Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Pulih


__ADS_3

"Embun kamu duduklah! kenapa malah kemari sih harusnya kamu sitirahat." Bara mendudukan Embun karena melihat Embun berdiri tidak stabil.


"Makasih! aku hanya ingin bertemu dengan kak Al," ucap Embun.


"Aku baik-baik saja Embun jangan khawatir pikirkan saja keadaanmu." Senyum Al. "Bara apa sudah beritahu ayah soal bang Galuh?"


"Emmmh belum Kak! aku bingung harus bicara apa?" jawab Bara.


"Ya baguslah! jangan bilang dulu. Kakak yang akan bilang langsung pada ayah nanti kalau ayah ke Jakarta," ucap Al.


"Baiklah. Tapi kayaknya aku akan ke Kalimantan dulu pulang dan akan membawa Embun juga kesana mengenalkan Embun pada keluarga sekalian ada pekerjaan juga," jelas Bara.


"Ya itu bagus sekali," ucap Al.


Bara apa-apaan sih gak bilang dulu padaku main bicara aja! Hati Embun.


"Apa sebaiknya Kak Al ikut bersamaku saja pulang dan tinggal disana," saran Bara.


"Aku pikir aku akan tinggal di Jakarta saja dan melahirkan disini juga," ujar Al.


"Tapi bang Galuh pasti akan terus mengganggumu?" ucap Bara.


"Itu bukan masalah besar Bara. Aku pikir tidak akan menjauhkan anak ini dari ayahnya biarkan saja kalau memang Galuh ingin bertemu anaknya," jelas Al.


"Aku ikut saja pada keputusan kak Al," ucap Bara.


"Aku senang mendengar kalian akan menikah. Kapan kalian menikahnya apa sudah menentukan tanggalnya?" tanya Al.


"Sebulan lagi!" cetus Bara.


"Ya lebih cepat lebih baik," Alisha setuju.


Kenapa harus secepat itu sih Bara? Hati Embun.


"Ayo Embun kita kembali keruanganmu lagi biarkan kak Al istirahat juga." Bara mendorong kursi roda Embun.


"Rian tolong jagain kak Al." Pinta Bara.


"Baik tuan!" Angguk Rian.


Bara dan Embun kembali keruangan Embun.


"Apa yang kau katakan akan membawaku ke kalimantan?" tanya Embun.


"Memangnya kamu tidak mau? aku akan mengenalkanmu pada keluargaku disana." Santai Bara.


"Ya a-apa harus kesana juga?" gugup Embun.

__ADS_1


"Ya iyalah! biar kamu tahu semua keluargaku disana," ucap Bara.


Mereka sampai di ruangan Embun dan Embun kembali ke ranjangnya. "Terima kasih!"


Bara menggenggam tangan Embun. "Setuju ya ikut ke kalimantan?"


"Emmmh aku malu. Apa keluargamu akan menerimaku?" tanya Embun.


"Jangan khawatir orangtuaku pasti akan setuju dengan pilihanku dan akan menerimamu," ucap Bara.


"Baiklah aku ikut!" Embun menarik tangannya dari genggaman Bara.


"Ma-maaf!" ucap Bara.


"Aku belum memberitahu keluargaku di kampung! memang kita akan menikah dimana? gak mungkin kita menikah di kampung, kan? mana mau keluargamu ke kampung?" tanya Embun.


"Kamu maunya dimana? aku akan kabulin semua keinginan kamu!" ucap Bara.


"Aku maunya di kampung sih karena kasihan emak sama abah kalau harus ke kota," jawab Embun.


"Ya udah kita nikah di kampung aja. Keluargaku tidak akan masalah kalau ke kampung," ujar Bara.


"Serius?"


"Ya nanti kita bicarakan saja lagi. Tapi kamu beritahu dulu keluargamu di kampung," suruh Bara.


"Senyum dong Bun kayak biasanya jangan bete gitu," pinta Bara.


"Aku lagi gak enak badan. Masa harus senyum-senyum sih? sudahlah sana pergi aku ingin istirahat badanku masih demam," pinta Embun.


"Baiklah! aku juga akan ke kantor dulu sebentar nanti kesini lagi. Apa perlu kamu seruangan dengan kak Al biar ada teman?" tanya Bara.


