
"Apa mau mandi air hangat?." tanya Embun pada Rian.
"Aku akan mandi kalau sudah di Jakarta saja. gak mau mandi dingin..." jawab Rian.
"Baiklah."
"Tenang saja aku akan tetap tampan walaupun tidak mandi." senyum Rian.
"Rian sudah lama kenal sama Embun teh?." tanya Emak.
"Lumayan mak."
"Embun baik kan, tapi rada keras kepala harap maklum ya." ucap Emak.
Mendengar ribut-ribut Abah keluar dari kamarnya dan lebih terkejut melihat Rian.
"Siapa ini mak? ganteng pisan..." tanya Abah.
"Saya Rian bah pacarnya Embun." senyum Rian.
"Oh si Embun udah balik mak?. kemana dia?." tanya Abah.
"Embun lagi masak air mau mandi katanya." jawab Emak.
"Kapan menikahi Embun jangan pacaran lama-lama gak baik." tanya Abah.
"Uhuk uhuk..." Rian keselek singkong.
"Minum dulu minum.." suruh emak.
"Maaf mak, abah. Aku belum memberitahu orangtuaku tapi pasti nanti di bawa kesini." gugup Rian.
Malah di suruh nikah...
Batin Rian.
"Dimana orangtuanya?."
"Di pontianak kaliamantan bah." jawab Rian.
"Jauh juga ya ternyata. Ya gitu kata pepatah juga jodoh mah jorok dimana aja jatohnya. Hahaaa...." abah tertawa.
"Minta doanya saja dari Emak sama Abah semoga semuanya di mudahkan dan di segerakan juga."
"Aamiin..."
"Silahkan makan lagi singkongnya abah mau ngasih makan ayam dulu." ucap Abah.
Rian duduk di ruang tamu sendirian karena Embun masih mandi. Rian tidak sanggup untuk mandi karena merasa sangat dingin sekali.
"Aku bosan. Jalan-jalan di luar sebentar ah nungguin si Embun mandi lama banget." Rian keluar rumah dan berjalan-jalan sekitar rumah Embun.
Tetangga pada ngeliatin Rian mungkin heran ada orang ganteng nyasar ke kampung.
"Rian...." panggil Embun.
"Hah iya." Rian menghampiri.
"Kalau tidak mau mandi setidaknya cuci mukamu sana, tadi kan tertidur di bis. cepat sana..." suruh Embun.
__ADS_1
"Dingin Embun, aku tidak ingin menyentuh air." rengek Rian.
"Sudah aku siapkan air hangat untukmu di kamar mandi di ember hitam." jelas Embun.
"Oke terima kasih pacar..." goda Rian.
Rian berlalu ke kamar mandi dan berganti baju karena sebentar lagi mau ke acara akad nikah Nina sepupu Embun.
Embun juga bersiap dan sedikit berdandan. Embun sangat cantik walaupun tampil sederhana dengan baju yang Rian pilihkan. Rian juga sudah selesai dan tampil begitu kerennya.
"Wah wah Ini Rian begitu tampan ya cocok sekali sama Embun ini mah." senyum Emak.
Embun hanya tersenyum malu.
"Ayo kita berangkat biarkan si abah nanti nyusul kita tinggalin aja." ajak Emak.
"Apa kita harus bergandengan?." bisik Rian.
"Tidak perlu... nanti banyak yang nyinyir, lakukan saja hal-hal so sweet padaku." bisik Embun.
"Oke..." Rian paham.
Sesampainya di tempat acara Embun memberikan selamat kepada keluarga wa Hasyim dan juga Nina. Nina menikah dengan seorang guru PNS yang umurnya sudah lebih dari 30 tahun.
"Selamat ya Nin ternyata kamu duluan yang menikah." senyum Embun.
"Iya, kamu kapan dong cepet nyusul." seru Nina.
"Tidak lama lagi, tunggu saja." jawab Rian.
"Kenalkan saya Rian pacarnya Embun."
"Oh, kerja apa pacarmu?." tanya Nina sinis.
"Kerja di toko samping tokoku kerja." jawab Embun.
"Cuman kerja di toko ternyata. Emang cocok sih sama kamu." timpal wa Tika mamanya Nina.
"Memangnya salah kalau aku cuman kerja di toko? yang penting aku mencari uang dengan halal." Rian merasa kesal Embun di hina.
