
Keesokan harinya,
Rian sudah siap untuk pulang ke Kalimantan dan berpamitan kepada semua orang. Rian membawa bajunya hanya sebagian yang di belikan oleh Embun dan yang terakhir di belinya tidak di bawa semua.
"Cepat kembali ya, hati-hati di jalan." Ucap Anwar.
"Iya, terima kasih ya selama ini udah berbagi kasur denganku. Hahaa ...." tertawa Rian.
Rian berpamitan kepada semua orang, Embun bagian terakhir.
"Makasih ya Embun atas segala pertolonganmu selama ini, maaf aku belum bisa membalasnya." Ucap Rian.
"Iya sama-sama. Kamu hati-hati di jalan dan cepat kembali juga." Senyum Embun.
"Iya aku akan segera kembali. Bye semuanya aku pulang dulu." Rian melambaikan tangannya dan berlalu pergi dengan menaiki taxi online menuju bandara.
Embun terlihat sedih melepas kepergian Rian padahal Rian sudah berjanji akan kembali lagi.
Kenapa hatiku berat ya melepasmu Rian, padahal kita tidak punya hubungan apa-apa. Ah sudahlah lupakan Embun jangan berharap apapun padanya.
Hati Embun.
"Cie ada yang sedih di tinggal pergi, tenang saja dia akan kembali lagi." Hibur Monik.
"Siapa yang sedih?" Elak Embun.
"Kira aja kamu sedih." Tebak Monik.
"Tidak, eh ada yang aneh deh. Dia punya uang darimana untuk pulang apalagi naik pesawat pasti tiketnya juga mahal." Pikir Embun.
"Iya juga ya," Tambah monik.
Seketika pandangan Embun dan Monik menuju Anwar dan mencerca Anwar dengan berbagai pertanyaan.
"Sayang pasti kau tahu sesuatu kan?" Tanya Monik pada Anwar.
"Ti-tidak." Gugup Anwar.
"Pasti kamu menyembunyikan sesuatukan? apalagi gugup seperti itu." Tebak Embun.
"Ti-tidak tidak menyembunyikan apapun. Suer deh!" Ucap Anwar.
"Terus si Rian punya uang darimana buat tiket pesawat? aku tahu gaji kalian berapa gak mungkin bisa beli tiket pesawat." Tanya Monik.
"Emmmh setahuku dia di belikan tiket pesawat oleh kakaknya. Sudah tidak tahu apa-apa lagi." Anwar berbohong.
Gara-gara si Rian aku jadi berbohong pada Monik. Lagian siapa sebenarnya si Rian itu?
Pikir Anwar.
"Oh begitu, iya sih setauku dia pulang juga di suruh kakaknya." Ucap Embun.
__ADS_1
"Aku kembali ke toko ya, nanti si bos marah." Anwar berlari menuju toko meninggalkan mereka berdua.
"Ayo kita juga bersiap buka toko." Ajak Monik.
Aku harus menata lagi hidupku dan membuang jauh-jauh perasaanku pada Rian.
Hati Embun.
...----------------...
Rian sudah tiba di bandara dan segera naik pesawat untuk pulang.
"Tunggu aku Embun aku akan kembali dengan aku yang sebenarnya sebagai Bara." Gumam Rian.
1 jam 30 menit Bara terbang dan akhirnya sampai di tempat kelahirannya dan kembali dengan segalanya, di jemput Rian asisten pribadinya dengan mobilnya yang mewah.
"Selamat datang tuan, apa ini dirimu Bara?" Ledek Rian.
"Gak usah meledekku!. Ayo pulang." Ucap Bara.
"Lagian penampilanmu itu loh, bukan Bara banget." Tambah Rian.
"Ini hanya karena aku mendalami peranku saja sebagai orang susah." Ucap Bara.
Bara sekarang sudah menjadi dirinya lagi dan menanggalkan identitasnya sebagai Rian.
"Bagaimana tuan hidup susahmu? aku penasaran sekali." Tanya Rian.
"Bidadari?"
"Iya, aku kejambretan semua barangku hilang bahkan ponselku tapi dia datang dengan segala kebaikannya makanya aku bisa bertahan hidup kalau tidak ada dia aku jadi gelandangan mungkin. Karena nomormu ada di ponselku yang hilang." Jelas Bara.
"Hahaa ... Hahaa ... Aku tidak bisa membayangkanmu selama berbulan-bulan ini." Rian tidak bisa menahan tawanya.
"Puas kau menertawakanku seperti itu?" Bara merasa kesal.
Bara dan Rian tidak seperti partner kerja mereka sudah hidup bersama dari kecil sehingga mereka sangat akrab dan saling peduli. Rian anak dari kepala pelayan di rumahnya dan di biayai sekolah oleh ayah Bara. Usia Rian sama dengan Alisha bahkan Rian begitu menyukai Alisha hanya Bara yang tahu kebenaran itu. Bara sudah sering melarang memanggilnya tuan tapi Rian menolak dan itu demi pekerjaannya juga.
