Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
INSECURE


__ADS_3

Keesokan harinya,


Bara melakukan meeting dan membahas semuanya, Bara curiga ada yang tidak beres. Para bawahannya sudah melakukan pekerjaan sebaik mungkin dan setelah diskusi yang panjang akhirnya Bara menyudahi meetingnya.


"Bubar semuanya. Kita sudah selesai meeting hari ini," ucap Bara.


"Tuan kenapa?" tanya Rian.


"Aku masih bingung tentang dana yang hilang tanpa jejak. Aku minta tolong padamu selidiki semuanya jangan sampai kecolongan seperti ini," suruh Bara.


Merekapun kembali keruangannya. Tapi Bara penasaran pada Galuh dan menghampiri keruangannya.


Bara mengintip dari luar tapi tidak bisa karena begitu tertutup. Bara langsung menyelonong masuk.


"Bang Galuh," panggil Bara.


Galuh yang sedang merapikan bajunya kaget melihat Bara masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu.


Untung aku sudah akhiri ciumanku dengan Icha, kalau tidak maka aku akan ketahuan Bara.


Batin Galuh.


"Haii Bara! Perlu bantuanku?" tanya Galuh.


"Hanya ingin menghampirimu saja," ucap Bara.


Bara duduk di kursi di hadapan Galuh.


"Bang Galuh tahu soal keuangan di kantor ini yang semrawut?" tanya Bara.


"Maksudmu apa?" gagap Galuh.


"Banyak sekali dana perusahaan yang lari gak jelas dan banyak catatan pengeluaran tapi tidak ada nota atau kwetansi sama sekali." jelas Bara.


"Emmmh selama ini baik-baik saja Bara, mungkin ada kesalahan pada manajement keuanganmu. Coba cek lah lagi," usul Galuh.


"Aku sudah meeting dengan semuanya dan memang ada yang mencurigakan. Sepertinya ada orang yang culas," ucap Bara.


"Selidiki lah dulu dengan benar nanti kalau memang kebenarannya sudah terlihat kita perjelas sama-sama," tegas Galuh.


"Baiklah aku pergi ke ruanganku." Bara pamit dan berlalu pergi. Bara menatap tajam Icha yang sedari tadi sok sibuk.


"Apa tuan sebaiknya tidak perlu memberi tahukan pada Galuh?" ucap Rian yang menunggunya di luar ruangan.


"Sekarang tugasmu selidiki bang Galuh, aku curiga padanya. Kalau memang dia pelakunya pasti dia tidak akan diam saja pasti akan melakukan sesuatu," jelas Bara.


"Baiklah tuan!" Rian paham.


Mereka pun kembali keruangannya.


...----------------...


Waktu menunjukan pukul 01 siang, Alisha datang lagi ke toko roti Embun bekerja.


"Eh kak kembali lagi bukannya masih lusa ya acara ulang tahunnya?" tanya Embun.


"Iya masih lusa kok tenang aja. Aku hanya ingin membeli roti," ucap Al.


"Oh silahkan kakak, maaf takutnya saya salah mencatat," ucap Embun.


Alisha membeli beberapa roti dan tentunya dengan tujuan yang sebenarnya bertemu dengan Embun dan mengobrol juga.


Alisha menyelesaikan pembayarannya.

__ADS_1


"Apa boleh kita mengobrol?" tanya Al.


"Emmh boleh aja sih kak tapi paling sebentar aja ya," jawab Embun.


"ayo duduk! santai aja jangan tegang," ucap Al.


"Kakak kenal saya?" tanya Embun.


"Kenal! aku kakaknya Bara," kata Al.


Embun tidak bicara karena merasa kaget untuk apa kakaknya Bara menemui Embun.


"Kakaknya Bara?" tanya Embun heran.


"Iya, kemarin aku sudah kesini sebenarnya mencarimu. Tapi aku kira kamu bukan Embun ternyata Embun itu kamu," jelas Al.


"Nama saya Lara Embun kak," Embun merasa malu berbicara dengan Al.


"Jangan tegang gitu ih santai aja," senyum Al.


"Tidak kak! saya hanya tidak menyangka kalau kakak akan menemuiku," ucap Embun.


"Aku penasaran padamu apalagi Bara tidak hentinya menceritakan tentangmu," ujar Al.


"Sepertinya Bara terlalu berlebihan!" seru Embun.


"Emmmh maafkan Bara ya Embun. Bara tidak bermaksud membohongimu, dia emang gitu orangnya melakukan dengan sesuka hatinya. Tapi dia orangnya baik banget loh penyayang juga," jelas Alisha.


"Saya sudah memaafkannya kak," jawab Embun.


"Eh lusa datang ya di ulang tahun suamiku. Ya pesta sederhana aja sih sebenarnya, Bara udah ajak kamu juga, kan?" tanya Al.


"Iya sudah kak," jawab Embun.


"Baiklah kak saya usahakan untuk datang," senyum Embun.


