Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Dugaan Embun


__ADS_3

Banyak pertanyaan yang hinggap di pikiran Embun yang tidak bisa di jawabnya sendiri.


Embun memberikan catatannya pada Mas Pras. "Mas lihat deh. Apa menurut Mas yang ada aneh dengan pesanan ini?" tanya Embun.


"Mmmmh ... ini sama dengan pesanan kemarin?" tanya balik Pras.


"Tuh kan Mas juga berpikiran begitu sama sepertiku," ucap Embun.


"Apa sih Mbun jelaskan yang bener? aku tidak mengerti," jawab Pras.


"Iya itu sepertinya untuk orang yang sama tapi yang pesan orang yang berbeda," jelas Embun.


"Ooh aku pikir orang yang sama yang memesan ini," ucap Pras.


"Ini beda orang Mas! apa mungkin lelaki ini punya selingkuhan Mas?" tebak Embun.


"Ah mungkin kebetulan aja namanya sama," ucap Pras.


"Masa kebetulan sih Mas. Ya kalo namanya aja atau hari ulang tahunnya aja yang sama itu bisa saja kebetulan," jelas Embun.


"Emmmh kamu ada benarnya juga. Sudahlah ini urusan orang lain kita jangan ikut campur," ucap Pras.


Tapi inikan suami kakaknya Bara orang yang ku kenal. Mana mungkin aku mengabaikannya dan tidak ikut campur, sepertinya kakaknya Bara orang yang sangat baik.


Batin Embun.


"Baiklah kalau begitu. Aku ke depan lagi ya Mas, buat cakenya yang cantik." Embun pergi lagi ke depan.


Apa yang harus aku lakukan ya? apa aku beritahu Bara? tapi aku belum yakin kalau Galuh itu orang yang sama. Ah kenapa aku jadi bingung.


Batin Embun.


Embun kembali bekerja dan melayani pembeli lainnya. Saat toko sudah tutup Bara sudah menunggu Embun bersama Rian dan membawa makanan yang banyak.


"Haiii Embun ... haiii kalian semuanya," sapa Bara pada semua orang.


Mereka semua menyapa kembali Bara.


"Kamu sudah disini aja?" tanya Embun.


"Iya. Aku bawakan makanan untuk kalian, kalian pasti belum makan, kan?" tanya Bara.


"Wah kamu tahu banget ya kalau kita belum makan," timpal Monik.


"Ya hidup berbulan-bulan bersama kalian aku tahu sedikitnya kebiasaan kalian," ucap Bara.


Bara membagikan semua makanannya dan sisa 2 porsi untuknya dan Embun.


"Aku antar kamu pulang yu Mbun," ajak Bara.


"Ayolah mau aja," bisik Trian.


Ini kesempatan untukku bertanya tentang kakaknya Bara.


Hati Embun.


"Baiklah ayo." Embun berjalan lebih dulu.

__ADS_1


"Yes! akhirnya Embun tidak menolakku," Bara senang.


"Selamat berjuang bro," ucap Anwar.


Bara mengikuti Embun menyusulnya dan di ikuti Rian dari belakang.


"Makasih ya Embun tidak menolakku," ucap Bara.


"Mau ada yang aku bicarakan sebenarnya," ujar Embun.


"Oh apa? mending bicaranya sambil makan aja ya di kontrakan kamu. Ini aku bawa makanan untuk kita," saran Bara.


"Dia bagaimana? tidak kamu ajak makan juga," tanya Embun.


"Dia sudah makan. Lagian anggap aja dia gak ada dia asisten pribadiku sudah biasa kok," jelas Bara.


"Baiklah!" seru Embun.


Mereka berjalan bersama dan itu membuat senyuman Bara merekah di bibirnya.


"Ayo masuklah," ajak Embun.


Bara masuk ke dalam kontrakan Embun dan Rian hanya duduk di kursi teras.


"Asistenmu tidak di suruh masuk?" tanya Embun.


"Tidak biarkan saja di luar nanti mengganggu," ucap Bara.


"Baiklah!"


Embun sudah selesai bersih-bersih. "Ini makanannya sudah aku siapkan. Kita makan," ucap Bara.


Mereka menyelesaikan makannya dan kemudian baru mengobrol. Memang sikap Embun masih agak dingin belum seperti dulu yang ceria dan apa adanya.


"Coba apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Bara.


