
Satu bulan kini telah berlalu, kara masih berada dalam rumah sakit, keadaannya tidak memungkinkan untuk di bawa pulang kerumah, setiap harinya bara selalu menemani sang istri menjalani perawatan dalam rumah sakit tersebut.
Bara menyentuh tangan kara dengan lembut seraya mengecupnya sesekali, sungguh ia merindukan istrinya, bara sangat menyesal karena telah mendiamkan dan mengacuhkan kara pada saat kara memintanya untuk berhubungan baik kembali dengan ibunya, jujur saja bukan bara tidak mau tapi bara sudah sangat kecewa atas segala sesuatu yang ibunya lakukan, dari ingin memisahkannya dengan kara, sama saja ingin menghancurkan kebahagiaan dalam hidupnya, perilaku ibunya itu sudah sangat keterlaluan, telah memperlakukan kara dengan sangat buruk, bahkan sekarang ibunya ingin mencelakai istrinya, sungguh apa yang telah Laurent lakukan sudah sangat keterlaluan, sehingga bara sudah tidak mau lagi bertemu dengan sang ibu.
seandainya saja yang mencelakai istrinya bukanlah ibunya, pastinya bara sudah menyiksa orang tersebut tanpa ampun bahkan mereka ingin segera menemui kematian sangking tidak kuasanya mereka menahan siksaan yang di berikan oleh bara, tetapi ini ibunya,,, bagaimana mungkin bara menyiksa ibunya? wanita yang telah melahirkannya dan membesarkannya dengan kasih sayang serta cinta kasihnya. Bara tidak bisa berbuat apa2 salain menyerahkan urusan ibunya kepada ayahnya. biarlah ibunya itu mendapatkan hukuman atas perbuatannya dari ayahnya itu.
"Sayang" lirih bara tanpa sadar bulir air mata jatuh membasahi wajah tampannya "Bangunlah,,, aku sangat merindukanmu".
"Apa kau tidak merindukan suamimu ini?" bara tersenyum sembari meneteskan air mata dengan deras "Maafkan aku sayang,, maafkanlah suamimu ini... seandainya saja aku mendengarkan ucapan mu pada saat itu, kau memintaku untuk menjalin hubungan baik dengan ibuku,, seandainya aku menuruti perkataan mu pasti semua ini tidak pernah terjadi,,," sambungnya. kini nada bicara bara begitu menyakitkan. "Jika aku bisa, aku ingin menggantikan posisimu berada di sini, aku tidak sanggup melihatmu seperti ini sayang,, bangunlah".
Bara menggenggam tangan kara "Aku memerintahkan mu untuk bangun kara! cepat bangunlah,,! kau menyiksaku,, aku tidak sanggup jika kau terus menerus diam dan mencampakkan ku seperti ini.." sambungnya.
Ken yang melihat tuan mudanya sangat tersiksa, ia pun juga merasakan hal yang sama, seumur2 Ken mengenal bara, ia tidak pernah melihat tuan mudanya itu menangis, bahkan ia terkenal kejam berdarah dingin, tapi sekarang ken merasa sangat kasihan melihat tuan mudanya itu tampak seperti orang yang tidak bernyawa, tatapannya kosong, bahkan sekarang ia tampak terlihat kacau dengan bulu2 lebat yang mulai tumbuh di dagunya. sekarang tuan mudanya itu seperti tidak memperhatikan penampilannya.
"Tuan..." Ken menyentuh bahu bara. bara menatap Ken dengan tatapan dingin seperti biasanya, ia mencoba terlihat kuat padahal ia sudah terlihat seperti orang yang sangat menderita. bara berdiri ia keluar dari ruangan tersebut.
"Jaga nona muda kalian dengan nyawa kalian!" titah bara sembari berlalu dari rumah sakit tersebut.
Daniel yang baru datang, ia bersimpangan dengan sang kakak " Kau mau kemana kak?" ujarnya, tanpa mendapatkan balasan darinya.
