
Sesampainya di tempat kerja, seperti biasa Embun, Monik, Trian dan juga Siska membereskan semua etalase dan memasang roti-roti baru yang sudah di buat termasuk contoh-contoh cake juga.
Ruko 2 lantai, lantai satu di jadikan toko dan lantai 2 di jadikan mess karyawan yang membuat roti setiap hari.
"Gimana kamu sudah tanyain sama si Anwar?." tanya Embun pada Monik.
"Belum ada, tapi katanya mas Bagus mau berhenti tapi keputusannya hari ini. Kalau jadi berhenti hari ini suruh saja temanmu melamar." jelas Monik.
"Baiklah, tapi kamu udah bilang kan sama Anwar kalau ada temenku yang lagi cari kerja?." tanya Embun.
"Tenang saja sudah aku bilangin." senyum Monik.
"Kerjaan buat siapa sih Mbun?. ko semangat banget." tanya Trian yang juga penasaran.
"Temenku, yang baru aku temukan semalam." ketawa Embun.
"Temukan?. Emangnya barang atau kucing hilang?." Trian tertawa keras sekali.
"Ceritanya panjang sekali, nanti kalau aku istirahat aku ceritakan." senyum embun.
"Ganteng gak?." goda Monik.
"Ya lumayanlah. hahaa..."
"Jadiin pacarmu saja, kan cuman kamu yang jomblo disini." goda Monik pada Embun.
"Iya Bun aku setuju kali ini dengan Monik." ucap Trian.
"Kalian jangan hanya gosip saja, kerja yang bener nanti koko marahin kita." ucap Siska yang sering cari muka di hadapan Koko pemilik Toko.
"Iya.... Kita sambil kerja kok." jawab mereka serempak seakan sudah tahu kalau itu yang akan keluar dari mulut Siska.
Mereka beristirahat gantian, Embun meminta istirahat lebih awal karena pasti Rian sudah kelaparan di kontrakan.
"Aku duluan ya istirahatnya, kasian anak orang di kontrakan ntar kelaparan." ucap Embun.
"Oke," semua orang setuju.
Padahal waktu sudah menunjukan pukul 2 siang, waktu makan siang udah lewat dan pasti Rian sudah menunggu Embun.
Trek.
pintu terbuka dan tidak di kunci berarti Rian ada di dalam. Rian tertidur di atas kasur.
"Rian, woy kamu tidur?." Embun menggoyangkan lengan Rian. Tapi Rian tak kunjung bangun.
"Rian apa kamu pingsan?."
"Aku hanya tertidur saja dan aku sangat lapar." ucap Rian terbangun dari tidurnya dan memegangi perutnya merasa lapar.
"Ini aku bawa makanan untukmu. Makanlah." Embun membeli nasi 2 bungkus. 1 untuknya sendiri dan mereka makan bersama.
"Aku hanya bisa beli ini aja, ini udah akhir bulan uangku sudah menipis." jelas Embun.
"Tidak apa-apa, ini enak ko." senyum Rian. Sepertinya Rian harus terbiasa dengan makanan orang biasa sekarang karena tidak ingin merepotkan Embun juga.
Embun memperhatikan tangan Rian yang begitu bersih dan sepertinya sangat lembut.
__ADS_1
"Tunggu dulu, kenapa tanganmu begitu mulus dan juga sepertinya lembut." Embun penasaran dan memegang tangannya.
"Benar ini sangat mulus sekali, seperti tidak pernah di pakai bekerja saja. Lihat tanganku begitu kasar tidak seperti tanganmu." tunjuk Embun.
"Memangnya salah tanganku seperti ini?." tanya Rian.
"Ya tidak sih, tapi aneh aja. sudahlah jangan di bahas." ucap Embun.
Embun menyelesaikan makannya dengan cepat karena harus kembali bekerja.
"Aku sudah selesai dan harus kembali bekerja lagi, kamu baik-baik disini jangan keluyuran. kalau mau keluar ke tempat kerjaku saja nanti jemput aku jam 8 malam sekalian aku traktir kamu makan malam." jelas Embun.
"Oke...."
"Eh iya, sepertinya besok kau akan mulai bekerja. Di toko Baut samping toko tempatku bekerja." tambah Embun.
"Iya baiklah, terima kasih ya." senyum Rian.
"No problem. Bye...." senyum Embun dan bergegas kembali ke toko.
"Aku salut padamu Embun, kau bilang uangmu sudah menipis tapi kau tetap membelikanku makan dan juga membantuku mencari pekerjaan." gumam Rian.
"Setelah nanti aku bisa bertemu dengan asistenku aku akan ganti semua apa yang sudah kau berikan untukku. Aku janji pada diriku sendiri Embun." senyum Rian.
Rian kembali masuk ke dalam kontrakan dan hanya berdiam diri tidak melakukan apapun.
