Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Menampung Rian


__ADS_3

"Kamu tinggal disini?." tanya Rian.


"Memangnya kenapa?. Sudah 2 tahun aku tinggal disini." jawab Embun.


"Sempit sekali..." ketus Rian.


"Biarin aja, sana pergi kalau emang gak suka disini." Embun lebih ketus.


"Iya maaf maaf." ucap Rian.


"Aku mau tidur lagi masih ngantuk." Embun kembali berbaring.


"Memangnya kau tidak bekerja?." tanya Rian.


"Aku masuk kerja jam 9, masih ada waktu untuk berleha-leha."


"Baiklah, aku ingin ke kamar mandi." ucap Rian.


Rian masuk ke kamar mandi kontrakan Embun. "Kenapa kamar mandinya sempit sekali sih dan mana showernya. Aku mandi bagaimana." protes Rian.


Embun merasa kesal pagi hari sudah berisik dan menghampiri Rian.


"Apa sih, itu ada gayung hidupkan kerannya dan tampung airnya di ember kemudian kamu mandi pakek tuh gayungnya. disini gak ada shower." Embun kesal.


"Embun." panggil Rian.


"Apalagi Rian?." Embun kesal.


"Mana handuknya?." pinta Rian.


Embun mengambil handuk baru dari lemari. "Ini, nanti bajumu itu saja lagi. Bajumu hilang semuakan?." ucap Embun.


"Iya." teriak Rian.


"Ya ampun mimpi apa aku kenapa dia merepotkan sekali sih. Hemmm sabar bun sabar nolong orang harus ikhlas, biar aku pergi beli sarapan saja kalau begitu." ucap Embun.


Embun merasa khawatir kalau meninggalkan Rian di kontrakannya dan takut terjadi hal yang tidak di inginkan. Embun mengunci pintunya dari luar dan berlari pergi membeli sarapan nasi uduk di tempat langganannya. Embun tidak lama dan kembali ke kontrakannya.


Trek.


pintu terbuka.


"Kau sudah gila mengunciku dari luar?." marah Rian.


"Kalau aku tinggalkan kamu sediri disini, bagaimana kalau kau ambil semua barang-barangku dan kemudian kabur. aku hanya jaga-jaga saja." jelas Embun dan merapikan tempat tidurnya.


"Ini makanlah." Embun mengambil piring dan sendok. kemudian menyiapkan nasi uduknya di atas piring.


Rian terlihat tidak berselera melihat nasi uduk itu yang tak pernah Rian makan sebelumnya.


"Makanan apa ini?." tanya Rian.


"Ya ampun ini orang bener-bener ya. Ini nasi uduk emang kamu hidup di belahan bumi bagian mana sih nasi uduk aja gak tahu." marah Embun.


"Aku dari kalimantan sebelah barat." jawab Rian datar.


"Ya sudah kalau kamu gak mau makan, biar aku makan sendiri 2 bungkus." ketus Embun.


Rian memengang perutnya yang keroncongan karena kelaparan.


"Ya sudah sini aku mau makan aku lapar." ucap Rian.

__ADS_1


"Makanlah. jangan banyak protes." pinta Embun.


Rian memakan nasi uduknya dan ternyata enak tidak seperti yang di bayangkannya.


"Emmh lumayan enak juga." senyum rian.


"Makanya jangan protes dulu, coba dulu. Aku beli makanan ini pake uang loh. nyari uang itu susah." ujar Embun yang seakan menampar Rian.


"Iya maafkan aku."


Embun menyodorkan ponselnya pada Rian. "Ini pakai ponselku dan hubungi saudaramu suruh jemput disini." pinta Embun.


"Aku tidak hapal nomor ponselnya." polos Rian.


"Ya terus kamu akan bagaimana? gak mungkin kan tinggal disini bersamaku. Bisa-bisa aku di usir pak haji." jelas Embun.


"Emmmh cariin aja aku kerjaan, biar nanti aku ngontrak sendiri." ide Rian.


"Emang gak bisa nyari kerjaan sendiri?." tanya Embun.


"Aku orang baru disini, mana tahu atau ngerti." ucap Rian.


"Baiklah aku carikan kamu kerjaan." kata Embun.


"Tapi KTPmu tidak ada."


Rian ingat kalau KTPnya ada di saku celananya karena waktu asistennya memberikan padanya buru-buru.


"Ah, ini dia KTPku aku lupa kalau KTPku waktu itu belum aku masukan ke dompet." ucap Rian senang.


"Ya syukur deh, jadi gak harus ribet ngurus ke kantor polisi." ucap Embun.


