
Keesokan harinya Embun sudah terbangun tapi hanya diam saja di kamarnya merasa malu untuk keluar kamar.
Tok! tok! tok! Bara mengetuk pintu kamar Embun.
"Embun apa sudah bangun? ayo kita pergi!" panggil Bara.
Trek! Embun membuka pintunya. "Aku sudah bangun daritadi! pergi kemana?"
"Ke suatu tempat!" Bara menarik tangan Embun.
"Pelan-pelan Bara." Embun melepaskan tangannya.
"Ayolah cepat!" ucap Bara.
Alina yang melihat Bara dan Embun akan pergi keluarpun penasaran mereka akan pergi kemana. "Kalian mau kemana?"
"Aku mau bawa Embun jalan-jalan!" jawab Bara.
"Bara jelaskan dulu tentang yang semalam tentang Galuh!" pinta Alina.
"Nanti saja kalau semua orang kumpul. Lagian Ayah juga udah pergi ke kantor," ucap Bara. "Sudahlah aku mau pergi. Bye ...."
Bara pun membawa Embun pergi dengan mobilnya. Perjalanan yang cukup lumayan jauh, Bara membawa Embun kesebuah pantai. Pantai yang indah dengan pasir putih yang terbentang.
"Inilah kejutan untukmu! kita bermain di pantai," ucap Bara.
"Ini indah sekali Bara!" ujar Embun.
Bara mengulurkan tangannya. "Ayo kita berjalan-jalan di bibir pantai."
Embun setuju dan menerima uluran tangan Bara. Mereka berjalan bergandengan menyusuri bibir pantai.
"Apa kita bisa melihat sunset disini? tanya Embun.
"Bisa! tapi kalau sore suka sepi dan jalan pulangnya juga suka sepi mending jam segini aja banyak orang," ucap Bara.
"Oh begitu!"
Ombak saling bersahutan menerjang bibir pantai. "Aaaaw aku takut ombak Bara." Embun memeluk Bara.
"Tidak akan apa-apa tenang saja ada aku disini!" Bara mengeratkan pelukannya.
"Heh cari-cari kesempatan ya!" Embun melepaskan pelukannya.
"Siapa yang meluk siapa yang marah!" ledek Bara.
Bara berlari dan Embun mengejarnya. Mereka berlarian di bibir pantai, "ayo kejar aku!" teriak Bara.
Embun kelelahan berlari dan terduduk kemudian Bara menghampiri. "Kamu cape?"
"Kena kau! hahaaa ... hahaaa ..." Embun melempar pasir kepada Bara.
__ADS_1
"Dih curang ya! aku klitiki nih." Bara mengelitiki Embun.
"Bara hentikan geli!" Embun tertawa.
"Aku senang melihatmu tertawa lepas begini," ucap Bara. "Muaaachhh ..." kecupan mendarat di kening Embun.
Embun merasa malu dan menghentikan tertawanya. Embun menatap luasnya lautan yang terbentang di hadapannya.
"Lautan ini luas seperti harapanku juga sangat luas. Tapi aku tidak pernah berharap menikah denganmu yang orang kaya dan terpandang," ucap Embun.
"Ya mungkin ini takdirmu untuk menikah denganku. Kalau aku sih selalu berharap menikah denganmu!" cetus Bara.
"Selalu?" kaget Embun.
Bara meraih tangan Embun. "Kamu tahu Embun dari pertama kali aku bertemu denganmu aku sudah tertarik padamu dengan semua kebaikanmu padaku! jadi aku berpikir kalau kamu adalah pelengkap bagi hidupku makanya aku selalu berharap bisa menikah denganmu," jawab Bara.
"Aku memikirkan perkataan kak Alina dan semua itu memang bener kalau kita sebenernya gak pantes Bara!" ujar Embun.
"Jangan di bahas ah. Aku yang tahu kamu, kak Alina belum mengenalmu saja makanya dia bicara seperti itu." Bara menatap Embun.
"Hemmm akan susah sepertinya aku dekat dengan kak Alina tidak seperti dengan kak Alisha," ucap Embun.
"Nanti juga bisa deket kok." Bara beranjak dari duduknya. "Apa kita bisa saling mencintai suatu saat nanti?" cetus Bara.
"Akan aku coba!" jawab Embun.
"Serius Embun? kalau begitu aku akan selalu berusaha membuatmu jatuh cinta padaku!" Bara sumbringah.
"Tatap mataku! apa kamu tidak melihat selama ini cintaku di mataku? aku sudah mencintaimu Embun! cinta sudah tumbuh di hatiku untukmu," jelas Bara.
