Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Menunggu ayah Bara sehat untuk kembali


__ADS_3

Keesokan harinya Bara menemui ayahnya di kamar untuk meminta izin kembali ke Jakarta dan mengurusi perusahaan disana.


"Ayah, aku pikir aku akan mengurusi perusahaan di Jakarta bersama bang Galuh." Ucap Bara.


"Baru juga kembali sudah ingin pergi lagi. Setidaknya tunggu dulu ayah sehat kembali baru nanti ke Jakarta." Pinta ayah.


"Baiklah kalau begitu. Semoga ayah segera sembuh." Doa Bara.


"Bilang aja ingin cepat ketemu Embun lagi." Ledek Ayah.


"Iya itu salah satunya juga." Senyum Bara merasa malu.


"Ya sudah ayah istirahat saja aku mau berangkat ke kantor."


"Hati-hati di jalannya."


Bara berlalu pergi dari kamar ayah untuk pergi ke kantor. Rian sudah menunggu di ruang tamu bersama kak Alisha sedang mengobrol.


"Ayo kita berangkat." Ajak Bara pada Rian. "Aku berangkat ya kak Al." pamit Bara.


"Kalian hati-hati di jalannya." Ucap Kak Al.


"Aku berangkat Al." Senyum Rian.


Di dalam mobil,


"Bagaimana tuan?" Tanya Rian.


"Kita belum bisa pergi ke jakarta, harus nunggu ayahku sembuh dulu dan aku mengurusi dulu perusahaan disini." Jelas Bara.


"Baiklah kalau begitu."


"Tapi, aku belum bicara pada kak Al. Mungkin nanti saja lah kalau pulang kerja." Tambah Bara.


"Iya tuan."


Mereka mengurungkan niatnya untuk segera kembali ke Jakarta, harus menunggu ayah Bara sehat kembali.


...----------------...


Sementara itu Embun menjalani harinya seperti biasa kembali ceria dan semangat walaupun tanpa Rian.


"Sepertinya aku ada harapan lagi setelah Rian tidak ada." Gumam mas Pras, yang memperhatikan Embun dari jauh.


Mas Pras membeli makan siang dan sekalian membelikan juga untuk Embun dan yang lainnya.


"Embun ini ada makanan untuk kalian. Ambilah." Mas Pras menyodorkan kresek berisi nasi 3 bungkus.


"Ah makasih loh mas, jadi ngerepotin." Ucap Embun.


"Tidak apa-apa. Mas seneng kok."


"Kalau gitu aku kasihin ke yang lain dulu ya mas." Embun berlalu pergi menghampiri Monik dan Trian. Kebetulan lagi tidak ada pelanggan jadi mereka bisa makan.


"Kamu baik sekali mentraktir kita?" Tanya Trian.

__ADS_1


"Tadi ini di kasih sama mas Pras." Jawab Embun.


"Dalam rangka apa mas Pras belikan kita makan? Sudah lama tidak pernah mentraktir kita." Ucap Monik.


"Aku tidak tahu, aku tidak menanyakannya." Ucap Embun.


"Ah sepertinya mas Pras mulai mengejarmu lagi." Goda Monik.


"Setuju!" Seru Trian.


"Ah jangan pada ngomong terus makan aja udah makan." Suruh Embun.


"Cie .... Embun banyak penggemar." Goda Trian.


"Sudahlah jangan di bahas lagi," kesal Embun.


Mereka makan siang bersama sambil ngobrol dan tertawa-tertawa bergosip.


Setelah selesai makan, toko masih belum ramai hanya 1 dua orang yang datang bergantian. Mereka pokus bermain ponsel.


"Rian belum ada menghubungiku lagi." Gumam Embun.


"Cieee .... Yang lagi kangen." Goda Trian.


"Dia sibuk apa ya? Aku jadi curiga sama Rian." Ucap Embun.


"Curiga gimana sih?" Tanya Monik.


"Ya curiga aja sih. Tapi ya udahlah gak usah di bahas." Ujar Embun.


"Iya juga ya, mana mungkin dia mengerti kalau dia tidak ahli berarti dia ahli dong?" Pikir Trian.


"Aku juga sering melihat tangannya dari dekat putih bersih dan mulus bangeeeet. Seperti tangan yang tidak pernah di pake kerja." Tambah Embun.


"Tanyakan saja pada Anwar Nik pasti dia tahu sesuatu dan menyembunyikannya." Saran Trian.


"Sudahlah, jangan di bahas lagi." Ucap Embun. Sebenarnya memang semua itu menjadi pikiran Embun.


