Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Embun mabok?


__ADS_3

Waktu pulang kantor tiba. Bara dan Rian langsung menuju rumah Al karena tidak ingin keduluan Galuh.


Tok! Tok! Tok!


Bara mengetuk pintu rumah kak Al. Mbak Marni yang membukakan pintunya. "Kak Al ada di dalam Mbak?" tanya Bara.


"Ada tuan. di kamarnya," jawab Mbak Marni.


Bara dan Rian langsung masuk. Bara mendatangi kamar Al dan mencoba untuk bicara pada Al. Tapi, sebelumnya Bara menyuruh Mbak Marni dan Rian mencari ponsel Embun yang hilang.


"Kak Al aku masuk yah?" pinta Bara yang kebetulan pintu kamar Al terbuka.


"Ada apa? apa kamu sudah menyadari semua kesalahanmu itu?" tanya Al.


Bara masuk dan menutup pintunya. "Kak! kau harus percaya padaku. Aku dan Embun tidak berbohong kita benar-benar jujur memang itu kenyataannya." jelas Bara.


"Sudahlah Bara jangan perpanjang lagi masalah ini. Kakak anggap semuanya sudah selesai dan kau harus menerima kenyataan kalau bang Galuh tidak berselingkuh," tegas Al.


"Ini lihatlah! aku bawa bukti untukmu." Bara menyodorkan amplop coklat pada Al.


"Aku tidak ingin melihatnya!" Al tetap pokus pada bukunya tanpa melirik amplop itu.


Bara meletakkan amplopnya di tangan Al. "Lihatlah! itu semua kenyataannya. Aku hanya ingin menyelamatkan kak Al dari orang dan cinta yang salah!"


Al mengambil amplop itu dan menyimpannya ke dalam laci mejanya. "Sudahlah Bara sana pergi! kalau emang kamu belum bisa menyadari kesalahanmu itu dan belum meminta maaf pada bang Galuh jangan temuin kakak. Sana keluar dari kamar kakak!" Alisha mengusir Bara.


Bara keluar dari kamar Al tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya dan menghampiri Rian yang masih sibuk mencari ponsel Embun yang jatuh.


Rian memasukan tangannya ke kolong rak dan hampir berhasil meraih ponsel Embun tapi Bara datang. "Ayo kita pulang saja!"


"Baiklah tuan!" Rian menarik tangannya kembali. "Aku belum menemukan ponselnya."


"Birkan saja!" Bara pergi dan ikuti oleh Rian.



Alisha termenung di dalam kamarnya. Walaupun berusaha percaya pada Galuh tapi hatinya kepikiran juga dengan apa yang Bara ucapkan. Al meraih ponselnya dan melihat waktu menunjukan pukul 8 malam dan suaminya belum pulang. Al mecoba menghubunginya beberapa kali tapi tidak di angkat juga.


"Kemana dulu sih bang Galuh? jam segini belum pulang," gumam Al. Alisha terus mencoba menghubunginya.


Sementara itu di apartement Icha, ponsel Galuh terus berbunyi tapi tidak Galuh hiraukan karena sedang menikmati waktunya bersama Icha. Tentunya menghabiskan waktu di atas ranjang, sudah 2 jam berlalu Galuh belum merasa puas melampiaskan semua nafsunya pada Icha.


"Sayang ponselmu berisik sekali sih!" ujar Icha.


"Biarkan saja! aku masih menikmati ini," jawab Galuh dengan desahannya.


"Bagaimana kalau itu isterimu yang menelpon?" tanya Icha.


"Biarkan aku menyelesaikan ronde ini dulu. Diamlah!" Galuh mencium bibir Icha agar berhenti bicara. Galuh berada di puncak kepuasannya. "Aaahhh ..." Galuh menjatuhkan badannya di samping Icha merasa kelelahan. Entah berapa ronde yang mereka lakukan selama 2 jam lamanya.


"Terima kasih sayang sudah memuaskanku!" ucap Galuh.


Galuh merasa lelah dan akhirnya tertidur. Sedangkan Icha berlalu ke kamar mandi membersihkan diri. Icha selesai dari kamar mandi dan ponsel Galuh masih saja berbunyi, karena tidak ingin mengganggu waktunya dengan Galuh. Icha mematikan ponsel Galuh dan berlalu mengambil minum.


"Malam ini mas Galuh miliku! dan sebentar lagi selamanya akan menjadi milikku!" gumam Icha di depan cermin berbicara pada bayangannya sendiri.


...----------------...

__ADS_1


"Rian aku akan pergi menemui Embun dulu," ucap Bara pada Rian.


"Apa perlu aku antar?" tanya Rian.


"Tidak perlu! sekarang aku sudah hapal jalan. Kamu istirahat saja di apartement, aku pergi sendiri." Bara mengambil kunci mobilnya dan pergi menuju tempat Embun.


Bara sudah sampai di depan kontrakan Embun. Waktu menunjukan pukul setengah9 malam.


"Ada apasih kemari?" tanya Embun.


"Hanya kangen saja!" cetus Bara.


"Ini sudah malam!" ucap Embun.


"Yaudah kita pergi aja yu keluar sebentar saja tidak akan lama," ajak Bara.