Embun merasa canggung berbicara dengan Alisha karena bisa di lihat dari penampilan mereka saja begitu berbeda. Alisha berpenampilan sederhana memang tapi semua yang dia pakai sudah pasti bermerek.


"Eh kalau gitu aku pulang dulu ya. Maaf banget ganggu kerjaan kamu," ucap Al.


"Tidak kak tidak apa-apa," ucap Embun.


"Eh iya satu lagi. Aku minta nomor ponselmu," pinta Alisha menyodorkan ponselnya.


Embun menuliskan nomornya pada ponsel Al. "Ini kak sudah,"


"Oke, makasih ya. sampe ketemu lagi lusa." Alisha pergi.


Embun tidak hengkang dari tempatnya berdiri dan masih merasa kalau kejadian itu hanya mimpi di datangi kakaknya Bara.


"Hey! kenapa bengong? siapa tadi?" tanya Monik yang menyadarkan Embun dari lamunannya.


"Eh ... itu kakaknya Bara," jawab Embun.


"Oh pantesan begitu cantik dan elegan. Gayanya juga waw banget mobilnya juga mewah lagi," puji Monik.


"Iya." Embun berlalu masuk ke dalam toko.


"Embun tunggu. Tunggu aku ..." Monik mengejar Embun.


"Embun kenapa Mon?" tanya Trian yang menghentikan langkah Monik.


"Aah kayanya aku salah ngomong nih tadi sama Embun," ucap Monik.

__ADS_1


"Salah ngomong apa sih?" tanya Trian yang tidak tahu apa-apa.


"Jadi tadi tuh ada kakaknya si Bara nemuin Embun. Penampilannya kan keren banget, bajunya juga bermerek aku puji dia di hadapan Embun. Sepertinya Embun minder," jelas Monik.


"Kamu sih," ketus Trian.


"Kan aku keceplosan," ujar Monik.


"Aku yakin kalau Embun punya perasaan lebih pada Bara. Tapi kan kita tahu gimana Embun dengan masalalunya yang trauma karena di hina oleh keluarga mantannya," jelas Trian.


"Iya bener. Aduh gimana dong aku gak enak sama Embun." Monik dan Trian menghampiri Embun.


"Embun maafin aku ya. Aku gak bermaksud membuatku tersinggung," mohon Monik.


"Kamu kenapa sih Mon? itu memang kenyataannya mereka memang keluarga berada pasti penampilannya juga akan jauh di atas kita," jelas Embun.


"Tapi jangan marah ya padaku?" mohon Embun.


"Siapa sih yang marah sama kamu Mon? engga ada ih," senyum Embun.


"Aaah makasih loh ..." ucap Monik memeluk Embun.


Mereka sudah mengerti satu sama lain 2 tahun bersama membuat mereka sudah seperti saudara sendiri.


Waktu menunjukan pukul 06 sore,


Icha datang ke toko roti.


"Haiii Trian ..." sapa Icha yang ternyata teman SMA Trian waktu di Garut.


"Haiii ... ya ampun kenapa baru menemuiku sekarang sih?" tanya Trian.


Embun dan Monik yang ada disana hanya tersenyum saja melihat Icha.


"Aku sibuk. Aku kesini ingin memesan cake ulang tahun untuk pacarku. Aku ingat kalau kamu bekerja disini," jelas Icha.


"Oh boleh banget. Nih pilih aja mau yang kaya gimana?" ucap Trian.


"Aku liat-liat dulu ya," senyum Icha.


Icha begitu ramah juga murah senyum. Tidak akan pernah ada yang menyangka kalau Icha berpacaran dengan suami orang tepatnya suami Alisha kakaknya Bara.


Icha melakukan pembayaran dpnya dan kemudian berlalu pergi dengan taxinya.


"Itu temen kamu sekarang beda ya?" tanya Monik.


"Iya, sekarang dia sudah kerja di kantoran. Karena waktu lulus SMA dia pergi ke sini ke kota dia bekerja sambil kuliah," jelas Trian.


"Wah keren ya luar biasa," puji Embun.


"Tapi aku aneh melihat body nya seperti orang yang sudah menikah saja. semok dan juga jadi bohay banget seksi, beda dengan waktu pertama kemari menemuimu," cetus Monik.


"Kau ini Mon. Mungkin karena dia senang sekarang banyak uang," timpal Trian.


"Sini biar aku berikan pesanannya pada mas Pras," pinta Embun.


"Nih."


Embun berlalu ke belakang dan memberikan orderannya pada mas Pras tapi Embun merasa aneh setelah membaca pesanannya.


"Nama pacarnya teman Trian Galuh? dan pesan untuk lusa juga? kakak Bara juga suaminya namanya Galuh? untuk lusa juga, kan cakenya? apa mungkin Galuh orang yang sama? ah nama Galuh pasti banyak. Tapi kenapa bisa kebetulan ya nama sama hari ulang tahunnya sama?" pertanyaan-pertanyaan hinggap di kepala Embun.


⬇️⬇️

__ADS_1


__ADS_2