
Bara sudah berada di depan kontrakan Embun. Memanggil-manggil Embun tetapi tidak ada jawaban sepertinya Embun belum pulang.
"Rian. Embun tidak ada di kontrakannya! kemana ya dia?" ucap Bara pada Rian.
"Coba telpon?" saran Rian.
Bara mencoba menelpon Embun tapi ponselnya tidak aktif. "Tidak aktif!"
"Tunggu saja di depan tokonya mungkin saja ke kontrakan temannya," ucap Rian.
"Baiklah, ayo!" Bara dan Rian kembali lagi ke mobilnya dan menunggu Embun.
"Lama sekali sih!" keluh Bara.
Tidak lama kemudian Monik datang. "Itu temannya Embun tuan." tunjuk Rian.
Bara langsung turun dari mobilnya dan menghampiri Monik untuk menanyakan Embun. "Monik! kamu bertemu Embun pagi ini?"
"Tidak! ada apa memangnya?" tanya Monik.
"Hemmm Embun tidak ada di kontrakannya! kemana ya?" jelas Bara.
"Hah Embun kemana?" Monik malah panik.
"Aku juga mencarinya? ponselnya juga tidak aktif!" jelas Bara.
"Ya ampun Embun kemana?"
"Ya sudah biar aku cari lagi. Kamu jangan khawatir, kalau Embun datang kesini kabari aku!" suruh Bara. Bara berlalu pergi dengan mobilnya dan mencari Embun.
Bara dan Rian mencari Embun sepanjang jalan dan menanyakan kepada orang-orang yang ada di pinggir jalan.
...----------------...
Di sebuah kamar. Embun sudah terbaring disana, di ranjang sebuah kamar. Embun tersadar dan memegangi kepalanya yang terasa sangat berat. "Aku dimana?"
Trek.
Pintu kamar terbuka, "kamu sudah sadar?" ternyata itu Alisha orang yang menyelamatkan Embun.
"Kak Al!"
"Tadi aku menemukanmu pingsan di jalanan saat aku pulang dari supermarket." Al membawa makanan untuk Embun dan meletakkannya di meja sebelah ranjang.
"Kak Al sudah tidak marah padaku?" tanya Embun hati-hati.
"Aku hanya melakukan kemanusiaan saja! mana mungkin aku melihat orang yang aku kenal tergeletak dan tidak menolongnya," jelas Al.
"Terima kasih kak untuk pertolongannya. Dan untuk hal tempo hari itu aku minta maaf," ucap Embun. "Kalau begitu aku pamit untuk pulang saja. Maaf sudah merepotkan kaka!" Embun turun dari ranjang.
"Makanlah dulu! sepertinya kamu tidak sehat." Al menghentikan Embun.
"Tapi kak--"
"Sudahlah ayo makanlah!" Al menyodorkan makanannya.
"Emmmh apa boleh aku ke toilet dulu kak?" ucap Embun.
__ADS_1
"Iya silahkan! itu disana." tunjuk Al.
Embun masuk ke dalam toilet yang ada di kamar itu dan menatap dirinya sendiri di cermin. "Aku kotor! aku harus pergi darisini. Pasti nanti kak Al memberitahukan pada Bara kalau aku ada disini." Embun mencuci muka.
Di luar kamar. Alisha merasa khawatir pada kondisi Embun dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. "Embun kenapa ya? bagaimanapun juga Bara tetap adikku dan Embun adalah orang yang di sukainya. Apa mungkin kalau mereka ada masalah?" gumam Embun.
Al mengambil ponselnya dan kemudian menelpon Bara dan mengesampingkan amarahnya pada Bara karena masalah Galuh dan memberitahukan kalau Embun ada di rumahnya Al.
Embun keluar dari toilet. "Maaf kak sepertinya aku akan pulang saja!" Embun mengambil tasnya dan berlalu pergi tanpa menghiraukan kak Al.
"Embun tunggu! sebenarnya apa yang terjadi? aku tahu kamu lagi ada masalah, kan?" Al mengejar Embun.
Embun tidak menghiraukannya. Alisha meraih tangan Embun, "apa yang terjadi Embun? bilang padaku. Apa yang Bara lakukan padamu?"
Embun terkulai lemas di lantai dan menangis.
"Embun kamu kenapa?" Al memeluk Embun.
"Hiks ... hiks ... Bara kak Bara ..." Embun menangis.
"Kenapa Bara?"
"Bara sudah jahat! Bara sudah menodaiku. Hiks ... hiks ...."
"Bara?" yang Al takutkan akhirnya terjadi juga.
Karena Bara yang dulu memang suka seperti itu pada perempuan. "Aku pikir Bara sudah berubah!"
"Bara jahat kak! hiks ... hiks ...."
Al mengangkat Embun dan mendudukannya di kursi. "Jangan menangis lagi!"
Tidak lama kemudian Bara dan Rian datang ke rumah kak Al. Al langsung menghampiri Bara. "Plaaakkk!" tangan Alisha mendarat di pipi Bara.