"Dimana bukti-bukti kebenaran bang Galuh itu?" Tanya Bara.
"Ini semuanya di dalam sana." Rian memberikan map berwana biru.
Rian begitu kesalnya melihat foto-foto bang Galuh bersama Icha mesra dan begitu dekat bahkan ada juga fotonya yang sedang berciuman.
"Sialan bang Galuh bener-bener bejat ...." Bara emosi.
"Bahkan Icha sering keluar masuk ke rumah bang Galuh menginap juga." Tambah Rian.
Bara mengepalkan tangannya dan memukulkannya ke kursi di sampingnya mengingat kak Alisha adalah kakak yang sangat di cintainya tapi malah di khianati oleh suaminya sendiri.
"Aku ada videonya di ponselku saat Icha keluar masuk rumah Bang Galuh." Jelas Rian.
__ADS_1
"Itu rumah kak Alisha yang di berikan ayahku waktu menikah dan berani-beraninya selingkuh di rumah kak Alisha." Bara semakin kesal.
"Semoga Alisha bisa melewati ini semua." Ucap Rian.
"Aku juga yakin pasti kau juga terluka kan melihat kak Alisha di khianati seperti itu?" Tanya Bara.
"Ya begitulah, kita tumbuh bersama dari kecil dan kau juga tahu sendiri bagaimana perasaanku dan sampai saat ini tidak berubah." Jelas Rian.
Perjalanan yang lumayan cepat, karena kediaman Bara tidak jauh dari bandara. Rian menghentikan mobilnya di sebuah rumah dengan pintu gerbangnya begitu tinggi sehingga tidak terlihat bagaimana keadaan rumah di dalamnya.
Penjaga membuka gerbangnya dan mobilpun masuk ke dalam rumah itu.
Jreeng.
Ini bukan rumah lebih tepatnya adalah istana yang super megah dan mewah. Berlantai 3 dengan cat dominasi warna putih dan gold berlantaikan marmer dan juga hiasan-hiasan mahal. Berbanding terbalik dengan keadaan rumah Embun di kampung yang ukurannya hanya 6×9meter saja mungkin sama dengan satu kamar di rumah Bara.
Kak Alisha sudah menyambutnya di pintu utama dan begitu sumbringah melihat adik kesayangannya kembali pulang. Dengan perutnya yang sudah mulai membesar karena sedang hamil Al memeluk Bara melepaskan semua rasa rindunya.
"Ya ampun kamu Bara? kenapa jadi berbeda begini?" Tanya Al.
"Iya aku Bara kak, gantengku tidak luntur kan kak?" Tanya Bara.
"Hahaaa tenang saja adik kesayanganku masih ganteng kok." Senyum Al.
"Baraa ...." Teriak mama Bara.
"Mama, aku kangen juga padamu." Bara ingin memeluk mamanya.
"Eits .... kamu pake baju siapa ini? ya ampun anak mama kenapa jadi seperti ini. Lagian kenapa sih hidup gak bersyukur banget udah hidup enak malah pingin hidup susah. Kasian ayahmu sedih merindukanmu." Jelas Mama.
"Maafkan aku ma, aku hanya merasa bosan saja hidup begini tapi aku sudah mendapatkan banyak pelajaran selama aku pergi." Jelas Bara.
"Baiklah kalau begitu nanti saja kamu lanjut lagi ceritanya. Sekarang bersih-bersih mandi pakai bajumu yang bagus dan temui ayahmu yang sedang istirahat di kamar." Ucap mama.
"Iya, lagian aku juga sangat lengket sekali ingin mandi." Ucap Bara.
Bara berlalu ke kamarnya dan di ikuti oleh Rian sampai ke kamarnya.
"Apa ada perlu sesuatu lagi sebelum aku pergi?" Tanya Rian.
"Tidak ada, aku tidak tega melihat kak Al dan bagaimana cara aku mengungkapkan semuanya? kak Al sedang hamil aku takut kandungannya kenapa-kenapa kalau kak Al syok." Ujar Bara.
"Tapi apa kamu tega kalau Al di bohongi terus seperti itu? malahan itu akan membuat Al semakin sakit." ucap Rian.
"Hemmm biar aku pikirkan dulu caranya, pergilah aku mau mandi dulu." Suruh Bara.
Rian keluar dari kamar Bara dan menuju ruang kerja untuk mengurusi semua pekerjaan kantor.
Aku janji padamu kak Al aku akan mebongkar semua kebusukan bang Galuh.
Hati Bara.
__ADS_1
⬇️⬇️!