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lupakan Embun lupakan saja. Aku harus berangkat ke toko sekarang." Embun berlalu pergi ke toko dan membawa semua oleh-olehnya. Sesampainya di toko Embun langsung membagikannya pada semua orang termasuk mas Pras juga.


"Kamu sepertinya bahagia sekali ya Embun." Goda Monik.


"Ah tidak biasa aja kok." Pipi Embun memerah.


"Ah jujur ayo, cepatlah ceritakan." Trian juga penasaran.


Embun memberikan ponselnya dan menunjukan foto-foto mereka waktu di kampung. "Nih lihat aja sendiri."


"Cieee .... Embun kalian serasi juga ya. Apalagi lihat ini pas sama pengantin Rian merangkul Embun." Ucap Monik.


"Iiih Embun kalian so sweet sekali sih." Trian merasa iri.


"Apa kalian hanya akan bergosip saja? cepat beres-beres nanti keburu ada pelanggan." Ketus siska.


"Iya ...." mereka serempak menjawab Siska.


Mereka melanjutkan pekerjaannya dan berhenti membicarakan tentang Embun dan Rian.


⬇️⬇️

__ADS_1


__ADS_2