
"Cepatlah jalannya ini sudah mau maghrib." ajak Embun.
"Masih terang kok Embun."
"Ini di kampung bukan di kota kalau maghrib itu harus segera masuk rumah. Nanti di gondol kolong wewe" Embun menakuti Rian.
Rian bergeser kearah Embun dan berpegangan pada pundak Embun. "Jangan kau menakutiku!"
"Kau tahu rumah kosong itu tuh," tunjuk Embun pada rumah kosong di sebrang jalan yang di lewatinya. "Penghuninya suka menampakan diri pada orang baru." Bisik Embun.
"Embun kau tahu aku ketakutan tapi malah semakin menjadi menceritakan hal seperti itu." Rian merasa ketakutan.
"Hahh kau orang baru disini pasti mereka akan menyukaimu. Lari ...." teriak Embun berlari meninggalkan Rian.
"Embun tunggu aku ..." Rian berlari menyusul Embun.
Mereka berlari sampai ke depan rumah mang Didin, napas mereka terengah-engah karena cape habis berlarian.
"Hahaa .... hahaa ... kau ketakutan sekali sepertinya? wajahmu memprihatinkan." Embun tertawa puas.
"Kau ini ternyata mengerjaiku ya?" kesal Rian.
Bi Wati keluar dari rumahnya, "kalian sudah disini ternyata?"
"Iya bi, ini Rian yang akan menginap disini. Aku titip ya bi sekarang aku mau pulang dulu karena udah mau gelap." ujar Embun.
"Gak masuk dulu Embun?" Tanya bi Wati.
"Udah mau maghrib bi, aku pulang saja." Jawab Embun pada bi Wati.
"Bye Rian hati-hati ya disini jangan sampai penghuni ghaib menyukaimu." bisik Embun yang menakuti Rian.
"Embun kau keterlaluan ya menakutiku ...." kesal Rian.
Embun berlalu pergi pulang meninggalkan rumah mang Didin. Sesekali menengok ke belakang dan memastikan kalau Rian akan baik-baik saja.
"Hahaa .... puas sekali mengerjai si Rian." Embun tertawa dan berlari menuju rumahnya.
Waktu maghrib tiba suasana sudah mulai berbeda, suara-suara hewan malam sudah mulai bersautan beda dengan di kota sampai tengah malampun masih bising dengan suara kendaraan.
"Rian ayo kita pergi ke mesjid." Ajak mang Didin.
"Iya ayo mang aku juga udah siap." Jawab Rian.
Rian dan mang Didin pergi ke masjid di ikuti oleh kedua anak mang Didin juga. Sepanjang perjalan Rian merasa merinding karena apa yang Embun katakan tadi soal mahluk lain tapi perasaan takutnya berubah saat tiba di masjid dan banyak orang juga disana.
Semua orang menyapa Rian dan berbincang-bincang setelah sholat maghrib menunggu sholat isya. Hanya kumpulan bapak-bapak dan anak-anak yang ke masjid tidak tahu dengan anak mudanya entah kemana.
__ADS_1
Rian hanya menyimak saja dan sesekali bicara saat di tanya. Setelah selesai isya Rian dan mang Didin pun pulang kembali ke rumah.
"Kamu tidur disini Rian." tunjuk Mang Didin pada kamar yang berukuran 2×2 itu.
"Baik mang." angguk Rian.
"Disini duduk, kita ngobrol-ngobrol dulu sambil minum teh." Ajak mang Didin. "Bu buatin teh panas buat kita." Teriak mang Didin.
Kemudian bi Wati membawakan teh panas dan singkong goreng makanan khas kampung.
"Cuman ada itu saja disini mah" Ucap bi Wati.
"Ah tidak apa-apa bi," senyum Rian.
"Kamu kapan mau menikah dengan Embun?" Tanya mang Didin.
"Emmmh kita tidak mau buru-buru mang, doakan saja yang terbaik untuk kita. Lagi pula aku harus mengumpulkan uang dulu, aku lihat disini menikah sampai 2 hari 2 malam." Jelas Rian.
"Ah itumah gimana orang nya aja, tidak semua orang seperti itu. apalagi kita orang biasa lebih baik uangnya untuk kepentingan lain daripada di buat pesta." Jelas mang Didin.
"Iya, itu gimana mampunya orang saja tidak di haruskan." Tambah bi Wati.
"Jadi kamu jangan merasa terbebani ya Rian, kalau sudah ingin menikahi Embun bilang saja kita tidak akan minta macam-macam yang terpenting kebahagiaan untuk Embun." Jelas mang Didin.
