Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Ponsel baru Embun


__ADS_3

Icha sudah sampai di toko Embun, kebetulan tokonya sedang tidak ada pelanggan. Embun dan Trian akan leluasa bertanya tentang masalah perselingkuhannya.


"Duduklah Icha!" suruh Trian.


Disana juga ada Embun bersama Monik juga.


"Ada apa Trian? tumben banget ngajak ketemu," tanya Icha.


"Emmmh ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu," gagap Trian.


"Ada hal penting apa sih Ian? bikin penasaran aja," ucap Icha.


"Biar aku saja yang bicara!" Embun mulai bersuara. "Apa kamu tahu kalau pacarmu itu sudah punya isteri?" tanya Embun to the point.


"Ma-maksudmu?" gagap Icha.


Kenapa dia bisa tahu sih?


Hati Icha.


"Iya! aku tahu siapa pacarmu dan dia udah punya isteri," jelas Embun.


"Apa sih maksudmu? aku tidak mengerti sungguh. Lagian kita gak saling kenal, kan? cuman pernah bertemu beberapa kali aja bagaimana mungkin bisa tahu pacarku?" elak Icha.


"Pacarmu namanya Galuh, kan? dan dia sudah menikah nama isterinya Alisha!" tegas Embun.


"Emangnya yang namanya Galuh di dunia ini cuman 1 apa? kamu jangan nuduh sembarangan gitu yah? emang kamu nuduh aku kaya gitu punya bukti apa mana aku lihat?" tantang Icha.


"Emang aku tidak punya bukti tapi aku melihat sendiri kalau pacarmu itu sudah punya isteri!" Embun sudah meninggikan suaranya.


"Emang kamu tahu pacarku seperti apa?" ketus Icha.


"Aku melihatnya dari Trian! dari story WA kamu," ucap Embun.


Trian kamu ya! tapi kenapa dia bisa kenal sama mas Galuh? siapa dia sebenarnya? tidak mungkin dia sodaranya Galuh atau sodara Isterinya Galuh.


Batin Icha.


Icha berdiri dari duduknya. "Kalau aku di suruh kesini hanya untuk di tuduh seperti itu, ya sudah aku pulang saja! aku juga tidak ingin bertemu denganmu lagi Trian." Icha berlalu pergi meninggalkan toko.


"Temanmu itu kenapa sih Ian? kok malah marah. Padahal kita nanya baik-baik," ketus Monik.


"Sepertinya yang kita tuduhkan itu benar. Makanya dia marah pada kita," ucap Embun.


"Aku benar-benar masih tidak menyangka kalau Icha bisa sejahat itu merebut suami orang lain," tambah Trian.


"Hahhh ini akan semakin sulit!" keluh Embun.


"Ya sudah ayo kita kembali ke dalam nanti ada Siska ngomelin kita," ajak Monik.


"Mereka bertiga hendak masuk ke dalam toko, tapi Bara dan Rian datang menghampiri mereka.


"Haiii Embun haiii kalian ..." sapa Bara.

__ADS_1


"Kamu disini?" tanya Embun.


"Iya! aku kesini ingin memberikan ponsel untukmu," Bara menyodorkan kantong berisikan ponsel baru untuk Embun.


"Kamu sudah menemukan ponselku? berarti sudah bertemu dengan kak Al? bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Embun.


"Nanya tuh satu-satu dong!" keluh Bara.


Embun membuka kantongnya ternyata isinya sebuah ponsel baru dan yang pasti itu ponsel mahal bisa di lihat dari mereknya. "Ponsel baru?"


"Iya! karena aku belum ke rumah kak Al dan belum mencari ponselmu jadi aku belikan kamu ponsel baru pasti kamu butuh ponsel, kan?" jelas Bara.


"Tidak usah! ambil saja lagi. Aku tidak membutuhkannya!" Embun memberikannya lagi pada Bara.


"Kau Lihat Trian! Embun menolak ponsel mahal dari Bara," bisik Monik pada Trian.


"Suuut jangan banyak bicara!" saut Trian.


"Kenapa Embun? ambilah!" Bara mengembalikannya lagi pada tangan Embun.


"Itu terlalu mahal! ponselku yang hilang harganya hanya 2juta tidak semahal ponsel itu. Aku gak butuh!" tolak Embun. Embun meletakan ponselnya di meja dekat mereka berdiri.


"Baiklah nanti aku belikan lagi," ucap Bara.


