
"Aku pulang dulu ya kak Al. Jaga diri baik-baik ya di rumah. lagian kemana bang Galuh belum pulang juga sih?" ujar Bara.
"Mungkin bang Galuh lembur," jawab Al.
"Hemmm aku pulang." Bara menaiki mobilnya dan berlalu pulang.
"Kita harus kumpulin banyak bukti lagi tentang perselingkuhan bang Galuh," ucap Bara pada Rian.
"Mereka bermain cantik dan bersih sampai orang lain tidak mengetahuinya," jelas Rian.
"Ke tempat Embun dulu dong. Aku ingin sekali bertemu dengannya," pinta Bara.
"Oke ...."
Embun dan teman-temannya sudah menyelesaikan pekerjaannya dan mereka hendak pulang kemudian Bara datang menghampiri mereka.
"Haiii semuanya ..." sapa Bara.
"Haiii Bara! kau gagah sekali berpakaian seperti itu," goda Anwar.
"Embun aku anterin ya ke kontrakan kamu," pinta Bara.
"Ekhemmm ... ya udah kita pulang duluan ya. Bye semuanya." Monik menarik tangan Anwar.
"Ini sudah malam sana pulanglah!" tolak Embun.
"Plis Embun jangan menolakku seperti itu. Aku ingin seperti dulu berteman baik, mengobrol dan apa yang salah?" jelas Bara.
Mungkin benar kata Bara, lagian kita hanya akan berteman saja tidak akan ada masalah apa-apa.
Hati Embun.
"Baiklah kalau kamu memaksa." Embun berjalan lebih dulu.
Bara merasa senang akhirnya Embun tidak menolaknya lagi. Bara mengantarkan Embun dan Rian mengikutinya dari belakang.
"Emmm apa nanti 3 hari lagi kamu mau pergi bersamaku?" tanya Bara.
"Kemana?" jawab Embun.
"Kak Al ingin memberikan surprise untuk suaminya yang ulang tahun dan dia juga mengundangmu," ucap Bara.
"Emmm tidak!" singkat Embun.
"Kenapa? kak Al ingin sekali bertemu denganmu loh." ucap Bara.
"Ingin bertemu denganku?" kaget Embun.
"Iya! aku kan sering menceritakan tentang kamu pada kak Al, kebaikanmu, ketulusanmu. Kak Al sangat terkesan mendengar tentangmu dan ingin bertemu denganmu. Mau ya ikut?" bujuk Bara.
Apa kalau aku ikut tidak akan jadi masalah ya?
Hati Embun.
"Aku pikir-pikir dulu deh," ucap Embun.
"Embun plis dong sikapmu jangan berubah begini, biasanya kau begitu ceria dan berbicara selalu dengan senyuman," ujar Bara.
"Hemmm kasih aku waktu Bara. Ini semua mengejutkan untukku. semuanya tidak mudah," jelas Embun.
"Baiklah! aku akan tunjukan padamu. kalau aku bahkan keluargaku tidak akan membedakan status siapapun," jelas Bara.
Bara tahu betul bagaimana masalalu Embun yang gagal menikah karena orangtua pacarnya tidak setuju karena Embun tidak sederajat.
__ADS_1
"Sana pulanglah!" seru Embun.
"Kau tidak akan mengajakku masuk dan memberikanku makanan?" tanya Bara.
Embun melihat kresek di tangannya. "Mau? ini ambillah," ketus Embun.
"Bukan begitu maksudku Embun. Kita makan bersama lagi emmh ... ya sudahlah aku pulang dulu. Kamu makan dan istirahatlah jangan begadang nonton drakor," pesan Bara.
Embun hanya mengangguk. Bara pergi bersama Rian untuk pulang ke apartement.
"Sepertinya kau harus lebih keras lagi mendapatkan Embun," ujar Rian.
"Hemmm berat sekali rasanya tidak seperti yang ku bayangkan," ucap Bara.
"Kenapa gak langsung lamar aja gitu?" saran Rian.
"Engga bisa gitu. Kalau aku langsung to the point malah Embun akan langsung menolak dan akan lebih susah untuk mendapatkannya," jelas Bara.
"Baiklah! kalau memang kau sudah memikirkannya dengan baik," ucap Rian.
Mereka sudah sampai di apartement dan berlalu ke kamar masing-masing untuk istirahat.
...---------------...
Embun makan sambil menonton drakor. Matanya ke ponsel, mulutnya mengunyah makanan sedangkan pikirannya masih pada Bara.
"Hahh Bara benar-benar mengganggu pikiranku saja." Embun menghentikan makannya.
"Tapi tunggu deh. Lagian kan Bara hanya ingin tetap berteman tidak lebih jadi aku pikir tidak akan masalah kalau aku berteman lagi dengan Bara. Aku bisa kok menjaga hatiku biar gak baper," gumam Embun.
Embun melanjutkan makannya sambil menonton drakor.
Keesokan harinya,
"Darimana Mas?" tanya Embun.
