Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
P3 - Partner Pemberantas Perselingkuhan


__ADS_3

Keesokan harinya. Pagi hari sekali Bara sudah berada di depan kontrakan Embun.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara pintu kontrakan Embun di ketuk.


Waktu menunjukan pukul 7 pagi, seperti biasa Embun tidur kembali setelah subuh. "Siapa sih pagi-pagi gini ganggu aja?"


Dengan rambut acak-acakan dan matanya masih terpejam. "Siapa? ada apa?" Embun membuka pintunya.


Bara sedikit menertawakan Embun. "Kamu baru bangun?"


Embun tidak asing dengan suara itu dan mengucek-ngucek matanya. "Bara?"


"Iya aku Bara! bangunlah ini sudah pagi. Ini aku bawakan sarapan juga untuk kita sarapan bersama." Bara melepaskan sepatunya dan masuk.


Embun terlihat tidak bersemangat dan berbaring lagi di tempat tidurnya. "Ngapain sih pagi-pagi kesini segala?"


"Salah sendiri! semalam aku menelponmu tapi malah tidak nyambung. Makanya aku kemari takutnya kamu kenapa-kenapa," jelas Bara.


"Emmmh semalam aku telponan sama emak. Makanya mungkin gak nyambung," ucap Embun dengan matanya yang sayu masih mengantuk.


"Cepatlah sana cuci muka dan kita sarapan!" suruh Bara.


"Sarapan aja sendiri! lagian ini masih pagi aku masih ngantuk biasanya aku bangun jam8." Embun membalikkan badannya dan memunggungi Bara.


Bara menarik tangan Embun. "Ayolah bangun!"


Tangan Bara malah tertarik oleh Embun dan membuat Bara terjatuh di atas Embun. Mereka sangat dekat mata mereka saling menatap terkunci dalam tatapan yang begitu dalam. Bara membelai pipi Embun dan hendak mendekatkan bibirnya pada bibir Embun.


"Minggir sana!" Embun bangun dari tidurnya dan mendorong Bara.


"Aw sakit Embun!" keluh Bara.


"Minggir aku mau cuci muka." Embun berlari ke kamar mandi.


"Ya ampun Embun ... Embun ...."


Bara berlalu keluar dari kontrakan Embun. "Tunggu saja di mobil. Aku mau sarapan dulu dengan Embun," ucap Bara pada Rian yang ternyata dari tadi menunggui Bara di teras. Tanpa jawaban yang keluar dari mulutnya, Rian pergi berlalu ke mobilnya dan menunggu disana.


"Kamu usir asistenmu?" tanya Embun.


"Iya! takutnya dia ganggu," cetus Bara.


"Ganggu apa sih? dia selalu diam," ucap Embun.


"Ini sarapannya! ayo kita sarapan," ucap Bara.


"Baiklah. Terimakasih!"

__ADS_1


Mereka sarapan bersama. Setelah selesai sarapan Bara pamit untuk pergi ke kantor.


"Apa kamu sudah bicara dengan kak Al?" tanya Embun.


"Belum!"


"Aku ingin bertemu dengan kak Al dan menjelaskan semuanya kalau aku tidak berbohong," ucap Embun.


"Biar semua tenang dulu. Nanti aku usahakan kita bertemu dengan kak Al," jelas Bara.


"Aku takut nanti kak Al akan semakin sakit kalau semakin lama di biarkan," Ucap Embun.


"Tenang saja! kak Al tidak akan selemah itu. Dia wanita yang lumayan kuat kok." Bara membelai rambut Embun.


Embun meraih tangan Bara dan menggenggamnya. "Kita harus bongkar kejahatan bang Galuh secepatnya. Kasian kak Al! aku tidak bisa membayangkan kalau semua yang di tuduhkan pada suaminya itu semuanya benar," Embun menatap Bara penuh harap.


"Baiklah! aku akan secepatnya mengumpulkan bukti-bukti yang kuat," jelas Bara. "Apa aku boleh memelukmu?"


Dengan senang Embun memeluk Bara lebih dulu dan Bara juga memeluk Embun. "Emmmh jadi hubungan kita sekarang apa?" celetuk Bara.


Embun melepaskan pelukannya dari Bara. "Partner pemberantas perselingkuhan!" cetus Embun.


"P3 dong?" tanya Bara.


"Iya P3! sana sudah pergi katanya kamu mau ke kantor." Embun mendorong Bara sampai ke depan pintu.


"Tapi Embun ... aku masih ingin disini," ucap Bara.


"Tapi Embun ..." teriak Bara.


Embun tidak memberikan jawaban lagi dan Bara berlalu pergi ke kantor.


"Hahhh! Partner pemberantas perselingkuhan. Embun ada-ada aja sih! Aku pikir Embun akan menjawab sekarang hubungan kita adalah berpacaran." Bara terus melanjutkan jalannya menuju mobil.


