
Sementara itu Monik dan Trian mencoba menenangkan Embun tapi Embun mengelak kalau dia baik-baik saja tidak merasa sedih ataupun kecewa.
"Embun apa kamu baik-baik saja?" Tanya Trian.
"Aku baik-baik saja, kalian tidak usah khawatir. Ini bukan hal yang gimana-gimana kok," senyum Embun.
"Aah Embun, kamu marah sama Rian? Eh siapa sih namanya tadi?" kesal Monik.
"Bara"
"Wajar aja sih kalau emang kamu marah sama si Bara itu, dia udah boongin kamu, kita juga di boongin sama dia," ketus Trian.
"Tapi alasan dia masuk akal juga sih Bun, padahal gak apa-apa Mbun dia ternyata orang kaya," senyum Monik.
"Hemmm iya karena itu Monik yang jadi masalah buatku. Masalah besar malahan," ucap Embun.
"Masalah besar gimana Mbun? kan selama ini dia baik gak pernah macem-macem juga," tambah monik.
"Kau tidak akan mengerti, aku lebih senang berteman dengan Rian yang sederhana dan biasa saja sebandinglah denganku. Tapi kalau Bara, ya mending gak usah deket lagi sekalian karena kan dia orang kaya mana mungkin keluarganya membolehkan dekat dengan orang biasa sepertiku," jelas Embun.
"Hemmm iya aku mengerti Embun, gak apa-apa kalau emang itu keputusanmu. Tapi, plis jangan sedih ya kan ada kita disini," senyum Trian.
"Aku gak sedih weey beneran deh. Makasih ya selalu ada di sampingku dan mendukungku," ucap Embun.
"Ah Embun kamu menyia-nyiakan kesempatan untuk jadi orang kaya, terima aja Embun dan kamu bakalan hidup senang kalau sama dia pasti deh, mobilnya aja mewah," timbrung Siska.
"Heh dasar mata duitan," ledek Monik.
"Hah gak usah munafik deh jadi cewek. Sana balik kerja lagi jangan malah ngerumpi," suruh Siska.
Mereka pun kembali bekerja tanpa membalas omongan Siska yang nyelekit.
"Jangan dengerin omongan si Siska Embun. Dia sendiri yang munafik," bujuk Monik.
"Gak apa-apa ko Monik aku juga gak mikirin kok. Nih aku senyum ...." Embun melebarkan senyumnya.
...----------------...
Sementara itu Bara dan Rian sudah sampai di rumah Kak Alisha.
"Apa tuan tidak akan kembali ke kantor?" tanya Rian.
"Tidak, sana kamu aja yang ke kantor," jawab Bara.
"Baiklah! nanti aku jemput lagi tuan kemari," Rian berlalu pergi untuk ke kantor.
Bara masuk ke dalam rumah kak Alisha dan menemui kak Alisha lalu menceritakan semuanya apa yang terjadi dengan Embun.
"Teruslah berusaha kalau memang kamu menginginkan Embun," pesan Alisha.
"Akan sangat sulit kak," ucap Bara.
"Aku jadi penasaran pada Embun, bagaimana mungkin seorang Bara di tolak? malah selama ini kamu yang sering menolak cewek," goda Al.
"Kan aku sudah bilang kalau Embun itu berbeda," jelas Bara.
__ADS_1
"Mmmh baiklah aku percaya." Senyum Al.
"Apa Bang Galuh pulang tepat waktu kalau selesai bekerja?" tanya Bara.
"Iya! Bang Galuh juga suka membawakanku makanan pokoknya sweet banget," ucap Al.
Ciiih Bang Galuh bisa betul menyembunyikan semuanya dan bersikap baik pada kak Al.
Batin Bara.
"Aku harap Bang Galuh tidak menyakitimu dan menduakanmu," ucap Bara.
"Tidak mungkin! jangan berpikiran begitu ah," pungkas Al.
"Sebenarnya ...." Bara menghentikan bicaranya.
"Sebenarnya apa?" Alisha penasaran.
"Ah tidak! Aku mau numpang tidur saja ya disini." Bara berlalu ke kamar tamu rumah Alisha.
"Bara ...." teriak Al. "Kamu gak jelas banget ya."
Alisha membereskan roti yang Bara bawa. "Apa yang harus aku lakukan dengan roti-roti sebanyak ini?" gumam Alisha.
"Ah mending aku bawa saja ke kantor Bang Galuh dan membagikannya pada karyawan lain dari pada mubazir, sekalian aku belanja bulanan juga," pikir Al.
