
Orang yang beberes sudah selesai dan jam tepat menunjukan pukul 9 malam sesuai rencana akan menemui Embun.
"Pergilah bersamaku, aku tidak hapal jalan." Pinta Bara.
"Baiklah."
Bara dan Rian pergi menuju parkiran dan mengambil mobilnya yang sudah lama tidak terpakai.
"Hemmm apa masih bisa hidup itu mobilnya?" Tanya Bara.
"Biar aku coba dulu," ucap Rian.
Rian mencoba mobilnya dan hidup kemudian memanaskannya sebentar.
"Ayo tuan kita berangkat sepertinya sudah panas juga." Ajak Rian.
Mereka menuju tempat Embun dan Bara merasa hatinya tidak karuan. Bagaimana nanti kalau Embun tahu yang sebenarnya kalau selama ini Bara berbohong.
"Aku merasa gelisah." Ucap Bara.
"Gelisah kenapa?" Tanya Rian.
"Ya aku takut Embun akan marah padaku." Jawabnya. "Bagaimana menurutmu?" Tanya Bara.
"Menurutku dia tidak akan marah, paling marah sebentar pasti dia malah senang kalau sebenarnya kau kaya." Cetus Rian.
"Embun tidak begitu ...."
"Ah aku pikir akan sama saja tuan, sebaik-baiknya perempuan akan senang kalau pasangannya punya uang." Jelas Rian.
"Aku tidak tahu juga. Kita lihat saja nanti akan bagimana." Ujar Bara.
Mereka sudah sampai di depan toko Embun dan tokonya sudah tutup. Kemudian Bara berjalan menyusuri gang yang sudah sering di laluinya menuju kontrakan Embun. Akhirnya sampai di depan kontrakan Embun.
"Ini kontrakannya." Tunjuk Bara.
"Jadi selama ini tuan tinggal disini?" Tanya Rian.
"Tidak, aku tinggal di mes tempat kerjaku yang tadi di depan sana." Jawab Bara.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau bisa tinggal di tempat seperti ini." Rian hanya tersenyum kecil.
Tempatnya tidak kumuh tetapi hanya sempit saja, lingkungan sekitar juga bersih mungkin masyarakat sekitar memang peduli akan kebersihan. Apalagi di dalam kontrakan Embun walau sempit tapi nyaman dan bersih.
"Toktok ...." Bara mengetuk pintu Embun tapi tidak ada jawaban. Beberapa kali di ketok tapi sepertinya Embun tidak ada.
"Embun ...." panggil Bara.
"Embun kemana ya?" Gumam Bara.
"Apa mungkin Embun sudah pergi darisini? Atau pindah?" Pikir Rian.
"Biar kita ke depan lagi dan aku akan menanyakannya pada Anwar teman kerjaku." Ajak Bara.
Mereka kembali ke depan untuk menemui Anwar.
...----------------...
Di tempat Monik.
"Monik ...." Panggil Embun dari luar.
" Embun? Kamu kesini sendiri?" Tanya Monik.
"Tadi bareng sama Trian dan Fahri sampe depan gang sana. Hehee ...." Ucap Embun.
__ADS_1
"Mau ngapain kesini kamu?" Ternyata ada Anwar.
"Aku mau menginap disini sudah lama tidak menginap." Jawab Embun.
"Baiklah ayo masuk." Ajak Monik.
"Kamu ngapain ikut masuk lagi sana pulanglah." Suruh Monik pada Anwar.
"Aku masih kangen sayang." Jawab Anwar.
"Sudahlah sana pergi kita mau istirahat cape lagian kan besok kita ketemu lagi." Senyum Monik.
"Baiklah." Anwar setuju pulang. "Kamu sih Embun mengganggu saja aku sama Monik."
"Malah karena ada aku makanya kalian selamat dari godaan syetan. Mana pintunya di tutup lagi." Ketus Embun.
"Baiklah bu haji aku pulang sekarang." Anwar berlalu pergi.
"Kelakuan pacarmu ada-ada saja sih Mon. Hahaa ...." Embun tertawa.
"Ya begitulah, tapi aku cinta." Ucap Monik.
"Iya bucin! Hahaa ...." Ledek Embun. "Kita nonton drakor aja yu sebelum tidur." ajak Embun.
"Baiklah aku setuju. Tapi dari ponselmu ya aku belum beli kuota. Hehee ...." Bujuk Monik.
"Sipp lah tidak masalah." senyum Embun.
Ya begitulah kalau mereka sudah bersama menikmati drakor sambil ghibahin para pemainnya tidak lupa sambil ngemil juga.
...----------------...
Anwar berjalan pulang menuju mesnya dan kaget saat di depan toko ada sebuah mobil terparkir dan ada 2 orang pria terduduk di depan mobilnya berpakaian rapih dan keren.
Anwar mengerutkan dahinya dan menatap Bara sepeti orang yang di kenalnya. Anwar menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Penampilan Bara begitu berbeda dengan memakai kemeja berwarna abu dengan celana standarnya rambutnya yang tertata rapih sepatunya juga mengkilap sekali.
"Siapa?" Anwar heran.
"Ini aku, masa kau tidak ingat?" Ucap Bara.
"Rian?"
"Iya aku yang dulu Rian teman sekamarmu." Senyum Bara.
Anwar memegang badan Rian dan mengecek lebih seksama mengelilinginya.
