Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Hitam-hitam


__ADS_3

Rian merasa harus melakukan sesuatu untuk melindungi kak Alisha dan membongkar semua kebohongan Bang Galuh.


"Aku harus menghubungi asistenku dan meminta tolong untuk menyelidiki bang Galuh." gumam Rian.


Rian : Hallo Rian ini aku Bara,


Asisten : Hallo tuan akhirnya kau menghubungiku juga, aku pikir kau sudah hilang ingatan.


Rian : Aku sedang mendalami peranku saja.


Asisten : Iyalah terserah tuan saja. Ada apa menelponku?.


Rian : Aku punya tugas untukmu suruh orang untuk menyelidiki bang Galuh di Jakarta.


Asisten : Memangnya kenapa tuan?


Rian : aku memergoki Bang Galuh berselingkuh tapi aku tidak punya bukti untuk mengungkap semuanya. Jadi aku tugaskan semuanya padamu untuk menyelidiki dan mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya.


Asisten : Tega sekali Tuan Galuh. bagaimana dengan Alisha?.


Rian : Kak Al baik-baik saja karena belum mengetahui semuanya. Kamu masih berharapkan pada kak Al? lakukan semuanya demi kak Al.


Asisten : Baiklah aku kerjakan semuanya dan secepatt mungkin akan terbongkar.


Rian : ingat jangan sampai ada orang yang tahu dan hati-hati bang Galuh juga jangan sampai tau.


Rian mematikan telponnya dan berharap asistennya bisa menyelesaikan masalah ini.


"Nelpon siapa sih daritadi sibuk sekali?." Anwar tiba-tiba datang.


"Lu denger tadi aku ngomong apaan?." gugup Rian.


"Hanya terdengar berisik saja tidak jelas."


"Ooh aku hanya menelpon keluargaku saja." ucap Rian.


"Aku mau tidur ah lelah." ucap Rian dan berlalu ke lantai atas untuk tidur.


"Aneh sekali anak itu." gumam Anwar.


Bara menjalani harinya sebagai Rian dan semakin mendalami perannya juga. Rian juga semakin dekat dengan Embun apalagi setelah sepakat untuk menjadi pacar pura-pura Embun.


"Embun kita ke mall yu beli baju untuk kondangan sepupumu itu." ajak Rian.


"Ayo, sebelum tutup mallnya kita berangkat sekarang." ucap Embun.


"Kita pinjam motor Fahri saja biar lebih cepat." ide Embun.


"Iya boleh." angguk Rian.


Mereka berdua menyebrang dan menghampiri Fahri yang kebetulan masih buka dan meminjam motornya.


"Fahri aku mau nyewa motormu boleh? mau ke mall sebentar." ucap Embun.


"Gak perlu nyewa pakai saja Embun. Gih sana pake." Fahri memberikan kunci motornya.


"Oke makasih Fahri, aku tidak lama kok. sama helmnya juga ya hehee..." senyum Embun.


"Ambil saja tuh disana, yang merah itu yang suka di pakai Trian." tunjuk Fahri.

__ADS_1


Embun mengambil helmnya dan memberikannya satu pada Rian.


"Ini kuncinya kamu yang bawa..." pinta Embun pada Rian.


"Aku?... aku gak bisa bawa motor Embun. Heheee...." senyum Rian.


"Hah? ya ampun kamu benar-benar ya." Embun menggelengkan kepalanya.


Embun naik ke atas motor dan menghidupkan motornya kemudian Rian duduk di belakang Embun.


Embun melajukan motornya.


"Pelan-pelan Embun." ucap Rian.


"Aku sudah ahli bawa motor, nanti kamu akan tahu kalau ke kampungku jalannya waw luar biasa. sudah jangan banyak bicara pegangan saja." tegas Embun.


Rian menurut dan berpegangan pada pundak Embun. Terlihat konyol memang Rian tidak bisa mengendarai motor karena selama ini selalu pergi naik mobil.


Embun memarkirkan motornya dan kemudian masuk ke dalam mall.


"Aku malu Embun sepertinya penjaga karcis itu menertawakanku." ucap Rian.


"Yaiyalah sudah pasti menertawakanmu, udah kamu tinggi banget di bonceng ama cewek ya kontraslah." jelas Embun.


"Aku emang gak bisa bawa motor Embun. Hehee..." senyum Rian.


