
Hari ulang tahun Galuh sudah tiba. Cake di kirimkan ke alamat Alisha dan Icha.?
"Hemmm aku masih kepikiran dengan namanya Galuh ini. Apa orang yang sama atau bukan ya?" gumam Embun.
Trian mendengar Embun yang berbicara sendiri. "Kenapa sih ada apa? siapa Galuh?" tanya Trian.
"Emmmh apa kamu tahu siapa pacarnya Icha?" tanya balik Embun.
"Engga tahu Mbun! emang kenapa sih?" tanya Trian penasaran.
"Hanya ingin tahu saja soalnya nama pacarnya Icha yang waktu tadi di cake sama dengan nama suaminya kakaknya Bara," jelas Embun.
"Masa sih?" tanya Trian.
"Iya makanya aku nanya sama kamu siapa tahu ada fotonya pacar Icha," jawab Embun.
"Eh coba kita lihat di wa story nya kali aja ada." Trian mengecek ponselnya.
"Emmmh gak ada Embun," ucap Trian. "Apa harus aku tanyain?"
"Jangan! gak usahlah mungkin kebetulan aja sama kali ya," ucap Embun.
"Okelah ... nanti kalau emang dia up di story wa. Aku langsung kasih tau kamu oke!" seru Trian.
Hemmm rumit juga ternyata! aku tidak ingin memikirkannya tapi aku selalu kepikiran sama kak Al.
Hati Embun.
Mobil mewah terparkir di depan toko dan kelaur seorang pria dari mobil itu. Ternyata itu Rian asisten pribadi Bara dengan membawa banyak kantong belanjaan brand-brand mewah di tangannya.
"Selamat siang kak," sapa Siska yang menjaga di depan.
"Emmmh saya mau bertemu Embun," ucap Rian.
Siska menatap Rian dan kaget dengan apa yang di bawa Rian.
Hahhh ya ampun apa itu belanjaan untuk Embun?
Batin Siska.
"Ya udah ayo aku anter ke dalam." Siska berjalan lebih dulu sok cantik.
"Duduk saja disini tunggu. Biar aku panggil Embun!" ucap Siska.
"Embun ada yang mencarimu," ketus Siska.
"Siapa?" tanya Embun.
"Lihat aja sendiri!" Siska melengos pergi.
"Iih si Siska nyebelin banget sih!" ujar Trian.
"Udahlah biarin aja. Ayo kita temuin siapa yang dateng," ajak Embun.
Trian mengikuti Embun.
"Pak Rian ..." sapa Embun.
"Iya Embun. Saya di suruh tuan untuk mengantarkan ini semua padamu." Rian menaruh semua bawaannya di atas meja.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Embun.
"Lihat saja sendiri. Eh iya tuan meminta nomor ponselmu," pinta Rian menyodorkan ponselnya.
Embun mengambil ponsel Rian dan menuliskan nomor ponselnya. "Ini."
"Kalau begitu saya permisi mau kembali ke kantor lagi." Rian berlalu pergi.
"Coba lihat Embun apa isinya?" Trian penasaran.
Embun penasaran dan membuka semua kantong itu. Embun kaget karena isinya baju-baju yang sangat bagus dan sepertinya mahal-mahal juga.
"Ya ampun Embun ini bajunya bagus-bagus banget. Ah kamu beruntung sekali," ucap Trian.
"Untuk apa Bara membelikan ini semua untukku?" heran Embun.
"Terima aja Embun lagian emang Bara yang ngasih bukan kamu yang minta, kan?" ucap Trian.
"Tapi aku gak enak Trian. Kita hanya berteman aja dan untuk apa juga semua ini," keluh Embun.
Siska menghampiri Embun dan Trian. "Jangan munafik deh! itukan barang-barang mahal. Udah ngapain aja sama si Bara? sampai dia belikan ini semua untukmu?" sindir Siska.
"Jangan sembarangan ngomong ya kamu! Embun gak kaya kamu," tegas Trian.
"Apasih? aku ngomong sama Embun bukan sama kamu!" Siska melengos pergi.
"Iiih dasar nyebelin!" umpat Trian.
"Sudahlah Trian jangan di ladenin nanti dia ngadu sama ko Chandra," ucap Embun.
"Baiklah! ayo kita kembali ke dalam dan bawa semua barangnnya." Trian membantu membawanya.
Bara apa-apaan sih? pake beliin barang segini banyaknya, pasti ini sangat mahal.
