
"Ah aku tidak punya ponsel untuk mengambil bukti mana mungkin orang percaya padaku, bang Galuh selama ini selalu bersikap baik." gumam Rian.
"Aku harus pura-pura tidak tahu dulu dan harus baik padanya karena aku membutuhkannya. Dasar sialan padahal kak Alisha lagi hamil." Rian menahan marahnya.
Rian mengetuk pintu ruangan Galuh.
Toktok...
"Siapa? sebentar..." teriak Galuh.
"Dasar buaya sialan...." Rian mencoba untuk tenang.
"Silahkan masuk." panggil Galuh.
Rian masuk ke dalam ruangan Galuh dan sekretarisnya bersikap sok sibuk di hadapan laptopnya.
"Haii Bara kau disini?." tanya Galuh yang merasa kaget.
Pintar sekali kalian berakting.
Hati Rian.
"Iya bang."
"Duduklah. Icha tolong suruh OB bawakan minum untuk adikku." ucap Galuh.
"Makasih bang."
"Kamu lagi ngapain disini?. kamu kemana aja udah sebulan lebih menghilang dan tak bisa di hubungi." tanya Galuh.
"Aku tadinya hanya ingin merasakan hidup di luaran seperti apa tanpa namaku dan tanpa nama besar ayahku tapi aku malah apes kena jambret dan semua barangku hilang." jelas Rian.
"Hahaa hahaa... Bara.... Bara.... kamu ini lagian ada-ada saja sih ngapain malah pengen hidup susah gitu. Kamu harusnya bersyukur dengan apa yang kamu punya." ucap Galuh.
"Ya bang aku sudah langsung kena karmanya dan sebulan lebih ini aku hidup sengsara." Rian merasa sedih.
"Sampai Al khawatir padamu dan selalu menyuruhku untuk mencarimu di jakarta. Aku sibuk dan tidak sempat mencarimu lagian kan Jakarta juga luas." jelas Galuh.
Sibuk apanya? sibuk selingkuh disini?
Rian mencoba menahan marahnya.
"Iya tidak apa-apa bang."
"Lalu apa yang kamu butuhkan bilang padaku?" tanya Galuh.
"Apa bang Galuh ada ponsel? ponselku hilang." tanya Rian.
"Sepertinya ada." Galuh membuka lacinya dan memberikan ponsel bekas Galuh.
"Ini, masih jalan ko. Apa mau aku belikan ponsel baru?." ucap Galuh.
"Apa tidak ada yang lebih jelek dari ini?." ucap Rian.
"Kau ini malah ingin ponsel jelek." Galuh merasa heran.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mendalami peranku saja, masa orang susah ponselnya iphone begini." protes Rian.
"Bara.... kau benar-benar ya sudah hilang akal sehatmu itu." Galuh hanya menggelengkan kepalanya.
"Baiklah gak apa-apa ini juga, aku ambil ya. Dan tolong kak aku minta nomor ponsel asistenku Rian dan nomor kak Al juga." pinta Rian.
"Oke, biar aku catat." Galuh mencatat nomor ponsel Rian asisten Bara dan nomor Alisha juga. Galuh tidak curiga apa-apa pada Rian dan bersikap seperti biasanya. Padahal Rian merasa jijik lama-lama berada di ruangan Galuh tapi Rian berusaha bersikap biasa saja agar Galuh tidak curiga.
"Makasih ya bang. Sepertinya aku harus kembali sekarang. Bye bang..." pamit Rian.
"Apa kau tidak menunggu minumnya dulu?."
"Tidak aku tidak haus." teriak Rian dan berlalu pergi.
Rian berpapasan dengan Icha sekretaris Galuh dan merasa jijik sehingga tidak membalas senyuman Icha dan langsung pergi.
"Sialan memang bang Galuh, di hadapanku dan keluargaku begitu manis tapi di belakang malah bermain perempuan." gumam Rian.
"Ayo kita pulang. Aku sudah bertemu dengan temanku." ajak Rian pada Anwar.
"Lu lama banget sih." ucap Anwar.
"Iya makanya ayo kita pergi."
Mereka keluar dari kantor dan berlalu untuk pulang. Saat menunggu angkot Rian melihat konter dan berniat untuk menukar ponselnya ke yang lebih jelek.