"Iya mang."
Anak-anak mang Didin sudah pulang dari masjid mengaji. Mereka berlalu untuk tidur dan Rian juga sudah merasa ngantuk dan tertidur setelah seharian cape.
Keesokan harinya, Rian pulang menuju rumah Embun dan menikmati pagi yang segar melewati kebun dan pesawahan. Orang-orang sudah sibuk dengan aktifitas paginya. Mereka menyapa Rian yang melewatinya, memang orang kampung terkenal ramah kepada setiap orang walaupun tidak di kenalnya.
"Kamu masih hidup?" Ledek Embun.
"Kamu berharap aku mati semalam?" Rian balik nanya.
"Aku pikir ada mahluk lain yang naksir padamu dan membawamu ke alamnya." Embun bercanda.
"Aku gak takut! ..." seru Rian.
Embun hanya tertawa mengingat Rian lari terbirit-birit kemarin setelah Embun menakutinya.
"Gak usah menertawakanku ya, awas kamu aku jitak." ancam Rian.
Embun hanya tertawa dan Rian merasa senang melihat Embun tertawa lepas sehingga kecantikannya begitu terlihat.
"Kita harus siap-siap untuk pulang nanti siang." jelas Embun.
"Padahal Aku masih betah berada di kampung." ujar Rian.
__ADS_1
"Ya tinggal saja disini kalau merasa betah biar aku kembali sendiri saja." Embun masuk ke dalam kamarnya dan mulai merapikan bawaannya.
"Gak mau kalau gak sama kamu Embun. Aku ikut kembali bersamamu." Teriak Rian.
"Makanya bereskan barangmu awas nanti ada yang ketinggalan." balas Embun berteriak.
Mereka membereskan barangnya dan Emak juga menyiapkan oleh-oleh kampung untuk di bawa ke Jakarta. Ada rengginang, dodol, wajit, mangga muda yang baru di petik dan semua yang khas kampung Emak berikan untuk Embun dan Rian.
"Kemana kita sebelum pulang? lumayan nih masiha da waktu lama." Tanya Rian.
"Emmmh ...." Embun berpikir lama. "Kita jalan-jalan aja sekitar sini yu, ke atas kamu belum tahu kan?" Tanya Embun.
"Iya ayo boleh," Rian setuju.
Mereka berjalan-jalan menyusuri jalan selebar satu mobil saja.
"Kamu tahu Embun, aku senang berada di kampung seperti ini. Suasananya enak dan membuat hatiku tenang." Senyum Rian.
"Memang tempat seperti ini yang terbaik sih."
"Embun ayo kita berselfie" ajak Rian.
"Boleh."
Mereka berfoto-foto untuk kenang-kenangan. Setelah merasa puas mereka kembali ke rumah emak dan berpamitan untuk kembali ke Jakarta.
"Aku kebelet, tunggu sebentar ya." Embun berlalu pergi ke kamar mandi.
Selagi Embun di kamar mandi Rian berniat memberikan uang pada emak dan abah. "Emak, ini ada sedikit uang untuk Emak." Rian menyodorkan uang.
"Tidak usah, simpan saja." Tolak Emak.
"Gak apa-apa mak ini buat emak sama abah, simpanlah untuk tabungan tapi jangan beritahu Embun ya mak." Rian memaksa Emak untuk menerima uang itu.
"Iya makasih Rian Emak terima tapi bakalan Emak simpen kalo-kalo ada kebutuhan mendesak." Emak berlalu ke kamar dan menyimpan uangnya agar Embun tidak tahu.
"Ayo pergi aku sudah selesai." ucap Embun yang tiba-tiba datang.
"Emak, abah aku pergi ke Jakarta lagi ya, kalian baik-baik disini kalau ada apa-apa hubungi aku." pamit Embun dan memeluk mereka.
"Iya Embun, kamu juga hati-hati di jalan kalau sudah sampai hubungi kita." Pesan Abah. "Nitip Embun ya Rian jagain dia." Pesan abah pada Rian.
"Baik bah. Terimakasih ya untuk semuanya selama aku disini." Rian membungkukan badannya.
"Itu mang Didin sudah datang untuk mengantar kalian." ucap emak.
Mereka pun berlalu kembali ke Jakarta kemungkinan sampai nanti malam. Sepanjang perjalanan mereka tidak hentinya membicarakan apa yang mereka lalui selama di kampung.
__ADS_1
⬇️⬇️