
pagi harinya saat bara tengah menyuapi kara, mereka di kejutkan dengan kedatangan Sarah yang mendadak.
Sarah memeluk kara erat "Apa kau baik2 saja? bagaimana kabarmu?Apa masih sakit? kau tau kara? kakak sangat kecewa dengan mu karena kau membuat kita semua khawatir,,, aku sangat takut jika terjadi sesuatu padamu,, tak bisa ku bayangkan jika kau kenapa2. katakan kara? Kenapa kau tidak pernah menghubungi kakakmu ini ha? setelah kau pulang dari bulan madu Sampai sekarang kau tidak menghubungi ku. kenapa?" gerutu Sarah dengan sedikit perasaan kesal.
"astaga,, tenanglah. apa sekarang kau tidak lihat ha?! jika kara masih sakit? kau sedari tadi terus mengoceh!." geram bara sembari berbicara dengan sedikit menekan.
Sarah mengalihkan pandangannya malas, ia tidak ingin melihat bara, bahkan kini ia duduk di kursi sebelah kanan kara.
"Bagaimana kabarmu?Apa kau sudah baikan? apa kau baik2 saja?" Sarah terus mengoceh seakan begitu mengkhawatirkan keadaan adiknya itu.
Kara tersenyum manis "Tentu.. aku baik2 saja kak, kau tidak perlu khawatir".
"Bagaimana kakak tidak khawatir? astaga karaaaa kau ini." sambung Sarah.
Melihat kakak beradik itu sepertinya butuh waktu untuk sendiri, bara pun berinisiatif untuk pergi dari ruangan tersebut, ia ingin memberi sela agar kakak beradik itu bisa berbicara dengan leluasa tanpa gangguan.
"Baiklah sayang,, aku keluar sebentar. berbincang lah dengan kakakmu, sudah lama kau tidak bertemu dengannya, ku rasa kalian berdua butuh waktu untuk bersama". timpal bara.
Kara mengangguk sembari tersenyum manis kepada suaminya. "Terimakasih" bara pun menjawab dengan deheman. "Hemm..".
Bara keluar dari ruangan tersebut, di luar ia melihat ayahnya berdiri kokoh kesana kemari seperti orang yang sedang gelisah. "Ayah.." Louis pun menoleh ia pun langsung menghampiri putra sulungnya itu. "Bagaimana keadaan kara? apa dia baik2 saja? ayah dengar ia Sudah sadar, untuk itulah ayah kemari untuk menemui menantu." ujar luois masih dengan nada gelisah.
"Kara sudah sadar, ia juga baik2 saja dan sekarang ia sedang berada di dalam dengan Sarah." jelas bara.
"Syukurlah" sambung luois, mendengar ucapan dari bara, membuat Louis tenang sembari merasa bahagia.
"Ayah,, bagaimana dengan keadaan ibu?"
Kini tatapan Louis kembali dingin "Ibumu masih saya keras kepala, sampai sekarang ia masih saja tidak mengetahui apa kesalahannya, bahkan ia tidak mau meminta maaf kepada istrimu, bahkan ibumu mengancam akan membunuh istrimu dengan tangannya sendiri." jelas luois.
Hati bara bergemuruh, mendengar penjelasan dari ayahnya, ia tak kuasa bahkan ia tak mampu untuk berdiri, rasanya hatinya seperti di tusuk2 oleh ribuan duri yang tajam bahkan kulitnya seakan di cabik2 dengan ganasnya. bagaimana mungkin ibunya ingin membunuh istrinya sendiri? tapi ia tidak mampu untuk berbuat apa-apa, lalu apa yang harus bara perbuatan? Apakah ia juga harus membunuh ibunya? bagaimana mungkin seorang anak tega membunuh orang tuannya sendiri?Tapi kini.. bahkan ibunya telah kelewatan batas karena telah mencelakai istrinya dan sekarang ibunya mengancam akan membunuh istrinya?
Oh tuhan apa yang harus bara lakukan?
Luois yang melihat bara terdiam, seperti menyembunyikan kehancuran hatinya mendengar ucapannya membuatnya sangat kasihan kepada putranya itu. ia pun menepuk bahu bara "Kau tidak perlu memikirkan ibumu, serahkan urusan ibumu kepada ayahmu ini nak, semuanya akan baik2 saja, kau tidak perlu khawatir, jika ibumu berani menyentuh kara, melukai atau bahkan membunuh kara, maka aku sendiri yang akan membunuh ibumu."
.....
__ADS_1
Sementara di sisi lain terdapat seorang wanita yang kini ter engah2 dengan suara yang begitu menggairahkan. berada di ruangan gelap bersama dengan kekasihnya.
sepasang kekasih itu seakan melepaskan seluruh hasrat yang terpendam selama beberapa bulan terakhir.
ya selama sebulan ini Nadira tinggal di apartemen John, mereka menghabiskan waktu bersama tetapi ntahlah John sering pulang malam sehingga Nadira sering berada di apartemen sendirian. mau bagaimana lagi? sebenarnya Nadira sangat bosan tetapi ia melakukan semua ini karena ia takut dengan bara.
