Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Hamil???


__ADS_3

Ayah dan Mama Bara juga Alina datang ke Jakarta. Mereka ke rumah Alina dan menginap disana sekalian menjenguk Alina.


Mereka semua di jemput oleh Rian di suruh Bara. Alisha sudah menantikan mereka datang dan menyambutnya di depan rumah.


"Alisha ...." Marta berlari memeluk Alisha.


"Mama ...." Alisha hanya menangis di pelukan Mamanya menumpahkan semua kesedihannya di pelukan sang Mama.


"Kamu jangan sedih ya sayang. Kita semua disini ada untukmu tidak akan pernah meninggalkanmu. Lupakan saja lelaki tidak berguna itu," kesal Marta.


"Sudahlah Ma. Jangan di bahas lagi," ucap Alisha. "Alina ...." Alisha juga memeluk Alina.


"Kak Alisha yang sabar ya. Aku yakin Kak Al akan mendapatkan lelaki terbaik ke depannya," ucap Alina.


"Ayah ... Ternyata pilihanku salah. Maafkan aku ya," isak Al.


"Jangan sedih sayang. Kalau kamu sedih Ayah akan lebih sedih. Kamu harus selalu tersenyum demi anakmu ini," ucap Bahar.


"Iya Yah. Sekarang mending kita masuk saja yu, pasti kalian cape." Mereka semua masuk ke dalam rumah Alisha dan Embun juga ada disana menyambut semua orang.


Bara baru saja datang bergabung bersama yang lainnya. Merekapun sibuk membicarakan untuk pernikahan Embun dan Bara. Alina hanya menatap Embun ketus karena tidak suka apalagi mendapati Embun tinggal di rumah Alisha.


"Ayah senang kalian cepat menikah. Semoga semuanya lancar tanpa halangan," ucap Bahar.


"Iya Yah aku juga berharap begitu," jawab Bara.


"Sejak kapan kamu tinggal disini?" tanya Alina ketus menatap Embun.


"Mungkin sudah ada sebulan," jawab Embun.


"Aku suruh Embun tinggal disini karena menemani Kak Alisha. Aku khawatir kalau Kak Alisha sendirian," tambah Bara.


"Makasih loh Embun sudah menemani Al dan menjaganya juga," ucap Marta.


Embun hanya tersenyum menanggapi semuanya. Ya ampun Kak Alina masih saja seperti itu padaku. Hati Embun.


Embun sibuk di dapur bersama mbak Marni untuk menyiapkan makanan. Kemudian Alina menghampirinya, "emang cocok kaya gini. Upik abu tapi bermimpi jadi nyonya."


Embun hanya tersenyum menanggapi itu. "Apa ada yang perlu aku bantu Kak?"


"Sana bersihkan kamarku dan bereskan juga barangku," suruh Alina.


"Kamarnya sudah siap Kak dan barang Kak Alina juga sudah di kamar," jawab Embun.


"Apasih yang Bara lihat darimu? hah! aku tahu adikku seleranya bukan sepertimu? apa kau menjebak Bara? dengan apa? dengan kepolosanmu apa dengan kesucianmu, kah?" Alina tersenyum licik.

__ADS_1


Embun tertegun dan meletakan piring yang di pegannya mencerna kata-kata Alina yang menyakiti hati Embun. "Kak Alina jangan bicara seperti itu padaku. Aku tidak serendah apa yang kak Alina pikirkan semuanya hanya takdir yang mungkin memang harus aku jalani."


"Ah ternyata kamu pintar bicara juga yah." Alina mendekati Embun dan memainkan rambut Embun. "Sesering apa kalian ke hotel? apa di rumah ini? hahaha ...."


Embun mengepalkan jari-jarinya merasa kalau Kak Alina menghina harga dirinya. Apalagi yang Kak Alina katakan memang benar, Embun menikah dengan Bara karena kesalahan yang terjadi.


Bara sudah berdiri di belakang Alina. "Kak Alina jangan bicara sembarangan ya tentangku atau tentang Embun. Kita akan menikah dan Kak Alina harus bisa menerima Embun karena aku sangat mencintai Embun."


"Sejak kapan kamu disini?" tanya Alina merasa kaget.


"Daritadi. Aku mendengar semua yang Kak Alina bicarakan pada Embun." jawab Bara.


"Tapi yang aku bicarakan semuanya benar, kan?" ketus Alina.


Embun sudah tidak tahan dengan apa yang Alina bicarakan dan berlari menuju ke kamarnya.


