Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Kisah hidup Embun


__ADS_3

Rian sudah menunggu Embun di depan toko untuk mengantarkan Embun pulang dan juga membawa baju-baju Rian yang dari pak haji.


"Hai, nunggu lama ya?." tanya Embun.


"Engga baru aja ko." senyum Rian.


"Ekhemmm kalian cocok tahu." goda Monik.


"Apaan sih." Embun melotot pada Monik.


"Ayo kita pulang saja. Bye semuanya hati-hati di jalan." pamit Embun dan kemudian berlalu ke kontrakan bersama Rian.


"Tadi pacar siapa?." tanya Rian.


"Ooh itu Fahri pacarnya Trian. Kalau Monik pasti kamu sudah tahu pacarnya Anwar." jelas Embun.


"Kamu gak punya pacar Embun?."


"Engga!."


"Kenapa? yang lain pada punya pacar kenapa kamu engga." Rian penasaran.


"Allah masih belum menurunkan jodohku." seru Embun.


Rian mengernyitkan dahinya dan tidak bicara lagi sampai akhirnya tiba di kontrakan Embun.


"Eh iya ini ada makanan. Kita makan dulu oke..." senyum Embun.


"Iya...."


Embun mencuci tangannya dan mengambil piring dan sendok kemudian membuka sebungkus nasi padang yang di kasih ko Chandra.


"Hanya satu?." tanya Rian.


"Iya, kamu aja yang makan. Aku tidak ingin makan malam aku mau makan roti saja tadi di kasih juga sama bosku." ujar Embun.


"Beneran?."


"Iya.... aku sedang tidak ingin makan nasi. Habiskan saja itu tadi dapat bonus dari si koko karena hari ini lumayan rame." senyum Embun.


"Baiklah kalau begitu aku makan." Rian makan.


Embun membaringkan badannya dan bermain ponsel. Rian merasa kalau Embun sengaja tidak makan demi dirinya.


"Buka mulutmu aaaa..." ucap Rian.


"Kamu saja."


"Ayolah, ini terlalu banyak tidak akan habis kalau di makan sendiri." bujuk Rian.


"Oke... iya aku makan." Embun bangun dan makan di suapi Rian.


Rian hanya tersenyum melihat Embun dan baru kali ini merasakan kalau ada orang benar-benar peduli padanya walaupun Rian tidak punya uang.

__ADS_1


Mereka menghabiskan makannya berdua dan setelah itu mereka mengobrol sampai larut malam.


"Kamu asli orang mana sih?." tanya Rian.


"Aku orang Bandung." senyum Embun.


"Pantes cantik, kata orang cewek bandung cantik-cantik."


"Hahaa peres."


"Emang kamu cantik, mungkin kamunya aja gak merasa."


Embun hanya tersenyum kecil mendengar pujian Rian.


"Tapi kamu pernah pacaran kan?." Rian masih penasaran.


"Emangnya aku sejelek itu sampai aku tidak pernah punya pacar?." jawab Embun.


"Makanya aku nanya."


"Ya pernah lah, malahan 2 tahun lalu aku hampir menikah tapi tidak jadi." jelas Embun.


"Kenapa?. Tapi syukur deh gak jadi nikah. Jadi kita di pertemukan." senyum Rian.


Embun hanya menanggapi Rian hanya bercanda saja.


"Iya karena orangtuanya tidak setuju." ucap Embun.


"Kenapa?."


"Masih sama orang Bandung?."


"Iya sama, orang sekampung denganku. Aku di Bandungnya juga di kampung." ucap Embun.


"Makanya aku pergi merantau biar gak di gosipin orang di kampung dan juga menghindari hujatan uwa ku karena aku di anggap beban bagi emak sama abah." ucap Embun.


"Emak sama abah orangtuamu?."


"Bukan mereka kakek dan nenekku. Ibuku meninggal waktu melahirkanku dan bapak meninggal pas aku masih SMP. jadi dari kecil aku di urus oleh emak sama abah. Dan anak Emak yang lainnya merasa kalau aku beban bagi emak sama abah jadi aku pergi merantau." jelas Embun merasa sedih.


"Emmh begitu... semangat terus ya..." senyum Rian.


"Aku selalu semangat demi emak sama abah." ucap Embun.


