
Bara kaget mendengar pernyataan dari Alisha.
"Apa mungkin?" kaget Bara.
"Suuut jangan kenceng-kenceng ngomongnya." Alisha menutup mulut Bara dengan tangannya. "Aku melihat tanda-tandanya Bara. Kalau hamil muda itu pasti suka mual-mual."
"Aku harus senang atau bagaimana?" tanya Bara.
"Ya kan sebentar lagi kalian menikah. Jadi jangan ribut atau bicara apapun tentang keadaan Embun pada orang lain. Biar kita saja yang tahu," bisik Alisha.
"Baiklah aku mengerti ...."
Sementara itu di lantai bawah Marta sedang menasehati Alina.
"Sebenarnya apa yang tadi terjadi? Embun terlihat sedih saat naik ke atas. Apa yang kamu bicarakan?" tanya Marta.
"Aku hanya bicara kebenaran. Mungkin Embunnya saja baperan," ketus Alina.
"Alina jangan gitu dong! Embun, kan calon isterinya Bara gimana kalau Embun sampai membatalkannya. Akan bagaimana Bara?" ucap Marta.
"Aku jamin Embun tidak akan membatalkan pernikahannya," tegas Alina.
"Ah terserah kamu saja. Mama pusing kalau harus berdebat denganmu seperti ini." Marta berlalu pergi ke kamarnya.
Bara menghampiri Alina. "Kak Alina please jangan gitu ya sama Embun. Aku mohon!"
"Bicara apa saja dia? apa bicara yang tidak-tidak tentangku?" ketus Alina.
"Please Kak jangan gitu. Embun tidak bicara apapun tentangmu," mohon Bara.
"Iya iyalah aku tidak akan bicara apapun lagi!" Alina pergi ke kamarnya.
Bara merasa pusing menghadapi Alina yang punya sifat beda sendiri di bandingkan mama dan Alisha.
Hari pernikahan Embun dan Bara tinggal beberapa hari lagi dan mereka akan pergi ke Bandung bersama-sama bareng dengan Embun juga karena Bara khawatir pada kondisi Embun yang tidak baik kalau harus pulang sendiri lebih dulu.
Perjalanan panjang menuju Bandung tidak membuat mereka lelah. Mereka semua jalan-jalan dan menikmatinya. Alisha tidak ikut karena khawatir akan kenapa-kenapa. Alisha di jaga oleh Rian di suruh Bara.
Keluarga Bara tinggal di penginapan dekat rumah Embun sedangkan Embun pulang lebih dulu.
__ADS_1
"Hati-hati ya sayang di jalannya. Kamu berangkat duluan dan persiapkan semuanya, muuaaach ...." Bara mengecup kening Embun.
"Iya ... aku duluan ya!" Embun pergi dengan mobil Bara dan seorang supir.
Embun menatap keluar jendela mobil menikmati pemandangan. Hemmm lusa aku menikah. Aku tidak menyangka menikah karena hal memalukan. Hati Embun.
Embun sampai di kampung dan di sambut oleh krluarganya. Semua orang yang ada disana kaget karena Embun datang dengan mobil mewah.
"Emak ... Abah ...." Embun memeluk mereka berdua.
"Ya ampun Embun, Mak gak nyangka kalau kamu akan menikah dengan orang berada. Emak bersyukur sekali," Emak sama Abah hanya menangis. Begitu pun Mang Didin Bi Wati ikut menangis bahagia untuk Embun. Bahkan keluaraga Wa Hasyim pun jadi bersikap baik pada Embun.
"Emak ini uang untuk acara lusa dari keluarga Bara." Embun menyerahkan uang pada Emak entah berapa karena begitu tebal. Emak dan Abah semakin menangis.
Embun masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat. "Ya ampun kenapa badanku jadi gak enak ya? apalagi mencium bau yang menyengat."
Embun membereskan barang bawaannya dan berbaring di tempat tidurnya. Di rumah Embun sudah ramai dan banyak orang karena untuk mempersiapkan acara 2 hari ke depan. Keluarga Embun mengadakan acara yang cukup rame karena malu juga kalau biasa saja menyambut keluarga Bara.
Hari pernikahan tiba ....
