Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Dinner


__ADS_3

Sesampainya di kontrakan Embun.


"Makasih ya udah nganterin." senyum Embun.


"Aku yang harusnya bilang makasih karena kamu udah beliin aku baju." ucap Rian.


Mereka berdua jadi merasa canggung padahal tidak terjadi apa-apa.


"Mau masuk dulu?." ajak Embun.


"Iya, aku mau numpang toilet." ujar Rian.


"Yaudah sana."


Embun merasa lelah dan ingin segera istirahat tapi harus bersih-bersih dulu nunggu Rian keluar dari kamar mandi.


"Cepetan dong Rian, aku juga kebelet." teriak Embun.


Rian keluar, mereka malah berhadap-hadapan di depan kamar mandi dan malah saling menatap. Deru napas Embun terasa sampai ke leher Rian membuat bulu kuduknya berdiri.


"E-eh maaf aku menghalangimu." gugup Rian.


"Iya makanya minggir udah tau aku mau masuk." ucap Embun.


"Ya sudah kalau gitu aku mau pulang dulu, kamu baik-baik ya jangan lupa nanti kunci pintunya." teriak Rian.


"Iya...." timpal Embun.


Rian berlalu pergi dari kontrakan Embun. Berjalan sekitar 10 menit menuju mess.


"Perasaan apa tadi tuh? napas Embun begitu terasa membuatku geli saja." gumam Rian yang senyum-senyum sendiri.


Sesampainya di mess, Anwar sudah siap untuk tidur.


"Jangan lupa kunci pintunya." seru Anwar.


"Udah." Rian berlalu ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Kemudian berbaring di samping Anwar yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Lu gak punya ponsel?." tanya Anwar.


"Gak ada, kan waktu itu kejambretan. jadi hilang."


"Gak bosan gak pegang ponsel?." tanya Anwar heran.


"Enggak." jawab Rian.


Lagian Rian sudah terbiasa sibuk dengan bisnisnya jarang bermain ponsel terkadang ponsel di pegang asistennya.


"Punya sosmed?."


"Engga punya." singkat Rian.


"Lu hidup di dunia bagian mana sih. kayanya zaman sekarang setiap orang punya sosmed paling engga facebook doang gitu." jelas Anwar.


"Ah gak penting."


"Aneh." heran Anwar.


Rian mencoba untuk tidur tapi Anwar tak hentinya mengajak bicara padahal matanya pokus pada ponselnya.


"Jadinya lu sama Embun gimana?."

__ADS_1


"Engga gimana-gimana."


"Jadian dong biar seru." ide Anwar.


"Engga ah nanti aja terlalu cepat takutnya Embun meenolakku." Rian berusaha untuk tidur.


"Nanti keburu di tikung orang baru tahu rasa deh lu."


Rian bangun dan terduduk.


"Ya sudah kalau masih mau ngobrol aku tidak akan tidur." ucap Rian.


"Kalo mau tidur, tinggal tidur saja."


"Ya kan lu nanya terus gimana mau tidur."


"Hehee sorry sorry deh." Anwar senyum tanpa dosa.


"Eh kenapa lu sama Monik belum nikah kan udah lama pacaran juga?." tanya Rian penasaran.


"Masih ngeyakinin ibuku nih." jawab Anwar.


"Emang kenapa?."


"Ibuku belum setuju karena si Monik janda."


"Tapi lu cinta kan sama dia?."


"Iya cinta makanya masih berhubungan juga. Mungkin hanya masalah waktu aja, lagian bagiku status Monik gak penting. Asal jangan istri orang aja." ujar Anwar.


"Iya baguslah. Tapi saranku sih jangan lama-lama kasian pasti si Monik ngarep."


"Iya aku juga selalu yakinin ibuku setiap saat ko." ucap Anwar.


"Plis tolong jangan ngomong lagi, aku mau tidur berisik." pinta Rian.


"Baiklah baik. Aku tidak bicara tidurlah aku masih chatting sama Monik."


"Hahh dasar bucin baru juga ketemu masih saja belum puas." ledek Rian.


"Ya kalau jomblo ya gitu bisanya cuman nyinyir." ucap Anwar.


Rian kesal dan melempar bantal ke muka Anwar. Anwar hanya tertawa melihat kelakuan temannya itu yang jomblo.