"Tidak perlu biarkan kak Al beristirahat," ucap Embun.


"Okey kamu juga istirahat ya. Cepat pulih biar kita persiapkan pernikahan kita," ucap Bara.


"Hemmm sana pergilah!" usir Embun.


Bara pergi ke kantor bersama dengan Rian menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Setelah selesai bekerja mereka kembali lagi ke rumah sakit menemui Alisha dan Embun.


"Kak Al disini? tadi Rian keruanganmu," tanya Bara.


"Soalnya aku bosan dan minta pada perawat untuk mengantarku keruangan Embun," ucap Al.


"Ya baguslah jadi kalian bisa mengobrol dan saling kenal lebih jauh," ucap Bara.


Tiba-tiba Rian datang dengan tergesa-gesa. "Tuan Alisha tidak ada di ruangannya?" Rian ngos-ngosan.

__ADS_1


"Ini kak Al!" tunjuk Bara.


"Ah Al kau membuatku khawatir saja karena tidak ada di ruanganmu," ucap Rian.


"Jangan khawatirkan aku! aku tidak akan berbuat macam-macam," senyum Al.


Rian merasa lega karena ternyata Al ada bersama Bara. Bara melihat cinta yang begitu besar di mata Rian dan sangat perhatian juga pada Al. Embun juga berpikiran sama kalau melihat Rian bersikap kepada Al seperti punya perasaan lebih.


"Kita harus segera membicarakan pernikahan kalian," ucap Al.


"Tapi Kak bagaimana dengan dirimu?" tanya Bara.


"Aku baik-baik saja Bara. Memang aku sangat mencintai bang Galuh tapi mau bagaimana lagi kalau bang Galuh sudah tidak mencintaiku," ucap Al.


"Kak Al yang sabar ya," Embun menguatkan.


Tidak lama mereka di rumah sakit hanya satu malam saja. Al memutuskan kalau Embun tinggal beberapa hari di rumah Al untuk menemani Al dan Embun pun setuju karena merasa kasihan juga pada Al.


Mereka sudah sampai di rumah Al dan mendapati Galuh duduk di depan pintu karena Galuh menunggu Alisha.


"Mau apa lagi bang Galuh?" ucap Bara.


"Alisha kamu sudah sehat?" tanya Galuh dan meraih tangan Al.


Alisha mengibaskan tangan Galuh. "Untuk apa kesini lagi? bukannya kau sudah punya tempat baru?" Alisha bicara tanpa menatap Galuh.


"Maafkan aku Alisha maafkan. Aku menyesal telah melakukan semua ini padamu aku juga sudah memecat Icha dari kantor dan aku juga tidak akan menemuinya lagi." Galuh memohon di kaki Alisha.


"Iya dan sekarang giliran kamu yang aku pecat dari kantor! perlu kamu ingat kalau perusahaan masih atas namaku dan aku berhak memecatmu!" tegas Alisha.


"Jangan begitu padaku Alisha aku benar-benar menyesal tolong maafkanlah aku!" Galuh masih memohon.


"Pergilah bang! biarkan aku beristirahat. Kata dokter aku tidak boleh banyak pikiran, biar nanti mbak Marni yang membereskan barangmu." Alisha masuk ke dalam rumah bersama Embun.


"Alisha tolong beri aku satu kesempatan lagi jangan begini padaku! aku sangat mencintaimu Al." Teriak Galuh dan mengikuti Alisha. Bara menahan Galuh dan menyeretnya pergi.


"Pergilah Bang dan tunggu surat dari pengadilan untuk perceraian!" ucap Bara.


"Jangan senang dulu kamu Bara! seorang isteri yang sedang hamil itu tidak bisa di ceraikan jadi aku masih punya hak penuh pada Alisha," jelas Galuh.


Bara tertegun. "Ya tinggal nunggu 2 bulan lagi sampai kak Al melahirkan aku akan mengurus semua perceraian kalian! dan stop jangan ganggu kak Al." Bara pergi ke dalam rumah Al menyusul Al dan Embun.


"Aku tidak akan berpisah dengan Alisha! ingat itu Bara." teriak Galuh.


Bara tidak menghiraukan ucapan Galuh dan mengabaikannya.


⬇️⬇️

__ADS_1


__ADS_2