"Aku tidak mau merepotkanmu! sana pergilah aku mau kerja lagi. Nanti kalau kamu sudah bisa bicara dengan kak Al bilang padaku ya. Aku juga ingin bicara pada kak Al," ucap Embun.


"Baiklah aku pulang!" Bara dan Rian berlalu pulang.


Embun menarik tangan Trian dan Monik yang bengong daritadi. "Ayo kita kerja lagi!"


"Eh jangan samakan Embun sama kamu Mon," timpal Trian.


"Sudahlah kalian! aku tidak enak kalau harus menerima ponsel mahal itu dari Bara aku juga bukan siapa-siapanya Bara," tegas Embun.


"Cieee ... apa kamu mau jadi apa-apanya Bara dulu gitu? baru mau nerima," goda Monik.


"Kamu apaan sih Mon!" ketus Embun.


"Viss aku hanya bercanda!" senyum Monik.


"Apa Bara tidak menembakmu gitu dan meminta kamu jadi pacarnya atau jadi istrinya?" ucap Trian.


"Apaan lagi kamu Ian ikut-ikutan Monik segala," ucap Embun.


"Ya, aku hanya penasaran. Kalian kan udah deket, sama-sama jomblo juga. Apa salahnya gitu kalau pacaran atau bahkan nikah," tegas Trian.


"Udah ah aku gak mau bahas Bara lagi! pusing kepalaku mikirin si Icha juga," keluh Embun.


Trian dan Monik pun berhenti bicara dan mereka melanjutkan pekerjaannya lagi karena pelanggan mulai berdatangan lagi.


Tidak lama kemudian Rian kembali datang dan membawa kantong berisikan ponsel untuk Embun dan Monik yang menerimanya karena berjaga di depan.


"Haiii, Emmmh bisa panggilkan Embun?" tanya Rian.

__ADS_1


"Eh pak asisten!" jawab Monik. Monik melihat Embun dan sedang melayani pembeli. "Sepertinya Embun lagi melayani pembeli deh."


"Ya udah kalau begitu aku tidak mau ganggu. Tolong berikan saja ini pada Embun dari tuan Bara," Rian menyodorkan kantong itu.


"Oh okey!" angguk Monik.


"Baiklah saya pergi. Terima kasih mbak!" Rian berlalu pergi.


Setelah pelanggan itu pergi barulah Monik menyerahkan kantong itu pada Embun.


"Embun ini ada titipan untukmu dari pak Asisten katanya dari tuannya Bara!" ucap Monik.


"Apalagi sih ini?" Embun membukanya. "Ponsel! ini sama seperti punyaku. Dimana pak Riannya?" tanya Embun.


"Udah pergi daritadi juga," jawab Monik.


"Emmmh ya sudahlah! lagian ini ponsel yang sama dengan punyaku yang hilang. Gak apa-apalah aku juga butuh ponsel," ucap Embun.


"Nah gitu dong terima. Rezeki itu gak boleh di tolak," ucap Monik.


"Iya mon. Makasih ya!" senyum Embun.


Mereka kembali bekerja.


Waktu menunjukan pukul 8 malam. Toko sudah tutup dan para pegawai akan pulang, seperti biasa Embun hanya pulang sendiri dan yang lainnya di jemput pacar masing-masing.


"Embun tunggu!" panggil Mas Pras.


"Ada apa Mas?" jawab Embun.


"Ini ada roti buat kamu! apa perlu aku antar kamu pulang?" ucap Mas Pras.


"Tidak usah Mas aku pulang sendiri saja. Makasih ya rotinya, aku pulang ..." Embun berlalu pulang.


Sesampainya di kontrakan Embun. Embun baru membuka ponselnya ternyata ponselnya sudah menyala sudah siap pakai.


"Ooh ternyata sudah hidup!" gumam Embun.


Sudah ada kontak Bara juga ternyata. Embun menghubungi dulu abahnya di kampung karena nomornya ganti takut kalau abah dan emak tidak bisa menghubungi Embun dan menjadi khawatir.


*


Di apartement Bara.


Bara hanya mondar mandir mencoba menghubungi Embun tapi tidak bisa kemudian menghampiri Rian di ruang kerja.


"Rian apa kamu sudah antarkan ponselnya pada Embun?" tanya Bara.


"Sudah!" jawab Rian singkat.


"Tapi kenapa tidak bosa di hubungi sih?" ketus Bara.


"Coba lagi saja. Tadikan ponselnya sudah dinyalakan dan memasukan kartu sim baru juga," ucap Rian.

__ADS_1


Bara mencoba menghubungi Embun kembali.


⬇️⬇️


__ADS_2