Mereka menjalani hari seperti biasanya sibuk bekerja karena memang toko mereka lumayan terkenal dan selalu ramai. Embun setiap hari makan siang bersama dengan Rian makan malam juga dan Rian selalu mengantarkan Embun setiap malamnya pulang ke kontrakan. Setiap libur Embun menghabiskan waktunya hanya di kontrakan saja menonton Drakor karena tidak ada teman untuk di ajak keluar karena libur yang tidak bareng.


Tidak terasa sudah sebulan Embun mengenal Rian dan merasa kalau berada dekat dengan Rian terasa nyaman.


"Embun aku sudah gajian. Malam ini aku traktir ya..." ajak Rian.


"Senang sekali sepertinya." senyum Embun.


Ya bagaimana aku tidak senang Mbun ini baru pertama kali aku mendapatkan gaji dari kerja kerasku. Selama ini aku yang menggaji semua orang. Walaupun sedikit tapi ini rasanya luar biasa beda banget dengan aku pegang uang 10juta sehari.


Hati Rian.


"mau makan apa?. pokoknya apa aja aku beliin." senyum Rian.


"Serius?."


"Iya Embun."

__ADS_1


"Emmmh aku mau ke restoran sunda, sudah lama sekali aku tidak makan makanan sunda."ucap Embun.


"Ayo, dimana tempatnya aku ikut."


"Ada deket sini tapi harus naik angkot sekali kalau jalan cape."


"Ya udah ayo..." Rian semangat.


Mereka menuju tempat yang Embun maksud, setelah sampai Embun memilih makanan dan kemudian duduk lesehan.


"Kamu sering kesini?."


"Hanya sesekali kalau dapet bonus. Hehee...." senyum Embun.


"Pokoknya aku traktir malam ini."


"Kita patungan aja ya bayarnya, biar kamu tabung saja uangnya." ucap Embun merasa tidak enak.


"Tidak Embun. Aku ingin meneraktirmu kamu jangan nolak. Lagian uang masih bisa di cari Mbun. Jangan ya aku aja yang bayar." pinta Rian.


"Baiklah kalau begitu. Makasih ya...." senyum Embun.


Aku yang makasih Embun karena sudah memberikan banyak pelajaran selama ini padaku.


Hati Rian.


Makanan sudah ada di hadapan mereka.


"Apa kamu makan sayuran mentah ini?." Rian heran.


"Iya ini namanya lalapan. Enak tahu di cocol sambel wih mantap." Embun mencontohkan memakan kemangi mentah dengan sambal.


"Iiih apa itu enak Embun?. Aku belum pernah makan seperti ini." Rian mengernyitkan dahinya.


"Iyakan setiap daerah makanan dan cara makannya pasti berbeda." jelas Embun.


"Ya sudah makan yang banyak dan habiskan itu semuanya." tunjuk Rian pada lalapannya.


"Tidak usah di suruh akan aku habiskan." ucap Embun dan dengan lahap memakan makanannya.


Rian merasa senang melihat Embun makan apalagi Rian mendapatkan uang dari hasil kerja kerasnya sendiri. Rian merasa bangga pada dirinya sendiri selain uang Rian juga mendapatkan banyak pelajaran hidup yang tidak si dapatnya selama ini dari bangku sekolah Ataupun lingkungan sekitar.


Mereka sudah menyelesaikan makannya dan berlalu untuk pulang.


"Kita jalan kaki aja ya sekalian bakar lemak. Hehee..." senyum Embun.


"Baiklah kita nikmati udara malam ini." seru Rian.


Emmmh apa aku ajak Rian yah pulang ke kampung untuk ke pernikahan Nina anaknya uwa Hasyim. Kalau aku pulang sendiri nanti aku di ceramahin keluargaku. Lagi pula Rian tampan tidak akan malu-maluin.


Pikir Embun.


"Enak ya jalan malam-malam begini adem gak panas gak kaya siang udah kaya di rebus." ucap Rian.


"Iya, nanti aku ajak kamu ke bandung disana mau siang ataupun malem adem sampe nusuk tulang." senyum Embun.


"Kayanya aku gakan kuat deh, kalo di pontianak panasnya lebih dari jakarta."


"Tapi aneh ya kamu kulitnya putih mulus walaupun panas." seru Embun.


"Ya aku dari lahir aja putih jadi gak ngaruh." ucap Rian ngelantur.

__ADS_1


Mereka menikmati jalanan malam dan berjalan sampai ke kontrakan Embun.


⬇️⬇️


__ADS_2