Nadira sekarang sudah menjadi buronan dari bara, bahkan Sam dan Ken pun juga mencarinya. itulah yang membuatnya pergi dari rumah bara untuk bersembunyi dari terkaman bara dan para anggotanya. ntah apa yang terjadi jika Nadira tertangkap nanti yang jelas sekarang waktunya untuk bersembunyi bukan?
setelah bergumul panjang nan melelahkan membuat keduanya kini berbalut selimut tebal untuk menutupi tubuh keduanya. mereka pun berpelukan sembari berbincang2.
"ku dengar kara sudah bangun dari komanya." ujar Nadira yang kini masih di dalam dekapan John.
"Ya, kara sudah bangun. lalu? kenapa kau menanyakan hal itu?" tanya John.
"Apa salahnya? aku hanya bertanya saja" gerutu Nadira "Oh ya honey, bolehkah aku tau alasanmu kenapa kau ingin sekali memisahkan kara dengan bara sehingga meminta ku untuk membantumu? dan ya walaupun aku memiliki dendam dengan bara tapi aku tidak berniat untuk membalasnya tapi mengapa kau selalu menginginkan aku untuk turun tangan membantumu untuk menjadi penghalang antara bara dan kara? sebenarnya apa masalahnya?Aku tidak mengerti." jelas Nadira.
"Kau tidak perlu mengetahui apa penyebabnya sayang, kelak kau akan mengetahuinya sendiri, yang jelas aku sangat membutuhkanmu untuk membantuku memisahkan kara dan bara." jawab John sembari mengecup dahi kekasihnya itu. "Sekarang tidurlah.." sambungnya.
"Baiklah sayang." ujar Nadira. "Aku mencintaimu".
"iya aku tau sayang..." jawab John.
"Maafkan aku sayangku,, ya aku juga,,. maksudku aku juga sangat mencintaimu."
Deg...
_Mengapa John seperti berbeda?Apa yang terjadi? Mengapa pernyataan cintanya seperti di paksakan?_(Batin Nadira). _*Ntahlah jangan berfikir macam2 Nadira,,, mungkin hanya perasaan mu saja*_(Pikirnya).
Seminggu setelah kepulangan kara dari rumah sakit, kini kara Sudah pulih total, bahkan sekarang kepalanya yang tadinya berbalut perban putih kini berganti dengan handcaplas saja.
"Baraa aku sangat bosan." kara yang berada di pelukan suaminya pun kini mulai merengek.
Kara mendonggak ia bisa melihat wajah tampan suaminya yang terpampang jelas di depan matanya. Bara pun tidak menyia2 kan kesempatan, ia mencium bibir istrinya dengan lembut dan sedikit pangutan. "Lalu apa yang harus ku lakukan Sayang?Kau ingin sesuatu? apa yang kau inginkan hemm?"
__ADS_1
"Eum..." kara berfikir sejenak sembari memanyunkan sedikit bibirnya kesamping, membuat bara tertawa gemas sambil mencubit pipi mulus istrinya yang kini mulai berisi itu. "Bara apa yang kau lakukan?Sakit tau..." gerutu kara.
bara tertawa "Kau tau sayang, aku sangat mencintaimu , tingkah mu yang menggemaskan itu mampu membuat gairahku naik."
Mata kara membulat besar bagai tomat wajahnya pun kini mulai berbinar binar mendengar ucapan sang suami. "Benarkah?".
"Ayo kita lakukan,, sudah lama sekali suamimu ini berpuasa. bahkan setelah kau pulang dari rumah sakit, aku juga masih menahan diri sampai kau benar2 pulih total. dan sekarang kau sudah benar2 pulih bukan?" bara menyeringai licik, tatapan matanya mampu menghipnotis setiap orang yang akan melihat, bara seperti sudah siap untuk memangsa istrinya.
"Tapi.." sebelum kara menyelesaikan ucapannya bara menggunakan telunjuk tangannya untuk menghentikan ucapan istrinya "Sttt... kau sudah berjanji pada suami mu ini jika kau sudah sembuh maka kau akan menjalankan tugasmu dengan baik sampai suamimu ini puas bukan?" bara kembali mengingatkan ucapan istrinya saat berada di rumah sakit. kini tatapan keduanya menyatu, semakin dekat, sekilas bara melirik bibir ranum istrinya, sesekali mengecupnya dengan lembut, perlahan lahan ciuman itupun semakin lama dan semakin dalam. kara kehabisan oksigen, ia menekan dada bara, bara melepaskan ciuman tersebut sembari memberi jeda untuk bernafas.
kara pun mengangguk "Ku tepati janjiku" ujarnya lirih..
mendengar mangsanya menyetujui keinginannya , bara tersenyum penuh arti, ia langsung melanjutkan ciuman tersebut dan...
Apa yang terjadi?
Hanya mereka yang tau🤭🤣😂
Bersambung~

Sarah😲

__ADS_1
Jackson Phill 🤩