"Kemana?" tanya Embun.


"Ke kafe yang deket apartementku saja kita lihat live musik. Aku suntuk dan susah tidur juga," jelas Bara.


"Baiklah! lagian aku juga banyak pikiran dan merasa bosan. Tunggu disini aku ganti baju dulu," ucap Embun.


Bara menunggu Embun di teras. Tidak lama kemudian Embun muncul dan merekapun pergi bersama ke sebuah kafe dekat dengan apartement Bara.


"Aku tinggal disana." Tunjuk Bara pada sebuah bangunan menjulang tinggi.


"Emmm disana! ternyata lumayan jauh juga dari tempatku," ucap Embun.


"Ya lumayan!" jawab Bara.


"Terus ngapain kita jauh-jauh kesini? nanti pasti bakal malem banget nyampe kontrakanku lagi," ucap Embun.


Dan kau hadir


Merubah segalanya


Menjadi lebih indah


Kau bawa cintaku


Setinggi angkasa


Membuatku merasa sempurna ....


Alunan lagu yang terdengar seperti gambaran hati Bara sekarang.


"Duduklah!" Bara menarik kursi untuk Embun duduk.


"Terima kasih!"


Bara memesankan minumannya dan dessert juga untuk menemani menonton live musik.


"Aku ke toilet sebentar ya." Bara pergi.


Tidak lama kemudian minuman yang di pesan datang. segelas jus stroberi dan minuman lainnya yang Embun sepertinya tidak mengetahuinya.


"Bara pesan air teh?" Embun mengambil minuman Bara.

__ADS_1


Embun mencium minumannya. "Emmh baunya enak sih! tqpi gak kaya teh." Embun mencoba mencicipinya dan menghabiskannya.


"Uweeekkk kenapa rasanya aneh gitu sih dan gak enak banget di mulut. Apa minuman orang kaya begini ya?" Embun heran.


Bara kembali dari toilet. "Embun! kamu minum minuman punyaku?" Bara kaget.


"Apasih itu gak enak banget kirain air teh. Hahaaa ..." tingkah Embun udah mulai ngaco.


"Ya ampun Embun!" Bara menepuk jidatnya.


Memang Bara belum bisa lepas dari minuman beralkohol dan kebetulan kafe ini adalah tempat langganannya yang menyediakan minuman itu.


"Bara kenapa kamu jadi banyak sih. Kamu punya kembaran kok pusing ya Bara aku juga merasa ngantuk," bicara Embun sudah ngelantur.


"Kenapa juga aku pesan yang seperti biasanya sih! kan aku bersama Embun," gumam Bara.


"Hahhh maafkan aku Embun. Aku bawa pulang sajalah!" Bara memapah Embun menuju ke mobilnya dan Embun sudah bicara ngelantur.


Bara mendudukan Embun di mobilnya. "Sana pergi aku mau tidur. Plakkk ..." pipi Bara tertampar tangan Embun.


"Ya ampun Embun! kenapa lagi mabok juga masih galak aja sih?" Bara juga masuk ke dalam mobilnya.


Embun sudah tidak bersuara dan akhirnya tertidur.


"Ya ampun bagaimana ini? aku tidak mungkin membawa Embun pulang ke kontrakannya apa kata tetangga Embun nanti," gumam Bara.


"Apa aku bawa saja ke apartementku ya? biar besok pagi aku jelaskan semuanya pada Embun apa yang sebenarnya terjadi," ide Bara.


Tidak lama Bara sudah sampai di apartementnya. Sudah sepi sepertinya Rian sudah tertidur.


Bara menidurkan Embun di kamarnya. "Hahh kau ada-ada aja sih Embun!"


"Emmmh kenapa dingin sekali sih!" lirih Embun.


Bara melihat ke arah ACnya dan mematikannya karena mungkin Embun tidak terbiasa pakai AC.


"Kenapa sekarang malah panas sih!" Embun menendang selimut yang Bara selimutkan pada Embun.


"Ya ampun maunya apasih Mbun. Gak sadar gak mabok sikapnya gak berubah," ucap Bara. Bara hendak menyelimuti Embun kembali dan melihat rok yang Embun pakai tersingkab dan cardigannya terbuka.


Bara menelan ludahnya dengan berat melihat paha mulus Embun yang terbuka dan belahan dadanya juga terlihat sangat putih dan mulus. "Sadar Bara sadar jangan macem-macem pada Embun!"


Bara menutupi tubuh Embun dengan selimut. Saat hendak melepaskan tangan dari selimutnya tangan Bara malah di tarik Embun dan membuat Bara lebih dekat dengan Embun.


"Jangan pergi! aku takut disana ada hantu," Embun mengigau.


"Ah tidak akan terjadi apa-apa kalau aku tidur disini juga. Lagian aku sadar tidak mabuk!" Bara berbaring di samping Embun dan mereka satu ranjang dan berada di bawah selimut yang sama.


Bara menyalakan ACnya kembali karena merasa kepanasan. Ehhh malah Embun memeluk Bara dengan erat dan sangat jelas terlihat 2 gundukan Embun yang mulus menggoyahkan nafsu Bara.


.


.


.


.

__ADS_1


⬇️⬇️


__ADS_2