Embun memalingkan wajahnya. "Ayo pulang aja yu!"
"Oke! aku akan selalu berusaha agar kamu juga jatuh cinta padaku!" ucap Bara.
Embun berjalan menuju mobil Bara untuk kembali dan Bara mengikutinya dari belakang.
"Embun aku mencintaimu!" teriak Bara.
Embun tidak menghiraukannya dan terus berjalan tetapi senyum menyungging di bibirnya merasa senang.
Mungkin suatu hari nanti aku bisa membalas cintamu tapi tidak untuk saat ini. Aku belum bisa mencintaimu! Batin Embun.
"Embun aku mencintaimu! ... Lautan sampaikan cintaku pada Embun! ... Embun aku mencintaimu! ..." Bara terus saja berteriak-teriak.
Embun menunggu Bara di mobilnya. "Cepetan jalannya lama banget!" ucap Embun.
"Baju kita basah!" seru Bara.
"Iya makanya cepetan kita pulang. Dingin!" ucap Embun.
"Sini aku peluk biar hangat!" Bara merentangkan tangannya.
__ADS_1
"Apa?"
"Aku hanya bercanda ..." senyum Bara.
Mereka berdua pulang. Setelah sampai mereka membersihkan diri mereka.
Malam hari tiba. Semua orang sudah menunggu Bara di ruang keluarga Embun juga sudah disana karena setelah makan malam Embun tidak kembali ke kamarnya.
Tidak lama kemudian Bara turun dan bergabung bersama semua orang.
"Bara ceritakanlah semua sekarang tentang bang Galuh dan kak Alisha," pinta Alina.
"Iya Bara ceritalah daritadi nanti nanti terus kak Alina sudah berisik dari tadi," ucap Marta.
"Sabar Ma!" Bara mencoba tenang dan menarik napas dengan berat. "Hemmm bang Galuh selingkuh!"
"Apa?" semua orang kaget apalagi Marta yang terlihat sangat ayok.
"Sudah ku duga!" ketus Alina.
"Apa kamu tidak salah Bara?" ucap Bahar.
"Tidak Yah! itu semua benar. Kak Alisha juga sudah tahu. sebenarnya kak Alisha melarangku untuk bilang pada Ayah sama Mama," jelas Bara.
"Kenapa Alisha begitu! Alisha lagi hamil Mama gak bisa bayangin gimana hancurnya hati Alisha tapi kenapa Alisha malah memendamnya sendiri tanpa memberitahu kita semua." Marta hanya bisa menangis.
"Bukan hanya itu saja Yah. Bang Galuh juga culas di kantor dia korupsi mengambil uang perusahaan untuk berselingkuh!" jelas Bara.
"Kurang ajar Galuh. Selama ini kita sudah baik sama dia ternyata dia seperti itu menyakiti anak kita dan malah culas juga!" Bahar merasa marah.
"Aku kesini untuk bahas itu juga Yah! gimana baiknya dan seharusnya aku bertindak?" tanya Bara.
"Ayah pikir pecat saja dia dan suruh juga pergi dari kehidupan Alisha, Ayah tidak ingin melaporkannya ke polisi buang waktu saja! untuk masalah uang yang dia ambil biarkan saja anggap saja sedekah," tegas Bahar.
"Baiklah Yah!" ucap Bara.
"Mana yang semua orang bilang Galuh baiklah apalah. Gak percaya sih padaku aku udah paham sama orang modelan kaya Galuh gitu!" cetus Alina.
Marta hanya menangis dan Embun mencoba menenangkannya. "Sabar tante. Saya yakin kalau kak Alisha kuat dan tidak akan pernah putus asa apalagi kak Alisha sedang hamil."
"Tante tidak bisa bayangkan bagaimana Alisha sendiri disana dan menjalani ini semua!" isak Marta.
"Tante harus yakin kalau kak Alisha kuat dan bisa menjalani semuanya," ucap Embun.
"Yah kita ke Jakarta saja bersama Bara. Mama ingin bersama Alisha dan juga menguatkan Alisha disana," pinta Marta pada Bahar.
"Paling bisa seminggu lagi karena Ayah tidak bisa meninggalkan kantor dalam seminggu ke depan! sekalian kita urus pernikahan Bara juga," jelas Bahar.
Kring ... ponsel Bara berbunyi ternyata Rian yang menghubungi.
("Hallo Rian. Ada apa menelpon malam-malam begini?")
__ADS_1
⬇️⬇️