__ADS_1
"Ken!" panggil Daniel
"Maaf tuan, saya tidak tau" ujarnya.
yaa mau tidak mau Daniel harus mengikuti kemana perginya kakaknya itu. Daniel takut jika bara sudah marah maka ia akan melampiaskan kemarahannya kepada para tawanan di ruangan bawah tanah. kemarahan dari kakaknya itu tidak bisa di hentikan.
...
sementara di sisi lain seorang pria paruh baya yang berusia 56 tahun kini tertawa dengan nada mengerikan. senyuman liciknya, aura menyeramkan pada dirinya mampu membuat orang menelan ludah susah payah.
Louis mengambil pisau di meja, ia sesekali melirik istrinya sembari memperlihatkan senyuman iblis mengerikan "Oh sayang, apa kau sudah tidak sabar mendapat siksaan yang ku berikan padamu? kenapa kau terlihat tenang sekali? bahkan biasanya kau meronta ronta ingin ku lepaskan. ada apa denganmu hemm? apa kau merencanakan sesuatu? kau ingin lari dariku?" nada bicara luois kini berubah dingin nan datar. sepertinya membacakan aura tersendiri.
"Bedebah sialan??!! dasar psycopath gila!!!" teriak Laurent.
"Brengsek!!! iblis gila!" Laurent meludah sehingga mengenai wajah tampan pria paruh baya yang masih terlihat bugar itu.
"Haha kau benar sayang.. apa kau tidak mengenal suamimu ini? ya kau benar, aku ini memeng brengsek, bajingan dan Yaaa iblis tapi ku gunakan kebrengsekanku ini untuk menyiksa orang orang sepertimu...!" sambungnya "Kau tau bukan jika jiwa psycopath ku masih ada? aku bisa saja membunuhmu tapi masalahnya aku tidak bisa karena aku ingin menghukumu agar kau jera dan tidak akan melakukan kesalahan lagi.!! kau dengar?!"
Laurent menggertakkan giginya "Aku sangat membenci wanita itu! karenanya bahkan suamiku menyiksaku dan putraku mencampakkan ku?!! benalu itu ku pastikan akan mati di tanganku!!"
__ADS_1
Loius menyeringai "itu tidak akan pernah terjadi!" kini wajah Laurent berada tepat di hadapan luois, mereka bertatapan dengan tatapan permusuhan. tanpa sadar laurent mengerang, tangannya penuh dengan darah akibat goresan yang di berikan oleh suaminya "bagaimana? apa ini sakit?" luois kembali menyayat Nadi wanita itu sehingga mengeluarkan banyak darah, sedangkan Laurent hanya berteriak meminta ampun.
luois sangat lihai menggunakan pisau, bahkan ia bisa membuat musuhnya takut dengan senyuman mautnya, ia juga bisa menyiksa musuh menggunakan pisau tanpa membuat musuh mati konyol begitu saja, itulah hebatnya luois dalam menggunakan pisau.
"mungkin hari ini permainan nya berakhir sampai disini, kita mulai besok lagi,, bagaimana sayang? aku yakin kau pasti sangat setuju bukan?" ujar luois.
tatapan permusuhan yang di berikan Laurent membuat luois tersenyum penuh arti "Baiklah kalau begitu,aku akan panggil Sam untuk mengobati lukamu" nada bicara luois mulai dingin.
luois pun pergi dari ruangan siksaan tersebut.
ya selama sebulan ini, luois tidak ada henti hentinya menyiksa Laurent, dari memukul, menyayat bahkan menjadikan Laurent seperti pembantu di rumah tersebut. luois ingin membuat Laurent sadar atas perilakunya selama ini. tapi lauret makin menjadi jadi bahkan sekarang ia sangat membenci kara dan memiliki niat jahat untuk membunuh kara.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk membalas dendam, aku pastikan akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" ujar Laurent dengan memperlihatkan senyum iblisnya.
....
bersambung~
eum kira2 apa yang akan di lakukan oleh Laurent ya gays?
__ADS_1
jadi penasaran nih sama kelanjutan ceritanya π€£ makin seru aja nihπ
btw jangan lupa like komen dan vote ya gays agar author selalu bersemangat buat update chapter terbaru buat kalian π€ terimakasih ππ» semoga kalian suka π