"Oh ini habis beli nasi uduk," jawab Pras.
"Oh!" angguk Embun.
Apa ya hubungan Embun dan Rian sekarang? sepertinya aku harus menanyakannya.
Batin Pras.
Pras berpikir begitu lama. "Emmmh Rian sudah kembali ya? aku dengar dari yang lainnya kemarin," tanya Pras.
"Namanya Bara bukan Rian. Iya kemarin dia datang menemuiku," jawab Embun.
"Emmm apa sebenarnya hubunganmu dengan Bara?" tanya Pras gagap.
"Tidak ada hubungan apa-apa. Kita hanya berteman saja kok." Senyum Embun.
Pras tidak bertanya lagi karena merasa sudah mendapatkan jawaban yang puas. Membuat perasaan Pras sedikit tenang karena Pras masih punya kesempatan untuk mendekati Embun lagi sampai Embun mau menerimanya.
...----------------...
Di kantor Bara, Bara menduduki posisi sebagai direktur keuangan sedangkan direktur utama di duduki oleh Galuh. Selain ingin dekat kembali dengan Embun, Bara juga ingin menyelidiki Galuh dan membongkar perselingkuhannya.
"Rian kenapa ya dengan data-data di berkas ini? sepertinya ada yang aneh," tunjuk Bara pada Rian.
Rian mengeceknya. "Sepertinya tuan harus mendiskusikannya dengan divisi keuangan biar semuanya jelas," saran Rian.
"Baiklah atur jadwal meetingnya segera," suruh Bara.
__ADS_1
"Biar aku cek dulu jadwalmu." Rian kembali ke mejanya.
"Aturlah!" seru Bara.
"Sepertinya besok baru bisa," ucap Rian.
"Kabarkan kepada semuanya," suruh Bara.
Bara harus bertanggung jawab terhadap pekerjaannya dan jangan sampai membuat ayahnya kecewa.
*
Di ruangan Galuh,
Galuh tidak menyia-nyiakan waktunya sedetikpun untuk meluapkan nafsunya pada Icha apalagi setelah Alisha kembali. Mereka jadi sulit untuk bermalam bersama karena waktu Alisha tidak ada Icha sering bermalam di rumah Galuh.
Galuh menutup pintunya rapat-rapat bahkan menguncinya. "Sayangku ... kenapa kau begitu menggoda sekali sih. Aku tidak tahan dari tadi melihat dadamu, lekuk tubuhmu. Aah muaach ..." Galuh mulai menciumi Icha dan tangannya begitu nakal meraba tubuh Icha yang menggoda dengan baju ketatnya.
Dari bibir turun ke leher, turun lagi dan memedamkan wajahnya di belahan 2 gundukan yang kenyal. Icha seperti biasa menikmatinya dengan desahan lembut yang keluar dari bibir mungilnya.
"Aaahhh ..." desah Icha.
"Jangan mendesah seperti itu. Aku semakin tidak kuat," bisik Galuh.
Mereka sudah hapal betul bagian ruangan yang tidak tersorot cctv. Mereka sering melakukan hal itu di dalam ruangan Galuh.
Galuh menarik Tangan Icha ke dalam kamar mandi. Dengan hati-hati supaya tidak tertangkap cctv.
"Ada apa Pak kita ke kamar mandi?" tanya Icha.
"Kita sudah bermalam-malam tidak melakukannya dan aku sangat merindukanmu. Sangat susah untuk kita bersama setelah adanya Alisha! menurutku disini juga bisa." jelas Galuh.
Galuh memulai lagi aksinya bahkan sudah menurunkan celananya dan mengangkat rok Icha.
"Dimana k*nd*mnya?" tanya Icha.
"Tidak ada! biarlah tidak pakai juga. Aku pikir sekali saja tidak pakai tidak akan apa-apa," Jelas Galuh.
"Baiklah!" Icha setuju.
Galuh menjalankan aksinya, dan nafsunya sudah berada di puncaknya kemudian mengeluarkan semua benih-benihnya di rahim Icha.
"Aaahhh lebih puas tanpa k*nd**" ucap Galuh.
"Beneran tidak akan apa-apa?" tanya Icha.
"Tidak! santai saja. Alisha baru hamil setelah kita 2 tahun menikah. Jangan khawatir," ucap Galuh.
"Baiklah!" seru Icha.
Galuh membersihkan bekasnya terlebih dahulu dan merapikan kembali pakaiannya kemudian kembali ke meja kerjanya di susul oleh Icha.
"Makasih sayang nanti aku transfer uang jajan untukmu," ucap Galuh.
"Iya ..." manja Icha.
"Emmmh aku makan siang disini saja, tolong kamu suruh OB belikan makanan untukku," suruh Galuh.
"Oke." Icha keluar dari ruangan Galuh dan menyuruh OB membelikan makanan untuk Galuh.
Orang-orang bersikap biasa saja tanpa ada yang menaruh curiga sedikitpun.
⬇️⬇️
__ADS_1