Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Pulang


__ADS_3

Embun menghampiri Bara di ruang tv saat Alisha sudah masuk ke dalam kamarnya beristirahat dan disana juga ada Rian tentunya.


Embun hanya berdiri menatap Bara. "Rian pulanglah sana ini sudah malam."


Rian berlalu untuk pulang ke apartementnya tanpa bicara apapun lagi. Setelah Rian pergi barulah Embun berani untuk bicara.


"Kamu kenapa gak bilang dulu padaku kalau besok kita bertemu keluargamu?" ucap Embun.


"Ya aku pikir kamu akan setuju juga. Waktu itu sudah pernah bilang kalau kamu setuju untuk pergi, kan?" jelas Bara.


"Ya apa harus besok? harus secepat itu?" tanya embun.


"Lebih cepat lebih baik Embun," jawab Bara.


"Aku belum siap!" keluh Embun.


"Sini duduklah!" ajak Bara. Embun duduk di sofa di samping Bara dan Bara bergeser mendekatkan duduknya pada Embun.


"Lihat mataku! percayalah kalau semuanya akan baik-baik saja. Keluargaku semuanya orang baik tidak akan ada yang menerkammu disana," bujuk Bara.


"Gak usah bercanda!" Embun melototi Bara.


"Iiih serem!" goda Bara.


"Baraaa iih nyebelin deh." Embun mencubit lengan Bara.


"Sakit Embun. Aku klitik nih ya ..." Bara malah mengelitiki Embun dan membuat Embun geli dan tertawa. "Hentikan Bara geli ih. Nanti kak Al bangun kalau berisik!" ucap Embun.


Embun sudah menyender ke sofa dan Bara mencondongkan badannya pada Embun. "Nah gitu dong kalau ketawa jadinya kan cantik," goda Bara.


"Apa sih Bara? sana mundurlah!" pinta Embun.


"Tidak! aku ingin selalu dekat denganmu seperti ini dan memandangi kecantikanmu." Senyum Bara.


"Kita belum menikah!" ucap Embun.


"Iya tahu. Emmmh apa kau bahagia akan menikah denganku?" tanya Bara.


"Aku masih was-was dan masih belum tenang!" jawab Embun.


"Kita akan menikah kenapa harus was-was?" ucap Embun.


"Ya was-was aja. Sana mundurlah!" ucap Embun.


"Baiklah calon isteriku!" Bara memundurkan badannya dan kembali menatap tv.


"Emmmh harus ingat ya janjinya. Jangan pegang-pegang kalau kita belum saling mencintai," ujar Embun.


"Iya aku ingat!" senyum Bara.


Hahhh kenapa jantungku malah deg-degan sih dekat dengan Bara. Batin Embun.


"Aku mau tidur duluan. Kamu juga tidurlah jangan begadang." Embun berlalu pergi.


"Iya sebentar lagi! selamat tidur." Bara melambaikan tanganya.


Embun berlalu ke kamarnya dan bergegas untuk tidur karena memang sudah merasa ngantuk.

__ADS_1


Bara masih di terduduk di sofa dan seperti ada yang di pikirkannya. "Hemmm bagaimana menghadapi kak Alina ya nanti?"


Bara beranjak dari duduknya dan menemui Al di kamarnya.


Tok! Tok! Tok! Bara mengetuk pintu kamar Al.


"Kak Al apa sudah tidur?"


Alisha membuka pintunya. "Ada apa? aku belum tidur kok. Masuklah!"


Bara masuk ke dalam kamar Al dan duduk di sofa kamar kak Al. "Kak Al bagaimana aku bicara dengan kak Alina? aku yakin kalau kak Alina tidak akan menerima Embun seperti saat dulu kak Alina tidak ingin menerima bang Galuh," jelas Bara.


"Iya juga. Hari ini Alina terbang dari London, kan?" ucap Al.


"Iya makanya itu. pasti besok akan ketemu di rumah," ucap Bara.


"Jujurlah! bilang aja apa adanya jangan ada yang di sembunyikan," ucap Al.


"Tapi kak Alina akan bicara sangat pedas dan itu pasti akan menyakiti hati Embun. Hati Embun sensitif! bukannya menikah denganku nanti Embun malah menghindar. Aku sudah berpikir kalau akan begitu!" jelas Bara.


"Yakinkan saja Embunnya kalau Alina memang seperti itu. Jangan tanggapi setiap omongan Alina," saran Al.


"Baiklah aku akan bicarakan nanti dengan Embun. Semoga Embun bisa mengerti!" tegas Bara.


"Gitu dong! bagaimana bisa kalian sepakat untuk menikah bukannya Embun waktu itu sangat marah padamu dan benci juga?" Al penasaran.


"Katanya Embun takut hamil. Lagian aku juga akan sangat berdosa kalau sampai tidak menikahi Embun," jawab Bara.


