
Embun hanya terdiam dan tidak banyak bicara menatap jalanan diluar jendela mobil menuju bandara.
Bara memberanikan diri untuk bicara tentang Alina. "Emmmh Embun nanti disana ada kakakku juga yang dari London."
"Iya!" jawab Embun tanpa melihat Bara.
"Kak Alina sedikit berbeda dari kak Alisha," ucap Bara.
Embun menatap Bara. "Maksudmu?"
"Ya kak Alina baik juga tapi mungkin tidak akan bersikap sehangat kak Alisha. Ya kalau kak Alina bicara agak cuplas ceplos atau mungkin saja bisa menyakiti hatimu jangan kamu anggap dan masukin hatimu yah," jelas Bara.
"Emmmh ..." tidak ada jawaban dari Embun.
Aku harap tidak akan ada masalah apapun. Batin Bara.
Mereka sudah sampai di bandara dan terbang menuju pontianak kalimantan barat. Sepanjang perjalanan Embun gelisah dan bimbang bagaimana nanti disana dan bertemu dengan keluarga Bara.
Bara menggenggam tangan Embun. "Jangan khawatir!"
"Tidak!" Embun melepaskan tangannya.
"Kita akan menikah Embun. Cuman pegangan tangan aja kok!" ucap Bara.
"Apa sih?" ketus Embun.
"Jangan ketus-ketus dong sama calon suamimu sendiri," ucap Bara.
"Siapa yang ketus? gak ada," jawab Embun.
"Senyum dong!" pinta Bara.
Embun melihat Bara dan tersenyum.
"Nah gitu dong. Kan jadi cantik banget!" goda Bara.
"Diamlah Bara aku ingin memejamkan mataku!" pungkas Embun.
"Ya sudah tidurlah!"
Aku harus berusaha ektra agar Embun bisa mencintaiku! Batin Bara.
Selamat datang di Pontianak ....
Mereka sudah sampai dan hanya di jemput oleh supir ayahnya.
"Kenapa panas sekali sih?" ucap Embun.
"Emang disini begini Embun beda sama di bandung yang dingin," jawab Bara.
"Kenapa orang-orang bisa bertahan di tempat yang panas seperti ini. Baru beberapa menit aja udah gerah banget," keluh Embun.
"Nanti di rumahku gak akan panas kok tenang saja!" ucap Bara.
"Iya tahu!" jawab Embun.
Mereka pergi hanya berdua karena Rian di tugaskan Bara untuk menjaga Alisha karena takut kalau Galuh berbuat macam-macam.
Mobil mereka berhenti di sebuah rumah yang sangat megah dan mewah juga sangat luas. Rumah Alisha di Jakarta tidak ada apa-apanya.
"Haiii kalian sudah sampai. Mama kangen sekalii padamu!" Marta mama Bara menghampiri Bara dan memeluknya.
Marta menatap Embun. "Haiii cantik pasti kamu Embun, kan?"
"Iya tante saya Embun," jawab Embun dan salim pada Marta.
__ADS_1
"Ya ampun sopan sekali! kemarilah cantik peluk tante." Marta memeluk Embun.
Ah mama Bara hangat sekali dan aku juga nyaman di pelukannya. Hati Embun.
"Ayo masuklah pasti kalian cape sekali habis perjalanan jauh, kan?" ajak Marta. Marta menggandeng Embun masuk ke dalam rumah.
Embun tertegun dengan apa yang di lihatnya di dalam rumah Bara. Begitu mewah dan banyak barang-barang antik dan pasti mahal juga.
"Mama malah meninggalkanku ya?" ketus Bara.
"Apa sih Bara? tinggal ikutin aja apa susahnya sih!" jawab Marta.
"Aku akan semakin tertindas sebagai anak lelaki satu-satunya," ucap Bara.
"Tertindas gimana? selama ini kamu yang paling sering di manjakan," ungkap Marta. "Embun duduklah!"
Mereka semua duduk dan Marta terlihat senang dengan kedatangan Embun.
"Ah ternyata kamu cantik sekali pantas saja Bara sering memujimu," ucap Marta.
"Ah sepertinya Bara berlebihan tante," Embun malu-malu.
"Bara sudah banyak cerita tentangmu dan semua kebaikanmu. Terima kasih ya sudah membantu anak tante saat kesulitan," ujar Marta.
"Ah saya hanya membantu sebisa saya tante dan itu hanya kemanusiaan saja," jawab Embun.
"Ayah di kantor Ma?" tanya Bara.
"Iya! sebentar lagi juga pulang karena Mama sudah suruh pulang karena kalian akan datang," jawab Marta.
"Iya soalnya ada hal penting yang ingin kita bicarakan pada Mama sama Ayah," jelas Bara.
"Hal penting apa sih?" tanya Marta.
"Iya nanti aja," ujar Bara.
"Iya nanti saja Ma!"
"Embun minumlah apa mau makan sekarang?" ucap Marta.
"Nanti saja tante saya masih kenyang." Embun meminum minumannya.