Embun sudah siap dengan riasan pengantinnya. Embun cantik sekali karena jarang dandan makanya menjadi pangling. Keluarga Bara datang dengan mobilnya yang mewah. Hanya Mama, Ayah dan Alina juga seorang suster yang menjaga Sammy.
"Ya ampun Bara. Ini gimana sih aku tidak bisa berjalan dengan heelsku." Alina marah-marah. "Mana jauh banget jalannya juga gak mulus. Untung Sammy gak rewel!"
"Mama gak lihat ih. Ini kampung banget!" ketus Alina.
"Sudahlah ayo kita kesana ke tempat acara," ajak Marta.
Alina berjalan di papah Marta dan terus saja ngedumel. Sudah banyak orang disana dan menantikan pengantin pria. Mereka semua terpana melihat ketampanan Bara apalagi Nina sepupu Embun semakin panas melihat itu. Bara orang kaya tampan juga. Keluarga Embun menyambut keluarga Bara dan kemudian memulai pernikahannya.
"Saya nikahkan Lara Embun Kemalasari binti Rusdi dengan El Dikta Sambara dengan seperangkat alat sholat dan uang sebesar 100 juta di bayar tunai."
"Saya terima nikahnya Lara Embun Kemalasari binti Rusdi dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
Para saksi mengatakan SAH !!!
Semua orang bersyukur dan berdoa mendoakan untuk kedua mempelai. Tentunya juga semua orang tercengang dengan mahar yang Bara berikan.
Embun di bawa keluar rumah oleh Bi Wati dan di pertemukan dengan Bara suaminya yang sudah menunggunya. Bara tersenyum melihat Embun yang cantik dan anggun tidak melepaskan tatapannya dari Embun.
__ADS_1
Mereka duduk di pelaminan dan bersalaman dengan tamu-tamu yang datang dan berfoto juga.
"Aku senang akhirnya kita menikah," ucap Bara.
"Iya tapi jangan dekat-dekat. Parfummu membuatku mual," bisik Embun.
"Aku udah gak pernah pakai perfum itu lagi Embun. Kenapa masih kebauan juga?" Bara mengendus badannya sendiri.
"Aku juga gak tahu!" ucap Embun.
Acara demi acara telah mereka lalui. Keluarga Bara kembali ke penginapan dan Bara tinggal semalam di rumah Embun. Baru besok pulang bersama ke Jakarta.
Bara mandi dan berganti pakaian begitupun Embun.
"Nak Bara Abah sama Emak nitip Embun ya. Jaga Embun dan sayangi Embun juga. Mungkin sekarang Abah sama Emak cuman bisa doain aja dari sini. Semoga pernikahan kalian langgeng sakinah mawadah warohmah," ucap Abah haru.
"Saya janji Bah akan selalu ingat pesan Abah dan selalu mencintai Embun dan menjaganya juga," jawab Bara.
Embun tidak bisa menahan tangisnya memeluk Abah dan Emak.
Malam hari tiba Embun dan Bara tidur bersama di kamar Embun yang sederhana dan sempit tentunya.
"Bara jangan deket-deket ih. Aku mual!" ucap Embun.
"Aku habis mandi Embun dan gak pake parfum juga." Bara mengendus badannya sendiri. "Apa jangan-jangan kamu hamil?" tanya Bara.
"Hahhh tidak mungkin tidak!" Embun memunggungi Bara.
"Kak Alisha yang bicara seperti itu. Nanti kalau sudah di Jakarta kita tes aja ya?" pinta Bara.
"Masa baru menikah sudah hamil lagi. Apa kata orang nanti?" Embun menangis.
"Hey lihat aku. Biarkan orang lain akan bicara apapun tentangmu tapi aku akan tetap bersamamu di sampingmu apalagi dengan adanya anak kita." Bara mengelus perut Embun.
"Iya! tapi sana dong minggir aku mual!" Embun berbalik lagi.
"Embun ini malam pertama kita masa kamu gitu sih!" ucap Bara.
"Jangan sentuh Aku ih!" Embun ketus.
__ADS_1
"Ya ampun Embun kamu segitunya padaku!" keluh Bara.
⬇️⬇️