
"Ya mama tidak masalah kalau kamu ingin kembali ke Jakarta sekarang, lagian kan disana juga ada suamimu mama gak akan khawatir." Ucap mama.
"Tuh kak mama udah setuju tinggal bilang sama ayah sekarang." Suruh Bara.
"Iya baiklah, lagian aku juga tidak ingin jauh terus dari bang Galuh." Ucap Kak Al.
Akhirnya kak Al setuju juga, aku yakin ayah akan mengizinkanku pergi.
Hati Bara.
"Kamu seneng yah?" Goda mama pada Bara.
"Iya senenglah." Senyum Bara.
"Baiklah aku akan menemui ayah dulu." kak Al berlalu pergi ke kamar ayah di temani mama.
Bara juga pergi ke kamarnya dan belum sadar tentang ponselnya.
"Ayah aku masuk ya." Al dan mama masuk ke kamar ayah.
"Eh kalian ada apa?" Tanya ayah.
"Gimana keadaan ayah sekarang? Sudah baikan kan?" Tanya Alisha.
"Ayah sudah sehat besok juga mau ke kantor lagi." Ucap Ayah.
"Ayah aku akan kembali ke Jakarta ya, bersama Bara juga." Izin Alisha.
"Ya tidak apa-apa pergi saja, kasian suamimu sendirian disana. Lagian kamu juga lagi hamil harus berada di samping suamimu." Jelas Ayah.
"Aaah makasih loh yah udah ngizinin aku pulang ke rumahku." Alisha senang.
"Bara juga sudah bilang kemarin ingin mengurus perusahaan yang di Jakarta bersama suamimu." Ucap ayah.
"Iya dia ngebet banget balik Jakarta." Ujar Mama.
"Biarinlah biar dia cepet nikah juga." Senyum Ayah.
"Tapi sepertinya paling cepat seminggu atau 2 minggu lagi kalian ke Jakarta. Karena Bara harus menyelesaikan proyek yang disini karena kemarin dia yang menyetujuinya." Jelas ayah.
"Baiklah yah, itu tidak masalah. Kalau begitu ayah istirahatlah dan jangan banyak pikiran juga." Alisha pamit untuk ke kamarnya.
...----------------...
Bara sedang rebahan di kamarnya dan baru sadar kalau ponselnya tidak ada.
"Kemana ponselku?" Gumam Bara.
"Sepertinya tertinggal waktu di kolam tadi." Bara berlalu ke kolam renang untuk mencari ponselnya.
Bara keluar dari kamarnya bersamaan dengan kak Al keluar dari kamar ayah.
__ADS_1
"Gimana kak?" Tanya Bara.
"Sip Ayah sudah bolehin kita ke Jakarta tapi paling 2 mingguan lagi sampai kamu menyelesaikan proyekmu yang sedang kamu kerjakan itu." Jelas Al.
"Akhirnya, biarlah 2 minggu tidak akan lama. Aku akan banyak lembur dan segera menyelesaikan semuanya." Senyum Bara.
Eh jangan sampai bang Galuh tahu dong kalau gitu nanti dia hati-hati.
Pikir Bara.
"Kak Al jangan bilang dulu sama Bang Galuh ya biar bang Galuh kak Al kasih kejutan pasti dia bakalan seneng banget." Saran Bara.
"Boleh juga idemu, lagian kakak belum bilang pada abangmu kalau akan pulang." Senyum Alisha.
"Bagus kak." Bara mengacungkan jempolnya.
"Kakak mau ke kamar dulu ya istirahat." Alisha berlalu ke kamarnya.
Bara pun kembali mencari ponselnya ke kolam renang.
"Dimana sih ponselku? Ponsel jelek yang belum ku ganti." Gumam Bara.
Bara memanggil tukang kebun di rumahnya dan kemudian membantu untuk mencarinya, sekitar kolam renang sudah di kelilingi tapi tidak ketemu juga.
"Tuan muda ternyata ponselnya terjatuh ke kolam." ucap Heri penjaga kebun.
"Ambilkan!" Kata Bara.
"Hah aku baru ingat kalau ini ponsel murah pasti kerendem air langsung mati." Ucap Bara kesal.
Bara mengeluarkan kartu sim nya dan memory cardnya kemudian menyuruh Heri untuk membuang ponselnya.
