Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Ungkapan Rian - Embun kembali bekerja


__ADS_3

Bara pergi ke kantornya menyusul Rian karena banyak pekerjaan yang menanti Bara, setelah beberapa hari di tinggalkan. Embun hanya diam saja di rumah menemani Alisha atau terkadang hanya tiduran di kamar.


"Sangat membosankan!" gumam Embun.


"Embun kita pergi yuk ke mall membeli keperluan bayiku," ajak Al.


"Boleh Kak. Aku ganti baju dulu ya ...." Embun berlalu pergi ke kamarnya.


Mereka berdua pergi dengan di antar supir karena Alisha sudah hamil besar jadi tidak mengendarai sendiri. "Apa bayi Kak Al perempuan atau laki-laki?" tanya Embun.


"Waktu di USG kata dokter laki-laki," senyum Al.


"Wah Kak Al akan punya jagoan. Semoga lancar saatnya nanti melahirkan." Embun mengelus perut Alisha.


"Tapi aku tetap merasa sedih Embun saat bang Galuh tidak ada di sampingku seperti sekarang ini," ucap Al.


"Kak Al. Aku dan Bara ada bersama Kak Al akan menemani Kak Al dan selalu di samping Kak Al. Jangan sedih ya Kak," bujuk Embun.


"Ah terima kasih. Aku senang kamu akan jadi adik iparku." Al memeluk Embun.


Kak Alisha berbeda dengan kak Alina. Kak Alisha begitu lembut dan penyayang juga, aku harap kak Alina bisa menerimaku seperti kak Alisha menerimaku juga. Batin Embun.


Embun dan Alisha berjalan-jalan di mall untuk membeli peralatan bayi yang belum di beli. Embun sangat antusias dan sangat senang juga. Pukul 3 sore mereka baru kembali ke rumah.


"Kak Al istirahatlah biar aku bantu bereskan semua barangnya," ucap Embun.


"Gak usah biar mbak Marni aja yang bantu," jawab Al.


"Aku antar ke kamar Kak Al ya." Embun menggandeng Al dan mengantarnya ke kamar. Setelah itu Embun berlalu ke kamarnya untuk membersihkan diri dan tinggal menunggu Bara karena malam ini akan pulang ke kontrakannya.


Pukul 8 malam Bara baru pulang dari kantor padahal Embun sudah menunggunya dari pukul 5 sore.


"Hai sayang maafkan aku telat aku sibuk sekali hari ini," ucap Bara.


"Aku gak nanya!" jawab embun.


"Plislah jangan ketus-ketus gitu. Ayo aku antar pulang!" Bara meraih tangan Embun dan menggandengnya sampai ke mobil.


"Kak aku pulang dulu ya. Paling besok malam kesini lagi," ucap Embun.


"Hati-hati di jalan kalian." Pesan Alisha.


"Rian jagain Kak Al sebentar ya. Aku antar Embun dulu pulang. Kalau ada apa-apa telpon saja aku," pesan Bara.


"Baik Tuan." Angguk Rian.

__ADS_1


Embun dan Bara pergi.


Rian memperhatikan Al yang berjalan memegangi pinggangnya. "Kamu kenapa Al? apa yang kamu rasakan?" tanya Rian panik.


"Ah aku tidak apa-apa Ian. Mungkin kelelahan aja karena tadi habis belanja sama Embun ke mall." Alisha terus berjalan.


"Biar aku bantu!" Rian memapah Al sampai ke kamarnya.


"Makasih Ian." Senyum Al.


Rian meraih tangan Alisha. "Alisha apa masih ada kesempatan untukku?"


"Maksudmu Ian?"


"Dari dulu kita bersama bersahabat dan sangat dekat. Aku dari dulu sangat menyukaimu! tapi karena aku sadar aku ini siapa jadi aku tidak berani mengungkapkannya. Saat akhirnya kamu memilih Galuh dan menikah dengannya aku merelakanmu karena mungkin bahagiamu bersama Galuh. Sekarang Galuh pergi dan mengkhianatimu aku ingin memulainya lagi dari awal aku ingin membuatmu bahagia."


Alisha melepaskan tangan Rian. "Apa yang kau katakan Rian?"


"Sebuah ungkapan perasaan yang aku simpan selama ini Al. Izinkan aku untuk membuatmu mendapatkan kebahagiaanmu kembali," jelas Rian.


Al beranjak dari duduknya. "Kenapa baru kamu ungkapkan sekarang?" tanya Alisha.


