
"Ya ampun Bara sadarlah jangan di lihat nanti kebablasan!" Bara mengusap-ngusap wajahnya.
"Aku lelaki normal dan tidak sanggup melihat yang seperti ini," Bara membelai pipi Embun. "Kamu cantik sekali kalau tidur begini!"
Bara mencoba untuk tidur dengan perasaan menggebu di hatinya dan berhenti menatap Embun. Perasaannya tidak karuan apalagi deru nafas Embun terasa berhembus pada telinganya membuat bulu kuduknya merinding.
"Ya tuhan cobaan apa ini?" Bara kembali melirik Embun.
Bibirnya yang seksi kulit Embun yang putih mulus tentunya 2 gundukan yang terlihat menjiplak karena cardigannya terbuka. Pikiran Bara sudah travelling apalagi wangi tubuh Embun merasuki seluruh tubuhnya.
Dengan perlahan Bara mendekatkan bibirnya pada bibir Embun. Menciuminya dengan lembut dan hati-hati. Dari mata, hidung, pipi dan bibir tentunya tidak luput dari kecupan Bara. Sepertinya Bara sudah tidak bisa menahan lagi nafsunya itu dan melepaskan bajunya sendiri setelah itu melepaskan seluruh baju Embun juga.
Hati dan pikirannya sudah di selimuti nafsu, Bara mulai menjam*h tubuh Embun dan tidak di sangka Embun juga meresponnya karena mungkin pengaruh minumannya masih ada. Ya Bara berhasil mengambil keper*wanan Embun dengan keadaan Embun yang tidak sadar sepenuhnya.
Keesokan harinya,
Embun membuka matanya dan memegangi kepalanya yang terasa berat. "Emmmh dimana ini? ya ampun kepalaku berat sekali. Kenapa ya? aw kenapa sel*ngkanganku juga sakit ya, kok ngilu gini sih gak nyaman."
Embun mencoba bangun dan kaget saat mendapati Bara di sampingnya dan kaget saat melihat tubuhnya tanpa sehelai kainpun.
"Apa yang terjadi sih? Hahhh kenapa aku gak pakai baju" Embun membuka selimutnya. "Baraaa?"
Embun menarik selimutnya dan menutupi badannya dan melihat Bara juga bertelanj*ng dada serta melihat baju-bajunya berserakan di lantai.
"Tidaaaaaaaakkkkk ..." teriak Embun.
Teriakan Embun membangunkan Bara dan juga Rian. Sampai Rian menghampiri ke kamar dan tidak tahu kalau ada Embun disana.
"Embun kau sudah bangun?" kaget Bara.
"Hiks ... hiks ... hiks ..." Embun tidak menjawab Bara dan hanya menangis memedamkan wajahnya pada selimut.
"Ada apa tuan? siapa yang berteriak?" tiba-tiba Rian datang dan masuk ke dalam kamar Bara. "Embun? tuan? kalian?" Rian heran dan melihat baju mereka berserakan di lantai. kemudian Rian menutup kembali pintu kamarnya.
"Ya ampun mereka? semalam tuan membawa Embun kemari? dan apa yang terjadi?" Rian menggelengkan kepalanya dan berlalu ke dapur.
"Embun maafkan aku Embun aku khilaf!" ucap Bara.
"Kamu jahat!" teriak Embun. Embun hanya bisa menangis dan memukuli tubuhnya sendiri.
"Aku kotor! aku kotor! Hiks ... hiks ...."
Bara meraih tangan Embun dan memeluknya. "Maafkan aku Embun aku benar-benar khilaf maafkan."
"Lepaskan! aku jijik padamu. Berani-beraninya kamu melakukannya padaku," Embun marah.
__ADS_1
"Aku khilaf!"
"Ciiih ternyata kamu gak seperti yang aku bayangkan selama ini begitu baik padaku tapi kenyataannya?" Embun marah.
"Embun plis jangan marah padaku! aku bisa jelaskan semuanya padamu," mohon Bara.
"Coba jelaskan? kenapa kamu bisa melakukan hal ini padaku! kau sengaja,kan? Hiks ... hiks ..." Embun masih menangis.
"Dengarkan aku Embun aku khilaf. Semalam kamu malah meminum minumanku, minumanku beralkohol makanya kamu jadi gak sadarkan diri. Ini di apartementku karena aku tidak mungkin mengantarkanmu pulang dalam keadaan begitu jadi aku bawa kamu kesini," jelas Bara.
