
Sesampainya di rumah Embun.
"Mau kemana kita sekarang Embun?." tanya Rian.
"Istirahat dulu saja sebentar nanti jam 2 lah kita main atau besok juga sebelum pulang." jelas Embun.
"Okelah aku juga ingin istirahat cape sekali." ucap Rian.
"Kalau mau tidur sana di kamarku saja sana." suruh Embun.
"Disini saja di kursi. Berikan saja aku bantal." pinta Rian.
"Iya sebentar aku ambilkan." Embun mengambil bantal.
"Ini..."
Rian meraih bantalnya dan menatap Embun yang sangat cantik kalau dari dekat. Rian menarik tangan Embun samapi Embun jatuh ke pelukan Rian.
Deg.
Perasaan Embun jadi aneh tidak karuan di tatap Rian dengan matanya yang tajam.
Kamu cantik sekali Embun. Sepertinya aku benar-benar menyukaimu.
Pikir Rian.
Rian tidak tahan dan mendekatkan bibirnya pada bibir Embun yang menggoda, Embun memejamkan matanya tidak bisa menolak ciuman dari Rian. Mereka bermain dalam ciumannya. Tapi akhirnya mereka melepaskan ciumannya karena tersadar takut ada yang datang.
"E-eh maaf maafkan aku Embun." gugup Rian.
"Emmmh ya sudah istirahat saja, a-aku di luar cari angin aku merasa gerah. Heheee..." Embun berlari keluar rumah dan terduduk di kursi teras.
"Ya ampun Embun apa-apaan sih menerima ciuman dari Rian. Aah memalukan sekali aku tidak menolak ciuman Rian." gumam Embun.
Bukan ciuman pertama bagi Embun karena dulu pernah berciuman juga dengan mantan kekasihnya yang gagal dinikahi Embun. tapi Rian orang baru baginya dan semudah itu berciuman dengan Rian.
Aah aku jadi malu sama Rian. lagian kenapa sih gak nolak juga nih bibir.
Batin Embun.
"Ah sudah, sudah jangan di pikirkan... aku bermain ponsel saja." gumam Embun yang menyibukan diri bermain ponsel.
Di dalam rumah, Rian belum kunjung tidur karena masih memikirkan Embun dan ciuman tadi.
Embun kamu tidak menolak ciumanku? apa mungkin kau juga menyukaiku Embun? Aah aku semakin berharap pada Embun jadinya. Tapi nanti saja ya Embun saat aku kembali menjadi Bara aku akan menikahimu.
Pikir Rian.
Mereka merasa salah tingkah kemudian Embun memutuskan untuk pergi ke rumah mang Didin karena di rumah tidak ada orang Embun tidak ingin terjadi hal aneh-aneh.
"Mending aku pergi saja daripada disini nanti takut terjadi apa-apa." Embun bergidik dan kemudian pergi.
Mang Didin dan bi Wati ada di rumah sudah pulang dari hajatan wa Hasyim. Mereka adalah adik bapak Embun yang selama ini baik pada Embun dan juga menyayangi Embun seperti pada anaknya sendiri.
__ADS_1
"Assalamualaikum bi." sapa Embun.
"Waalaikumsalam. Aduh keponakan bibi cantik sekali." sambut bi Wati.
"Hehee bibi bisa saja. Tadi kita tidak ketemu di hajatan wa Hasyim." ucap Embun.
"Iya bibi pulang duluan sama mang. Da mau ngapain juga disana." senyum Bi Wati.
"Mang kemana?." tanya Embun.
"Si mang ada di dalam tadi ke toilet. Ayo masuk ke dalam biar ngobrolnya di dalam." jawab bi Wati.
"Baiklah bi."
"Eh ada Embun, udah lama?." tanya mang Didin yang baru muncul.
"Baru aja mang, mang sehat?" ucap Embun.
"Alhamdulilah mang sekeluarga sehat. Bukannya kamu datang bersama pacarmu dimana dia?." tanya mang Didin.
"Dia lagi istirahat mang di rumah kecapean karena perjalanannya jauh." jelas Embun.
"Oh iya."
"Katanya ganteng pisan?." tanya Bi Wati.