"Sudahlah makan habiskan."


"Terima kasih ya." senyum Rian.


"Iya sama-sama."


Embun terlihat ketus sih setiap kali berbicara, tapi dia baik sekali walaupun tidak kenal tapi dia mau menolong. Di lihat-lihat dia cantik juga, kulitnya putih rambutnya juga bagus gak jelek.


Hati Rian.


"Kenapa kamu mau menolongku? memberiku tempat dan memberiku makan?." tanya Rian penasaran.


"Hanya kemanusiaan saja, aku pernah ada di posisimu saat aku kesulitan tidak ada orang yang menolong itu sangat menyakitkan dan menyedihkan setidaknya kamu tidak mengalami apa yang aku alami, jadi bersyukurlah." jelas Embun sembari memainkan ponselnya.


"Emmmh maaf ya aku malah banyak protes padamu. Terima kasih sekali lagi." ucap Rian.


"Iya, tidak masalah." senyum Embun.


Mungkin hanya satu dari seribu orang sepertimu udah cantik baik banget. Dan ya aku pikir perjuanganmu tidak mudah sampai sekarang ini. aku salut padamu Embun.


Batin Rian.


"Coba aku tanyakan sama monik, siapa tau di tempat pacarnya kerja ada lowongan." ucap Embun.


"Boleh, boleh aku janji aku siap bekerja apa saja." Rian asal bicara.


Embun menelpon monik teman kerjanya.


Embun : Monik apa di tempat Anwar ada lowongan kerja untuk laki-laki?.

__ADS_1


Monik : pekerjaan untuk siapa?


Embun : temenku


Monik : Aku tanyakan dulu ya pada Anwar kali aja ada, nanti aku telpon lagi.


Embun : Oke, makasih mon.


Embun menutup telponnya.


"Monik mau tanyakan dulu pada Anwar pacarnya, mudah-mudahan ada ya." senyum Embun.


"Iya, semoga ada biar aku tidak merepotkanmu." senyum Rian.


"Aku mau mandi dulu, sebentar lagi mau kerja. Kamu jangan kabur dan membawa semua barangku ya. awas! kemarikan KTPmu aku sita." pinta Embun.


Rian menyodorkan KTPnya.


Embun tersandung pada karpet yang terlipat dan hendak terjatuh dengan sigap tangan Rian menangkapnya dan Embun terjatuh di pelukan Rian.


Mata mereka bertemu saling menatap, wajah tampan Rian terpangpang nyata di hadapan Embun yang membuat Embun tidak berkedip.


Embun cantik kalau dari dekat begini.


Hati Rian.


"E-eh makasih maaf aku gak lihat." Embun langsung masuk ke kamar mandi.


"Embun, Embun lucu sekali namamu dan tingkahmu juga." senyum Rian.


Tidak lama kemudian Embun selesai mandi dan bersiap untuk pergi bekerja.


"Namamu beneran Embun?" tanya Rian.


"Iya, Lara Embun Kemalasari."


"Kenapa gak panggil Lara saja?."


"Orang tuaku memanggilku Embun dari aku kecil jadi sudah terbiasa dengan Embun." ucap Embun.


"Kenapa memang?."


"Lucu saja, seperti orangnya sama." senyum Rian.


Embun bergidik geli mendengar pujian Rian itu.


"Kamu tunggu saja ya disini istirahat sambil nunggu kerjaan juga. Nanti makan siang aku anterin kesini." ucap Embun.


"Kamu percaya padaku dan meninggalkanku di kontrakanmu ini?." tanya Rian.


"Ya lagian di pikir-pikir aku gak punya barang berharga apa-apa hanya segini saja, silahkan kalau ingin kau ambil." jawab Embun datar.


"Aku bukan pencuri, dan untuk apa barang-barang ini gakan bisa di jual juga." ucap Rian.


"Awas ya..." ancam Embun.


"Iya Embun...."


"Ya sudah aku pergi dulu bekerja, kamu jaga kontrakanku jangan di tinggal, kalau mau keluar kunci pintunya. kalau ada yang nanyain jawab aja kamu sodaraku. Aku kerja di toko roti dan kue di ruko depan sana yang berjajar. Prince bread and cake nama tokonya." pesan Embun.


"Baiklah Embun...." senyum Rian.

__ADS_1


Embun pergi dengan berjalan kaki seperti biasanya. Embun menyapa semua orang yang di lewatinya karena Embun terkenal Ramah dan baik hati.


⬇️⬇️


__ADS_2