Apalagi Rian tidak pernah menghubungi Embun siang hari seperti orang yang sibuk. Saat malam baru menghubungi.


...----------------...


Bara sibuk di kantornya, saking pokusnya tidak pernah bermain ponselnya sendiri. Sampai saatnya pulang ke rumah, baru Bara mengecek ponselnya dan tidak ada notip apa-apa di ponselnya.


Bara menuju kamarnya dan bersih-bersih mandi. Setelah selesai mandi Bara berdiam di pinggir kolam renang dan menikmati sunset.


"Embun lagi apa ya? sepertinya masih bekerja." Gumam Bara. "Sudahlah aku tidak ingin mengagangunya." Bara meletakan ponselnya di meja dekat kolam.


Alisha datang menghampiri Bara di pinggir kolam.


"Hai lagi ngapain sih?" Tanya Kak Al.


"Hanya bersantai saja." Jawab Bara.


"Tumben jam segini udah pulang?"

__ADS_1


"Pekerjaanku sudah selesai." Jawabnya singkat.


"Eh kak Al kita ke Jakarta yu." Ajak Bara.


"Untuk apa?"


"Ya kita pindah kesana, aku sudah bilang pada ayah ingin pindah ke kantor di jakarta tapi ayah ingin aku ada disini dulu sampai ayah sembuh." Jelas Bara.


"Emmm nanti saja lah lagian kasian ayah masih belum bisa ke kantor." Ucap Kak Al.


"Ayah sudah sehat kak, sudah bisa berjalan-jalan juga. Plis aku mohon kalau kak Al yang bicara pasti di izinkan." Bara memohon.


"Alah bilang aja kamu pengen ketemu sama Embun kan?" Goda kak Al.


"Ya itu memang tujuanku." Ucap Bara. "Apa kak Al gak takut kalau bang Galuh di biarkan sendirian di Jakarta nanti selingkuh gimana?" bujuk Bara.


"Sembarangan kalau ngomong, bang Galuh orangnya baik mana mungkin dia selingkuh. Setiap hari kita selalu telponan juga ko." Jelas Bara.


"Kak Al harus selalu ada di samping bang Galuh, lagian kan kak Al lagi hamil aku pernah baca kalau peran suami saat hamil itu bagus untuk anak yang di kandung." Ngarang Bara.


"Emmmh iya sih sebenernya aku juga ingin di Jakarta tapi bang Galuh minta aku pulang karena kalau dia kerja aku sendirian di rumah." Tambahnya.


Ternyata bang Galuh pintar juga menyuruh kaka Al pulang agar dia bisa bebas dengan selingkuhannya.


Pikir Bara.


"Tenang kak, aku kan akan ke Jakarta juga. Ajak saja mbak Marni ke rumah kak Al dan jadi bekerja disana. Gampangkan?" Usul Bara.


"Baiklah nanti aku pikirkan lagi." Ucap Kak Al. "Gimana Embun? Dia merindukanmu tidak?" Kak Al penasaran.


"Sepertinya tidak." Keluh Bara.


"Kenapa?"


"Dia tidak pernah mengabariku lebih dulu, kalau aku chat lebih dulu baru dia balas." Jelas Bara.


"Mungkin dia sibuk kali." Pikir Kak Al.


"Mana mungkin? Dia selalu bermain ponsel tidak pernah lepas dari tangannya." Ujar Bara.


"Mungkin dia sudah punya pacar." Goda Kak Al.


"Kak Al jangan ngomong gitu ih." Kesal Bara.


"Bara di tikung .... Kasian banget ...." Kak Al pergi ke dalam rumah sambil terus meledek Bara.


Bara mengejar kak Al dan tidak sengaja menyenggol meja kemudian ponsel Bara yang ada di meja jatuh ke dalam kolam renang. Tapi Bara tidak menyadarinya dan berlalu mengejar kak Al.


"Mama lindungi aku Bara mengejarku." Ucap Al dan bersembunyi di belakang mamanya.


"Kak Al jangan banyak ngadu ya, kak Al sendiri yang mulai." Ucap Bara.


"Sudah hentikan Bara, kakakmu sedang hamil ih." Ucap mama.


Bara terduduk di kursi, Bara menceritakan kepada mamanya apa yang terjadi. Bara juga menceritakan keinginannya untuk ke Jakarta bersama kak Al. Sebenarnya kak Al juga ingin ke Jakarta lagi karena khawatir pada bang Galuh tidak ada yang mengurus.

__ADS_1


⬇️⬇️


__ADS_2