"Iya suaminya Nina ini udah jadi PNS." puji wa Tika.
"Kamu gak masalah kalau aku hanya kerja di toko kan Embun?." tanya Rian.
"Semua pekerjaan sama saja ko aku gak masalah." senyum Embun.
Bagus juga akting Rian.
pikir Embun.
"Ya kan kamu juga bukan sarjana jadi mana mungkin bisa menikah dengan PNS atau orang kaya." sinis wa Tika.
"Jangan sombong ya jadi orang..." Rian merasa emosi.
"Sudahlah Rian jangan di teruskan." bisik Embun.
"Tapi Embun...."
"Sekali lagi selamat ya Nina, aku kesana dulu ya wa ngambil makan dulu." pamit Embun dan menarik tangan Rian. kemudian mengambil makanan dan duduk di kursi yang sudah disediakan.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih Embun malah menghentikanku bicara aku kesal sekali pada uwamu itu ingin ku sumpal mulutnya." ucap Rian kesal.
"Sudahlah ga usah di ladenin nanti gak kelar-kelar kalau di ladenin begitu." jelas Embun.
"Apa semua keluargamu begini kelakuannya padamu Embun menghinamu sesukanya?." tanya Rian.
"Tidak lah, masih banyak orang baik kok. Ya mungkin karena keluarga wa Tika ekonominya lebih tinggi di bandingkan yang lainnya." tambah Embun.
Hah orang sombong, lihat saja nanti saat aku menikahi Embun kau akan syok atau mungkin meninggal.
Pikir Rian.
Acara hajatan 2 hari 2 malam, sambil makan Embun dan Rian di suguhi acara dangdutan.
"Apa di kampung suka mengadakan acara seperti ini Embun?." tanya Rian.
"Iya, tapi gak semuanya juga sih. tergantung orangnya aja." seru Embun.
Orang-orang memperhatikan Rian karena Rian memang sangat tampan dan mencolok berbeda dengan yang lainnya. walaupun hanya pakai kemeja dan celana panjang saja pesonanya luar biasa.
Rian merangkul Embun yang masih makan di sampingnya. Seketika semua orang bergosip tentang Embun.
"Eh ternyata itu pacarnya Embun. Ya ampun ganteng banget ya Embun beruntung sekali. Ih aku juga mau punya pacar kaya pacar Embun." ucap seseorang di belakang Rian dan Embun.
Rian yang mendengarnya merasa bangga dan tersenyum.
Aku memang tampan, hah bagaimana kalau mereka tahu siapa diriku sebenarnya. Bisa mati berdiri sepertinya. Hahaa...
Pikiran Rian.
"Apa kau mendengarnya Embun semua orang membicarakanmu yang beruntung karena punya pacar sepertiku yang ganteng." goda Rian.
"Ganteng sih tapi gak mandi..." ledek Embun.
"Biar saja yang penting gantengnya gak lunturkan?." ucap Rian.
"Iya, tapi aku curiga kamu pake formalin makanya gantengnya awet." senyum Embun.
Iya emang skincare ku formalin. puas...." ucap Rian.
Mereka berdua memang pasangan yang serasi apalagi senyum keduanya yang merekah di bibir mereka. Membuat semua orang disana menjadi iri pada Embun. Terutama pengantinnya sendiri Nina.
"Mamah pacarnya Embun ganteng banget iih tapi suamiku malah udah tua." bisik Nina pada mamahnya.
"Apa kau tidak dengar tadi dia cuman kerja di toko? suamimu PNS masa depanmu jelas dan cerah. Ganteng saja tidak akan bikin kenyang." ketus wa Tika.
Nina merasa kesal karena malah Embun dan Rian yang menjadi pusat perhatian bukan pengantinnya.
"Kita pulang saja yu disini membosankan." ucap Rian.
"Ya udah ayo. Kita pamit dulu sama mereka." ajak Embun.
"Wa aku pulang dulu ya, Nina kalian bahagia ya dan semoga sakinah mawadah warohmah." senyum Embun.
"Iya..." wa Tika tidak banyak bicara.
Rian pulang dan menggandeng Embun bikin semua orang baper dan mereka menjadi pusat perhatian.
⬇️⬇️
__ADS_1