"Trus kenapa kamu gak pacaran lagi? nyari gituh kan banyak juga cowok di sekitaran kamu."


"Pernah juga setahun lalu aku punya pacar, temennya temenku tapi cuman 2 bulan aja habis itu belum pacaran lagi deh. Hehee..." senyum Embun.


"Kenapa pacaran cuman sebentar?."


"Habisnya dia tempramental dan suka mabok-mabokan jadinya aku merasa ngeri pacaran sama dia. Makanya aku lebih memilih putus."


"Kenapa masih ngejomblo aja sekarang?."

__ADS_1


"Masih nyaman sendiri dan sekarang aku ingin menunggu yang pasti aja yang ngajak nikah langsung."


"Ngapain nikah cepet-cepet? kamu masih muda."


"Umurku sudah 23 tahun di kampung umur segitu belum menikah pasti bakal di nyinyirin terus." kesal Embun.


"Emang gitu?."


"Iyaa... Satu mata melihat seribu mulut yang berbicara. Hidup di kampung harus kuat mental." jelas Embun.


Rian hanya mengangguk-ngangguk saja mendengarkan Embun bercerita panjang lebar.


"sekarang ceritakan tentangmu, bagaimana bisa kamu sampai kesini?." pinta Embun.


"Iya aku merasa bosan di kampungku makanya aku juga merantau di ajak temanku yang juga bekerja di Jakarta eh malah aku apes dan kejambretan untungnya ketemu kamu dan di tolongin kamu. Kalau engga mungkin aku udah jadi gelandangan." jelas Rian.


"Kamu gak mencoba menghubungi orangtuamu atau temanmu itu?." tanya Embun penasaran.


"Iya kan semua kontakku ada di ponselku yang hilang itu, ya jadi aku tidak bisa menghubungi mereka."


"Emmmh memangnya mereka tidak akan mencarimu?."


"Mereka sudah tahu kok kalau aku pergi untuk bekerja dan tidak akan mencemaskanku." senyum Rian.


"Kurasa nasib kita sama ya. Semoga kita bisa menjalani hidup ini dengan penuh syukur biar selalu berkah." senyum Embun.


"Iya aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu Embun, kau begitu baik dan banyak pelajaran yang aku dapat darimu." senyum Rian.


"Sudah malam, sana kembali ke mess dan bawa semua baju-bajumu." ucap Embun.


"Iya Embun aku juga mau pergi kok. Besok gak usah beliin aku makan lagi ya soalnya aku di kasih uang makan juga." jelas Rian.


"Iya, tapi kalau butuh sesuatu bilang aja padaku ya jangan sungkan." ujar Embun.


"Oke Embun. Bye.... selamat malam." Rian pergi dan Embun berlalu untuk tidur karena merasa lelah.


Syukur deh kalau si Rian udah dapet uang makan, soalnya uangku sudah hampir habis gajian masih 2 hari lagi. Tapi di lihat-lihat si Rian tampan juga dan seperti bukan orang susah.


Pikir Embun.


Embun tertidur dengan ponsel di tangannya.


...----------------...


"Embun.... Nama yang unik dengan orang yang gak kalah unik juga. Tapi Embun baik banget padaku dan sangat perhatian. kisah Embun sangat menyedihkan aku termasuk beruntung memiliki keluarga lengkap dan sangat sayang padaku juga harta yang berlimpah tapi selama ini aku tidak pernah merasa puas dan kurang bersyukur. aku janji padamu Embun kalau aku sudah bertemu asistenku aku akan membuat kamu bahagia ya aku janji Embun." gumam Rian sambil berjalan menuju mess.


Sesampainya di mess Rian mendapati Anwar sudah tidur tapi sadar kalau Rian sudah kembali.


"Rian kunci pintunya, aku ngantuk sekali." ucap Anwar.


"Iya, aku sudah menguncinya karena melihat sendalmu sudah ada." Jawab Rian.


Anwar terlihat tidur dengan nyaman walaupun hanya beralaskan kasur yang sudah tipis yang tidak empuk sama sekali.

__ADS_1


"Aku harus banyak-banyak belajar dari orang-orang di sekitarku sekarang. tidak pernah mengeluh dan menjalani hidupnya penuh rasa syukur." gumam Rian dan kemudian juga tertidur di samping Anwar.


⬇️⬇️


__ADS_2