Bara tidak berkutik dan hanya menunduk saja karena tahu akan kesalahannya itu. Sementara itu Embun kaget melihat Alisha karena membela dirinya.
"Aku bisa jelaskan semuanya kak! aku khilaf!" jelas Bara.
"Kenapa kamu samakan Embun dengan perempuan-perempuan yang sering kamu temui dulu? kakak pikir kamu udah berubah. Tapi kenyataannya tidak!" tegas Alisha.
Jadi Bara dulu sering melakukan itu? Embun kaget.
"Maafkan aku kak aku tidak bermaksud!"
"Minta maaflah pada Embun! Embunlah yang jadi korban disini." Al terduduk.
"Embun aku minta maaf. Aku khilaf! Aku akan menebus semua dosaku padamu. Aku akan menikahimu secepatnya!" tegas Bara.
Embun hanya tertegun mendengar apa yang Bara katakan dan tidak menyangka kalau Bara akan menikahinya.
"Kamu serius Bara?" tanya Al.
"Aku serius!"
"Embun bagaimana? kamu setuju menikah dengan Bara?" tanya Al.
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang kak! biarkan aku pulang sekarang." pungkas Embun.
__ADS_1
"Baiklah! aku pikir itu tidak akan mudah untukmu. Jadi pikirkanlah baik-baik! tapi aku pikir Bara akan benar-benar bertanggung jawab Embun dan Bara juga tidak seburuk itu sekarang. Aku harap kamu mau menikah dengan Bara," jelas Al.
"Aku pikirkan dulu! aku pulang." Embun berlalu pergi tanpa melihat Bara sedikitpun.
"Antarkan Embun! kasihan tadi dia juga pingsan di jalan." Suruh Al.
Bara mengejar Embun dan meminta untuk mengantarkannya. "Embun ayo pulanglah bersamaku! aku takut terjadi apa-apa padamu." Bara membukakan pintu mobil untuk Embun.
Embun tidak mengeluarkan sepatah katapun dan kemudian masuk ke dalan mobil Bara.
Di dalam mobil.
Hening!
Bara tidak berani bicara pada Embun bahkan melihatnya saja merasa malu. Embun juga hanya menatap keluar jendela mobil dan mencerna ucapan kak Al waktu tadi tentang Bara.
Sesampainya di depan gang kontrakan Embun. Embun langsung turun dari mobil Bara dan tanpa mengucapkan satu kata pun.
"Embun tunggu ... pikirkan semua yang tadi aku bicarakan!" teriak Bara.
"Aku harap Embun mau menikah denganku! kalau tidak aku akan merasa berdosa pada Embun seumur hidupku." Bara berlalu kembali ke rumah kak Al karena Rian masih disana.
...----------------...
Di rumah Alisha. Rian menunggu di ruang tamu dan merasa canggung berhadapan dengan Alisha. Lalu kemudian Mbak Marni menghampiri Al dan Rian.
"Bu ini saya menemukan ponsel non Embun di kolong rak." Mbak Marni memberikan ponselnya pada Al.
"Ah iya makasih ya Mbak," senyum Al.
Alisha mencoba menghidupkan ponsel Embun tetapi tidak bisa karena ponsel Embun mati.
"Cas aja dulu kalau mau lihat bukti suamimu!" cetus Rian.
"Emmmh nanti saja!" ucap Al.
"Ada apa? sepertinya ada yang tidak beres denganmu juga?" tanya Rian.
"Tidak apa-apa!" jawab Al.
"Kamu tidak bisa bohong padaku kita sudah bersama dari kecil aku sudah tahu betul bagaimana kalau kamu menyembunyikan sesuatu," jelas Rian.
"Sebenarnya semalam bang Galuh tidak pulang dan ponselnya juga tidak bisa di hubungi," ucap Alisha.
"Percayalah padaku, pada Bara dan pada Embun dan lihat bukti-buktinya! itulah jawaban semua keresahanmu!" tegas Rian.
Tidak lama kemudian Bara sudah kembali.
"Bagaimana Embun?" tanya Al.
"Embun masih tidak bicara padaku! mungkin memang Embun butuh waktu juga," ucap Bara.
"Apa kita bisa pergi sekarang tuan? kita ada meeting di restoran dekat kantor," ucap Rian.
"Ayolah kita berangkat! kak Al aku pergi. Makasih udah bantu tolongin Embun." Bara pergi bersama Rian.
Alisha hanya bengong di ruang tamu memikirkan semua ucapan Rian tadi. Alisha teringat pada ponsel Embun dan menCas ponsel Embun dan menghidupkannya. Setelah menunggu beberapa menit Al melihat isi ponsel Embun dan menemukan foto Galuh dan Icha yang sedang merayakan ulang tahun dengan cake di tangan Icha. Ternyata semua yang Embun bicarakan itu benar Alisha kaget dan menahan amarahnya kemudian meraih laci dan mengambil Amplop pemberian Bara.
__ADS_1
Alisha menguatkan diri dan membukanya ....
⬇️⬇️"!