
Jake kecil masih tidak mengerti..
"Karena uncel Daddy ini adalah Daddymu." Sambung kara.
"Daddyku..?"
........
"Ya sayang,, uncel Daddy adalah Daddymu.. Daddy kandungmu nak."
"Benarkah mommy?A-aku punya Daddy?" Jake masih tak percaya dengan kebenaran ini.. bocah laki-laki itu terlihat terkejut sekaligus bahagia karena sekarang dia memiliki Daddy seperti teman-temannya,,
Kara dan bara mengangguk pasti,
Jake kecil pun turun dari kursi dan langsung memeluk ayahnya itu,,
pelukan itu terlihat sangat erat,,
seakan akan Jake kecil melimpahkan seluruh kebahagian di dunia hanya dengan memeluk Daddynya.
Bara pun mengelus rambut halus putranya, sesekali dia mencium pucuk kepalanya,, Sungguh dia sangat merindukan anak tampan ini. dia tak menyangka jika anak laki-laki yang ia temui di taman adalah anaknya,, putranya,,, kebetulan yang sangat membahagiakan bukan?
Jake melepaskan pelukannya,, dengan wajah sedih dia mengatakan "Daddy jangan tinggalkan aku dan mommy,, " lirihnya.
bara mencium dahi putranya,
"Daddy tidak akan meninggalkan mu dengan mommy honey,, Daddy akan selalu bersama kalian.. percayalah! Sekarang hanya ada Jake, Daddy dan mommy.. oke?"bara mengelus pipi putranya sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Janji?" Jake mengatungkan jari kelingkingnya.
Bara terkekeh, "Janji.."
Jake kembali memeluk Daddynya,,
bocah laki-laki ini terlihat sangat bahagia.
kara melihat suami dan anaknya berpelukan, jujur saja dalam hatinya dia sangat bahagia.. selama ini dia selalu menekankan Jake untuk menjadi anak yang patuh tidak membangkang, bahkan bocah sekecil itu memiliki pemikiran dewasa karena tidak ingin membuat mommy sedih,, Jake kecil sangat menginginkan kasih sayang dari kedua orang tuanya,, tapi karena keegoisannya dan ambisinya untuk melindungi putranya membuat kara menyakiti hati putranya..
dan sekarang?
Dia telah mewujudkan keinginan anaknya dengan mempertemukannya bersama dengan Daddynya,, ya Daddynya yang selama ini putranya inginkan,, tuhan memang sangat baik bukan?Karena telah menyatukan kembali keluarga kecilnya,, kara sangat bahagia sekaligus terharu dengan ucapan putranya...
kara bersumpah setelah ini dirinya akan selalu mempertahankan rumah tangganya, keluarga kecilnya, bersama suami dan anak-anaknya kelak.
"Sekarang makanlah yang banyak honey,, Daddy juga akan makan bersama mommy."
Jake mengangguk,
Hhh betapa menggemaskannya..
Jake melahap semua makanannya tanpa sisa, anak itu sangat bersemangat untuk bermain bersama Daddynya.
"Daddy, aku ingin mobil seperti Oliver. kau tau Daddy Oliver itu sangat nakal, dia bahkan memamerkan mobilnya kepada ku dan maria."
"Benarkah honey? Baiklah Daddy akan membelikan mobil untukmu,,"
mata Jake kecil berbinar cerah, menunjukkan aura bahagia dan senyum lebar yang khas.
"Wah,, terimakasih Daddy,," kata Jake kecil "Aku tidak sabar untuk mengajak Maria jalan jalan, pasti Maria sangat bahagia."
"honey, bolehkah Daddy tau siapa itu Maria?"
"Tentu Daddy,, Maria itu teman dekatku,, dia sangat cantik, jika aku sudah dewasa bolehkah aku menikahi Maria?"
Mata kara membulat,
tidak percaya,, anak seusia Jake berbicara pernikahan? Omong kosong!
__ADS_1
"Jake..!"
bara menyentuh tangan kara lembur,
"Tentu saja honey,, kau boleh menikah dengan siapapun jika sudah dewasa."
"Yayyy terimakasih Daddy.."
"Sama-sama honey." bara tersenyum,, "Sekarang teruskan makanmu oke?"
"Oke" Jake terus-menerus menyumpal mulut kecilnya dengan makanan
....
Bara asik bermain dengan Jake,,
yah kini Jake mulai melupakan mommynya karena terus-terusan bermain bersama Daddynya.
Jake tertawa terbahak-bahak, saat dia menumpangi punggung Daddynya, seakan-akan Daddynya adalah kuda, sementara Jake berada di atas punggung bara menggunakan baju coboy dan topi khas nya.
"Ayo Daddy,, lebih cepat lagi.." nada khas Jake kecil tertawa mengemaskan.