"Embun ...." Panggil Bara.


Embun tidak memperdulikan Bara. "Kak Alina please jangan begitu pada Embun."


Bara berlalu mengejar Embun ke kamarnya dan berpapasan dengan Marta. "Bara kamu kenapa?" tanyanya.


"Tanyakan saja pada Kak Alina." Teriak Bara.


Tok! tok! Bara mengetuk pintu kamar Embun. "Embun ...." panggilnya.


Bara memeluk Embun dari belakang. "Maafkan Kak Alina ya sayang."


"Hiks ... hiks ... hiks ... Kak Alina benar Bara. Aku memang menikah denganmu karena kesucianku." Embun hanya bisa menangis.


Bara membalikan badan Embun dan mereka jadi berhadapan. Embun mendongak kepada Bara, "benar, kan?"


"Tidak sayang. Please jangan mendengarkan omongan kak Alina atau siapapun. Aku mencintaimu dan memang menginginkanmu dari awal kita bertemu bukan karena kesalahanku itu saja." Bara memeluk Embun.


Embun menangis dalam pelukan Bara. "Hoeek ... hoeek ..." Embun berlari ke kamar mandi dan menutup mulutnya.


"Embun kamu kenapa?" Bara mengejarnya.


"Hoeek ... hoeek ... ah aku mual sekali mencium parfum-mu itu." Embun berkumur.


Bara mengendus badannya sendiri. "Ah seperti biasanya juga aku wangi seperti ini tidak berlebihan."


"Bagaimana mungkin Bara. Itu baunya sungguh menyengat dan membuatku mual saja," ucap Embun.


Bara mendekatkan badannya pada Embun. "Ini ciumlah. Wangi seperti biasa kok."

__ADS_1


"Hoeek ... hoeek ... menjauhlah! aku mual." Suruh Embun.


Bara mundur menjauhi Embun. "Ya sudah. Aku akan pergi mandi dulu dan tidak akan menggunakan parfum." Bara pergi.


"Ya ampun aku kenapa padahal biasanya juga biasa aja. Mungkin Bara terlalu banyak pake parfum." Embun mencuci mukanya.


Bara sudah selesai mandi dan keluar kamar hanya dengan kaos oblongnya dan celana pendek. "Tumben udah mandi lagi?" tanya Alisha.


"Embun mual mencium bau badanku. Katanya terlalu banyak pakek parfum makanya aku mandi lagi dan sekarang gak pake parfum," jawab Bara.


"Emang. Kamu kalau pake parfum emang suka gak kira-kira," ucap Alisha.


"Tapi biasanya juga segitu Embun tidak apa-apa. Aku mau menemui Embun lagi dan melihat keadaannya." Bara pergi ke kamar Embun lagi.


Alisha menghentikan langkahnya. "Apa mungkin Embun hamil?" gumam Alisha. Alisha berbalik dan menuju ke kamar Embun juga.


"Embun aku masuk ya ...." Bara masuk ke dalam kamar Embun.


"Ah kamu sudah mandi lagi?" tanya Embun.


Bara mendekatkan diri pada Embun. "Coba peluk lagi kemarilah. Dan cium lagi apa akan mula juga?" Bara merentangkan tangannya.


Embun mendekat. "Emmh sepertinya tidak terlalu seperti tadi. Tapi-- hoeek ... hoeek ...." Embun berlari lagi ke kamar mandi.


"Embun ...." Bara mengikutinya. Alisha datang dan menghampiri Bara juga Embun.


"Embun kamu kenapa?" Alisha mengurut leher Embun.


"Aku mual mencium bau parfum Bara Kak!" jawab Embun.


"Apalagi yang kamu rasakan?" tanya Alisha.


"Emmmh tadi pagi pas bangun tidur sedikit pusing sih. Tapi, tidak apa-apa kok," jawab Embun.


"Baiklah. Ayo sekarang istirahat saja dan tidur." Alisha memapah Embun ke tempat tidur.


"Tidak Kak. Aku baik-baik saja paling aku tidak ingin dekat dengan Bara saja membuatku mual." jelas Embun.


"Istirahatlah dulu sebentar nanti turun lagi kalau sudah merasa baikan." ucap Alisha. "Aku kebawah dulu ya." Alisha menarik tangan Bara dan keluar dari kamar Embun.


"Apa sih Kak menarikku seperti ini?" tanya Bara.


"Apa mungkin kalau Embun hamil?" bisik Embun pada Bara.


"Hamil?"

__ADS_1


⬇️⬇️


__ADS_2