Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Alisha tahu kebenarannya


__ADS_3

Alisha terkulai lemas di lantai kamarnya menahan tangis, foto Galuh dan Icha berserakan terpangpang jelas perselingkuhan itu sekarang di hadapannya.


Alisha beranjak dari duduknya dan menguatkan diri untuk menghadapi semuanya. Alisha memutuskan untuk mencari Galuh ke kantor.


"Mbak aku ke kantor bang Galuh dulu ya. Jaga rumah!" Alisha pergi bersama supir.


...----------------...


Di kontrakan Embun.


Embun menangis di kamar mandi dengan keadaan memakai baju dan semuanya basah. "Kenapa Bara begitu padaku? aku jijik sekali pada diriku ini!"


"Hiks ... hiks ... hiks ..." Embun hanya bisa menangis.


"Ya ampun kepalaku malah pusing!" Embun memegangi kepalanya dan membersihkan diri lalu mengganti bajunya dan meringkuk di tempat tidurnya.


Embun sudah mengabari Monik dan mengirim pesan kalau tidak akan bekerja.


Apa yang harus aku lakukan ke depannya? aku takut kalau aku akan hamil! Hahhh aku bingung harus bagaimana? tapi aku tidak ingin menikah dengan Bara apalagi karena hal seperti ini. Bara terpaksa dan hanya kasihan padaku. Batin Embun.


Embun merasa lelah setelah menangis terus dan akhirnya tertidur.


...----------------...


Di kantor Galuh.


Alisha sudah sampai di kantor dan mencoba bersikap biasa saja tanpa terjadi apa-apa.


"Rahma, pak Galuh ada di ruangannya?" tanya Al pada staff disana.


"Loh bukannya ibu sedang sakit makanya pak Galuh tidak ke kantor hari ini," ucap Rahma.


"Aku baik-baik saja. Emmmh sekretarisnya ada?" gugup Al.


"Tadi Icha juga izin katanya sedang ada urusan keluarga," jelas Rahma.


"Aku minta alamatnya Icha dong Rahma. Soalnya ada hal penting!" pinta Al.


Rahma menuliskan alamat Icha pada secarik kertas dan memberikannya pada Al. "Ini bu."


"Makasih ya!" Al berlalu pergi.


Bara dan Rian yang baru datang ke kantor karena ada meeting dulu di luar melihat Al keluar dari kantor dengan buru-buru.


"Itu sepertinya Alisha tuan!" tunjuk Rian.


"Iya! kenapa seperti orang panik gitu?" heran Bara. "Biar aku turun saja dan kamu ikutin kak Al aku khawatir padanya." Bara kemudian turun dari mobilnya dan Rian mengikuti Alisha.


Alisha berhenti di sebuah apartement tapi tidak tahu akan menemui siapa. Alisha berhenti di depan sebuah pintu dan menunggu seseorang keluar dari sana. Rian masih memperhatikannya dari jauh.


Tok! Tok! Tok!


Icha membuka pintunya. Ternyata itu adalah kediaman Icha.

__ADS_1


"Bu Al?" Icha kaget.


"Kenapa kaget begitu?" tanya Al.


"Ti-tidak bu!" gugup Icha.


"Ada siapa sayang?" Galuh tiba-tiba datang. Galuh bengong saat tahu yang datang adalah Al, begitupun Al yang merasa syok.


"Bang Galuh!" lirih Al.


"Alisha ... a-apa yang sedang kau lakukan disini. Emmh ini aku bisa jelaskan," gagap Galuh.


Al hanya menatap Galuh dengan hanya memakai kolor dan kaos dalam sedangkan Icha dengan lingerie yang begitu seksi dengan kissmark di dadanya yang terlihat.


"Ternyata benar apa yang Embun dan Bara bilang! semuanya benar. Kau tega Bang aku tidak menyangka," Al masih menahan tangisnya.


"Ma-maafkan aku Al aku khilaf dan ya aku salah Al maafkan," mohon Galuh.


"Apa yang khilaf? aku muak pada kalian berdua!" Alisha pergi dengan tangisannya yang tidak bisa di bendung lagi.


"Al ..." Galuh mencoba mengejar Al tapi Icha menarik tangan Galuh dan melarangnya.


Rian yang melihat itu semua langsung mengejar Alisha karena khawatir Alisha sedang hamil.


"Al tunggu jangan berlari ingat kandunganmu!" teriak Rian.


Alisha mendengar Rian.


"Al aku melihat semuanya!" ucap Rian.


"Menangislah! dan keluarkan semua amarahmu padaku jangan di tahan itu tidak baik untuk kehamilanmu," jelas Rian.