Embun mengingat kejadian itu dimana dia meminum minuman Bara. "Kamu sengaja, kan? pesan minuman itu,"
"Aku sudah pesankan kamu jus stroberi, kan? kenapa malah meminum minumamku?" jelas Bara.
"Hahhh jadi sekarang kau menyalahkanku!" Embun benar-benar marah.
"Bukan begitu Embun! maafkan aku," mohon Bara.
"Lalu kenapa? kau malah ambil kesucianku? dan menghancurkan hidupku seperti ini! Hiks ... hiks ...."
"Iya aku akui aku salah Embun. Aku khilaf!" Bara memohon.
"Hiks ... hiks ..." Embun hanya bisa menangis tidak mampu menatap Bara.
Teriak batin Embun.
Bara beranjak dari ranjang dan berlalu ke kamar mandi membersihkan dirinya.
"Bara jahat! kenapa dia tega padaku seperti itu?" gumam Embun.
Embun turun dari ranjang dan mengambil pakaiannya kemudian memakainya dan meraih tasnya kemudian beralalu pergi dengan keadaanya yang tentu tidak baik-baik saja.
Brugh.
Embun menutup pintu kamar Bara dengan kencang. Embun melewati Rian yang sedang di dapur, dan Rian heran Embun kenapa.
Embun berlari dan mengukuti dirinya sendiri meninggalkan apartement Bara, Embun menyusuri jalanan dengan berjalan kaki. Kakinya terasa sangat berat di bawa melangkah setelah apa yang Embun alami.
Aku tidak pernah membayangkan akan mengalami hal seperti ini. Kesucianku sudah hilang! bagaimana kalau aku hamil dan orang di kampung tahu? bagaimana emak dan abah? apa yang harus aku lakukan?
Batin Embun.
Jalanan sudah mulai ramai kendaraan berlalu-lalang, Embun hanya berjalan menyusuri trotoar entah akan kemana.
⚘
__ADS_1
Bara keluar dari kamar mandi dan melihat ke sekitar kamar kalau Embun ternyata sudah tidak ada. Bajunya, tasnya dan sepatunya juga tidak ada.
"Embun? kamu dimana Embun?" Teriak Bara.
Bara keluar dari kamarnya. "Rian kemana Embun?"
"Bukannya tadi Embun sudah pergi tuan?" jawab Rian.
"Kenapa kamu biarkan dia pergi Rian?" Bara kembali ke dalam kamarnya dan segera berpakaian untuk mencari Embun.
"Ayo Rian ikutlah denganku! kita cari Embun." Bara pergi dan Rian mengikutinya.
Karena Rian penasaran kemudian menanyakannya pada Bara apa yang sebenarnya terjadi. "Emmmh tuan sebenarnya apa yang terjadi? aku tidak tahu kalau kau membawa Embun ke apartement."
Bara menceritakan apa yang terjadi pada Embun di kafe dan Rian paham apa yang Bara ceritakan.
"Lalu kalian? apa yang terjadi? aku melihat pakaian kalian di lantai!" tanya Rian hati-hati.
"Aku khilaf!"
"Ya ampun tuan! sepertinya itu sebuah kesalahan yang sangat fatal!" ucap Rian.
"Lalu sekarang aku harus bagaimana? pasti Embun sangat marah padaku dan aku yakin kalau dia tidak ingin memaafkanku!" jelas Bara.
"Nikahi dia!" singkat Rian.
"Tapi apa dia bakal mau menikah denganku?" tanya Bara.
"Pasti yang Embun pikirkan sekarang adalah bagaimana kalau dirinya hamil dan bagaimana mengahadapi keluarganya di kampung," jelas Rian.
"Aku masih belum bisa berpikir jernih. Sekarang aku ingin bertemu Embun saja dulu aku takut Embun kenapa-kenapa," ucap Bara.
"Emmmh bagaimana bisa terjadi tuan?" goda Rian.
"Aku lelaki normal! saat aku melihat Embun di hadapanku tertidur dan begitu menggoda. Imanku tidak sekuat itu! nafsuku lebih besar dari imanku sepertinya," jelas Bara.
Karena mereka sudah lama dekat tidak malu lagi bicara vulgar seperti itu.
Di sisi lain. Embun hanya berjalan mengikuti langkah kakinya saja, Embun memegangi kepalanya yang sekaan berputar dan penglihatannya kabur.
Brugggh
Embun jatuh pingsan dan di kerumuni orang yang melihatnya sampai ada sebuah mobil berhenti dan membawa Embun.
⬇️⬇️
__ADS_1