"Kak Alina sudah sampai?" tanya Bara.
"Sudah tadi subuh tapi dia lagi istirahat cape katanya," jawab Marta.
"Oh baiklah! Haiii Sammy how are you?" Sapa Bara pada Anak Alina.
"Haiii Uncle Iam fine." Sammy masih berumur 3 tahun sangat lucu dan menggemaskan.
"Aaah keponakan uncle makin cantik aja sih." Bara memeluk Sammy. "Say hai to aunty ...."
"Hai aunty! iam Sam ..." sapa Sammy dengan bicaranya yang menggemaskan.
"Hai cantik ..." senyum Embun. "Sammy bisa bahasa indo juga, kan?" tanya Embun.
"Bisa juga, kan papanya juga masih orang indonesia hanya saja bertugas di London. Ini hanya kak Alina aja yang sok-sok'an," ucap Bara.
"Mending kalian istirahat saja. Kamar untuk Embun juga udah siap," ucap Marta.
"Oke Embun ayo ke kamarmu dan istirahatlah." Bara menggenggam tangan Embun dan mereka berlalu ke lantai 2 menuju kamar tamu untuk Embun.
"Aku grogi!" ucap Embun.
"Santai aja Embun. Kamu lihat sendiri 'kan mamaku aja baik banget begitu," jawab Bara.
__ADS_1
"Tapi--"
"Sudahlah jangan banyak pikiran macem-macem," ucap Bara.
"Baiklah!" Embun mengeratkan genggaman tangan Bara.
"Ini kamarmu! itu disana kamarku. Kalau ada apa-apa telpon saja aku atau ke kamarku juga," ucap Bara.
"Iya!" angguk Embun.
"Ingin selalu bersamaku ya?" tanya Bara.
"Apasih Bara?" heran Embun.
"Kau tidak akan melepaskan tanganku?" tunjuk Bara.
Dengan refleks Embun melepaskan tangan Bara sedari tadi tidak sadar kalau tangan mereka berpegangan. "E-eh maaf aku gak sadar!"
"Baiklah aku kebawah lagi ya. Kamu istirahatlah!" Bara kembali ke lantai bawah.
Embun di bantu seorang pelayan membawa tasnya ke kamar. "Makasih bi."
Pelayan itu pergi. Embun merapikan pakiannya memindahkannya dari koper ke dalam lemari yang ada disana. "Akan berapa lama sih kita disini sampai Bara membawakan baju untukku sebanyak ini?"
Setelah selesai, Embun menatap keluar jendela kamarnya dan langsung terlihat taman bunga yang cukup luas. Disana ada Sammy yang sedang bermain bersama susternya berlarian kesana kemari.
"Sammy lucu sekali. Apa kalau aku punya anak akan selucu itu?" Embun memperhatikan Sammy yang sedang bermain.
Embun merasa bosan dan duduk di sofa kemudian chatting bersama Monik. Tidak lama kemudian seorang pelayan memanggil Embun. "Non ... di panggil tuan muda dan nyonya."
"Hah tuan muda!" Embun membuka pintunya."Baik bi makasih!" Embun turun di ikuti oleh pelayan itu.
Di ruang tamu sudah banyak orang ada ayahnya Bara dan juga Alina.
Itu mungkin kak Alina dan ayahnya Bara. Hati Embun.
"Kemarilah Embun duduklah!" suruh Bara. Embun duduk di samping Bara dan senyum kepada setiap orang.
Alina terlihat sinis melihat Embun. Karena Alina berpikir kalau namanya aja sekampungan itu. "Nama kamu beneran Embun?" tanya Alina.
"Iya kak Lara Embun," jawab Embun.
"Emmmh penampilanmu bagus juga gak seperti namamu," ketus Alina.
"Jangan gitu Alina!" bisik Marta.
Embun hanya tersenyum dengan perkataan Alina yang memang pedas.
"Sudahlah kalian jangan bicara terus. Kita dengarkan Bara mau membicarakan hal penting apa?" ucap Bahar Ayah Bara. "Eh iya Nak. Saya Bahar Ayahnya Bara."
"Iya senang bertemu denganmu paman," Embun menundukan kepalanya.
"Bicaralah Bara semua orang sudah tidak sabar untuk mendengarnya," pinta Bahar.
Bara meraih tangan Embun dan menggenggamnya. "Jadi begini semuanya kalau aku akan menikahi Embun."
"Ah akhirnya anakku akan menikah juga. Kapan?" Marta antusias.
"Emmmh sebulanan lagi paling tapi kita belum menentukan tanggalnya," jawab Bara.
"Ya Ayah setuju saja. Lebih cepat lebih baik, biar kamu ada yang mengurus juga jangan andalkan Rian terus," ucap Bahar.
"Kenapa harus buru-buru sih Bara?" ketus Alina.
"Ya karena kita emang udah mau menikah kak!" jawab Bara.
__ADS_1
"Ya terserah kalau itu udah keputusan kalian. Eh kamu kerja apa? kuliah ambil jurusan apa?" cetus Alina.
⬇️⬇️