Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Kembali bersama keluarga


__ADS_3

Bara merasakan kembali hidupnya yang enak setelah berbulan-bulan hidup seadanya.


"Akhirnya aku bisa berendam juga. Aku bersyukur harusnya sudah hidup enak, di luaran sana ternyata orang-orang untuk bisa makan saja sulit." Bara menikmati berendam di bathtubnya.


Setelah selesai Bara membuka lemari pakaiannya, pakaian bagus yang berjejer rapih juga wangi dan pastinya bermerk.


"Aku menggunakan uangku beratus-ratus juta hanya untuk baju-baju ini. Embun dan yang lainnya ingin mendapatkan uang 2,5juta harus kerja keras dulu sebulan." Gumam Bara.


Rian hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans pendek dan kemudian berlalu pergi ke kamar ayahnya untuk menemuinya dan meminta maaf.


"Ayah aku masuk ya." Bara masuk ke kamar ayahnya.


Ayah Bara sedang duduk di ranjangnya dan pokus pada korannya.


"Ayah sudah sehat?" Tanya Bara.


"Sudah, ayah sudah sehat sekarang. Kamu sehat?" Tanya Ayah.


"Aku juga sehat, maafkan aku ayah yang pergi tanpa pamit dan aku sudah mendapatkan imbalannya kontan." Jelas Bara.


"Maksudnya bagaimana? apa yang kamu dapatkan selama jauh dari keluarga?" Tanya ayah lagi.


"Iya aku niatnya hidup di luar tapi dengan pantauan Rian jadi kalau aku susah aku minta bantuan Rian tapi ternyata waktu aku sampe jakarta malah aku di jambret dan semua barangku hilang termasuk ponselku. Dan aku tidak ingat nomor ponsel setiap orang." Jelas Bara.


"Lalu bagaimana kamu bisa bertahan dan kembali kemari?"


"Ada orang yang menolongku dan sangat baik sekali padaku." Ucap Bara.


"Siapa?"


"Namanya Embun dia tidak hanya cantik rupanya tapi hatinya juga. Memberiku makan, mencarikanku pekerjaan." Puji Rian.


"Perempuan? ya baguslah ternyata tuhan tidak membuatmu sengsara di luar sana." Senyum Ayah.


"Ya, tuhan masih baik padaku mengirimkan Embun untukku. Ayah harus bertemu dengan Embun dia tidak sama seperti wanita lainnya yang selama ini aku kenal. Dia mau menolongku walaupun aku tidak punya uang sama sekali." Tambah Bara.


"Kenapa tidak bawa sekalian kesini bersamamu?" Tanya Ayah.


"Nanti saja lah. Aku takut kalau dia syok mengetahui siapa aku sebenarnya." Senyum Bara.


"Lalu apa yang kamu dapatkan selama ini?" Tanya ayah.


"Emmh intinya aku harus selalu bersyukur karena ternyata cari uang itu sulit jadi aku harus lebih menghargai uang dan juga aku mengenal banyak orang yang tidak memandang aku siapa, mereka mau berteman denganku dan berbagi denganku. Satu lagi aku juga harus bersyukur karena masih punya keluarga lengkap dan begitu menyayangiku." Jelas Bara.

__ADS_1


"Baguslah kalau kau sudah sadar. Sepertinya ayah ingin segera bertemu dengan Embun yang bisa merubahmu dengan singkat." Senyum ayah.


"Ah nanti saja."


Apa aku ceritakan tentang bang Galuh ya pada ayah? Tapi aku tidak ingin membebankan ayah lagian ayah juga lagi sakit.


Hati Bara.


"Ya sudah ayah istirahat saja, aku mau ke bawah menemui yang lainnya." Bara pamit dan berlalu meninggalkan ayah.


"Bara .... Bara .... Kau ada-ada saja sih." Ayah hanya menggelengkan kepalanya.


Bara menghampiri kak Al dan mama di ruang tv. Sedangkan kak Alina kakak kedua Bara ikut suaminya tinggal di London.


"Cepatlah kemari dan duduk disini." Kak Al mendudukan Bara di tengah-tengah.


"Cepat ceritakan bagaimana hidupmu selama ini?" Mama sudah tidak sabar.


"Santailah kalian ini seperti wartawan saja." Ucap Bara.