Alisha bersama mbak Marni pergi kesupermarket dan mampir dulu ke kantor Galuh. Mereka pergi dengan taxi online.
"Bara, kakak pergi ke supermarket dulu ya. Kamu jangan tidur terus jaga rumah soalnya mbak Marni ikut kakak," teriak Al.
"Ayo mbak kita pergi sepertinya taxinya sudah datang," ajak Al.
Alisha dan mbak Marni pergi ke supermarket dekat kantor Galuh dan mampir ke kantor Galuh untuk memberikan roti-roti disana.
"Selamat siang bu, wah sudah lama ya tidak bertemu dan sekarang kandungannya sudah besar," sapa salah satu staff.
"Haiii Rahma kamu makin cantik saja," puji Al.
"Ah ibu bisa saja," Rahma merasa malu.
"Eh iya ini ada makanan untuk kalian semua, tolong bagikan ke yang lainnya ya Rahma," suruh Al.
"Wah makasih banyak bu, nanti Rahma bagiin ke yang lain," ucap Rahma.
"Oke makasih Rahma, aku mau bertemu suamiku dulu ya," pamit Al.
Staff di kantor mengenal Alisha dengan baik, karena memang perusahaan adalah milik Alisha, lebih tepatnya milik ayah Alisha yang sebelumnya Alishalah yang menjadi direktur. Setelah menikah barulah Galuh yang mengambil alih.
"Bapak ada di ruangannya bu," ucap Rahma.
Alisha berjalan menuju ruangan Galuh tetapi merasa heran karena meja sekretaris yang biasanya ada di depan ruangan Galuh tetapi jadi tidak ada.
"Kemana meja sekretarianya?" gumam Al.
"Haiii sayang ...." sapa Al. Memeluk Galuh yang menyambutnya dengan senyuman.
__ADS_1
"Haiii sayang kau disini?" tanya Galuh.
Untung aku sudah beritahu satpam kalau ada Alisha kemari segera menelpon, jadi aku bisa berjaga-jaga.
Batin Galuh.
"Iya, ini aku bawakan cemilan roti untukmu, tadi juga udah aku bagi-bagi pada yang lainnya," jelas Al.
"Selamat siang bu," sapa Icha.
"Haiii, emmmh meja sekretaris jadi pindah ke dalam?" tanya Al heran.
"Oh ini kan aku sering bahas pekerjaan, kasian juga kalau bulak balik keluar masuk ruanganku. Gitu ...."
gagap Galuh.
"I-iya bu, karena aku baru. Jadi banyak tidak mengertinya." ucap Icha.
"Emmmh baiklah," Al tidak merasa curiga.
"Kalau begitu saya keluar dulu ya bu," pamit Icha.
Icha keluar dari ruangannya dan pergi ke pantry meneguk minumnya.
"Kalau sekretarismu sudah pintar, pindahkan saja lagi mejanya keluar. Pasti dia tidak akan pokus juga kalau bekerja di hadapan bosnya langsung," pinta Alisha.
"Iya istriku yang cantik," puji Galuh.
"Iiih gombal,"
"Eh iya kamu sendirian kesini? jangan gitu ah kamukan lagi hamil," ucap Galuh.
"Aku sama mbak Marni kita sekalian mau ke supermarket. Sudah yah aku ke supermarket dulu kasian mbak Marni menungguku di taxi," jelas Alisha.
"Baiklah aku antar kamu sampai ke taxi," ucap Galuh.
Mereka keluar dari ruangan Galuh menuju taxinya dan Galuh kembali keruangannya setelah Alisha pergi.
Icha sudah ada disana di meja kerjanya.
"Pak, besok pindahkan lagi saja mejaku keluar, aku takut kalau bu Alisha mengetahui hubungan gelap kita," pinta Icha.
Galuh menutup pintunya dengan rapat. "Tidak sayang, aku ingin melihatmu setiap waktu. Memandang kecantikanmu ini," goda Galuh.
Galuh membelai Icha dari mulai rambut sampai wajah Icha kemudian mereka larut dalam hangatnya ciuman terlarang.
"Kamu jangan khawatir saat Perusahaan sudah atas namaku dan Alisha melahirkan, aku akan menceraikannya dan menikahimu," pungkas Galuh.
"Tapi pak, aku sangat takut sekali ketahuan bu Alisha," ucap Icha.
"kita bermain di belakang dan jangan sampai ketahuan oke." Galuh memeluk Icha.
(Icha polos-polos bego lah ya)
⬇️⬇️
__ADS_1