
Rian menghampiri Embun dan emak.
"Lagi pada ngapain nih?." senyum Rian.
"Lagi siap-siap kita berangkat jalan-jalan." jawab Embun.
"Ayooo aku mau jalan-jalan. Bawa nasi kenapa?." tanya Rian.
"Iya nanti kita makan di gubuk di tengah sawah." jawab Emak.
"Wah pasti seru tuh mak, aku belum pernah ke sawah sebelumnya." ucap Rian.
"Nih bawa semuanya kan kamu cowok." suruh Embun.
"Oke gak masalah." seru Rian.
"Ganti dulu bajumu, ikut aku." ajak Embun.
Rian mengikuti Embun untuk berganti baju.
"Ini pake kaos sama celana pendek, biarin butut juga buat ke sawah mah." ucap Embun.
"Aku tunggu di depan." teriak Embun.
"Iya Embun."
"Ya ampun aku tidak pernah berpikir sebelumnya pakai baju begini dan akan pergi ke sawah juga. aku akan foto-foto dan mengirimkannya pada kak Al." gumam Rian.
Rian sudah selesai dan menghampiri Embun dan Emak yang sudah menunggu.
"Ya ampun kamu lama banget sih?." protes Embun.
"Sebentar juga, kemana abah?." tanya Rian.
"Abah sudah lebih dulu ke sawah mancing ikan dulu. ini bawalah semuanya dan ikuti aku." senyum Embun.
"Embun bawakan ponselku ini. Dan jangan lupa foto-fotoin aku buat kenang-kenangan." suruh Rian.
"Ya ampun baiklah oke..." Embun setuju.
Mereka menuju gubuk, menyusuri pesawahan yang hijau menyejukan mata dan membuat Rian terbelalak menyaksikan keindahan ini.
Sesampainya di gubuk.
"Wahh benar-benar indah sekali Embun disini, enak segerr..." ucap Rian.
"Abah aku juga ingin mancing bah." Rian menghampiri abah.
"Kesini saja, awas hati-hati licin." teriak abah.
Sementara itu Embun dan emak mengeluarkan bawaan mereka dan membakar ikan yang sudah abah dapatkan beberapa. Abah juga mengajarkan Rian memancing dan Rian terlihat sangat senang. Embun melihat Rian tertawa lepas kemudian memfoto Rian seperti tadi yang sudah Rian perintahkan.
"Ganteng juga..." gumam Embun melihat hasil foto-fotonya dan tersenyum.
Karena terlihat sangat seru akhirnya Embun ikut gabung bersama Abah dan Rian. Embun malah menyiprat-nyipratkan air ke arah Rian dan Rian membalasnya. Seperti anak kecil mereka malah bercanda dan berlarian.
"Sudah kalian hentikan, ayo kemari makan ikan bakarnya sudah siap." teriak Emak.
Semua orang menghampiri emak dan mereka makan bersama.
"Wah ini enak sekali mak, makanannya enak dan juga suasananya membuat hati tenang." ucap Rian sambil menyantap makannya.
"Makanya jangan kapok main kesini, sering-sering kesini apalagi kalau kalian nanti sudah menikah." ucap abah.
Embun dan Rian saling bertatapan dan berpikir kalau ternyata semua tidak seperti yang seperti di bayangkan malah berlanjut menanyakan pernikahan.
__ADS_1
"Ya kita jalani dulu bah, Embun gak mau buru-buru bah." senyum Embun.
"Iya abah ngikut aja sama kalian siapnya kapan untuk menikah." jelas Abah.
Mereka menikmati makannya. Setelah selesai Embun mengajak Rian untuk main ke air terjun di daerah sana Embun mengajak anak-anak mang Didin juga dan teman-temannya biar rame.
"Apa tidak ada jalan lain lagi Embun? ini jalannya susah sekali." ucap Rian.
Memang keadaanya masih asri belum tersentuh wisatawan karena terpencil dan juga jalan yang terjal.
"Lihat anak-anak itu mereka bisa berjalan. Kamu udah gede gak ada malu sama anak kecil." ledek Embun.
"Mereka sudah terbiasa sedangkan aku baru pertama kali ke tempat seperti ini." jelas Rian.
"Iya aku tau tidak perlu di jelaskan lagi. Hehee..." ucap Embun.
Dengan isengnya Embun mengambil foto-foto Rian saat kesulitan berjalan dan terpeleset.
"E-eeh hati-hati Rian...." ucap Embun.