Hati Embun.
...----------------...
"Aku sudah memberikannya pada Embun tuan. Ini nomor Embun aku kirimkan padamu," ucap Rian.
"Oke makasih." Bara sumbringah.
Bara langsung menghubungi Embun.
("Haiii Embun ...")
("Haiii Bara! untuk apa kamu mengirimiku baju begitu banyaknya?")
("Itu untuk acara nanti malam di pake ya,")
("Padahal tidak usah aku juga punya banyak baju,")
("Gak apa-apa Embun! aku ingin belikan itu semua untukmu.")
("Jadi kamu merasa malu kalau aku ke acara kak Al dengan pakaian murah, makanya kamu belikan aku pakaian yang mahal?")
("Bukan begitu maksudku Embun! ya kamu juga dulu membelikan aku pakaian makanya aku juga ingin membelikanmu,")
("Iya makasih!")
__ADS_1
("Plis jangan marah Embun, nanti malam aku jemput kesana.")
"Ya ampun malah di matikan! apa sih maunya cewek tuh," keluh Bara.
"Apa yang terjadi tuan?" tanya Rian.
"Aku merasa serba salah. Kemarin dia bilang malu kalau datang ke acara nanti malam terus aku belikan baju untuknya tapi malah marah," jelas Bara.
"Yang sabar ya tuan," hibur Rian.
"Aku sangat sabar!" seru Bara.
"Eh iya tuan. Sepertinya pak Hans tau semuanya tentang semrawutnya keuangan kita," jelas Rian.
"Hubungi dia dan secepatnya kita cari siapa orang yang sudah berani culas," suruh Bara.
"Aku sudah membicaraknnya dengan pak Hans tapi dia tidak banyak bicara. Sepertinya harus tuan sendiri yang menemui pak Hans langsung," jelas Rian.
"Jadi aku harus kembali ke kalimantan untuk menemuinya?" tanya Bara.
"Itu akan lebih baik tuan. Sekalian bisa di diskusikan langsung dengan tuan besar juga," tambah Rian.
"Baiklah! atur saja olehmu semuanya." Bara kembali pokus pada laptopnya.
...----------------...
Di ruangan Galuh.
Galuh dan Icha baru kembali dari meeting di luar kantor. Seperti biasa Galuh selalu menutup rapat pintu ruangannya.
"Aku merindukanmu sayangku ... muaacchhh ...."
"Eh jangan sekarang dong," tolak Icha.
"Kenapa? kamu sudah tidak ingin melayaniku lagi?" ucap Galuh.
"Bukan gitu ... Aku mau di nikahin!" pinta Icha.
"Bagaimana mungkin? aku belum menceraikan Alisha apalagi sekarang dia sedang hamil. Tunggulah sampai Alisha melahirkan ya," bujuk Galuh.
"Berarti kamu juga harus sabar jangan minta-minta lagi sampai kita nikah!" timpal Icha.
Galuh mendorong Icha mentok ke tembok dan memegangi kedua tangannya. "Memangnya kau akan tahan menolak ciumanku ini." Galuh langsung ******* bibir Icha tanpa ampun. Tapi Icha tidak menolak malah menikmatinya dan semakin menjadi membuat nafsu Galuh berada di puncaknya. Mereka melakukan yang seperti biasanya di dalam kamar mandi. Malah sekarang lebih berani lagi tanpa menggunakan pengaman.
"Ah makasih sayangku ..." Galuh merapihkan bajunya kembali.
"Janji ya nikahin aku secepatnya," manja Icha.
"Aku akan menikahimu! tunggu 2 bulan lagi sampai Alisha melahirkan, muaaachh ..." Galuh mengecup kening Icha.
"Emmmh hari ini kamu ulang tahun. Kita habiskan malam bersama yu di apartementku?" ajak Icha.
"Gak bisa! pasti Alisha curiga kalau aku tidak pulang," tegas Galuh.
"Ah katanya sayang! tapi kita sudah lama tidak menghabiskan malam bersama. Kalau di kantor saja kurang puas rasanya," ucap Icha.
"Emmmh sebentar aja gimana? nanti pas jam 8 malam aku akan pulang ke rumah," ucap Galuh.
"Baiklah! soalnya aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu," ucap Icha.
__ADS_1
"Oke! aku jadi penasaran." Galuh kembali duduk dan pokus ke laptopnya lagi.
⬇️⬇️