"Ya pasti akan sangat menyakitkan kalau sampai hamil tapi belum menikah. Kamu sih kelakuan kaya gitu!" ujar Al.


"Kakak harap kamu bisa menyayangi isterimu kelak. Jangan pernah sakiti apalagi khianati dia karena itu sangat menyakitkan," pesan Al.


Bara memeluk Al. "Tidak akan kak! aku akan menyayanginya seperti aku menyayangi mama dan kakak-kakakku."


Bara melepaskan pelukannya. "Kak Al istirahatlah dan jangan banyak pikiran. Aku juga mau tidur."


Bara keluar dari kamar Alisha dan tidak memberitahukan semua keculasan bang Galuh di kantor karena takut akan menambah beban Alisha.


Keesokan harinya.


Semua barang-barang Embun dan Bara sudah siap. Tentunya di siapkan oleh mbak Marni karena bara dan Embun masih tertidur. Rian juga sudah ada di rumah Al.


"Tuan kita berangkat satu jam lagi. Bangunlah nanti terlambat," panggil Rian.


"Baiklah!" Bara menjawab tanda kalau sudah bangun.


Sedangkan Embun di bangunkan mbak Marni dan pakaiannya juga sudah di siapkan. "Non bangun non!"


"Emmmh jam berapa mbak?" tanya Embun.


"Masih setengah 6 non," jawab Mbak Marni.


"Ah aku terlambat bangun." Embun meraih handuknya dan pergi ke kamar mandi.


Mbak Marni membereskan tempat tidurnya dan menyiapkan pakaian Embun di atas kasur kemudian pergi.


Setelah selesai mandi Embun melihat pakaiannya sudah di siapkan. "Ini baju yang harus aku pakai?"

__ADS_1


Embun memakai baju itu. Tidak di sangka penampilan Embun akan berbeda dengan memakai pakaian mahal.


"Emmmh tidak buruk!" Embun sudah siap dan turun menemui yang lainnya.


"Haiii, kau cantik!" ucap Bara.


"Baru tahu?" Embun melengos. Bara hanya tersenyum melihat sikap Embun yang ketus membuatnya menjadi menggemaskan.


Mereka sudah siap untuk berangkat sedangkan Alisha tidak ikut karena khawatir akan kehamilannya.


"Alisha ... Alisha ..." ternyata itu Galuh yang memangil-manggil Alisha di depan pintu.


"Mau apa lagi sih bang Galuh?" ketus Bara.


Bara menemui Galuh dan di susul oleh yang lainnya. "Masih berani datang kemari?"


"Ini juga rumahku! kamu gak berhak ikut campur urusanku Bara!" tegas Galuh.


"Hah ini rumah hadiah pemberian dari ayahku bukan di beli olehmu!" ungkap Bara.


"Jangan ikut campur Bara! biarkan aku bertemu Alisha dan biarkan aku membangun rumah tanggaku kembali," ucap Galuh.


"Gak punya malu!"


"Bugh ..." Bara memukul Galuh sampai Galuh tersungkur ke lantai. Galuh tidak tinggal diam dan membalas Bara. "Bugh ..." tepat mengenai pipi Bara dan membuat darah keluar dari ujung bibir Bara. Bara membalasnya lagi sampai Galuh benar-benar tak berdaya.


"Bang Galuh! bangunlah." Alisha membantu Galuh berdiri.


"Sudahlah kalian jangan bertengkar terus. Aku pusing mendengarnya! Embun bawalah Bara pergi obati lukanya dan kalian juga nanti bisa terlambat," suruh Al.


Embun meraih tangan Bara dan mereka masuk ke dalam mobil. Mata Bara masih penuh amarah.


"Pak Rian berikan aku P3K," pinta Embun.


Rian memberikan kotak P3K pada embun.


"Aku obati lukamu." Embun membersihkan darahnya.


"Aw sakit Mbun." Bara menggenggam tangan Embun.


"Makanya apa-apa tuh jangan pake emosi! jadinya gini, kan?" ucap Embun.


"Aku kesal pada bang Galuh!" ketus Bara.


"Ya pastilah semua orang kesal pada bang Galuh karena kelakuannya itu. Tapi pasti semuanya bisa di bicarakan baik-baik Bara," ucap Embun.


"Tidak semudah itu!"


"Sudahlah! jangan di pikirkan lagi," pungkas Embun.


"Aku takut kalau kak Al akan memaafkan bang Galuh. Hati kak Al terlalu baik tidak pantas untuk bang Galuh!" tegas Bara.


"Aku yakin Bara kalau kak Al akan mengambil keputusan yang tepat. Kak Al tidak sebodoh itu!" jelas Embun.


Bara menatap Embun dan tersenyum. "Emmmh aku tak menyangka akan menikah denganmu."


⬇️⬇️

__ADS_1


__ADS_2