"Waaaw akhirnya perjalananku tidak sia-sia air terjunnya bagus sekali, airnya jernih." Rian begitu sumbringah.
Embun isengin Rian dan menyiprat-nyipratkan air pada Rian.
"Hahaa.... hahaa... mandi kamu, dari tadi gak mau mandi." teriak Embun.
"Embun hentikan ini dingin Embun." balas Rian.
Embun tidak menghiraukan Rian dan terus menjaili Rian tiba-tiba Embun menginjak batu yang licin yang membuatnya hendak jatuh. Tapi tangan kekar Rian dengan sigap menangkapnya sehingga Embun jatuh ke pelukan Rian.
"Makanya hati-hati kalau jalan." senyum Rian.
Wajah dan rambutnya yang basah membuat Embun terpesona pada Rian begitu tampan senyumnya yang manis.
"E-eeh makasih ya..." gugup Embun.
"Ciee... ciee... teh Embun Ciee..." anak-anak meledek mereka berdua dan Embun merasa malu.
Rian bermain air dan berenang bersama anak-anak sedangkan Embun memperhatikan dari pinggir dan mengambil foto-foto mereka.
"Kau lucu sekali saat bermain bersama anak-anak itu." senyum Embun yang melihat foto-foto Rian.
"Sudahlah ayo pulang ini sudah sore." teriak Embun.
Merekapun beranjak dari air dan berlalu untuk pulang dengan baju mereka yang basah kuyup.
"Aku merasa sangat senang sekali Embun, baru kali ini aku merasa sebahagia ini." senyum Rian.
Mereka sampai ke rumah.
"Sana bersihkan dirimu, nanti masuk angin." suruh Embun.
"Baiklah..."
"Ini handuk sama bajumu..." Embun menyiapkannya.
"Makasih Embun."
Embun hanya mengganti bajunya dan kemudian menunggu Rian di kursi bambu di tengah rumah.
Rian menghampiri Embun mengeringkan rambut dengan pesonanya yang tidak pernah luntur sangat tampan membuat Embun terbengong.
"Iiih dingin sekali tau," Rian menggigil.
"Itu aku buatkan teh hangat untukmu." ucap Embun.
__ADS_1
"Makasih Embun."
"Eh tadi ada telpon masuk, tapi aku tidak mengangkatnya dari kak Al aku tidak sengaja membacanya." senyum Embun.
"Tidak apa-apa itu kakak pertamaku." jelas Rian.
"Memang kamu berapa saudara?." tanya Embun.
"3 bersaudara, kakakku 2 perempuan aku bungsu laki-laki dan satu-satunya." jelas Rian.
"Emmmh.... "
"Aku telpon dulu kak Al ya." Rian menelpon Alisha.
Rian : Ada apa kak?
Al : hanya ingin berbicara saja denganmu.
Rian : Aku sedang berada di rumah Embun kak, (sepertinya Rian sering curhat tentang Embun)
Al : mana aku ingin bicara.
Rian : tapi kak...
Al : ayo cepat.
"Embun ini kakakku ingin bicara padamu," ucap Rian.
"Aku?."
Rian memberikan ponselnya pada Embun.
Embun : Iya kak ini Embun.
Al : hallo Embun aku ingin sekali berbicara denganmu dan juga ingin sekali bertemu denganmu.
Embun : Emmmh Kakak tahu aku?
Al : iya Rian selalu membicaraknmu kalau kita telponan, gimana Rian? kalau rada manja harap di maklumin ya dia memang begitu.
Embun : ooh sering membicarakanku, iya kak aku sudah mengerti. Hallo... hallo...
"Seperti nya signalnya kurang bagus deh, gak ada suaranya." ucap Embun.
"Ya sudah biar nanti hubungi lagi kalo udah di Jakarta." jelas Rian.
"Eh cerita apa tentangku pada kakakmu itu? pasti menjelekanku? lagian ngapain sih pake bercerita tentangku segala?." crosos Embun.
"Bisa gak nanya tuh satu-satu biar gak bingung. Aku bercerita padanya kalau selama ini kamu yang sudah banyak membantuku. Gitu...." ucap Rian.
"Emmmh..." Embun merasa malu.
"Kita ke rumah mang Didin, kamu tidur disana jangan disini tidak enak." ucap Embun.
"Oke baiklah...."
"Ayo nanti keburu malam."
Embun dan Rian berlalu pergi ke rumah mang Didin.
⬇️⬇️
__ADS_1