
Bara masuk ke dalam rumah Alisha.
"Apa bang Galuh sudah pergi?" tanya Alisha.
"Sudah! usir saja kalau emang nanti bang Galuh datang lagi kesini," tegas Bara.
"Kalian beristirahatlah biar cepat pulih kembali," Suruh Bara.
Al di bantu mbak Marni masuk ke dalam kamarnya dan Embun di bantu oleh Bara.
"Apa aku harus tidur di lantai atas?" tanya Embun.
"Iya! kenapa kamu takut?" tanya balik Bara.
"Engga. Apa aku pulang aja yah gak enak kalau disini," ucap Embun.
"Jangan! aku khawatir kalau kamu sendirian di kontrakan. Nanti malam aku menginap disini menjaga kalian berdua," ucap Bara. "Ini kamarnya, sana masuklah dan istirahat. Aku akan pergi ke kantor," ucap Bara.
Trek!
Pintu kamarnya terbuka, kamar yang cukup luas dan nyaman juga sepertinya.
"Kamu hati-hati di jalan," ucap Embun.
"Emmmh aku pergi ya!" Bara berbalik dan berjalan perlahan pergi.
Embun masuk ke dalam kamar dan berbaring di atas tempat tidur untuk istirahat. "Apa benar aku akan menikah dengan Bara atau ini hanya mimpi? Mimpi pun aku tidak pernah ingin menikah dengan Bara. Apa ini keputusan yang benar ya? kenapa aku malah jadi galau gini sih?"
Kring ... kring ....
Monik yang menghubungi Embun.
("Ada apa Mon?")
("Kamu dimana kok di kontrakan gak ada? apa kamu sudah baikan?")
("Aku sudah baikan Mon. Tolong bilangin ya aku gak kan masuk kerja dulu. Aku ada di rumahnya kakaknya Bara istirahat disini.")
("Ngapain kamu disana?")
("Di suruh Bara karena Bara khawatir kalau aku sendirian di kontrakan dan harus menemani kakaknya Bara karena baru pulang dari rumah sakit.")
("Kok Bara protek gitu sama kamu? apa jangan-jangan kamu pacaran ya sama Bara? ngaku!")
("Enggak ih! tapi ... nanti aja aku ceritain kalau kita ketemu. Bye aku mau istirahat.")
Embun mematikan panggilannya dan menyembunyikan wajahnya dengan bantal.
***
Di kantor Bara.
__ADS_1
"Tuan lihatlah! aku sudah mendapatkan semua bukti-bukti tentang keculasan Galuh." Rian menyodorkan sebuah berkas.
"Bang Galuh?" Bara kaget dan Bara melihat memperlajari berkas itu.
"Sudah ku duga kalau bang Galuh emang gak bener! memangnya buat apa uang sebanyak ini? selama ini bang Galuh dapat gaji juga, kan?" heran Bara.
"Itu disana juga ada sebagian catatan pengeluaran uangnya sepertinya itu yang lupa di hapus oleh pak Hans," jelas Rian.
"Emang kurang ajar bang Galuh! padahal selama ini keluargaku begitu baik padanya dan gak pernah memandang rendah bang Galuh. Tetapi, kenyataannya malah seperti ini menyakiti kakakku dan juga curang di perusahaan. Bagaimana kalau sampai ayah tahu semua ini?" jelas Bara.
"Pasti lambat laun juga tuan besar akan tahu semuanya. Apa tidak sebaiknya beritahu saja olehmu," saran Bara.
"Iya pasti! ya udah tolong siapin tiket buat ke kalimantan besok buat Embun juga. Aku akan ajak Embun kesana dan mengenalkannya pada orangtuaku," suruh Bara.
"Baiklah tuan!" Rian pergi dati ruangan Bara.
"Aku tidak sabar menikah dengan Embun. Ya walaupun karena sebuah kesalahan, tapi kenapa aku susah sekali sih bilang pada Embun kalau aku emang udah cinta sama dia," gumam Bara.
Kring ... Kring ....
Ponsel Bara berbunyi ternyata Alina yang menelpon. Kakak kedua Bara yang tinggal di London karena ikut suaminya tugas disana.