"Aku bodoh Ian, aku sungguh bodoh!" ucap Alisha.


Rian memeluk erat Alisha dan merasakan apa yang Al rasakan. Tiba-tiba Alisha pingsan mungkin karena kelelahan semalaman tidak tidur menunggu Galuh.


"Alisha Alisha bangunlah!" Rian menggoyahkan tubuh Al. "Alisha pingsan aku harus membawanya ke rumah sakit." Rian membawa Alisha ke mobilnya dan menyuruh sopir Al untuk pulang.


Rian menuju rumah sakit. "Al sadarlah! kita akan segera sampai di rumah sakit."


Dengan panik Rian menghubungi Bara dan memberitahukannya pada Bara dan meminta Bara untuk menyusulnya ke rumah sakit.


Rian sampai di rumah sakit dan Alisha langsung mendapatkan penanganan.


"Bagaimana dok kondisi Al? bagaimana kehamilannya?" tanya Rian panik.


"Tidak apa-apa pak. Istri bapak baik-baik saja kondisi bayinya juga sehat ko. Mungkin karena kelelahan saja," ucap Dokter.


"Emmmh syukurlah!"


"Kalau begitu saya permisi dulu ya." dokter pergi.


Rian menghampiri Alisha dan belum sadarkan diri. "Al bangunlah!"

__ADS_1


Tidak lama kemudian Al tersadar. "Aku dimana?"


"Kamu tadi pingsan sekarang ada di rumah sakit!" jawab Rian.


Alisha mengingat lagi semua yang di lihatnya tadi saat mendapati Galuh memang berselingkuh dan memegangi perutnya. "Nak papamu jahat sekali pada mama," lirih Al.


Rian meraih tangan Al. "Al sudahlah jangan kau pikirkan terus! kasihan anakmu kalau kau drop seperti ini. Kamu harus kuat," ucap Rian.


"Aku bodoh Ian!" seru Al.


"Sudah ya jangan banyak pikiran dulu. Kamu harus kuat demi anakmu," Rian mencoba menguatkan.


Tidak lama kemudian Bara datang. "Kak Al baik-baik saja?"


"Aku harus bagaimana Bara? bang Galuh ternyata memang selingkuh dan lebih memilih wanita itu daripada aku!" ucap Al.


Bara memeluk Al. "Sabarlah kak! masih ada aku disini masih banyak yang menyayangimu,"


"Maafkan kakak karena gak percaya sama kamu! tapi kenapa bang Galuh tega padaku Bara? apa salahku?" keluh Al.


"Kak Al gak salah apa-apa! memang bang Galuh yang kurang ajar. Biar aku laporkan nanti pada papa!" tegas Bara.


"Hiks ... hiks ... hiks ..." Al hanya menangis.


"Sudahlah kak jangan kau tangisi lelaki seperti itu tidak ada gunanya malah menyakiti hatimu saja!" jelas Bara.


"Bagaimana Embun?" Al masih memikirkan Embun.


"Aku belum menemuinya lagi! nanti darisini aku akan menemuinya," ucap Bara.


"Sana pergilah! temui dia. Aku yakin kalau dia sedang tidak baik-baik saja," suruh Al.


"Nanti saja kak kalau dia udah selesai kerja. Biar dia tenang dulu aku tidak ingin mengganggunya," jelas Bara.


"Temuilah sekarang! aku pikir dia tidak bekerja," ucap Al.


"Baiklah! aku akan menemuinya sekarang. Kak Al baik-baik disini biar Rian yang menjagamu." Bara pergi untuk menemui Embun.


Sesampainya di toko Embun. Ternyata benar kalau Embun tidak masuk kerja. "Embun ada Mon?" tanya Bara.


"Tadi Embun kirim pesan padaku katanya dia gak enak badan makanya gak kerja," jelas Embun.


"Baiklah aku akan mengeceknya!" Bara berlalu pergi ke kontrakan Embun.


Tok! Tok! Tok!


"Embun ..." panggil Bara.


Tidak ada jawaban dari dalam. Bara mencoba menghubunginya dan suara ponsel Embun juga terdengar dari luar. "Embun ... Embun ... pintunya di kunci."


Tidak ada jawaban samasekali dari dalam kontrakan Embun. "Aku takut terjadi apa-apa pada Embun. Embun ...."


Bara lari mencari bantuan dan meminta kunci cadangan pada pak haji pemilik kontrakan. Pak haji ikut membantu Bara membuka pintunya, pintu berhasil di buka.

__ADS_1


"Embun!!!"


⬇️⬇️


__ADS_2