Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Perjalanan ke kampung Embun


__ADS_3

Hari yang di tunggu pun tiba dimana Embun akan pulang kampung bersama Rian. Embun sudah meminta izin untuk libur 2 hari begitupun dengan Rian sudah mendapatkan izin. Mereka berangkat tengah malam biar tidak macet dan bisa sampai pagi hari di kampung Embun.


"Kalian hati-hati ya." ucap Trian yang masih menunggui Embun sampai Embun pergi ke terminal.


"Makasih ya Trian udah nemenin aku dari tadi. Fahri anterin Trian ya sampai rumahnya." ucap Embun.


"siapp Embun. Kalian hati-hati ya dan selamat sampai kampung." ucap Fahri.


"Jangan lupa oleh-oleh ya Embun." pinta Anwar.


"Lu ya dasar..." ejek Rian.


"Aku minta pada Embun bukan sama lu." balas Anwar.


"Sudahlah ayo pergi, itu taxi online nya udah nungguin." ajak Embun.


Mereka pun berangkat ke terminal dengan menaiki taxi online. setelah itu menaiki bus menuju Bandung yang sudah di pesannya terlebih dahulu.


"Tidak terlalu penuh ya?." ucap Embun.


"Iya bagus deh."


"Mungkin belum musim liburan juga." jelas Embun.


"Dingin juga ternyata ya." ucap Embun.


"Sini tidurlah di bahuku ini dan pegang tanganku biar gak kedinginan." suruh Rian.


"Emmmh baiklah." Embun Ragu-ragu dan hanya memegang tangannya saja."


"Kau tahu baru kali ini aku pulang malam ke Bandung dan suasananya beda enak gak gerah." ucap Embun.


"Biasanya kamu pulang sendiri?."


"Iya pulang sendiri, biasanya siang hari kalau malam sendiri takut."


"Kamu hebat Embun, kamu mandiri pekerja keras gak cengeng juga. Luar bisa sih menurutku." puji Rian.


"Ah biasa aja, gak usah muji-muji deh nanti hidungku terbang." senyum Embun.


"Kamu lucu sekali." senyum Rian.


"perjalanan kita ke Bandung 3 jam kalau gak macet nanti naik bis lagi 2 jam, terus naik ojeg 15 menit baru deh sampai ke kampungku." jelas Embun.


"Ya ampun jauh sekali rumahmu Embun. apa itu di ujung dunia." tanya Rian.


"Hahaa... kamu ini ada-ada saja. Lagian nanti jauhnya perjalanan ini akan terbayar dengan pemandangan yang indaaahh sekali." ucap Embun.


"Oke kita lihat Nanti seindah apa kampungmu itu. Kalau mengecewakan kau harus jadi pacarku selamanya ya..." senyum Rian.


"Okelah oke..." lagi-lagi Embun menanggapinya hanya bercandaan saja.

__ADS_1


"Aku ngantuk." ucap Embun.


"tidurlah di bahuku ini."


"Tapi kamu jangan tidur ya, jagain tas. Biar tidur gantian saja." ucap Embun.


"Aku tidak mengantuk, aku akan menjagamu dan tas kita. Kamu tidurlah." senyum Rian.


Embun menyandarkan kepalanya pada bahu Rian dan mengeratkan pegangan tangannya. Embun merasakan kenyamanan setiap kali berada dekat dengan Rian perasaan aneh sering muncul pada hatinya.


Kenapa kamu buatku nyaman sih Rian? padahal kita hanya akan pura-pura pacaran saja. Tapi aku takut malah baper. Jangan Embun jangan baper awas hati-hati.


Batin embun.


"Tidurlah...."suruh Rian.


"Hemmm...."


Embun aku senang berada dekat denganmu kamu beda dari wanita lainnya. Tidak memandang aku punya uang atau tidak kau mau dekat denganku.


Bagaimana ya kalau Embun tahu kalau aku bukan Rian yang sengsara ini tapi Bara seorang yang kaya raya?.


Batin Rian.


"Aku tidak boleh tertidur." Rian bermain game di ponselnya karena ketularan Anwar.


Perjalanan yang sangat panjang dan sudah hampir tiba Bandung. Jalanan yang lancar membuat mereka cepat sampai. Rian membangunkan Embun yang masih tertidur.