Bara kembali ke ruang kerjanya dan menelpon Rian dari telpon rumah untuk membelikannya ponsel baru.
[Rian datanglah kemari dan belikan ponsel untukku.] Suruh Bara dan langsung menutup lagi telponnya tanda kalau Rian setuju.
Bara teringat pada Embun tapi Bara tidak hapal nomor ponsel Embun dan bagaimana cara menghubunginya. Sambil menunggu Rian, Bara memasukan foto-foto bersama Embun waktu di kampung ke dalam laptopnya.
Bara tersenyum-senyum sendiri. "Embun aku merindukanmu, tunggu aku ya 2 minggu lagi aku akan menemuimu."
"Rian juga begitu lama sekali sih." Gumam Rian.
Sudah lama menunggu akhirnya Rian datang dan membawa ponsel baru untuk Bara.
"Maaf lama tuan, aku nyari-nyari dulu ponselnya karena sudah pada tutup." Jelas Rian.
"Tidak masalah." Bara mengambil ponselnya. Memasukan kartu SIMnya.
"Ya ampun kenapa tidak ada nomor-nomor di kontaknya sih?" Bara bingung.
"Biar aku cek." Rian mengambil ponselnya. "Ini sepertinya kemarin tuan tidak menyimpannya di kartu Sim pasti di ponselnya." Jelas Rian.
__ADS_1
"Haduuuh mana aku tidak hapal nomor Embun lagi. Kenapa nasibku selalu begini." Bara sedih.
"Berarti pelajarannya adalah tuan harus sering menghapalkan nomor ponsel orang lain." Ucap Rian sedikit meledek.
"Hah kau malah meledekku." Ucap Bara.
"Aku tidak bermaksud begitu, tapikan sebelumnya juga tuan tidak bisa menghubungiku karena ponselmu hilang." Ucap Rian.
"Kau benar juga. Tapi bagaimana ini Embun, aku tidak bisa menghubunginya?" Kesal Bara.
"Tunggu saja pasti Embun menghubungimu nanti." Ujar Rian.
"Aku tidak yakin." Kata Bara.
"Kalau begitu tunggu saja sampai kita ke Jakarta." Cetus Rian.
"Paling cepat kita ke Jakarta 2 mingguan lagi sampai proyek yang kita kerjakan selesai." Ucap Bara merasa prustasi. "Pulanglah, ini sudah malam. Salam untuk paman." Tambah Bara.
"Baiklah aku pulang dulu kalau ada perlu apa-apa hubungi saja aku." Rian berbalik untuk pergi tapi langkahnya terhenti penasaran dengan Al.
"Emmmh apa Al akan pulang juga ke Jakarta?" Tanya Rian.
"Iya kak Al setuju untuk pulang." Jawab Bara.
"Baguslah!" Seru Rian.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Bara.
"Tidak,"
"Emmmh hatimu begitu besar bisa merelakan kak Al dengan yang lain." Puji Bara.
"Aku hanya ingin melihat Al bahagia saja tidak lebih." Senyum Rian.
"Makanya kamu segera cari istri biar gak kepikiran kak Al terus." Suruh Bara.
"Nanti saja setelah dirimu baru aku akan memikirkannya, sekarang aku masih harus mengurusmu." Ucap Rian.
"Aku bukan anak kecil lagi, aku sudah bisa mengurus diri sendiri." Kata Bara.
"Aku tidak yakin."
"Ah sudah sana pergi." Ketus Bara.
Rian pun berlalu pergi meninggalkan ruangan kerja Bara dan pulang ke rumahnya.
Bagaimana aku menghubungi Embun ya? aku yakin sekali Embun tidak akan pernah menghubungiku lebih dulu. Hah ini nih akibatnya kalau aku tidak mau menghapal nomor ponsel orang lain.
Batin Bara.
Sementara itu Embun membiasakan diri tanpa Bara karena memang mereka tidak punya hubungan apa-apa. Embun tidak ingin banyak berharap pada Bara apakah akan kembali atau tidak? Sekarang mas Pras lebih berani dan kembali mendekati Embun walaupun Embun tidak pernah punya perasaan apa-apa pada mas Pras. Embun masih sama mengangap mas Pras seperti kakaknya sendiri.
__ADS_1
⬇️⬇️