
sementara di sisi lain, pria setengah baya itu menunjukkan ekspresi wajah yang sulit di artikan, aura kemarahan kini sudah melekat pada dirinya, wajah tampan yang tidak lagi muda menunjukkan kemisteriusan yang sulit di tebak.
"Dasar bodoh!!! Cari dia sekarang!! temukan dia atau kubunuh kalian semua karena tidak becus menjaga seorang wanita!!" teriakan pria tersebut menggema diseluruh ruangan, nada tinggi serta kemarahan yang sudah mencapai ubun2. membuatnya ingin membunuh orang, jiwa psycopath nya meronta ronta ingin menyiksa seseorang.
"Baik tuan Louis" ujar sang pengawal.
luois pun menggertakkan giginya, sorot matanya yang tajam mampu menembus mata seseorang, ya walaupun Luois tidak lagi muda tetapi ia masih sangat berwibawa di tambah tubuhnya yang gagah menambah kesan karisma pada dirinya.
"Cari dia! temukan dalam keadaan hidup!! aku ingin wanita itu segera!! jangan pulang sebelum kau menemukannya atau kau akan mati!!" titahnya.
para pengawal pun menelan ludah susah payah, sembari mengangguk, untuk segera pergi mencari Laurent.
Ntah kemana wanita itu pergi, yang jelas luois ingin dirinya, jangan sampai Laurent kembali berulah menyakiti kara lagi.
luois tidak akan membiarkan itu terjadi, luois akan melindungi kara, sebelum Laurent membunuh menantunya itu.
"*Aku akan membunuhnya! kau dengar?! aku akan membunuh kara dengan tanganku sendiri*" ujar Laurent.
"*Sebelum kau membunuhnya, aku sendiri yang terlebih dulu membunuhmu!*" geram luois.
kata2 tersebut terngiang2 di telinga luois hingga membuatnya takut jika Laurent nekat membunuh kara. segitu bencinya Laurent kepada kara hingga ingin sekali membunuh menantunya itu.
bagaimana mungkin luois tidak bimbang dan gelisah, sedangkan Laurent adalah wanita yang cerdik dan juga licik. ia adalah seorang pembunuh bayaran, hal itulah yang membuatnya nampak begitu mudah membunuh target. luois sangat takut jika hal buruk kembali menimpa kara, Louis akan melindungi kara dengan sekuat tenaga untuk putranya. luois tau bara sangat mencintai kara dan sangat bahagia bersama dengan kara, hal itu lah yang membuat luois ingin melindungi kara karena Luois tidak ingin bara menderita. luois melakukan ini semua hanya untuk kebahagiaan putra sulungnya, sebagai tanggung jawab terakhir seorang ayah kepada anaknya.
Setelah apa yang ia lakukan dulu terhadap dua putranya, yang yang hanya diam melihat ayahnya melakukan penyiksaan kepada putranya sebagai pembelajaran agar menjadi pria yang kuat tangguh dan pemberani. untuk meneruskan usaha sebagai ketua mafia turun temurun dan pengusaha sukses Italia serta berbagai negara.
....
pagi hari pun tiba, seperti biasa kara hanya berada di kamar, sungguh ini membuatnya bosan karena tidak pernah bisa mengerjakan apapun. bara melarangnya melakukan pekerjaan rumah, selain itu kara tidak pula di ijinkan untuk berkebun yang akan membuatnya kelelahan. lalu apa yang bisa kara lakukan selain makan, tidur dan menganggur?? huh membosankan!.
kara keluar dari kamar, ia melihat pak Han sedang mengawasi para pelayan mengerjakan pekerjaan rumah. selain itu pak Han juga mengawasi para pengawal berjaga dengan ketat di area belakang rumah, samping dan depan. kara merasa heran, melihat begitu banyak pengawal yang menjaga rumahnya.
selain sebagai kepala pelayan, pak Han juga di tugaskan untuk mengawasi gerak gerik serta pergerakan yang mencurigakan dari para pelayan dan pengawal, takutnya ada yang menjadi penghianat.