("Haiii kak Alina? ada apa tumben menelponku?")
("Kamu masih di jakarta?")
("Iya. Aku memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan mengurusi perusahaan yang disini.")
("Wah kebetulan sekali kalau gitu. Aku juga besok akan pulang, kalau gitu sampai ketemu di kalimantan ya kak Alina aku juga kangen pada kak Alina dan keponakanku yang cantik. Bye ... aku kerja lagi.")
Bara mematikan panggilannya.
"Wah akan sangat bagus kalau ada kak Alina sekalian Embun bisa berkenalan juga," gumam Bara.
"Tapi, apa kak Alina akan menerima Embun? Ah aku pikir ini akan jadi sebuah masalah karena kak Alina juga tidak menerima bang Galuh waktu itu apalagi kalau tahu kebenaran bang Galuh." Bara beranjak dari duduknya dan pergi mengambil minum di pantry.
Semua pekerjaan sudah selesai dan waktunya untuk pulang. Bara pulang ke rumah Alisha dan tidak lupa membelikan Embun beberapa baju untuk besok pergi karena Embun tidak bawa baju.
"Ini semuanya untuk Embun tuan?" tanya Rian.
"Iya! Embun tidak bawa baju sama sekali. Sekalian buat besok pergi juga," jawab Bara.
Rian memasukan semua barang belanjaannya ke dalam mobil dan mereka berlalu pergi ke rumah Alisha.
Di dalam mobil.
"Kamu juga tolong beresin baju-bajuku buat pergi besok dan antarkan nanti ke rumah kak Al. Aku akan menginap disana," jelas Bara.
"Yang mau nikah emang gak mau berjauhan!" goda Rian.
"Ya begitulah!" Senyum Bara.
__ADS_1
"Apa tuan sudah mengungkapkan perasaan tuan pada Embun?" tanya Rian.
"Belum! aku sulit untuk mengungkapkan perasaanku kalau sudah berhadapan dengan Embun," jawab Bara.
"Lalu bagaimana mungkin kalian bisa sepakat untuk menikah?" Rian penasaran.
"Embun takut hamil gara-gara kejadian waktu itu," jelas Bara.
"Hahaa ... emang sekali ngelakuin akan langsung hamil tuan?" Rian merasa kalau itu lucu.
"Embun hanya takut. Aku juga tidak tenang kalau aku tidak menikah dengan Embun," ucap Bara.
"Kalian buat kesepakatan?" ucap Rian.
"Ya Embun bilang aku tidak boleh menyentuhnya sebelum kita berdua saling mencintai," tegas Bara.
"Hahaaa ... hahaaa ... kalian konyol sperti anak kecil saja!" ledek Rian.
"Lihat saja nanti aku akan buat Embun jatuh cinta padaku malahan cinta mati!" tegas Bara.
"Ya aku akan menyaksikannya!" pungkas Rian.
Mereka sudah sampai di rumah Alisha dan Rian menurunkan semua barangnya dan membawanya ke kamar Embun.
"Untuk siapa itu semua?" tanya Al pada Rian. Al sedang duduk di meja makan melihat Embun dan Mbak Marni masak.
"Ini semua untuk Embun dari tuan Bara," jawab Rian.
Embun hanya tertegun melihat itu semua.
"Haiii kalian semua. Ini masih ada belanjaannya," Bara meletakknya.
"Buat Embun juga?" tanya Al.
"Iya! karena Embun gak bawa baju juga, kan? dan untuk di bawa ke kalimantan juga besok," jelas Bara.
"Besok?" Embun kaget.
"Iya! dan malam ini juga aku akan menginap disini menjaga kalian berdua," ucap Bara.
"Oke menginaplah disini. Sekarang duduklah kita makan bersama aku sudah lapar," suruh Al.
"Kalau begitu aku ke apartement dulu membereskan barang tuan untuk besok," Rian pamit.
Alisha mendudukan Rian di sampingnya. "Makanlah dulu!"
Rian menurut dan ikut makan bersama mereka.
Embun hanya melotot pada Bara.
Kenapa kamu buat keputusan sensiri sih buat pergi besok? Dasar Bara. Batin Embun.
__ADS_1
⬇️⬇️