"Nanti lihat saja sama bibi sendiri, soalnya mau aku suruh tidur disini aja biar gak jadi omongan orang." ucap Embun.
"Iya nanti anterin saja kesini biar tidur sama si Alif disini." mang Didin membolehkan karena memang anak mang Didin laki-laki semua dan masih SMP.
Mereka mengobrol panjang lebar dan terasa waktu sudah siang waktunya Embun kembali untuk pulang karena kasihan juga Rian sendirian di rumah.
"Mang aku pulang dulu ya udah dzuhur kasian juga Rian di tinggalin sendirian." pamit Embun.
"Iya, hati-hati ya di jalannya Embun." pesan bi Wati.
Embun berjalan pulang ke rumah yang jaraknya lumayan dekat hanya sekitar 10 menit berjalan kaki melewati kebun dan rumah warga sekitar.
"Embun...." panggil Rian.
"Kamu kemana aja sih, dari tadi aku mencarimu di telpon gak bisa." ucap Rian.
"Aku dari rumah pamanku sebentar ko." jawab Embun.
"Kenapa ninggalin aku, katanya mau ngajak jalan-jalan." ucap Rian.
"Iya nanti kita sholat dzuhur dulu. Sana kamu pergi ke masjid." suruh Embun.
"Dimana? sama siapa?."
"Nah ini sama anak-anak mereka mau ke masjid juga. Adek-adek ini kakaknya mau ke masjid bareng ya. Nih teh Embun kasih kalian uang." pinta Embun dan mengeluarkan uang 5 ribu 3 lembar karena ada 3 orang anak.
"Siapp teh... Ayo kak ikut kita." ucap salah seorang anak.
__ADS_1
"Tunggu aku kembali ke rumah Embun." senyum Rian.
Embun lucu sekali sih dan juga baik hati banget ngasih uang ke anak kecil.
Hati Rian.
Rian pergi bersama anak-anak itu. Kemudian Embun masuk ke dalam rumah dan menyiapkan makan siang untuk Rian.
"Aku siapkan nasi liwet untuk Rian pake ikan asin sama sambal. biar dia rasakan makanan kampung." gumam Embun.
Embun sibuk di dapur dan emak sama abah baru kembali.
"Emak kenapa sudah pulang?." tanya Embun.
"Ah mau ngapain lagi disana juga..." jawab Emak.
"Masak apa Embun?. kemana Rian?." tanya Abah.
"Bikin nasi liwet bah buat Rian biar nyobain makanan kampung. Riannya pergi ke masjid sama anak-anak." seru Embun.
"Padahal mancing ikan dulu Embun. Ya sudah biar abah ke sawah dan mancing ikan nanti abah bakarin di gubuk, kalian bawa nasi sama yang lainnya." jelas abah.
"Baiklah bah aku juga rindu makan di tengah sawah udah lama banget." ucap Embun.
Abah pun pergi ke sawah dan membawa pancingannya.
"Sini biar emak bantu," ucap Emak.
"Kalian kapan akan menikah?." tanya Emak.
"Me-menikah.... Emmmh nanti aja mak Embun gak mau buru-buru." jawab Embun.
"Iya kalau emak terserah Embun saja, emak ikut. tapi ada baiknya jangan pacaran lama-lama." nasehat Emak.
"I-iya mak..." gugup Embun.
Ya ampun malah di suruh nikah lagi.
pikir Embun.
"Mak, masih ada uang?." tanya Embun.
"Memangnya kenapa Embun?."
"Emmmh untuk bulan ini sepertinya Embun belum bisa ngasih uang sama Emak karena banyak kebutuhan Embun." ucap Embun.
"Tidak apa-apa Embun. Emak masih punya uang, masih ada sisa bulan kemarin juga." jawab Emak.
"Makasih ya mak," Embun memeluk Emak.
Rian yang sedari tadi mendengarkan percakapan Embun dan Emak merasa bersalah karena Embun menggunakan uangnya waktu itu untuk dirinya.
Aku masih punya uang sisa jual ponsel bang Galuh dan sepertinya biar aku berikan pada Emak saja.
__ADS_1
Pikir Rian.
⬇️⬇️