Tentang CINTA (Embun & Bara)

Tentang CINTA (Embun & Bara)
Rian salah paham


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu seharian Embun sibuk di toko begitu juga dengan Rian. Sampai saatnya mereka selesai bekerja dan Embun akan pulang ke kontrakannya tapi Embun tidak mendapati Rian di depan toko seperti biasanya.


"Kemana ya Rian biasanya udah nungguin aja disini?" Gumam Embun.


"Aku pulang duluan ya Embun." Pamit Monik.


"Jangan nungguin si Rian dia udah tidur pulang aja." Suruh Anwar.


"Siapa juga yang nungguin Rian? sok tau deh aku mau pulang sendiri kok." Ketus Embun.


"Cie baper ...." Ledek Anwar. Mereka pergi meninggalkan Embun sendiri dan Embun memutuskan untuk pulang sendiri.


"Eh Embun belum pulang?" Tanya mas Pras yang baru keluar dari toko.


"Baru mau mas, aku duluan ya." Ucap Embun.


"Ya udah mas anterin ya, mas juga mau beli makan malam sekalian." Ujar Mas Pras.


"Ah gak usah mas nanti ngerepotin, aku pulang sendiri aja."


"Enggak ngerepotin kok, ayolah!" Seru mas Pras.


"Baiklah kalau tidak merepotkan." Senyum Embun.


Mereka berjalan bersama dan mengobrol juga tapi pikiran Embun entah kemana melayang memikirkan Rian kenapa tidak ada malam ini seperti malam-malam biasanya.


"Emmm kamu pacaran sama Rian?" Tanya mas Pras hati-hati.


"Tidak mas, kita berteman baik saja." Jawab Embun.


"Mas lihat seperti berpacaran kalian begitu dekat sekali." Ujar mas Pras.


Embun hanya tersenyum saja tanpa menjawab lagi dan mereka sampai di depan kontrakan Embun.


"Makasih ya mas jadi ngerepotin sampai di anterin kesini." Ucap Embun.


"Iya sama-sama," mas Pras merasa gugup.


"Kalau begitu aku masuk dulu ya." Ucap Embun.


"Tunggu Embun, sebenarnya ada yang aku ingin bicarakan." Gugup mas Pras.


"Apa mas?"


"Emmmh sebenarnya mas suka sama Embun udah dari lama tapi mas baru berani ungkapin semuanya sekarang." Ucap mas Pras.


"Suka?"


"Iya Embun, bagaimana jawabanmu?" Tanya mas Pras.


Rian yang dari tadi mengikuti Embun dan mas Pras mendengarkan pembicaraan mereka di sisi lain. Rian mendengar ungkapan hati mas Pras dan seakan harapannya luntur karena yakin kalau Embun akan menerima cinta mas Pras. Kemudian Rian memutuskan kembali ke mes tanpa mendengarkan jawaban Embun terlebih dahulu.


"Emmmh maaf mas, selama ini aku sudah menganggap mas seperti kakakku sendiri dan aku tidak punya perasaan lebih." Jawab Embun.

__ADS_1


"Ya tidak apa-apa Embun, malahan mas merasa lega setelah mengungkapkan perasaan mas ini." Ucap mas Pras.


"Aku harap ke depannya tidak akan berubah mas walaupun aku tidak bisa membalas perasaan mas." Ucap Embun.


"Santai saja Embun aku tidak apa-apa." Pras mencoba tegar. "Kalau begitu aku pamit pulang, selamat istirahat."


Mas Pras berlalu pergi meninggalkan kontrakan Embun dan Embun merasa tidak enak karena sudah menolak mas Pras. Embun masuk ke dalam kontrakannya dan berbaring di kasur.


"Hemmm kenapa jadi begini ya? malah mas Pras yang nembak aku. Rian sepertinya memang tidak menyukaiku malam ini saja dia tidak datang. Aaah kenapa aku malah berharap pada Rian?" Gumam Embun.


Embun menarik napas panjang. "Sudah Embun jangan pikirkan Rian, jangan berharap lebih."


Embun beranjak dari kasurnya dan kemudian berlalu ke kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai Embun langsung tertidur tanpa makan malam karena merasa harinya begitu melelahkan dan hatinya yang terasa tidak karuan.


...----------------...


Rian kembali ke mes tanpa menemui Embun terlebih dulu karena mendengar mas Pras mengungkapkan perasaannya pada Embun dan menyangka kalau Embun juga punya perasaan pada mas Pras.