"Aku sadar aku siapa Al. Mana mungkin keluargamu menerimaku, jadi aku memilih untuk diam saja dan menyembunyikan perasaanku." Tegas Rian.


"Ternyata selama ini kita salah paham Ian. Aku pindah ke Jakarta dan mengurusi perusahaan di Jakarta ini karena aku pikir kamu tidak pernah menyukaiku sampai akhirnya aku di jebak oleh cintanya bang Galuh," ujar Al.


"Dulu aku sering berharap kalau kamu bisa menyukaiku apalagi kamu selalu ada untukku dan membantuku. Tapi ayah bilang kalau kamu seperti itu karena memang itu adalah tugasmu untuk menjagaku," jawab Al.


"Iya Tuan besar pernah bertanya padaku bagaimana perasaanku padamu. Tapi, aku tidak mau mengakui semuanya pada Tuan besar karena aku takut akan berdampak tidak baik padaku dan ayahku," jelas Rian.


"Jadi ... dari dulu kita saling suka tapi keadaan yang membuat kita tak bisa bersama?" ucap Al.


"Sepertinya begitu Al. Lalu sekarang bagaimana?" tanya Rian.


"Aku masih isteri orang Ian belum resmi bercerai. Sudahlah lupakan semuanya aku akan pokus pada anakku sekarang," ucap Alisha.


Rian memberanikan diri memeluk Alisha. "Al aku mohon beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakanmu dan anakmu."


"Lepaskan Ian. Untuk sekarang aku hanya ingin pokus pada perceraianku dan anakku. Untuk ke depannya kita serahkan pada Tuhan saja akan seperti apa. Untuk sekarang aku belum siap menerimamu!" Alisha masuk ke kamar mandi.


"Baiklah! Aku di ruang tamu kalau ada apa-apa panggil aku." Rian pergi.


Alisha menangis di kamar mandi mengingat semua kenangan saat bersama Rian dulu. Rian juga sama hanya terduduk di sofa dan merenungi semuanya yang terjadi dulu dan berpikir tentang kebodohannya tidak memperjuangkan cintanya.


...----------------...

__ADS_1


Embun dan Bara sudah sampai di gang menuju kontrakan Embun. "Sudah sampai. Aku antar kamu sampai ke kontrakan."


"Baiklah!"


"Tunggu!" Bara menatap Embun.


"Apa Bara?" Embun berbalik.


Bara meraih tangan Embun. "Emmmh aku cinta padamu!"


"Udah tau!"


"Iiih balas dong Embun," pinta Bara.


Embun hanya menatap Bara. "Muaaachhh ...." Embun mengecup pipi Bara dan buru-buru turun dari mobil Bara dan berlari.


Bara hanya melongo tidak berkedip dan memegangi pipinya. "Barusan Embum mencium pipiku? itu artinya dia cinta padaku atau apa?" Bara tersadar. "Embun tunggu aku!" Bara mengejar Embun yang terus berlari sampai ke kontrakannya.


"Embun tunggu ih!" ucap Bara.


"Apa?"


Bara mendekat pada Embun dan tersenyum. "I love you sayang ...."


Embun membuka kunci pintunya dan buru-buru masuk kemudian menutup kembali pintunya meninggalkan Bara di luar. "Pulanglah ini sudah malam."


"Embun .... apa kamu tidak akan mengizinkanku masuk dulu! Embun ...." teriak Bara.


Tidak ada jawaban dari Embun. "Oke aku pulang. Besok aku jemput lagi kesini kalau kamu sudah selesai bekerja. Bye sayang ...." Bara berteriak dan kemudian berlalu pergi.


Embun hanya mengintip kepergian Bara dari jendelanya. "Hah akhirnya Bara sudah pergi. Kenapa sih aku malah mencium Bara segala memalukan sekali!" gumam Embun.


Keesokan harinya ....


Embun kembali bekerja seperti biasanya. Monik dan Trian menyambut Embun.


"Ya ampun sudah seminggu kamu gak masuk aku kangen tau ih!" ujar Monik.


"Aku juga kangen," timpal Trian.


"Iya aku sekarang udah disini lagi." Mereka senang akhirnya bisa kumpul bersama lagi.


"Emmmh iya aku mau bilang juga pada kalian kalau aku akan menikah dengan Bara," ucap Embun.


"Aaahhh ... aku seneng dengernya Embun." Monik memeluk Embun. "Aku juga seneng banget ih!" Trian gak kalah senengnya.

__ADS_1


Sementara itu Mas Pras yang mendengar kabar itu merasa kecewa dan memperhatikan Embun dari balik pintu.


⬇️⬇️


__ADS_2