
Bara kembali ke apartementnya bersama Rian. Sedangkan Anwar merasa bingung dan juga senang mendapatkan rezeki nomplok, tapi belum bisa menghubungi Monik karen di suruh Bara merahasiakannya.
Keesokan harinya,
Embun pulang dulu ke kontrakannya sebelum bekerja.
"Neng Embun semalam tidur dimana?" Tanya salah satu tetangga Embun.
"Dikontrakan Monik bu temen Embun." Jawab Embun.
"Semalam seperti ada yang memanggil-manggil neng Embun, karena ibu lagi ngelonin anak jadi gak langsung ibu cek. Pas udah agak lama ibu cek udah gak ada." Jelasnya.
"Emmmh siapa ya bu?" Heran Embun.
"Gak tahu neng, suaranya laki-laki. 2 orang kayanya soalnya kedengeran ngobrol." Tambahnya.
"Emmmh makasih ya bu, mungkin nanti kesini lagi orangnya kalau emang ada perlu." Jawab Embun.
Embun masuk ke dalam kontrakannya dan kemudian beberes nyapu dan ngepel setelah itu baru mandi kemudian berangkat bekerja.
Embun berjalan menuju tempat kerjanya.
"Siapa ya yang datang ke kontrakanku?" Pikir Embun.
"Haii Embun bukannya kamu nginep di kontrakannya Monik? Kok muncul dari arah gangmu?" Tanya Trian yang sudah sampai duluan.
"Ya tadi pagi aku kembali." Senyum Embun. "Monik belum datang?"
"Belum ada."
Siska baru saja datang dengan diantar Gilang pacarnya.
Mereka so sweet di hadapan Embun dan Trian. Merasa geli melihat tingkah Siska yang sok imut.
"Hati-hati sayang ...." Siska melambaikan tangannya.
"Semuanya aku duluan ya ...." Gilang senyum kepada semua orang.
"Hey jangan genit gitu." Teriaknya pada Gilang.
"Kenapa kalian senyum pada Gilang?" Tanya Siska.
"Ya kan dia tadi pamit terus senyum ya kita bales lagi senyum masa mau buang muka." Ucap Trian.
"Gak usah cemburu kali sama temen sendiri." Ucap Embun.
"Kalian ngapain sih disini? Ayo buka tokonya." Ajak Mas Pras yang keluar.
Embun dan Trian membantu mas Pras membuka toko sedangkan Siska melengos pergi masuk ke dalam.
"Si Siska nyebelin banget sih?" Ujar Trian.
"Iya, emangnya kita cewek apaan naksir cowo yang udah punya cewek." Ucap Embun.
"Pengen banget akutu acak-acak mukanya yang sok cantik itu." Ketus Trian.
"Sudahlah sudah nanti dia mendengarnya kita bisa berabe." Ucap Embun.
__ADS_1
"Kalian ngapain sih ngomongin apa?" Tanya mas Pras.
"Ah engga ngomongin apa-apa kok mas." Senyum Trian.
"Itu rotinya udah selesai semua di dapur tinggal kalian ambil aja ya mas mau ke atas dulu." Suruh mas Pras.
"Oke ...."
Monik datang dengan napas terengah-engah karena sedikit terlambat.
"Kamu kenapa telat?" Tanya Embun.
"Tadi habis kamu pulang aku malah tidur lagi karena mengantuk semalam begadang sama kamu." Jawab Monik.
"Kamu sih .... Ayo kita mulai bekerja. Semangatt kawan ..." Senyum Embun.
Mereka memang selalu bersikap positif dan semangat agar hari mereka cepat terlewati.
Sepertinya Embun juga sudah bisa merelakan Bara untuk tidak kembali.
Pukul 01 siang.
Sebuah mobil Mercedes-Benz E-class berwarna hitam terparkir di depan toko dan kemudian turun 2 orang lelaki dengan berpakaian rapi berjas, sepatu mengkilap, rambut tersisir rapi dan juga dengan kacamata hitamnya.
Ternyata itu Bara dan Rian. Monik yang berjaga di depan tidak menyadari kalau itu adalah Bara yang selama ini di kenalnya. Kemudian Bara masuk dan mengambil sekeranjang roti dari etalase.
Saat hendak membayar, kebetulan Embun yang berada di kasir dan Bara tersenyum karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan Embun tetapi Embun tidak menyadarinya karena Bara begitu berbeda dan menggunakan kacamatanya.
"Maaf kak, apa ada yang lainnya lagi?" Tanya Embun. Bara masih bengong.