"Ya sudah ayolah kita masuk nanti mallnya keburu tutup lagi." Embun menarik tangan Rian.


Mereka masuk ke sebuah toko dan memilih baju untuk kondangan nanti. Embun memilihkan kemeja lengan panjang warna hitam untuk Rian.


"Apa kita akan ke pemakaman pakai baju hitam begini?." ucap Rian.


"Ya aku suka saja kalau liat cowok pake baju item apalagi kamu kulitnya putih. pasti keren deh. Sana ah cobain aja dulu." suruh Embun.


Embun sendiri bingung harus memilih baju yang seperti apa. "Apa baju yang cocok untukku?. hah aku bingung." gumam Embun.


"Bagaimana Embun. Apa kamu juga sudah mendapatkan baju untukmu?."


Embun tertegun melihat ketampanan Rian yang begitu terpancar dengan baju hitamnya seperti oppa oppa korea di drakor tampan dan putih sekali.


"Embun.... kamu malah bengong? terpesona ya padaku?." Rian sok tampan.


Embun tersadar dari lamunanya. "Ti-tidak aku hanya bingung saja memilih bajuku." gugup Embun.


"Emmmh biar aku pilihkan." Rian mencari-cari baju untuk Embun.


"Ini, bagus nih dress untukmu warna hitam juga biar serasi." ucap Rian.


"Baiklah aku coba."


Embun memperlihatkannya pada Rian. " Gimana? cocok gak?."


"Emmmh sippp bagus, pilihanku gakan salah itu sangat cocok untukmu." senyum Rian.


"Yasudah kalau begitu aku ambil ini aja. Sini bajumu biar aku bayar sekalian." pinta Embun.


"Tidak usah biar aku saja yang bayar semuanya. Waktu itu temanku bayar hutang dan aku membeli ponsel dan masih ada sisanya." senyum Rian.


"Beneran?."

__ADS_1


"Iya, kamu tunggu aja disini." Rian mengambil baju Embun dan kemudian membayarnya setelah itu mereka berlalu untuk pulang.


"Aku jadi tidak sabar untuk pulang kampung dan mengenalkanmu pada keluargaku kalau ini pacarku gantengkan? hahaaa..." pikir Embun.


"Ya iyalah semua orang pasti akan terpesona padaku dan kamu yang akan dapat pujian." senyum Rian.


"Hahaaa.... aku penasaran seperti apa suaminya si Nina?" ucap Embun.


"Sepupumu yang akan menikah itu?." tanya Rian.


"Iya, padahal usianya baru 20tahun. makanya kalau aku datang tidak bawa pacar aku bakalan di ceramahin habis-habisan." jelas Embun.


"Tenang saja ada aku disini aku akan akting sebaik mungkin." ucap Rian.


Aku akan lakukan yang memang aku rasakan Embun bukan akting.


Hati Rian.


"Baru kali ini aku bertemu cowok gak bisa bawa motor." seru Embun.


"Lagian aku tidak punya motor makanya gak bisa juga."


"Yakan bisa belajar punya orang lain. Sudahlah jangan di pikirkan."


Sesampainya di bengkel Fahri dan mengembalikan motornya kepada Fahri.


"Fahri makasih ya motornya, udah aku isiin bensin full." ucap Embun.


"Padahal gak usah Embun."


"Gak apa-apa."


"Kalau begitu kita pulang dulu ya, makasih sekali lagi." ucap Rian.


"Hati-hati kalian." ucap Fahri.


Embun dan Rian membeli makan malam dulu dan di bawa ke kontrakan Embun untuk makan disana. Embun mengambil piring dan membuka makanannya dan mereka makan bersama.


"Aku minta nomor ponselmu dong Embun?." pinta Rian.


"Sinikan ponselmu, biar aku tulis sendiri."


Embun menuliskan nomor ponselnya di ponsel Rian dan di beri nama Embun cantik.


"Ini sudah aku tulis."


"Embun cantik."


"Iya...." senyum Embun.


"Iya kamu emang cantik Embun cantik banget malah..." puji Rian.


Embun tidak menanggapinya serius, itu hanya sebatas bercanda saja padahal apa yang Rian ungkapkan itu semua dari hatinya.


⬇️⬇️


Rian atau Bara gini kali ya.... silahkan lah kalian berkhayal sendiri.. 😁😁


__ADS_1


Embun gini aja ya... 🤭🤭



__ADS_2