Yaah walaupun usia pak Han tidak lagi muda, tetapi ia masih sangat segar, Sehat dan gagah, terlebih juga pandai bela diri. ia sudah bekerja sebagai kepala pelayan saat bara masih kecil hingga saat ini, bisa di bilang usia pak Han dan luois setara.
Pak Han melihat nona mudanya sedang memperhatikannya dan para pelayan serta para pengawal yang lain.
"Nona,, apa yang nona lakukan disini? tuan melarang anda turun ke bawah, tuan meminta kami untuk menjaga nona agar Nona tetap beristirahat di kamar." ujar pak Han.
__ADS_1
"Maafkan aku Pak Han, aku sangat bosan terus menerus berada di kamar." gerutu kara.
"Lalu apa yang nona inginkan?" tanya pak Han.
pertanyaan pak Han membuat kara melebarkan matanya dan berantusias untuk pergi berjalan-jalan, sudah lama kan kara tidak keluar rumah. "Pak Han,, aku ingin berjalan2"
"Maaf nona, tuan melarang kami mengajak anda berjalan2. di luar banyak sekali bahaya, kami takut melakukan kesalahan karena menentang perintah tuan muda yang menyebabkan kami kehilangan nyawa." jelas pak Han.
"Maksud pak Han?Bahaya apa?" tanya kara, ia begitu penasaran dengan apa yang telah pak Han katakan.
"Maaf nona, kami tidak bisa memberitahu. yang jelas tugas kami adalah selalu menjaga nona dan menjaga keselamatan janin yang ada di perut nona, jika kami melakukan kesalahan maka tuan tidak akan segan2 untuk meledakkan kepala kami.." setelah mendengar ucapan pak Han membuat kara binggung, sebenarnya apa yang terjadi? sehingga bara begitu posesif terhadap dirinya,,
ntahlah kara tidak mau banyak berfikir apalagi stress, mungkin saja bara melakukan semua ini karena ia sedang mengandung anaknya, tetapi apakah harus dengan ancaman kepada semua orang jika tidak bisa mengawasinya, maka bara akan meledakkan kepala yang lain? bara memang sangat berlebihan bukan?.
kara kembali menuju kamar, dari pada ia bosan tidak di ijinkan beraktivitas, lebih baik ia beres2 kamar saja,, ide yang bagus dari pada menganggur dan hanya makan tidur saja.
kara mulai membersihkan kamar, dari mengelap seluruh ruangan, membersihkan lockinCloset,membersihkan tempat tidur. laci dan lain sebagainya. tidak lama kemudian semuanya telah selesai. dan kamar pun terlihat begitu indah dan bersih. keringat yang membasahi tubuh membuat kara harus mandi lagi.
20 menit kemudian, kara keluar dari kamar mandi. ia pun bergegas untuk mengganti pakaian mengunakan dress piyama selutut, rambut yang ia kepang dan make up sederhana agar terlihat segar. sungguh kara tampak sangat cantik walaupun memakai pakaian sederhana dan pakaian biasa.
"Apa yang akan aku lakukan selanjutnya yaa?" kara berfikir sejenak "lebih baik membaca novel my wife,, huhh aku sudah tidak sabar membaca lanjutan ceritanya" ujarnya.
seperti itulah kehidupan orang kaya,, hanya bisa makan dan tidur,, semuanya di kerjakan oleh para pelayan, butuh sesuatu tinggal panggil dan minta. Hah senangnya jadi seorang kara.
"*Haallo?*" sapa kara.
"*Halo*" ujar sang penelfon.
"*Nadira?*" kara terkejut.
"*Ternyata kau tidak lupa dengan suaraku kara,,*" ujar Nadira.
"*Apa maumu?Kenapa kau menelfonku?*" tanya kara.