"Hemmm ternyata Embun pulang bersama Pras dan tidak menungguku. Apa mungkin Embun menyukai Pras dan mereka sekarang sudah jadian?" Gumam Rian.


"Ya ampun, pikiranku terganggu sekali." Rian berlalu ke kamar dan menjatuhkan diri di atas kasur.


Tring.


Rian mendapatkan pesan dari kak Al.


[Bara pulanglah ayah sedang sakit dan juga sangat merindukanmu.]


Isi pesan dari kak Al.


Anwar belum kembali dari mengantar Monik dan Rian juga tidak bisa tidur kembali memikirkan semuanya.


Trek.


Pintu terbuka Anwar baru pulang.


"Lu gak tidur?" Tanya Anwar.


"Tidak."


"Aku pikir lu tidur makanya tadi aku bilang pada Embun untuk tidak menunggu." Ucap Anwar.


"Tadi Embun menungguku?" Rian penasaran dan terbangun dari tidurnya.


"Tidak tahu juga sih, tapi gelagatnya mengatak seperti itu. seperti menunggu seseorang." Jelas Anwar.


Embunkan pulang bersama Pras berarti dia memang menunggu Pras kalau memang menungguku pasti dia akan nanyain aku kan pada Anwar.


Pikir Rian.


"Hah sudahlah aku mengantuk mau tidur." Rian memunggungi Anwar.


"Kenapa sih lu bertingkah aneh gitu? lagi ada masalah apa sama Embun? kalian berantem?" Anwar merasa penasaran.

__ADS_1


Rian tidak menjawab Anwar dan pura-pura tidur saja.


"Emang lu orang aneh!" Seru Anwar.


Keesokan harinya,


Rian terlihat tidak bersemangat seperti biasanya tidak banyak bicara dan lebih banyak bengong. Pikirannya sedang kalut memikirkan Embun dan Pras. Bahkan tidak bicara juga dengan Anwar sampai sore saat toko tutup pikirannya masih tentang Embun.


"Aku harus menemui Embun!" Seru Rian.


Rian menuju toko Embun dan melihat dari jauh Embun sedang mengobrol dengan Pras di dekat pintu karena bagian depan toko semuanya kaca jadi terlihat dari luar aktifitas di dalam.


"Coba lihat Embun sedang bicara dengan Pras. Ah sudahlah mungkin Embun memang sudah jadian dengan Pras." Rian memilih kembali ke mes tanpa melanjutkan tujuannya untuk bertemu Embun.


Sementara itu yang Embun lakukan hanya mengobrol biasa dengan mas Pras.


"Embun mau nitip jajanan gak? mas mau ke minimarket?" Tanya Mas Pras.


Seperti biasanya kalau ada yang pergi keluar mereka suka menitip sesuatu.


"Sebentar mas aku tanyakan yang lain dulu." Embun berlalu untuk menayakan pda yang lainnya. Tidak lama kemudian Embun kembali dan memberikan uang untuk nitip jajanan.


"Kita bertiga nitip Ice cream aja ya mas. Seperti biasa" senyum Embun.


"Oke ...." Mas Pras berlalu pergi.


Tidak ada hal spesial diantara mereka dan mereka juga bisa bersikap biasa saja tanpa terjadi apa-apa. Rian salah paham dan juga tidak berani menanyakan semuanya pada Embun.


"Si Rian kenapa ya dari kemarin tidak ada menemuiku?" Embun cerita pada Monik dan Trian.


"Cieee .... Merasa kangen ya?" Goda Trian.


"Apasih? ya aku hanya merasa ada yang aneh aja." Elak Embun.


"Telpon saja Embun." Ide Monik.


"Tidak!"


"Kamu sendiri yang tadi nanyain? aku suruh nelpon Rian malah gengsi." Ledek Monik.


"Iih siapa yang gengsi? sudah jangan di bicarakan lagi." Embun cemberut.


"Kenapa sih Embun Monik?" Heran Trian.


"Aku juga tidak tahu. Sepertinya mereka sedang marahan atau ada masalah mungkin." Bisik Monik pada Trian.


"Jangan bergosip!" Seru Embun.


"Coba kamu nanti tanyakan pada Anwar saja." Bisik Monik.


Aah si Rian bener-bener ganggu pikiranku? dia kenapa ya? Apa harus aku menghubunginya lebih dulu? Ih gak mau lah aku malu kalau harus menghubungi Rian lebih dulu.


Batin embun.

__ADS_1


⬇️⬇️


__ADS_2