
Embun menjalani harinya di tempat kerja seperti biasanya. Saat jam makan siang tiba, Bara datang dengan bawaan di tangannya.
"Haiii Mon apa kabar?" sapa Bara pada Monik.
"Hai Bara. aku baik! Mau ketemu Embun, kan?" tanya Monik balik.
"Iya! tolong panggilin dong."
"Tunggu ya sebentar." Monik memanggil Embun dan Bara menunggu di kursi.
"Ada apa kesini?" tanya Embun menghampiri Bara.
"Hanya ingin mengantarkan makan siang untukmu dan untuk yang lainnya." Bara menyodorkan papper bagnya pada Embun.
"Padahal gak usah repot-repot ih aku jadi gak enak," ucap Embun.
"Apa sih yang engga untuk calon isteriku ini," goda Bara.
"Makasih kalau gitu. Sana pulanglah nanti aku di marahi kalau lama-lama ngobrol begini," suruh Embun.
"Baiklah sayang. Nanti aku jemput kamu ya, muuaaach ...." Bara mengecup kening Embun.
"Apa-apaan sih nanti ada yang lihat suka kebiasaan deh!" ketus Embun.
"Aku balik lagi ke kantor. Selamat bekerja lagi!" Bara pergi.
Embun kembali lagi masuk ke dalam toko dan memberikan makanan dari Bara pada yang lainnya.
"Ini untuk kalian." Embun mengeluarkan makanannya untuk Trian dan Monik.
"Cieee kalian sweet banget sih. Pakek cium kening segala sih," goda Monik.
"Udah dong jangan godain aku kaya gituh!" pipi Embun memerah.
"Sepertinya masih ada sisa. Aku akan kasih juga sama mas Pras dan bang Agus." Embun berlalu ke belakang dan memberikan makanannya.
"Mas sudah makan?" tanya Embun.
"Belum Embun!" jawab Pras.
"Engga usah beli Mas ini ada makanan untuk Mas Pras sama bang Agus juga." Embun menyodorkan makanannya.
"Ah makasih banyak Embun," senyum Pras.
"Aku ke depan lagi ya." Embun berjalan pergi.
"Eh tunggu Embun. Aku dengar kamu akan menikah dengan Bara? kapan?" tanya Pras.
"Oh itu. Iya bener Mas, masih sebulan lagi kok!" jawab Embun.
__ADS_1
"Selamat ya Embun semoga kamu bahagia dengan pilihanmu," ucap Pras.
"Makasih Mas. Aku kembali kerja ya!" Embun kembali ke depan dan makan bersama dengan teman-temannya.
Tepat pukul 8 malam waktunya toko tutup dan Embun masih belum melihat Bara datang. Embun memutuskan untuk pulang ke kontrakan dulu. Embun berjalan sendirian menyusuri gang yang remang karena kurangnya pencahayaan. Embun tidak takut karena memang sudah terbiasa. "Hemmm sebentar lagi aku akan meninggalkan tempat ini, tidak akan lagi melewati jalanan ini." Gumam Embun.
Embun merasa perasaannya tidak enak Embun diam dan kemudian berbalik badan dan menendang orang itu.
"Buuugh .... mau ngapain heh!" Pria iti tertunduk memegangi perutnya.
"Embun ini aku Bara," lirih Bara.
Embun membangunkan Bara. "Hehe ... maaf aku pikir orang jahat."
"Kamu ini Embun. perutku sakit!" keluh Bara.
"Ya ngapain juga ngendap-ngendap begitu. Kan bisa panggil juga dari jauh sana," jawab Embun.
"Iya aku salah maafkan aku. Ayo kita pulang ke rumah kak Al," ajak Bara.
"Iya udah ayo kita balik lagi. Aku pikir kamu tidak akan datang makanya aku berniat akan pulang aja ke kontrakanku," jelas Embun.
Bara merangkul Embun dan mereka berjalan bersama untuk pulang ke rumah Al.
Di dalam mobil.
Bara masih saja memegangi perutnya masih merasa kesakitan. Embun melihat itu dan merasa kasihan pada Bara. "Masih sakit ya? maafkan aku!"
"Tanggung jawab gimana?" ucap Embun.
"Sini deketan dan elus-elus perutku," suruh Bara.
Dengan polosnya Embun melakukan yang Bara pinta. Sekarang mereka saling berhadapan. "Ini yang sakit maaf ya sekali lagi."
Bara memegang pundak Embun. "Embun aku harap suatu hari nanti kamu bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu!" Bara mendekatkan bibirnya pada bibir Embun dan menciumnya dengan lembut. Embun tidak menolaknya malah ikut menikmati ciuman itu melingkarkan tangannya pada leher Bara.
Mereka melepaskan ciumannya. "Terima kasih tidak menolakku!"