"Baiklah tuan,, aku akan segera menambah laju kecepatannya,, bersiaplah.." ujar bara dengan suara yang di buat buat.
Jake terus tertawa gembira, hingga kini putranya itu tertidur di pangkuan suaminya.
"Puas bermain hm?" gerutu kara.
"Kau bahkan melupakan aku, Jake juga huh menyebalkan."
Bara terkekeh,
"Oh ayolah sayang,, apa kau cemburu dengan anak dan suamimu?"
"Tentu saja,, kalian berdua bahkan mulai melupakan aku."
kara melipat tangannya, dan memalingkan wajahnya.
bara memeluk istrinya dari belakang,
"Ah ternyata istriku sedang merajuk".
bara nengelitik kara, sehingga membuat kara tertawa geli dan berhasil lari dari pelukan bara.
Kara mengejek dengan menjulurkan lidahnya sembari terus berlari,
Bara tersenyum geli, Melihat tingkah istrinya yang terkadang terlihat seperti seorang gadis belum memiliki anak.
"Jangan lari sayang,,"
"Kau tidak akan bisa menangkap aku." kara terus menerus berlari dan...
"Aw sakit sekali..."
mata bara membulat,dan langsung berlari menghampiri istrinya. "Kau terluka sayang?"
"Tidak, hanya kakiku sedikit terkilir."
dan benar saja kaki kara terkilir karena sepatu high heels yang ia pakan berlarian tadi.
Tanpa berbasa-basi bara langsung menggendong istrinya, ala bridal style dalam dekapannya tanpa persetujuan dari istrinya.
Masa bodo dengan persetujuan!
bara tak butuh itu, bukanlah kara istrinya? Tentu saja bara berhak!.
"A-apa yang kau lakukan?"
__ADS_1
"Tentu saja membawamu ke kamar dan mengobati kakimu sayang,,"
"Tapi aku bisa berjalan sendiri sayang.."
"Sudah. diamlah..! ini perintah dan jangan membantah!"
kara terdiam,
ya seperti inilah sifat yang tak bisa hilang dari suaminya.
arogan dan tak terbantah!
cih menyebalkan.
sesampainya di dalam kamar, bara mendudukkan kara di atas ranjang dan mencoba mengobati kaki istrinya dengan memijat nya pelan.
sontak membuat kara merasa tertegun karena di perlakukan bara dengan sangat manis.
"Bara jangan lakukan itu." lirih kara "aku terlihat sangat tidak sopan."
kara memang senang di perlakukan bara dengan baik dan manis, tapi tetap saja dia merasa tidak enak! jika seperti ini kara terlihat seperti wanita yang tidak memiliki rasa sopan santun.
"Sudahlah kau diam saja hm, aku akan memijat kakimu dengan pelan agar kau tidak merasakan rasa sakit sedikitpun."
kara menatap sayu suaminya yang kini sedang fokus memijat kakinya dengan halus dan terlihat tulus.
tak lama kemudian,
"Bagaimana,, apa sudah mendingan?"
lamunan kara buyar mendengar pertanyaan dari suaminya.
dia mencoba untuk berdiri tapi alangkah terkejutnya kara, jika dirinya tidak merasakan rasa sakit akibat kaki yang tadinya terkilir.
"Aku tidak merasakan rasa sakit, dan sekarang kakiku bahkan sudah kembali membaik..." ujar kara "Terimakasih sayanggg,, aku mencintaimu.."
wah suaminya itu memang serba bisa..
"Hanya itu saja hm?"
wajah bara tiba-tiba berubah menjadi menakutkan. seperti menginginkan sesuatu darinya.
Bara mendekat, dan memeluk istrinya dengan rapat sampai hampir tak ada celah.
kini tubuh kara terhimpit oleh tembok dan suaminya.
kara menatap bola mata bara yang kini mulai berubah menjadi menakutkan, seolah-olah di penuhi oleh gairah yang membara.
"Lalu kau mau apa hm?" ujar kara sembari menyentuh tengkuk suaminya mengunakan kedua tangannya.
"Tentu saja bercinta."
kara menahan tawa, dan dia terkikik geli mendengar pernyataan suaminya yang terlalu frontal.
"Kenapa kau tertawa hm?Ini bukan lelucon sayang.."
"Aku sedang menstruasi.."
kara tertawa terbahak-bahak,
sedangkan bara melepaskan pelukannya sembari menunjukkan ekspresi wajah kekesalan yang kental.
"Kenapa raut wajahmu berubah dengan cepat begitu?" ujar kara di sela-sela tawanya.
"Kau tau? Menstruasi adalah musuh terbesarku!!Apakah tidak ada obat untuk menunda menstruasi mu??Huh menyebalkan sekali..!" bara mengacak2 rambutnya frustasi.
Bersambung~
__ADS_1