"Maaf kak temannya kenapa?" Tanya Embun pada Rian asisten Bara yang berdiri di sampingnya.
"Apasih?"
"Bayar ...." Tunjuk Rian.
"Embun ...." Sapa Bara. Bara membuka kacamata hitamnya dan membuat Embun kebingungan.
"Emmmh siapa ya?" Embun merasa heran.
"Kau benar sudah melupakanku?" Bara balik nanya.
"Ya memang wajahmu mirip dengan temanku, tapi aku pikir tidak mungkin." Senyum Embun.
"Iya Bun aku Rian, yang selama ini kamu tolong." Ucap Bara.
"Rian?"
"Iya ...."
"Tapi kenapa kamu berpenampilan berbeda?" Embun masih merasa heran.
"Kesinilah sebentar biar aku jelaskan semuanya." Bara meraih tangan Embun dan medudukannya di kursi. Embun masih mencoba mencerna semuanya. Sedangkan Monik dan Trian menyimak apa yang terjadi dan Siska juga merasa penasaran.
"sebenarnya namaku bukan Rian, tapi namaku Bara. Maaf selama ini aku sudah membohongimu." Ucap Bara.
"Aku masih belum mengerti." Jawab Embun.
__ADS_1
"Baiklah akan aku jelaskan semuanya padamu."
Bara menjelaskan semuanya pada Embun apa yang sebenarnya terjadi dan siapa diri Bara sebenarnya.
Embun yang mendengar penjelasan Bara matanya berkaca-kaca dan tidak sanggup harus menanggapinya seperti apa. Sedangkan yang lainnya malah histeris mendengar pengakuan Bara itu.
"Jadi begitu ceritanya." Ucap Bara.
Embun menarik napas dan terasa berat, juga menahan tangisnya. "Hemmm lalu untuk apa kemari lagi dan menemuiku?"
"Ya aku ingin bertemu denganmu ...." Senyum Bara.
"Kau bukan Rian kan? Kau sudah kembali menjadi dirimu lagi? Lalu untuk apa kembali sudahlah pergi saja aku tidak mengenalmu." Tegas Embun.
"Tapi Embun aku tidak akan melupakanmu yang sudah sangat berjasa bagiku." Jelas Bara.
Embun menahan tangisnya. "Hmmm kamu bilang sudah mendapatkan banyak pelajaran dariku? Ya sudah mau apalagi?" Tambah Embun.
"Embun kamu tidak terima aku yang sebenarnya? Maafkan aku Embun maaf aku tidak bermaksud begitu." mohon Bara.
"Aku sudah memaafkanmu. Jadi sekarang pergilah tidak usah menemuiku lagi." Ucap Embun.
Embun pergi ke dalam toko tanpa menghiraukan Bara lagi.
"Embun ...." Monik dan Trian menyusul Embun.
"Embun ...." Teriak Bara. "Embun sangat marah padaku Rian." Ucap Bara pada Rian.
"Kita coba lagi nanti temuin Embun lagi sekarang kita pulang saja." Ajak Rian.
Siska menghampiri Bara. "Jadi selama ini kamu pura-pura miskin ya." Ucap Siska menggoda.
"Tidak usah ikut campur urusanku. Berapa ini semua rotinya?" Tanya Bara.
"Kalau Embun gak mau, aku mau kok jadi temen kamu." Senyum Siska.
"Tidak perlu! Cepat semuanya berapa?" Tanya Bara.
"Semuanya jadi 350ribu. Kalau butuh teman temui saja aku." Ucap Siska.
"Bayar semuanya, aku tunggu di mobil." Ucap Bara pada Rian dan berlalu masuk ke dalam mobilnya.
Setelah selesai membayarnya Rian menghampiri Bara dan kemudian mereka pergi dari sana.
Di dalam mobil.
"Tuan baik-baik saja kan?" Tanya Rian.
"Aku tidak habis pikir ternyata Embun tidak menerimaku kembali karena aku bukanlah Rian yang di kenalnya dulu." Ucap Bara.
"Benar ternyata Embun itu beda dan tidak sama dengan perempuan lainnya." Timpal Rian.
"Makanya aku menyukainya karena dari awal juga dia begitu tulus padaku membantuku." Tambah Bara.
"Terus tuan akan bagaimana lagi sekarang?" Tanya Rian.
"Kita ke rumah kak Alisha saja dulu, aku sedang tidak bisa berpikir jernih." Jawab Bara.
__ADS_1
"Baiklah, lebih baik Tuan menenangkan diri dulu." Ucap rian.
⬇️⬇️