"Aku masih normal," cetus Embun.
"Ya itu tidak salah! ayolah kita pulang." Bara melajukan mobilnya.
Mereka sudah sampai di rumah Alisha dan Al juga menunggu Embun masih belum tidur.
"Kenapa kak Al masih bangun? beristirahatlah!" ucap Embun. Bara langsung pergi ke kamarnya.
"Masih belum ngantuk Embun. Sebentar lagi, kamu makanlah sana pasti belum makan, kan?" tanya Al.
Embun merasa malu kalau harus makan sendirian. "Ah aku udah makan kok Kak. Aku bersih-bersih dulu ya!"
__ADS_1
"Aku juga ke kamar dulu kalau gitu," ucap Al.
"Ayo biar aku antarkan dulu!" Embun berjalan bersama kak Al mengantarkannya ke kamar setelah itu baru ke kamarnya sendiri di lantai 2.
"Hah aku harus mandi karena merasa sangat lengket dan gerah." Embun masuk ke dalam kamar mandi melepaskan semua pakaiannya dan menyalakan shower.
Tidak lama Embun mandi. Embun keluar kamar mandi dengan handuk kimononya.
Trek! pintu kamar Embun terbuka dan Embun kaget. "Heh kalau masuk kamar tuh ketuk dulu dong Bara!" ternyata itu Bara. Bara masuk ke dalam kamar Embun dan menutup pintunya rapat-rapat.
"Mau apa sih kesini? sana keluarlah aku mau berpakaian!" suruh Embun.
Bara mendekatkan dirinya pada Embun dan meraih pinggangnya yang ramping ke dalam pelukannya. "Aku ingin menuntaskan yang tadi belum selesai di mobil." Bisik Bara.
"Bara lepaskan ih. Kita belum jadi suami isteri gak boleh lakukan ini," ucap Embun.
"Sebentar lagi kita akan menikah Embun. Satu ciuman saja! please." Mohon bara.
"Bukannya aku bilang tidak boleh menyentuhku sampai aku mencintaimu juga?" ucap Embun.
"Kemarin malam kamu mencium pipiku itu aku anggap sebagai tanda cinta untukku!" jawab Bara.
"Iiih kamu ada-ada aja sih."
Bara semakin mengeratkan pelukannya. "Ayolah satu ciuman saja!"
"Baiklah kalau kamu memaksa lagi pula aku sudah terlanjur kotor." Embun melingkarkan tangannya pada leher Bara dan memulai lebih dulu ciumannya dan tentunya balasan ciuman dari Bara lebih panas lagi. Tidak sampai disana saja tangan Bara mulai nakal dan masuk ke dalam kimono yang Embun pakai dan perlahan melepaskannya. Embun sudah polos tanpa sehelai kainpun di tubuhnya dan Bara membawanya ke atas tempat tidur tanpa melepaskan ciumannya.
Embun tidak menolak dan menikmatinya walaupun dalam dadanya memendam amarah.
Mereka beradu dalam penyatuan cinta itu.
Waktu menunjukan pukul 5 pagi. Bara terbangun dan mendapati Embun dalam pelukannya tanpa kain sehelaipun hanya tertutupi selimut.
"Embun! apa yang aku lakukan di kamar Embun?" Bara ingat-ingat lupa. Ternyata semalam Bara meneguk minuman beralkohol yang di temukannya di lemari dapur milik Galuh.
"Ya ampun terjadi lagi! tapi kenapa Embun tidak menolakku?" gumam Bara.
"Embun bangunlah!" Bara menggoyahkan tubuh Embun.
Embun terbangun. "Aku sudah bangun!"
Bara kaget melihat Kissmark yang Bara buat di tubuh Embun. "Kenapa kamu tidak menolakku?"
"Menolak bagaimana? kamu begitu memaksa! biarlah saja lagi pula aku sudah terlanjur kotor untuk apa aku menolakmu lagi kesucianku juga tidak akan kembali lagi," tegas Embun.
"Apa kamu sudah mencintaiku rela di sentuh lagi olehku?" tanya Bara.
"Cinta? apa itu cinta Bara? kalau kamu hanya menginginkan tubuhku itu bukan cinta tapi hanya nafsu semata!" Embun menarik selimut yang Bara gunakan menutupi dirinya dan berlalu ke kamar mandi. Bara beranjak dari tidurnya dan memakai pakaiannya yang berserakan di lantai dan kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Embun terduduk di bawah shower dan melihat badannya dengan kissmark buatan Bara. Embun tidak bisa menangis lagi karena percuma kalau harus menangis dan menyesali semuanya toh Embun merasa kalau dirinya sudah kotor tidak perlu ada yang di jaga lagi.
⬇️⬇️