Bara menceritakan semuanya sama seperti apa yang di ceritakannya pada ayah. Mama dan kak Al merasa terharu dan juga bangga pada Bara malah bersikap sama seperti ayah dan ingin bertemu dengan Embun segera.


Keluarga Bara memang terkenal baik tidak memandang orang dari statusnya karena ayah Bara merintis perusahaannya dari nol dari sejak masih muda. Galuh juga bukan orang kaya, orang biasa saja keluarga Bara menerimanya tapi sekarang malah berkhianat.


"Aku hanya kagum saja padanya sampai bisa cowok petakilan sepertimu bisa menyukainya." Goda Kak Al.


"Sudah sudahlah aku pusing mengobrol dengan para wanita tidak selesai-selesai." Bara kesal.


"Bara jangan gitu ayo telpon sekarang Embun, cepatlah." Bujuk mama.


"Tidak, tidak dia sedang bekerja sekarang." Bara berlari menuju kamarnya.


"Bara ...." Teriak Kak Al.


"Mudah-mudahan ya Al Bara jadi ingin segera menikah. Biar dia jadi lebih dewasa dan tidak petakilan lagi." Ucap Mama.


"Iya ma, seprtinya Embun juga wanita baik." Tambah kak Al.


Bara sebenarnya masih bingung apa yang harus di lakukannya tentang bang Galuh. Bara merasa tidak tega merusak kebahagiaan kak Al. Bara menjatuhkan badannya di kasur, kasur yang selama ini di rindukannya empuk dan wangi.


"Aku akan merasakan tidur nyenyak lagi sekarang." Gumam Bara dan terlelap tidur karena merasa cape.


...----------------...

__ADS_1


Di toko, Embun menjadi tidak bersemangat dan lebih banyak diam.


"Woy jangan bengong aja. Kalau rindu telpon aja." Saran Monik.


"Apa sih kamu?" Elak Embun.


"Jangan bohongi perasaan kamu sendiri Embun wajah dan gerak gerikmu sangat menunjukan kalau kamu suka sama Rian." Ucap Monik.


"Tidak aku tidak menyukainya aku hanya merasa kehilangan saja besok juga aku akan biasa lagi." Jelas Embun.


"Okelah kalau menurutmu begitu, tapi jangan banyak bengong nanti di marahi koko." Ucap Embun.


"Iya iih aku biasa aja ko. Tuh sana ada pelanggan" Tunjuk Embun.


Mereka pun bekerja seperti biasanya. Sampai malam saatnya toko tutup dan Embun kembali ke kontrakannya. Merasa ada yang kurang dan terasa sepi Embun mengingat saat-saat bersama Rian.


Tring.


Embun mendapatkan pesan dari Bara.


[Haii kamu sudah pulang kerja? aku sudah sampai daritadi tapi baru ngabarin karena pasti kerja juga jadi aku gak mau ganggu. Selamat istirahat ya dan semangat terus aku akan kembali.] Isi pesan dari Bara.


Embun tersenyum dan membalas pesan Bara.


[Iya aku baru pulang kerja nih. Aku selalu semangat ko, okey aku tunggu kamu disini. Salam yah untuk semua keluargamu. Selamat malam dan selamat istirahat.] Balas Embun.


Hemmm kenapa aku jadi merasa mellow sih. Jangan aku harus biasa saja lagian kan Rian juga bakalan balik lagi.


Hati Embun.


Embun tidak bisa tidur dan memilih menonton drakor sampai larut malam sampai kantuknya datang dan kemudian tertidur.


Keesokan harinya,


Embun menjalani hari seperti biasanya dengan ceria dan semangat lagi walaupun tanpa adanya Rian. Demikian juga dengan Bara sudah memulai lagi kesibukannya di kantor dan mengurusi semuanya. Bara dan Rian berencana akan ke Jakarta dan mengurus kantor bersama bang Galuh supaya bisa mengawasi bang Galuh dan juga membujuk Kak Alisha untuk ikut dan tinggal di Jakarta.


"Itu ide bagus Rian, kita minta pada ayah untuk di pindahkan ke Jakarta biar kita sekantor sama bang Galuh dan bisa mengawasinya." Ucap Bara.


"Mending ajak juga Alisha mungkin kalau dia ada di rumah pasti bang Galuh akan sadar." Tambah Rian.


"Iya kita harus benar-benar membujuk Kak Al untuk ke Jakarta." Ucap Bara.


⬇️⬇️

__ADS_1


__ADS_2