
"Pengawal tembak dia sekarang juga!" titah Diego.
para pengawal Diego kini sudah bersiap menggunakan senjata api. mereka semua telah menodongkan pistol kepada bara.
kara berteriak histeris melihat ayahnya bersimpuh di hadapannya karena luka tembakan yang bara berikan.
Kara yang tadinya marah, kini mulai menangis.
ia takut!
"Hentikan..!!" teriak kara, kini suaranya menggema.
Diego masih tidak mendengar.
"Komohon hentikan semua ini..! jangan tembak dia!"
Diego masih tak tersentuh.
"Pengawal, tunggu apalagi tembak pria itu sekarang juga!! apa kalian semua tuli??!!" teriak Diego.
Bara tampak tenang,, bahkan wajahnya seperti tidak memiliki rasa takut sedikitpun.
"Kumohon hentikan,,,!"
"Sayang,, jangan pernah memohon kepada siapapun!" titah bara "Hei!! jika kalian ingin menembakku, silahkan saja jika memang kalian bisa!" sambung bara.
"A-ayah,,," lirih kara, ia masih memohon demi keselamatan suaminya itu.
"Kau tidak perlu memohon nak! karna itu sia2!" ujar Diego "Kau bilang sendiri jika kau sudah tidak menganggap ku sebagai ayahmu,, lalu?untuk apa kau memohon kepadaku untuk keselamatan Suamimu?Apa kau begitu mencintainya?!" ujar Diego dengan suara serak menahan rasa sakit akibat Luca tembakan yang mengenai kakinya.
Kara bungkam seribu bahasa, menyesali dengan ucapannya.
Sorot mata bara menajam,
"Kalian semua ingin menembakku bukan?Tembak saja aku sekarang,, jika kalian semua mampu,, lawan aku satu persatu!"
"Jangan dengarkan dia!" kara berteriak "kumohon hentikan,,!"
"Pengawal sekarang!!" titah Diego..
Dor..
Dor..
Dor...
Dor...
Kara menutup mata sekaligus telinga, ia takut dengan suara tembakan.
kara benar2 takut!
kara membuka matanya, mata kara membulat.
"Aaaaaaaa..." kara berteriak histeris sembari menangis.
__ADS_1
Diego telah tewas, dengan begitu mengenaskan.
darah terus mengalir, tubuh Diego di penuhi oleh luka tembakan,
Sedangkan bara,, dirinya tidak terkena tembakan, tapi matanya pula membulat, ia menyentuh tubuh luois yang ada di hadapannya, mulut luois mengeluarkan banyak darah karena peluru kini telah bersarang di dalam jantung dan juga perut luois.
benar saja,, disaat pengawal Diego hendak menembak bara, luois lebih dulu datang untuk menyelamatkan bara dari tembakan, sehingga luois kini tewas di hadapan bara.
Kara menangis sejadi-jadinya, dirinyalah yang menbunuh ayahnya, kara telah membunuh ayah kandungnya sendiri.
Kara seorang pembunuh!
Dia anak durhaka!
Bara menatap wajah kara.
Bara sungguh sangat menyesal, sebagai seorang anak. dirinya bukanlah putra yang baik, bara sebenarnya tidak pernah membenci luois . karena orang tuanya dulu tidak pernah memperdulikannya dan Daniel. luois dan Laurent selalu mengacuhkan para putranya.
itulah yang membuat bara dan Daniel menjadi seorang pria pembangkang yang berani melawan orang tua.
Disaat pengawal Diego menembak bara dan mengenai luois, kara berteriak histeris serta bergegas mengambil pistol milik bara, kara menodongkan pistol tepat di hadapan Diego, ayahnya sendiri.
ntah di selimuti amarah atau apa, kara menembak Diego tanpa ampun sehingga membuat sang ayah tewas.
kara meneteskan air mata penyesalan, dan menjatuhkan pistol milik bara,
"Ayahhhhh....!!!!!" teriak kara.
kara menangis sejadi-jadinya,
Kara pembunuh!
Dia telah membunuh ayahnya sendiri??!!
Kara bersimpuh, menangis sejadi-jadinya di hadapan mayat sang ayah.
sedangkan Daniel yang menjadi saksi melihat kejadian mengerikan itu hanya bisa diam, tanpa mengalihkan tatapannya dari apa yang ia lihat barusan. Daniel hanya bisa bersimpuh dan sesekali menitihkan air mata.
Bara meneteskan air mata,
bara telah menyesal, ia sungguh benar2 menyesal karena belum bisa menjadi putra yang baik untuk orang tuannya.
Luois dan Diego kini telah tewas tepat di hadapan kara dan bara.