"Hoammm... Emmh sepertinya sudah sampai. Ayo kita turun dan bawa tasnya." ucap Embun.


Mereka turun dan menuju bis selanjutnya. Mereka harus menunggu satu jam karena menunggu bis penuh. Setelah penuh baru berangkat.


"Perjuangan sekali Embun kalau ingin pulang ke rumahmu." ucap Rian.


"Iya, makanya aku pulang 6 bulan sekali atau bahkan setahun sekali." ucap Embun.


"Kalau naik mobil berapa jam?." tanya Rian penasaran.


"Ya sama aja sih sebenernya. kalau naik umum harus gini ngetem dulu nunggu penuh." ucap Embun.


"Oke... ini bagus untuk melatih kesabaran." senyum Rian.


"Sekarang kamu tidurlah biar aku yang jaga tas. Aku pikir aku sudah puas tidur daritadi." suruh Embun.


"Baiklah, aku sangat lelah sekali." ucap Rian.


Rian tertidur dengan wajah di tutupi hoodie yang di pakainya. Embun memandangi Rian dan merasa kalau semakin hari Rian semakin tampan saja.


Aaah Rian mirip banget oppa korea apalagi kalau tidur begitu imut banget iiih gemes deh...


Pikir Embun senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Jangan Embun jangan... Jangan baper..." gumam Embun.


2 jam perjalanan begitu sangat lama membuat Embun merasa pegal dan kebelet juga. Akhirnya sampai dan mereka istirahat dulu di sebuah masjid agung disana. Sudah subuh dan mereka melaksanakan sholat subuh dulu.


Sebelumnya Rian jarang sekali sholat apalagi ke mesjid tapi sejak di Jakarta Rian jadi rajin sholat karena sering di ajak Anwar juga.


Setelah selesai mereka langsung untuk pulang dan naik ojeg untuk sampai ke rumah Embun. Rian mengigil dan merasa kedinginan, udara kampung sudah terasa menusuk ke tulang.


Mereka sudah sampai di rumah Emak dan abah. Emak dan abah belum tahu kalau Embun pulang bersama dengan Rian.


"Embun aku tidak kuat dingin sekali." ucap Rian menggigil.


"Ini yang aku rindukan yang tidak ada di Jakarta. ayo kita masuk ke rumahku." ajak Embun.


"Tapi aku suka Embun pemandangannya sangat indah dan masih asri walaupun jalannya bikin jantungku mau copot tapi semua terbayarkan dengan keindahan alamnya." jelas Rian.


"Nanti aku ajak kamu jalan-jalan ke air terjun. Indaaaah banget..." ucap Embun.


Rian sudah menutupi kepalanya dengan hoodie dan masih merasa kedinginan.


"Ya ampun Embun kamu sudah sampai saja." sambut Emak.


"Iya mak aku berangkat tengah malam dari Jakarta karena bersama Rian jadi aku berani pulang malam." jelas Embun.


"Siapa ini Embun ganteng sekali begini." tanya Emak.


"Ini yang lagi deket sama Embun mak." jawab Embun.


"Kenalin mak nama saya Rian." senyum Rian.


"Ya ampun meuni ganteng. Ayo masuk.... si abah belum bangun habis subuh teh tidur lagi." ucap Emak.


Rian duduk di kursi bambu di rumah Embun. Rumah Embun biasa saja sudah rumah batu bata bukan rumah Bambu. Rian begitu kedinginan dan Embun hanya tersenyum melihat Rian.


"Sini tasmu biar aku simpan di kamarku." pinta Embun.


"Ini... dingin banget Embun."


"Ini minum dulu teh anget sama goreng singkong juga buat angetin badanmu." ucap Emak.


"Iya makasih mak," Rian mengambil minumnya dan sedikit menghangatkan perutnya.


"Mak gak di rumah wa Hasyim?." tanya Embun.


"Emak semalam pulang dulu kan nunggu kamu yang mau pulang." jawab Emak.


"Nanti kesananya bareng aja ya mak, aku malu." ucap Embun.


"Iya nanti emak temenin." senyum Emak.


Rian hanya menyimak obrolan Embun dan Emak. Menikmati goreng singkong dan teh panas. tidak pernah Rian merasakan sebelumnya makanan seperti itu.

__ADS_1


⬇️⬇️


__ADS_2