"*Aku menelfon mu hanya ingin memberi tau kabar baik padamu*" ujar Nadira sembari terkekeh sekilas.
"*kabar baik apa?*" tanya kara penasaran.
"*tenanglah kara,, kenapa kau terburu-buru sekali*" sambung Nadira.
__ADS_1
"*Jangan berbelit-belit atau aku akan menutup telfonnya,,*" geram karaa.
"*Hei kau memang tidak sabaran ternyata,, aku ingin memberi tau mu jika aku sedang Hamil..*" ujar Nadira.
"*Lalu?Apa hubungannya denganku?Kenapa kau memberi tau kabar ini padaku? Harusnya kau harus memberikan tau kepada pria yang telah menghamilimu kan?*" timpal kara geram.
"*Tentu saja aku harus memberi taumu,, kalau ini adalah anak bara!*" ujar Nadira yang tak kalah tingginya.
Deg,,, "*Aapa?!Tidak mungkin!*" sambung kara.
"*Hei apa maksudmu tidak mungkin? aku memang sedang mengandung anak bara,, dan usia kehamilanku sudah menginjak 2 bulan*" jelas Nadira.
mendengar ucapan Nadira membuat kara syok "*Omong kosong!*" kara mencoba menyeka air mata yang mulai keluar membasahi pipi mulus indahnya. "*Apa buktinya jika anak yang kau kandung adalah anak dari suamiku? ha?!*" nada bicara kara mulai meninggi.
"*Aku tidak perlu bukti untuk itu, karena memang anak ini adalah anakku dan bara, buah cinta kami*" sangkal Nadira.
"*Jika tidak ada bukti bagaimana mungkin aku mempercayaimu?!*" ujar kara.
"*Huh, aku tidak perlu membuktikannya,, aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya dasar wanita bodoh,, apa kau tau?? saat kau koma, suamimu sering menghabiskan waktu bersama dengan ku..*" ujar Nadira tak mau kalah.
"*Tidak mungkin! bara tidak mungkin menghianatiku lagi,,*" sambung kara.
"*Haha kara,, kara,, kau memang sangat bodoh! apa kau tau jika selama ini suamimu itu menyembunyikan banyak sekali kebenaran darimu?*" Nadira tertawa mengejek.
"*Apa maksudmu?*" tanya kara tak mengerti.
"*Dalang tentang kecelakaan ayah tirimu,, suamimu mengetahui akan hal itu!*" jelas Nadira.
"*Apa?! Tidak mungkin! bagaimana kau tau jika suamiku mengetahui dalang tentang kecelakaan ayahku?!*" tanya kara.
"*Kau tidak perlu tau aku tau dari mana yang jelas,, suamimu itu sangat pintar, tentu saja aku bisa mengatakan jika suamimu itu tau tentang kecelakaan ayah mu dan siapa dalang di balik semua itu.*" jelas Nadira "*karaa,, kara,, sebenarnya aku tau siapakah dalang yang membuat ayahmu meninggal dalam kecelakaan itu,, tetapi alangkah baiknya jika kau sendiri yang mencari tau segalanya bukan?atau jika kau mau ingin segera mengetahuinya,, tanyakan saja pada suamimu itu.*" sambung Nadira.
Tut.
"*Hallo!!!*" teriak Kara,,
"Tidak mungkin jika Nadira hamil anak bara,, aku tidak boleh meragukan suamiku sendiri" lirih kara.
"Tapi,, apakah benar apa yang di katakan oleh Nadira? tentang kecelakaan ayah ku? Siapakah dalang dibalik kecelakaan itu? Lalu bagaimana mungkin bara bisa mengetahui hal tersebut? dan mengapa bara tidak mengatakan padaku tentang hal ini?" kara bertanya tanya kepada dirinya sendiri..
__ADS_1
"Aku harus mencari tau.."
bersambung~