.....
berbulan bulan kini telah berlalu,,,
semenjak kejadian tersebut, kara menjadi seorang wanita pendiam. kara frustasi dirinya masih juga menyesal dengan apa yang ia perbuat.
setelah kejadian tersebut, bara membunuh semua pengawal Diego hingga tak tersisa. bara menghapus rekaman CCTV milik Diego di sekitar rumah sehingga para polisi tidak dapat menemukan bukti apapun untuk menjerat kara karena telah membunuh ayahnya sendiri.
Kara sempat di penjara kala itu, hanya beberapa bulan,polisi terus mencari bukti tanpa henti tapi tak mendapat bukti apa pun sehingga polisi terpaksa melepaskan kara sebagai tersangka pembunuhan yang telah membunuh Diego.
Bara adalah seorang mafia, pastinya ia dapat dengan mudah menipu seorang polisi dengan kekuasaan yang ia miliki sebagai bos mafia untuk melindungi sang istri dan calon anaknya yang akan segera lahir di dunia ini. hanya tinggal hitungan hari.
__ADS_1
"Sayang,, makanlah,," lirih bara yang kini sedang menyuapi kara semangkuk bubur hangat buatannya.
Kara hanya bisa diam, sesekali menangis.
kara terus menatap jendela kamarnya dengan meneteskan air mata tanda penyesalan.
Kara menatap manik mata abu2 milik suaminya dengan intens, bara hanya mampu melihat sorot mata penyesalan yang masih ada pada istrinya.
Kara memeluk suaminya, ia menangis sejadi-jadinya di pelukan bara. "Jangan seperti ini,, aku tidak bisa melihatmu terus menderita sayang,," lirih bara.
"Kau harus kuat, lupakan mimpi buruk ini! bangkitkan seperti dulu,, kau harus bisa menerima kenyataan pahit ini,," ujar bara "Lihatlah,,! sebentar lagi anak kita akan segera lahir,, apa kau ingin anak kita menjadi seorang anak seperti Daddy nya karena tidak mendapat kasih sayang dari kedua orang tuannya Hem?" sambungnya.
kara menggeleng-gelengkan kepalanya, "itu tidak akan pernah terjadi." lirih kara.
"Maka bangkitlah,, hidup akan terus berjalan bukan? Walaupun mimpi buruk itu terus datang, tapi kita tidak boleh menyerah,, kita harus terus hidup untuk anak anak kita kelak." ujar bara
Bara menodongkan tangannya "Maukah kau menemani suamimu ini melewati hari2 indah bersama selamanya, sampai maut memisahkan kita?"
Kara menyentuh tangan suaminya "I will.." lirihnya.
kara memeluk suaminya erat. "Terimakasih,, kau telah mendukungku.." lirih kara "Tapi..." kara melepaskan pelukan tersebut.
"Bagaimana jika kak Sarah mengetahui yang sebenarnya, jika ayah Adijaya mati bukan karena kecelakaan tapi karena ayahku lah yang menyabotase mobil milik ayah Adijaya hingga membuat ayah Adijaya tewas?" tanya kara.
"Kau tidak perlu khawatir,, karena Sarah sudah mengetahuinya,,"
"Apa??!!!" kara terkejut "Lalu? Apakah dia marah? apa dia ingin membunuhku?Apa dia membenciku?" raut wajahnya menunjukkan ekspresi kesedihan.
kara menghembuskan nafasnya,
"Aku akan menerima kebencian dan kemarahan darinya."
kara menundukkan kepalanya.
Bara mengangkat dagu istrinya "Kau tidak perlu sedih, karena Sarah sudah memaafkanmu,," jelas bara "Awalnya Sarah memang sangat marah dan membencimu, tapi Sam telah meyakinkan Sarah jika ini bukanlah salahmu, bahkan Sam mengatakan jika kau telah menghukum ayahmu dengan membunuhnya," jelas bara.
"Benarkah??" mara kara berbinar mendengar ucapan dari bara. bara pun mengangguk.
"Terimakasih sayang.." lirih kara.
bara memeluk istrinya erat, sungguh ia merasa bahagia sekarang karena kini istrinya telah kembali dari masa2 penyesalan dan keterpurukan.
"Aku punya kabar baik untukmu sayang,," ujar bara.
kara mengerutkan dahinya "Ada apa?"
"Sarah akan menikah dengan Sam besok lusa," jelas bara sembari tersenyum, bara menyodorkan sebuah undangan pernikahan yang tertulis sebuah nama Sarah & Samuel.
kara menerima undangan tersebut "Aku sangat bahagia untuk kakak, kita harus menghadiri pernikahan tersebut besok lusa,,"
"Tentu saja.." bara kembali memeluk kara, sesekali mencium pucuk kepala istrinya itu dengan kasih sayang dan rasa cinta yang mendalam.
Bersambung~
Wowπ±π±π±π±π±π±
__ADS_1