"Mana mungkin kau Rian temanku? temanku itu gembel sama sepertiku." Celetuk Anwar.
"Iya pokoknya ceritanya panjang sekali ayo kita masuk saja dan bicara di dalam." ajak Bara.
Anwar membuka pintunya dan masuk ke dalam dengan keadaan wajah yang masih bingung untuk mencerna semuanya.
"Duduklah." Bara mendudukan Anwar.
"Mana identitasmu aku lihat?" Pinta Anwar.
Bara memberikan KTPnya pada Anwar. "Ini..."
"El Dikta Sambara." Anwar membacanya. "Tuhkan kau bukan Rian tapi kenapa mirip? Apa kau kembarannya dan ingin mengabarkan kalau Rian sudah meninggal? Ya ampun Rian ternyata selama ini kau menghilang dan kau sudah tiada." Anwar histeris.
Rian yang berdiri di samping Bara benar-benar tidak tahan melihat kelakuan Anwar yang menganggap kalau Rian temannya dulu sudah meninggal.
"Dengarkan dulu aku Rian aku." Ucap Bara. "Bagaimana ini Rian, Anwar malah menangis begitu bagaimana aku menjelaskannya." Ucapnya pada Rian asistennya.
Rian hanya menahan tawanya tidak menjawab Bara. Kemudian Bara memberikan Anwar air minum.
__ADS_1
"Ini minumlah dulu dan tenanglah, aku mohon dengarkan dulu penjelasanku." Mohon Bara.
Anwar meminum airnya dan berhenti bersikap sedih.
"Coba jelaskan apa yang terjadi pada Rian?" Ucap Anwar.
"Santai, tarik napasmu dan keluarkan. Iya begitu, kau sudah tenang sekarang?" Tanya Bara.
"Berceritalah." Pinta Anwar.
Bara menjelaskan semuanya pada Anwar apa yang terjadi dan siapa Bara sebenarnya. Anwar terkaget dan memeluk Bara.
"Ternyata kau Rian? Kau orang kaya ternyata selama ini?" Anwar histeris.
"Lepaskan," Bara melepaskan pelukan Anwar. "Begitu ceritanya Aku sudah selesai bercerita dan aku ingin tahu kemana Embun?" Tanya Bara.
"Embun?" Tanya Anwar.
"Iya tadi aku kekontrakannya tapi tidak ada. Pasti kamu tahukan Embun dimana?" Tanya Bara.
"Hemmm kemana saja baru mencarinya sekarang. Embun sedih tau menunggu kabarmu kamu tidak ada kabar berminggu-minggu." Ketus Anwar.
"Aku kehilangan kontak Embun jadi aku tidak bisa menghubunginya dan Embun juga tidak menghubingi sama sekali." Jelas Bara.
"Embun menginap di kontrakan Monik." Jawab Anwar.
"Antarkan aku kesana sekarang." Pinta Bara.
"Lihat ini jam berapa?" Tunjuk Anwar pada jam dinding. "Besok saja kesini lagi pasti mereka sudah tidur sekarang dan lagipula tidak enak sama yang lainnya nanti mengganggu." Jelas Anwar.
"Iya ini sudah malam aku tidak ingin mengganggu Embun dan Monik." Ucap Bara. " Baiklah aku akan menemuinya besok, aku besok kesini lagi. Tapi jangan bilang dulu ya sama Embun kalau aku sudah kembali aku akan memberikannya kejutan." Pinta Bara.
"Baiklah!" Seru Anwar.
"Kalau begitu aku pulang dulu pasti kamu mau istirahat kan." Pamit Bara.
"Eh tunggu dulu, uang yang 10 juta ambil lagi saja." Ucap Anwar.
"Apa kau tidak menggunakannya?" Tanya Bara.
"Aku tidak tahu sumber uang itu mana berani aku memakainya nanti tidak berkah." Jelas Anwar.
"Wah ternyata kau benar-benar teman terbaikku, padahal aku sudah bilang kalau uangnya untukmu waktu itu tapi kamu tidak menggunakannya. Salut ...." Bara mengacungkan jempolnya.
"Hah bagaimana mungkin aku menggunakannya? Uangnya tidak jelas sumbernya." Ucap Anwar.
"Itu uangku, aku menjalankan perusahaan ayahku dan itu sebagian hasilnya itu uang halal tenang saja." Jelas Bara.
"Kau serius uangnya beneran untukku?" Anwar sumbringah.
"Kurang?" Tanya Bara. "Transfer lagi 50juta pada rekening yang waktu itu kamu kirimkan uang padaku." Suruh Bara pada Rian.
Rian langsung mengirinnya dari ponselnya. "Sudah tuan." Rian menunjukan ponselnya.
"Sudah di kirim. Cek saja." Senyum Bara.
"Apa kau tidak salah Rian eh Bara? Tidak usahlah ambil lagi saja." Tolak Anwar.
"Itu untukmu. Bukannya kau perlu modal untuk menikahi Monik? Pakailah uang itu." Senyum Bara.
Anwar merasa terharu dan memeluk Bara. "Hemmm terima kasih Bara untuk uangnya aku terima kalau memang kau memaksa."
"Aku harap itu bisa berguna untukmu. Aku pergi dulu ya besok aku kesini lagi." Bara pamit dan berlalu pergi pulang.
⬇️⬇️
__ADS_1