"Sepertinya Embun suka kpop banyak sekali poster artis korea." Rian memperhatikan setiap sudut.
"Banyak Novel juga disini." Rian mengambil novel yang tersusun di atas lemari dan mulai membacanya.
"Hoaaammm.... aku malah mengantuk. Tidur dulu ah sebentar sampai nanti aku jemput Embun di tempat kerjanya." Rian membaringkan badannya di atas kasur.
Di toko sangat sibuk karena tokonya lumayan terkenal dan memang rotinya enak dan cakenya juga keren-keren.
"Mas Pras minta lagi roti coklatnya 10 buah. Masih ada gak?." tanya Embun.
"Ini Mbun tinggal sisa segini lagi." ucap Pras. Prasetya seorang pembuat roti disana yang desas desusnya sangat menyukai Embun. tapi Embun menganggap kalau Pras seperti kakaknya sendiri karena terlalu baik pada Embun. Itu yang membuat Pras tidak pernah mengakui kalau dia menyukai Embun karena takut di tolak oleh Embun.
"Makasih mas," senyum Embun.
"Sama-sama Mbun." Pras membalas senyum Embun.
Pras juga tampan, khas lelaki indonesia dan berlesung pipi yang membuatnya semakin manis.
Malampun tiba dan toko sudah tutup tapi mereka masih beberes si dalam toko.
"Selamat istirahat ya kalian semua. Terima kasih untuk hari ini. saya pulang duluan ya." pamit Ko Chandra pemilik toko yang memang setiap sore selalu ke toko.
Siska ikut pulang bersama dengan koko.
"Aku duluan." pamit Siska juga.
"Bye...." ucap semuanya serempak.
"Lihat kelakuan si siska, caper banget sih sama si koko padahal tahu sendiri si koko udah punya istri masih aja sok-sokan." sinis Monik.
"Tapikan si koko biasa aja, emang baik sama semua orang. itu si siskanya aja kepedean." tambah Trian.
__ADS_1
"Iya aku malah kasian sama mas Gilang udah 5 tahun pacaran tapi kelakuan Siska malah begitu." timpal Monik.
"Sudahlah ayo kita pulang, jangan begosip terus ah." ajak Embun.
"Mas Pras kita semua pulang." teriak Monik.
"Iya." timpal mas Pras dari lantai atas.
Mas Pras dan Agus tinggal berdua di lantai atas ruko.
Trian sudah di tunggu Fathir tunangannya dan pulang lebih dulu. Embun masih menunggu Rian karena ingin mempertemukannya dengan Anwar pacar Monik.
"Hai kalian, mana temanmu itu Mbun?." tanya Anwar.
"Tunggu dulu sebentar mungkin jalan menuju kemari." jawab Embun.
"Mas Bagus sudah keluar dari kerjaan dan aku udah bilang sama si bos kalau aku udah dapet gantinya jadi mulai besok temanmu sudah bisa bekerja." jelas Anwar.
"Ya bagus deh War. Tunggu sebentar ya." ucap Embun clingak clinguk mencari keberadaan Rian.
"Rian...." teriak Embun.
"Haii, maaf aku lama. gangnya banyak belokan aku kesasar tadi." Senyum Rian.
"Njirr ini sih ganteng banget Mbun." bisik Monik.
"Ehemmm aku denger." Seru Anwar.
"Hehee maaf sayang, aku bilang ganteng cocok dengan Embun yang cantik. Gitu lo..." ngeles Monik.
"Dasar mata keranjang." Anwar menjitak kepala Monik.
"Tenang saja di hatiku cuman ada kamu seorang sayang." bujuk Monik.
"Plisss kalian gak usah sok Uwu di hadapanku, aku baperr." ujar Embun.
"Ini kenalin temenku Rian. Rian ini Anwar, besok kamu sudah mulai kerja bersama Anwar dan kamu juga tinggal bersama Anwar di ruko." jelas Embun.
"Salam kenal bro." ucap Rian sok akrab.
"Iya salam kenal juga. Besok langsung kerja aja dateng jam8 aku tunggu." kata Anwar.
"Oke siapp" senyum Rian.
"Kalau begitu aku pualng duluan mau nganterin Monik dulu." pamit Anwar.
"Bye Embun...." Monik melambaikan tangannya dan berlalu pergi dengan Anwar naik motor.
"Ayo kita pulang juga dan kita beli makanan dulu untuk kita makan malam." ajak Embun.
"Aku tidak usah makan malam kamu saja." ucap Rian.
"Kita beli nasi goreng aja yu seporsi berdua, biasanya aku cuman beli setengah karena suka gak abis. sekarang beli seporsi aja kita makan berdua." senyum Embun ceria.
"Oke...." Rian setuju.
Hidupmu positif sekali Embun, aku kagum padamu.
__ADS_1
Hati Rian.
⬇️⬇️