"Emmmh tadi kakakmu menemuiku lagi ke toko," ucap Embun.


"Mau apa dia? gimana kak Al bicara apa saja?" tanya Bara.


"Gak bicara banyak juga sih soalnya kan aku lagi kerja," ucap Embun.


"Pasti jelek-jelekin aku, kan?" tanya Bara.


"Tidak! tidak sama sekali. Tapi kak Al begitu baik dan juga ramah," ucap Embun.


Masa aku harus ceritakan tentang icha temannya Trian? Sepertinya benar kata mas Pras, kita jangan ikut campur urusan orang lain. Apalagi aku juga baru kenal sama kak Al dan tidak tahu bagaimana rumah tangganya.


Batin Embun.


Bara meraih tangan Embun. "Embun, aku sudah bilang keluargaku tidak seperti apa yang kau bayangkan. Mereka sangat senang saat aku menceritakan tentangmu. Malah mereka juga ingin bertemu denganmu," jelas Bara.


"Ya mungkin karena traumaku jadi aku menyama ratakan semua orang berada," ucap Embun.


"Semua orang itu tidak sama Embun, percayalah padaku keluargaku tidak seperti itu. Jadi kamu mau kan tetap berteman denganku?" tanya Bara.


"Baiklah! sepertinya tidak ada salahnya kalau kita berteman," senyum Embun.

__ADS_1


"Aahh akhirnya perasaanku sudah lega sekarang. Kamu mau menerimaku kembali," Bara merasa senang.


Embun tersenyum begitu manisnya, Bara tidak melepaskan tatapannya dari Embun.


Embun, Aku ingin sekali segera memilikimu. Sabar Bara sabar! Embun baru saja menerimamu jadi temannya kembali jadi jangan buru-buru.


Batin Bara.


"Emmh kak Al sedang hamil ya? aku belum sempat mengobrol banyak," tanya Embun.


"Iya sedang hamil 7 bulan," jawab Bara.


"Tapi badannya bagus masih langsing dan cantik juga," ucap Embun.


"Iya emang dari dulu kak Al begitu sih tidak ada yang berubah," senyum Bara.


"Pasti suaminya sangat mencintai kak Al?" tanya Embun.


"Ah apanya," ketus Bara.


"Maksudmu?" heran Embun.


Ah jangan ceritakan tentang rumah tangga kak Al pada Embun, nanti dia berpikir negatif tentang keluargaku.


Hati Bara.


"Emmh maksudku aku sedikit tidak suka pada kakak ipar," ucap Bara. "Eh lusa jadi datengkan?" tanya Bara.


"Emmmh tapi aku malu," ucap Embun.


"Gak usah malu ih nanti kak Al sedih lo kalau kamu engga dateng," timpal Bara.


"Tap--"


"Sudah jangan kamu pikirin biar aku atur semuanya," senyum Bara. "Ini Sudah malam. Aku pulang dulu, kamu jangan banyak begadang segeralah tidur," pesan Bara.


"Iya! hati-hati di jalan." Embun melambaikan tangannya.


Bara dan Rian pergi dari kontrakan Embun untuk pulang. Senyum Embun tidak lepas dari bibirnya, perasaanya menjadi senang setelah akhirnya memutuskan berteman lagi dengan Bara.


"Kenapa aku merasa senang ya kalau dekat dengan Bara? Ah jangan! buang jauh-jauh pikiran ini. Lagian Bara hanya menganggapku teman tidak lebih." Gumam Embun.


Embun berbaring di tempat tidurnya dan masih kepikiran Bara.


...----------------...


Bara sudah sampai di apartementnya.


"Tuan kenapa tidak bilang kalau Galuh bukan lelaki yang baik pada Embun?" tanya Rian.


"Aku hanya tidak ingin kalau nantinya Embun berpikiran negatif tentang keluargaku. Biarkan saja kita selesaikan ini tanpa melibatkan orang lain. Karena kita juga harus menjaga nama baik kak Al," jelas Bara.


"Baiklah! aku mengerti."


"Istirahatlah! aku juga mau istirahat." Bara berlalu ke dalam kamarnya.


Bara berbaring di tempat tidurnya,

__ADS_1


"Ya ampun kenapa aku bisa lupa sih meminta nomor ponsel Embun? jadinya aku tidak bisa menghubungi Embun," gumam Bara.


⬇️⬇️


__ADS_2