...----------------...


Di kantor Galuh. Sepertinya Galuh sudah datang ke kantor pagi-pagi sekali dan ternyata sudah janjian dengan Icha untuk datang lebih awal karena ingin ada yang di bicarakan.


Icha baru saja datang dan menghampiri Galuh. "Mas Galuh apa kamu kenal sama perempuan yang namanya Embun?"


"Iya tahu dia yang hampir membongkar hubungan kita kepada Alisha," jawab Galuh.


"Pantas saja! kemarin dia menanyakan itu padaku. Ternyata kalian saling kenal, memangnya siapa gadis itu?" tanya Icha penasaran.


"Dia teman dekatnya Bara!" ujar Galuh.


"Mana mungkin teman dekatnya Bara?" kaget Icha.


"Iya ceritanya panjang. Trus kenapa kamu bisa mengenal Embun dan dia bisa melihat foto kita di WA story kamu?" tanya Galuh.

__ADS_1


"Iya dia temannya temanku Trian," ketus Icha.


"Kamu jangan berhubungan lagi dengan si Trian itu mulai sekarang. Kamu tenang saja dia tidak punya bukti apa-apa dan aku juga bisa meyakinkan Alisha dan sekarang Alisha juga percaya padaku," jelas Galuh.


Flashback - on


Galuh mengejar Alisha ke kamarnya. "Alisha apa kau percaya pada perempuan itu?"


"Aku tidak percaya Bang. Lagian dia juga tidak punya bukti!" jawab Al.


"Baguslah sayang! kamu jangan percaya padanya. Kamu juga baru beberapa kali bertemu dengannya, kan?" ucap Galuh.


"Iya Bang aku tidak percaya padanya. Tapi kenapa Bara juga bilang kalau kamu memang selingkuh?" Al menangis.


"Ya Abang pikir karena si Bara udah cinta sama dia makanya dia membela si Embun itu," ucap Galuh mencoba terus meyakinkan Al.


"Iya aku pikir begitu! tapi kenapa Bara begitu tega sampai ikut memfitnahmu juga. padahal selama ini kamu udah baik banget pada Bara." Al memeluk Galuh dan menangis di pelukannya.


"Jangan menangis sayang! semuanya itu tidak benar. Aku tidak berselingkuh dengan siapapun hanya kamu yang aku cintai apalagi sebentar lagi kita akan menjadi orangtua. Aku tidak apa-apa di fitnah seperti ini asalkan kamu selalu percaya padaku," Galuh membual.


Al menatap Galuh. "Maafin adikku ya sayang kau benar-benar suami terbaik. Jangan pernah mengkhianatiku, sekarang ataupun selamanya!"


Deg.


Galuh tidak bisa berkata apa-apalagi karena memang kenyataannya kalau selama ini Galuh berselingkuh. Bahkan perselingkuhannya dengan Icha sudah melewati batas bukan hanya sekedar pacaran saja.


"Jangan menangis lagi ya sayang. Muaaachhh ..." Galuh mengecup kening Al.


Flasback end.


"Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi ya! tapi mungkin kalau sedang di kantor untuk saat ini kita harus agak renggang biar Bara tidak curiga," jelas Galuh.


"Apa kita putus saja?" tanya Icha.


"Kenapa kamu ngomong gitu sayangku?" ujar Galuh.


"Iya aku takut ketahuan juga. Lagian kamu bilang mau ceraikan bu Al dan menikahiku." ketus Icha.


"Itu belum bisa di lakukan sekarang! kamu tahu sendiri kalau aku bukan siapa-siapa tanpa Alisha. perusahaan, semua uang yang banyak ini semuanya milik Alisha. Bahkan dia tahu berapa uangku yang masuk dan keluar makanya selama ini aku membiayai kamu dari uang perusahaan yang aku ambil diam-diam," jelas Galuh.


"Emmmh baiklah kalau begitu aku akan sabar menanti semuanya itu." Icha memeluk Galuh.


"Sudah sana pergi keruanganmu! aku sudah siapkan ruangan baru untukmu tidak disini lagi biar Bara tidak semakin curiga," pinta Galuh.


"Baiklah! Bye ... jangan merindukanku." Icha melambaikan tangannya.


Galuh meraih tangan Icha. "Satu ciuman saja!"


Mereka menikmati ciuman panas di pagi hari. "Makasih sayangku! sepertinya nanti malam aku akan ke apartementmu dulu dan memuaskan hasratku ini padamu yang sudah berhari-hari tidak aku salurkan," bisik Galuh.

__ADS_1


"Aku tunggu nanti malam." Icha berlalu pergi ke ruangannya yang baru.


⬇️⬇️


__ADS_2