"Eh tunggu dulu ya aku ke konter sebentar tunggu disini tungguin angkot." suruh Rian.
"Sana buruan jangan lama-lama." ucap Anwar yang sudah merasa bosan.
"Ayo aku sudah selesai." ajak Rian.
"Ngapain lu ke konter?."
"Ini. Beli hape second tadi temanku bayar hutang padaku." Rian berbohong.
"Ya bagus deh. Ayolah buruan panas banget mana lapar." ucap Anwar.
Mereka menaiki angkot kemudian naik bis untuk sampai ke mess mereka. Dan makan siang di warteg sekalian membeli makan untuk Embun, Monik dan Trian.
"Banyak sekali beli makannya." tanya Anwar.
"Ya aku beli juga untuk yang lainnya bukan hanya buat Embun saja." ucap Rian.
"Sippp bagus..." Anwar senang.
Mereka datang ke toko roti dan memberikan makan siang untuk Embun dan semuanya.
"Embun ini ada makan siang untukmu." ucap Rian.
"Emmm makasih ya," senyum Embun.
"Untuk kalian juga." seru Rian.
"Makasih Riaaan...." ucap Monik dan Trian.
__ADS_1
"Ya sudah selamat makan ya kalian aku sama Anwar pulang dulu." pamit Rian.
"Bye sayangku..." ucap Anwar pada Monik.
"Muaachh.... Muaachh...." Genit Anwar pada monik.
Rian merasa geli melihat kelakuan Anwar dan menariknya agar segera pergi.
"Ayolah jangan genit gitu, semua orang juga tahu kalau monik pacar lu." ucap Anwar.
"Dasar jomblo sirik banget padaku. hah..." Anwar naim ke lantai atas dan beristirahat.
Rian berada di depan tv di lantai bawah dan terduduk di sofa sambil mengaktifkan ponsel barunya itu. Rian mengeluarkan uang kembalian ponsel yang hampir 2juta lagi lumayan untuk pegangan.
"Lumayan untuk nanti pergi ke kampung sama Embun." ucap Rian.
Ponsel Rian sudah menyala dan langsung menghubungi kak Al yang sesari tadi ada di pikirannya.
"Aku harus menghubungi kak Al dan harua tahu bagaimana keadaannya.
Al : Siapa ini?
Rian : ini aku kak Al adikmu Bara.
Al : Baraaaa.... kamu kemana aja sih? dasar bocah gak tahu diri sebulan lebih gak ada kabar bikin semua orang khawatir saja.
Rian : Maafkan aku kak, aku kena apes, semua barangku hilang. Jangan bilang pada ayah ya aku menghubungimu. Aku sesang belajar jadi orang susah.
Al : Mana bisa kamu jadi orang susah Bara?. Aku ingin lihat.
Rian : Bisa, buktinya aku masih hidup sebulan lebih ini tanpa uang ayah.
Al : Baguslah, Aku akan bangga padamu kalau kau sampai berhasil tanpa uang ayah.
Rian : Aku sudah merasa berhasil kak, selama ini aku bekerja dan aku juga sudah mendapatkan gaji dari hasil kerjaku.
Al : Itu bagus sekali Bara aku senang mendengarnya.
Rian : Emmmh apa kak Al baik-baik saja? dan bagaimana hubunganmu dengan Bang Galuh?
Al : aku baik-baik saja Bar disini. Hubunganku juga baik kok.
Rian : Syukur deh kalau baik-baik saja. tadi aku ke kantor bang Galuh dan dapat ponsel ini dari bang Galuh.
Al : Ah kamu sama aja boong kalau minta ponsel pada bang Galuh.
Rian : Gajiku gak cukup kalau beli ponsel. hahaa...
Al : Hahaa dasar kamu ya, kamu akan tetap jadi anak kecil bagiku.
Rian : kak Al baik-baik ya disana. Aku matiin dulu ya telponnya. Bye kak Al i miss you...
Rian menutup telponnya dan merasa kasihan pada Al karena sudah di bohongi dan di khianati bang Galuh suami yang sangat di cintainya.
⬇️⬇️
__ADS_1